Incredible 45

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 10 Januari 2018
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

6.4 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible 45

Incredible45

Agama di barat dan di timur

 

                Hari ini kami janjian jam 09.00 untuk ikutan meditasi di Tushita, Meditation Center di Dharamkot, satu km dari guest house kami. Pagi hari aku masih punya waktu, maka kumanfaatkan untuk morning walk. Aku berjalan sendiri, beberapa bule terlihat sedang jogging. Aku ingin melihat St. John Catholic Church. Berjalan sekitar tiga puluh menit, akhirnya sampai juga aku disana.

 

Gereja bergaya gothic ini berdiri diatas 1750 m dan merupakan cathedral tertua di North India. Dibangun tahun 1852 gereja ini masih saja cantik dan terawat. Menemukan gereja ini seperti menemukan oase karena letaknya yang tersembunyi dan in the middle of nowhere, bahkan seperti tak berpenghuni! Gereja mungil berdiri diatas tanah dan pekarangan yang bersih. Dibelakang gereja terdapat komplek pemakaman yang ternyata dijadikan monument yang dilindungi. Mungkin salah satu kuburan tersebut adalah makam milik Lord Elgin, The British Viceroy of India yang meninggal di India tahun 1863. Ingin rasanya berlama-lama disini, tapi aku teringat janjiku dengan McKenzie. Bergegas aku pulang dan benar saja tak lama aku beristirahat, tak lama seseorang mengetuk pintu kamarku. Dia datang tepat waktu, jam sembilan pas.

 

Perjalanan ke Dharamkot ternyata terus menanjak. Jalanannya beraspal. Kami berjalan santai sambil mengobrol. McKenzie bercerita kepadaku kejadian kemarin sewaktu dia melakukan video call dengan ibunya. Ibunya semakin mengkhawatirkan dia, bahkan lebih khawatir selain karena dia berada di India sendiri dan karena sekarang dia (McKenzie) sering berbicara mengenai Tuhan dan agama.

 

Pandangan orang barat tentang agama memang berbeda dengan pandangan orang timur. Setidaknya itu yang dapat aku tangkap setelah kurang lebih dua bulan sekamar bersama Nicole. Agama bagi mereka tak lebih dari sekedar kertas, paper, atau kalau kita mengenal istilah Islam KTP, seperti itulah gambarannya. Bahkan jika merasa tak setuju dengan gereja, mereka mempunyai hak untuk walk out dan tak mengakui Tuhan sekalipun. Tak akan ada yang mencela, tak akan ada yang mencaci dan tak akan ada yang menggubris jika anda percaya atau tidak akan keberadaan Tuhan. Agama adalah privacy, milik individual, negara tak punya hak mengurusinya. Mereka terkekeh-kekeh dan merasa heran ketika kuceritakan bahwa kita memiliki Departemen Agama dan Mentri Agama.

 

Agama juga dinilai tak bisa mengatasi dan menjadi jawaban atas masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan. Mengapa Paus menyerukan untuk menghentikan pemakaian condom padahal semakin banyak orang terinfeksi virus HIV. Meskipun agama bukan menjadi monopoli urusan pemerintah, nyatanya ada beberapa hal yang cukup unik terjadi didunia barat, pernikahan, misalnya.

 

Di Jerman, menurut Nicole pemerintah mensupport penuh orang-orang yang menikah daripada orang yang tinggal sendiri atau tinggal serumah dengan pasangan tanpa ikatan. Keseriusan pemerintah ditunjukkan dengan berbedanya pajak antara orang yang menikah dengan yang tidak. Pemerintah memberikan pajak yang jauh lebih ringan bagi mereka yang sudah menikah daripada mereka yang memutuskan hidup sendiri/tanpa pernikahan. Pemerintah juga memberikan jaminan sosial dan pendidikan untuk anak-anak hasil pernikahan. Sungguh mulia pemikiran ini, mari bandingkan dengan negara tercinta?              

