Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Renungan 5 Februari 2018   11:01 WIB
Kreativitas dan Pendidikan

~~~ KREATIFITAS DAN PENDIDIKAN ~~~

Seminggu kemarin saya seperti mengalami “gangguan”. Bukan gangguan apa-apa sih, selain gangguan datang bulan dan mendadak sakit kepala sebelah, otak saya tersita dengan satu kata yaitu sebuah kata sifat, kreatif. Penasaran dengan arti sebenarnya dari kata sifat ini, maka saya pun membuka Longman Dictionary of Contemporary English. Ini arti yang saya dapat dihalaman 396:

cre-a-tive/kri’etiv/adj

1) involving the use of imagination to produce new ideas or things

2) someone who is creative is very good at using their imagination to make things

 

Okay, jadi saya dapat satu kata yang sama dari dua arti, yaitu imagination! Imagination? Mengapa harus imagination? Apakah kita harus berimajinasi dulu untuk menjadi kreatif? Mungkinkah demikian adanya? Apakah proses kreatif harus selalu berkaitan dengan imajinasi, angan-angan, lamunan? Entahlah. Sampai disini saya masih bingung. Apa hubungannya imajinasi dengan proses kreatif. Mungkin kamu bisa menjelaskan?

Belakangan ini kata “kreatif” menjadi sering muncul, apalagi dikalangan pemerintahan. “Pemerintah sedang menggalakkan industri kreatif.” Begitu kira-kira yang sering saya dengar. Bahkan saat ini, Indonesia punya BEKRAF, yang merupakan akronim dari BeCreative, yang diketuai oleh Triawan Munaf. Di Asia sendiri, ada dua negara yang saat ini konon katanya menjadi kiblat industri kreatif. khususnya dalam bidang entertainment, yaitu Korea dan India.

Korea tak perlu diragukan lagi dengan industri musik KPOP nya. Para penggemar KPOP sendiri di Indonesia tak kekurangan jumlahnya. Tak hanya industri musik, industri film Korea pun menggila, Drama Korea (Drama Korea, seperti drama-drama lainnya berseri-seri, mengharu biru dan menampilkan cerita yang biasanya diilhami dari cerita cinta. Cerita cinta Korea ada yang disajikan secara sederhana, komedi ataupun yang njelimet tentang dua sejoli atau cinta segitiga.

Dalam industri musik, KPOP dianggap membawa kebaruan dan angin segar tak hanya dalam taste musik, namun juga fashion dan make up. Lihat saja di mall-mall, pasti dengan mudah kamu temukan baju-baju ala Korea, make up ala Korea, aksesoris dan masih banyak lagi yang lainnya. Lebih jauh lagi, industri musik Korea ternyata mampu mengangkat sektor pariwisata dan budaya (termasuk diantaranya  kuliner dan bahasa). Sungguh dahsyat memang gurita dari proses kreatif ini.

Dulu rasanya tak banyak yang memasukkan Korea dalam list destinasi plesiran. Tapi lihatlah sekarang, Jeju Island menjadi salah satu andalan pariwisata Korea. Bahkan salah satu film nasional kita (ga usah disebutin ya judulnya) syarat dengan promosi negara Korea, mulai dari tempat wisata, budaya dan bahasanya.

Dalam bidang kuliner, siapa yang tak kenal salah satu produk mie instan yang jadi hits belakangan ini. Selain itu, jika ke Korea ada kelas khusus membuat kimchi. Dan saat ini bahasa Korea menjadi salah satu bahasa yang juga jadi pilihan di beberapa kampus ternama untuk dipelajari.

Lain Korea, lain pula India. Ini negara yang cukup diperhitungkan di Asia saat ini. Dengan jumlah populasi penduduk yang membludak, India tetap berdiri terdepan di Asia dalam industri film. Bollywood, kemudian menjadi trademark yang tak tergantikan. Bayangkan saja, dalam satu produksi film Hindustan, berapa banyak pemain figuran yang terlibat. Lebih satu erte kayaknya. Untuk itu maka diperlukan beribu-ribu kostum, lagu hingga tarian. Durasi film India juga jauh lebih lama dari film-film lainnya.

Satu hal yang membuat saya salut kepada India adalah, persistense nya mereka dalam mempertahankan budaya dan tradisi lokal, bahkan dalam era millenial sekalipun. Superb! Bayangkan saja cerita ratusan bahkan ribuan tahun lalu seperti Ramayana dan Mahabarata masih terus diperbaharui dan survive di era global. Hebatnya lagi cerita-cerita drama India pun laris manis di televisi lokal. Konflik yang disajikan dalam drama seri India lebih membumi dan menunjukkan kejadian/realita masyarakat India sendiri. Konflik antara mertua dan anak mantunya adalah topik yang paling sering diangkat dan dijadikan tema utama. Selain itu cinta tak sampai atau konflik antara sikaya dan si miskin masih menjadi tema besar dalam drama-drama seri India.

Industri film India pun sudah mulai merangkak ke Hollywood. Sebutlah nama film “Slumdog Millionaire” yang sempat heboh karena keberaniannya mempertontonkan kenyataan pahit akan potret kemiskinan India. Yang masih hangat, film “Lion” misalnya, lagi-lagi adalah potret nyata kehidupan adopsi anak di India.

