Incredible44

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 09 Januari 2018
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

6.3 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible44

Incredible44

Mc Leod Ganj, the Little Lhasa: Dharamsala (3)

 

        Esok paginya seusai breakfast dengan tiga helai paratha yang asli luar biasa enak buatan Mrs.Kalia, ayah Mr. Kalia mengantarku sampai tempat dimana aku bisa mencegat bis ke Dharamshala. Papa, demikian kemudian aku memanggilnya sejak tadi malam adalah orang yang sederhana dan aktif. Sisa waktunya setelah pensiun dia habiskan dengan menjadi pemasok tabung gas untuk rumah dan toko-toko disekitar Palampur. Seperti pagi ini, usai mengantarku dia akan mengantar beberapa tabung gas ke beberapa tempat. Dia juga memilih tinggal di Himachal Pradesh daripada kembali ke Amritsar, kampung halamannya.

 

Daerah dataran tinggi ini memang cocok untuk tempat peristirahatan. Jalanannya lengang, berkelok dan sangat indah. Sesekali kami melewati kebun teh, dan Papa bercerita sedikit tentang kebun teh tersebut sambil melambatkan mobilnya, memberikan aku kesempatan untuk menikmati udara segar Palampur. Aku menghirup udara segar Palampur sambil tersenyum kepada Captain Saurabh Kalia. Foto kecilnya yang gagah berdiri tegak dengan bendera kecil India di dashboard mobil.

 

Tak terasa akhirnya kami tiba dijalur lalu lintas yang mulai padat. Beberapa bis mulai terlihat berseliweran.

 

“So, that’s Dharamshala”, ujar Papa sambil menunjuk sebuah tempat yang masih diselimuti halimun.

 

Hmm, indah sekali. Papa mencegat satu bis dan berbicara dalam bahasa Hindi dengan sang kondektur. Sampai disini akhirnya kami berpisah. Lambaian tangan senyumnya nya makin jauh makin tak terlihat.        

 

Lagi-lagi turun hujan, membuat udara semakin dingin. Bis yang aku tumpangi bocor hahaha, jadilah aku yang kebetulan duduk paling pojok terkena imbasnya. Nuansa Budha mulai terasa ketika beberapa biksu dan biksuni secara bergantian naik kedalam bis. Pakaian mereka yang merah marun dan kepala mereka yang plontos begitu mencolok untuk dikenali. Beberapa penumpang berdiri mempersilahkan sang biksu untuk duduk, karena kondisi bis yang sudah penuh.

 

Jam sebelas aku tiba di Dharamshala, ternyata hujan makin deras. Aku dan beberapa orang berteduh di bus stand, termasuk dua orang biksuni. Jadi inilah Dharamshala. Aku memperhatikan orang-orang disekelilingku. Meskipun ada beberapa orang India, tapi lebih banyak dari mereka bermata sipit, berbadan kurus dan berhidung pendek. Bahasa yang digunakan pun bukan Hindi atau Punjabi, setidaknya itu terdengar dari perbincangan dua orang biksuni yang terdengar samar-samar.

 

Beberapa intern yang sudah ke Dharamshala menyarankan untuk pergi ke Mc Leod Ganj. Disanalah konon kabarnya kita bisa merasakan serasa berada di Lhasa, Tibet. Kepada dua orang biksuni aku bertanya bis menuju Mc Leod Ganj, siapa tahu dia akan kesana juga. Entah dia tak bisa berbahasa Inggris atau tidak mengerti maksud pertanyaanku, dia malah memanggil dua orang anak sekolah. Aku kembali mengulangi pertanyaanku. Dua gadis sipit itu mengangguk-ngangguk dan dua biksuni itu ikut tersenyum. Aku berdiri bersama mereka.

 

Sang gadis mempersilahkan aku untuk ikut berteduh dibawah payung mereka. Sekonyong-konyong datanglah bis besar berwarna putih. Dua orang gadis melambaikan tangannya untuk memberhentikan bis tersebut.

 

“This is the bus. Ten rupees to Mc Leod Gandj”. Cepat-cepat aku naik bis sambil berterima kasih kepada dua orang gadis itu.

 

Hujan masih awet sampai Mc Leod Gandj. Aku duduk disamping cowok berambut gimbal. Kami mengobrol, seperti semua orang asing yang bertemu denganku, dia juga menyangka aku dari Malaysia. Ketika kukatakan aku dari Indonesia, pemuda gimbal itu berseru, “Oh, Jakarta”. Ternyata dia pernah ke Indonesia satu kali. Dia yang asli penduduk Himachal Pradesh berkuliah di Delhi dan saat ini sedang pulkam. Dengan ramah dia mengundangku ke rumahnya nanti malam. Kabarnya akan ada party dirumahnya. “Well, its not party actually, just gathering with my friends”. Kami berpisah ketika bis berhenti dan semua orang turun. Sang pemuda mengingatkan aku untuk datang ke rumahnya, yang katanya tak jauh dari tempat kami berpisah. 

 

Aku berjalan menyusuri Mc Leod Gandj. Tempat ini kecil tapi luas. Jalananpun tak lebar-lebar seperti di Shimla atau Manali. Hawa sejuk pegunungan langsung terasa. Aku menyusuri jalan-jalan kecil untuk mencari tempat menginap malam ini. Hal ini harus segera dilakukan karena hujan masih saja berlanjut. Memasuki sebuah hotel kecil dan aku buru-buru keluar lagi. Bagaimana tidak harganya Rs 1.000/malam! Dari resepsionis aku mendapatkan info kalau dideretan ini ada guest house untuk para backpacker. Aku langsung bergerilya.

 

  • view 64