 

Dengan tingkat “kesalehan” kita dan menjadi negara muslim terbesar di dunia, negara kita juga dikenal sebagai negara terkorup. Uang pajak entah lari kemana bahkan dikorupsi oleh seorang karyawan dinas perpajakan. Tak ada istilah “pengembalian uang pajak” kepada rakyat. Tak ada jaminan sosial ataupun pendidikan. Semuanya berantakan padahal mungkin kita shalat lima kali sehari, berpuasa setiap Ramadhan atau mungkin kita sudah pergi haji?

 

Pertanyaan dan pernyataan barat dan timur ini terhenti ketika aku memasuki area Tushita Meditation Center. McKenzie sebelumnya mengingatkan aku untuk berbicara pelan jika sudah sampai dan yang terpenting tenang ketika melihat kera-kera yang bergelantungan dipohon-pohon dekat Tushita. Benar saja tempat meditasi ini sudah ramai dan kera-kera itu bergelantungan dan berdiri seenaknya ditempat yang dia mau. Dan ya ampun mulai dari kera yang kecil sampai yang besar ada disana.

 

Jam 09.30 pintu gerbang ditutup dan sudah tidak boleh ada yang masuk. Seketika memasuki ruang meditasi suasana sunyi senyap. Orang-orang dengan kulit pucat dan rambut pirang adalah isinya. Hanya terlihat beberapa orang lokal dan itupun bisa dihitung dengan sebelah jari tangan. Mungkinkah mereka semua mencari ketenangan dan kebahagiaan seperti McKenzie? Entahlah…

 

Patung Budha ukuran mini berwarna gold menghiasi dinding ruangan. Entah berapa ratus atau berapa ribu jumlahnya. Butter lamp menyala didepan foto Dalai Lama, tenang sekali, semuanya serasa slow motion. Tak lama berselang, seorang bule tinggi besar masuk dan duduk didepan kami. Dialah orang yang akan memimpin meditasi kami hari ini. Dengan sistematis dia menjelaskan aturan meditasi. Meditasi akan dibagi menjadi dua kali dengan hitungan 2x tiga puluh menit. Dia akan memukul alat yang menyerupai cobek dan ulekan, tapi mengeluarkan bunyi yang nyaring seperti gong, setiap tiga puluh menitnya.

 

Semua orang sudah bersiap dengan posisi se-nyaman mungkin. Bersila, menyimpan tangan diatas lutut dan menutup mata. Hening. Hanya terdengar suara sang pemimpin memberikan sugesti-sugesti yang menenangkan hati. Tiga puluh menit pertama berlalu sudah. Tiga puluh menit kedua, aku mulai relax dan merasa sepertinya semua organ tubuh benar-benar beristirahat. Tiga puluh menit kedua berakhir dan semua orang membuka mata. Lihatlah wajah orang-orang itu, semuanya kulihat relax dan, tersenyum…

 

Inilah efek samping meditasi menjadikan kita orang yang tenang, bahagia dan pasrah. Setelah meditasi usai, ada sesi tanya jawab dan sang bule terlebih dahulu menyampaikan lecture-nya mengenai Budha. Sayangnya aku dan McKenzie tak bisa mendengarkan lecture ini sampai selesai karena aku harus check out dan McKenzie harus membeli beberapa barang untuk keperluannya di ashram.   

 

Sebelum berpisah aku menanyakan account facebook dan alamat email, atau apa saja agar kita tetap keep in touch. Tapi inilah jawaban McKenzie, “Kalau Tuhan mengizinkan, kalau Tuhan berkehendak pasti kita bertemu lagi. Mungkin kita bertemu lagi disini nanti”, aku tersenyum mendengar jawabannya. Kamipun berpelukan dan berpisah di Dharamkot. Ya, mungkin suatu hari nanti kita bertemu lagi, who knows, Insya Allah…          

  • view 67