Saya kira proses kreatif memang pada akhirnya akan mengangkat hal yang lainnya. Misalnya, saat ini beberapa bintang film India bahkan sudah ada yang go internasional dengan berperan dalam film Hollywood. Satu diantaranya adalah Irfan Khan dalam film trilogi The Da Vinci Code, Inferno. Beberapa hal tersebut diatas membuktikan bahwa proses kreatif di India adalah salah satu proses yang sustainable.      

Tapi baiklah, dua hal yang sudah saya paparkan diatas mungkin terlalu jauh dari kehidupan kita. Jadi saya tunda dulu sampai disini, mungkin nanti saya akan menulisnya lebih jauh . Sekarang, saya hanya ingin mencoba untuk mengaitkannya dengan dunia yang saat ini dekat dengan kehidupan saya, yaitu dunia pendidikan.

Ditengarai dunia pendidikan kita terlalu banyak memberikan hafalan dan bidang study yang sebenarnya tidak terlalu penting dalam kehidupan anak-anak dimasa yang akan datang. Maka akhir-akhir ini muncul beberapa alternative sekolah yang menawarkan “suasana berbeda” untuk belajar. Beberapa educators berani mendobrak dan memberikan “rasa lain” dalam belajar. Beberapa teman saya yang mendirikan sekolah berani mengembangkan kata “kreatifitas” ini menjadi hal yang sangat luas dan tak terbatas.

Belajar, saat ini tidak selalu melulu harus didalam ruangan. Anak-anak ternyata lebih leluasa belajar dan bermain diluar ruangan. Beberapa hari kemarin, saya baru membuka sebuah link tentang sekolah di Jogjakarta yang memberikan kebebasan kepada muridnya untuk belajar sesuatu yang menjadi interest mereka. Silahkan dibaca lebih lengkap disini: http://www.jogja.co/unik-sekolah-tanpa-mata-pelajaran-tanpa-guru-dan-tanpa-seragam-ada-di-jogja/

Hmmm, membaca link diatas membuat saya gamang sekaligus optimis. Sudah mampukah para pendidik kita menyambut para millenials dan mempersiapkan pendidikan terbaik bagi mereka? Saya kira diera millenials ini banyak hal yang menjadi pekerjaan rumah bagi seorang guru. Tak hanya skill mengajar, namun juga skill dibidang yang lainnya, misalnya penguasaan tekhnologi dan ilmu pengetahuan yang tak hanya sebatas bidang studi yang dia ajar.

Suatu hari seorang anak laki-laki kelas 4 sekolah dasar tiba-tiba menghampiri saya dan bertanya,

“Ms, do you know the Big Bang theory?”

Saya tahu benar meskipun berada dikelas bahasa Inggris, namun ketertarikan Arsya, anak tersebut, kepada science sangatlah besar. Ini saya tahu karena dia tak akan bisa berhenti ketika berbicara tentang benda-benda luar angkasa, antariksa dan semua hal yang berkaitan dengan itu. Hal yang menarik dari Arsya adalah hobby nya yang unik, yaitu knitting!

Saya dibuat kaget ketika suatu hari masuk kekelas sebelum jam pelajaran dimulai menjumpainya asyik merajut benang berwarna biru untuk membuat scarf. Lagi-lagi dia bercerita tentang Black Hole theory sambil asyik merajut.

Dikelas yang lain, saya menjumpai Nadine, seorang gadis manis, energetic dan bercita-cita menjadi diplomat. Ketika ramai issue penistaan agama yang sempat menjadi headline diberbagai media sosial dan media cetak, Nadine datang kepada saya menyodorkan tulisannya dalam bentuk puisi berjudul, “If I were a voice”. Ada notes disisi sebelah kanannya yang berbunyi, “Be careful with what you say because words are IMPORTANT”.

Arsya dan Nadine bagi saya adalah representasi anak-anak diluar sana yang tak hanya pintar secara akademik tapi juga mempunyai sisi kreatif. Saya kira mereka adalah anak-anak yang sudah siap bersaing diera yang akan datang, era yang bisa menyeimbangkan hal kanan dan kiri, sehingga keduanya menjadi seimbang.

Sering saya mendapati anak-anak yang diam-diam membuat sketch gambar yang tiba-tiba diakhir pelajaran dia memberikannya kepada saya atau bahkan tak sengaja mereka tinggalkan di bangku belajarnya. Anak laki-laki biasanya sering saya jumpai menggambar robot atau mainan, sementara anak perempuan sering saya dapati menggambar wajah saya!

Kenyataan ini membuat saya introspeksi, jangan-jangan selama saya menerangkan, dia menggambar? Jadi selama saya berbusa-busa mereka asyik dengan imajinasinya. Jadi selama ini pelajaran saya membosankan bagi mereka?

Proses kreatif mereka mau tidak mau mengikat saya pada hal yang lainnya yaitu, Artificial Intelligent (AI), teaching based skills dan generasi Millenials.

Noriko Arai, seorang professor Jepang yang mengembangkan Todai Robot, mengatakan,

“We have to think about a new type of education. There’s a challenge for the educators”

Senada dengan Ms. Arai, Jack Ma menegaskan,

“If we do not change the way we teach, 30 years later we’ll be in trouble. Teachers must stop teaching knowledge. We have to teach something unique”

Lebih lanjut Jack Ma, mengemukaka bahwa ada beberapa skills yang harus diajarkan kepada anak-anak dalam mendidik mereka saat ini yaitu, values, believing, independent thinking, teamwork and care for others. Nah nilai-nilai ini bisa mereka dapatkan dan pelajari melalui sports,music, painting and arts.

So, are you ready educators?   

Karya : Irma Rahmatiana