Incredible43

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 30 September 2017
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

947 Hak Cipta Terlindungi
Incredible43

Incredible43

Bermalam di rumah Sang Pahlawan: Dharamsala (2) 

                Kangra diguyur hujan ketika aku sampai. Memang benar perjalanan ke Dharamshala tak semulus jalan ke Shimla atau Manali. “UNDER CONSTRUCTION” adalah kalimat yang banyak ditemui dijalanan menuju Dharamshala. Pemandangan lain yang aku lihat adalah banyaknya kera yang berkeliaran secara bebas. Kira-kira jam lima aku tiba di Kangra. Dari Kangra aku memutuskan untuk pergi ke Palampur.

Seorang teman memberikan rekomendasi untuk bermalam di Palampur sebelum esoknya aku melanjutkan ke Dharamshala. Jatin Gupta, nama temanku sebelumnya memang memberiku opsi jika aku kemalaman menuju Dharamsala, sebaiknya menginap saja di Palampur. Temannya disana akan dengan senang hati menjemput aku di Palampur. Aku kenal Jatin dengan baik, maka akupun percaya, bagaimanapun juga aku akan bermalam di rumah orang yang tak aku kenal. Bahkan dia semakin membuat aku penasaran ketika kutanyakan siapa temannya itu.

“Don’t worry, you will stay with a famous family.” Begitu katanya

“As famous as Shah Rukh Khan?” ujarku setengah bercanda

“You’ll know by youself hahahaha”

“Welcome to Palampur”, seorang bapak yang kutaksir berumur sekitar tiga puluh tujuh tahun menyapa sambil menjabat tanganku. Berkacamata, berkulit terang, tinggi dan mengenakan setelan kemeja dan celana bahan, dia terlihat amat sangat rapi, sementara aku pasti sudah kucel, ga jelas. Perjalanan Ropar-Chandigarh-Kangra-Palampur memakan waktu hampir seharian. Tapi cuek saja lah. Kami mengobrol sepanjang jalan sampai menuju rumahnya.

Rumah bercat putih dengan gerbang berwarna hitam itu besar sekali. Begitu masuk, aku disambut dua anak laki-laki yang ganteng. Vyomesh dan Part Kalia, itulah nama kedua anak itu. Sementara sang ayah, orang yang menjemputku bernama Vaibhav Kalia terlihat mondar mandir, anak-anak itu membuat aku sibuk dengan menanyai aku macam-macam. Diterima diruang tamu, aku tak hanya bersama kedua anak ganteng dan ayahnya, nyatanya sang kakek ikut bergabung bersama kami. Ayah Mr.Kalia adalah mantan dosen sedangkan Mr.Kalia sendiri kini berprofesi sebagai dosen juga disebuah universitas di Palampur.

Rumahnya tertata apik, beberapa lukisan menghiasi dinding ruang tamu. Tapi ada satu lukisan yang mencolok dan menarik pandanganku. Ukurannya jauh lebih besar ketimbang yang lain. Lukisan seorang pria yang persis mirip dengan Mr.Kalia hanya saja tidak berkacamata. Wajahnya tegas dan berseragam tentara. Ketika kutanyakan siapa dia, sang ayah yang duduk persis didepanku langsung tertunduk dan bermuka sendu. Dia ternyata saudara kandung Mr. Kalia tetapi sudah meninggal. Jelas tergambar kesedihan mendalam diwajah ayah Mr. Kalia. Aku tak berani lagi bertanya yang lain. Dia kelihatannya sedih sekali, meskipun akhirnya bercerita sendiri bagaimana anaknya meninggal.

Captain Saurabh Kalia, itulah nama saudara kandung Mr.Kalia. Dia berprofesi sebagai tentara angkatan darat dan bertugas didaerah perbatasan India-Pakistan di Kargil (Jammu & Kashmir). Tahun 1999 terjadi Kargil War, dimana tentara Pakistan menyandera beberapa tentara India, termasuk Captain Saurabh Kalia. Ayah Mr.Kalia menarik nafas panjang, bahkan seperti ingin menangis ketika melanjutkan ceritanya. Secara singkat, dia bercerita bahwasannya dia percaya meskipun agama menjadi issue terjadinya perang tersebut, tapi sebenarnya politik-lah yang mendasari terjadinya hal yang menyedihkan ini. selama beberapa bulan tak ada kabar berita sampai pada akhirnya Captain Saurabh Kalia dan beberapa tentara India lainnya akhirnya dipulangkan tapi dalam keadaan sudah tak bernyawa. 

Ceritanya sampai disitu. Dan akupun tak berani bertanya yang macam-macam, takut membuat bapak tua ini makin sedih. Percakapan terhenti ketika Mr.Kalia memberitahu aku bahwa makan malam telah siap. Kami makan malam dirumah baru, yang baru saja di “resmikan” hari ini. Bau dupa masih kental tercium mulai dari halaman rumah, patung Dewa Krishna yang sedang tersenyum bersanding dengan foto Captain Saurabh Kalia yang gagah berani beserta pooja, makanan dan buah-buahan yang terlihat segar untuk persembahan sang dewa.

Malam itu kami tutup dengan dinner yang membuat aku hampir kekenyangan karena terus ditawari untuk nambah dan kehangatan keluarga Kalia. Dan seperti biasa pula mereka mengajak aku tour de house yang dipandu oleh kedua anak ganteng, Vyomesh dan Paart Kalia.    

  • view 25