Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project 30 September 2017   21:02 WIB
Incredible42

Incredible42

May 11th, 2013 

Change your mind, in a second: Dharamsala

 

                Seperti biasa minggu kedua disetiap bulannya hari Sabtu adalah hari libur artinya kami sedikit leluasa jika ingin travelling. Nicole dan Amal berencana mengunjungi Golden Temple di Amritsar. Mereka mengajak aku, tapi rasanya aku ingin merasakan travelling sendiri, lagi pula aku sudah pernah mengunjungi Golden Temple. Aku ingin melihat tempat yang lain dan tempat itu adalah Dharamsala. Nicole dan Amal meyakinkan aku apakah aku benar-benar tak ingin ke Golden Temple bersama mereka? Tapi sepertinya pertanyaan mereka bukanlah meyakinkan aku untuk ikut ke Golden Temple atau bukan, mereka bernada sedikit risau dengan pertanyaan, “Yakin mau travelling sendiri?”. Aku berharap ada intern lain yang pergi kesana. Daraz yang aku hubungi pun tak bisa karena harus kerja lembur. Maka akupun yakin bahwa aku bisa travelling sendiri. Lagipula aku sudah punya gambaran rute kesana. Dan ketika kami berpisah Nicole dan Amal berkali-kali berkata, “Hati-hati ya…”

Kamipun berpisah. Nicole dan Amal akan ke Amritsar sedangkan aku ke Dharamshala. Aku berangkat pagi-pagi sekali dengan maksud menghindari antrian, tapi apa daya ternyata sama saja. Antrian bis sudah mengular. Sebenarnya “mengular” bukan kata yang tepat, “bejubel” rasanya lebih pas. Ya seperti biasa loket karcis berbentuk kubus itu sudah ramai dikelilingi para penumpang.

Diantara orang-orang yang bergulung, aku ikut didalamnya berharap mendapat ticket untuk tujuan Dharamsala.

”No ticket for Dharamshala”. Ujar bapak berturban penjual ticket. Semua orang bubar. Aku bertanya kepada seorang pemuda. Dari penjelasan dia aku tahu katanya tak ada bis menuju Dharamshala. Bis dari Dharamshala belum kembali ke Chandigarh, lho maksudnya untuk ke Dharamsala kami harus menunggu bis itu pulang dulu? Waduh… Sang pemuda tersenyum melihat aku. Memang begitu adanya, jumlah bis ke Dharamsala memang tak sebanyak ke tempat tujuan lain. Aneh juga padahal penumpang segitu banyaknya. Ketika kutanyakan mengapa, sang pemuda hanya menjawab singkat, I don’t know

Sang pemuda memberi saran, sebaiknya ke Palampur saja nanti nyambung bis ke Dharamsala. Aku jadi ingat pesan Ms.Monika, guru Hindi disekolah yang berasal dari Palampur. Seperti Nicole dan Amal, dia juga kaget ketika kuberitahu aku akan ke Dharamshala sendiri dan menanyakan rute menuju kesana. Dia berpesan sebaiknya mengajak teman yang lain, karena Dharamshala cukup jauh dan jalanannya tak sebagus seperti ke Shimla atau Manali. Takut terjadi apa-apa dijalan, begitu alasannya. Lebih jauh dia berkata kalau aku bersabar menunggu, minggu depan dia akan pulang ke Palampur karena adiknya akan menikah dan aku bisa ikut bersama dia. Tapi aku tak bisa menunggu, aku ingin pergi besok. Akhirnya dia menarik nafas panjang dan memberi tahu dan menuliskan dibuku kecilku rute menuju Dharamshala.

Dari catatannya, aku tahu kalau bis paling pagi adalah jam 03.50, walah itu sih aku masih tidur, lagipula kalau mau pergi jam segitu jam berapa harus pergi dari Ropar. Dari bus stand, aku bisa mencari bis langsung ke Dharamshala, jika tak ada aku bisa naik bis menuju Palampur setelah itu nyambung ke Dharamshala. Atau kalau masih tak ada juga aku bisa ke Kangra. Kangra adalah centre place, jadi aku bisa memilih ke Palampur atau ke Dharamshala langsung.

Berbekal catatan itu akupun kembali berjibaku dengan yang lain mendapatkan ticket ketika pemuda tadi bilang kalau ticket menuju Palampur sudah dibuka. Mengapa kubilang berjibaku, hal itu tak lain karena semua orang sepertinya ingin cepat-cepat mendapatkan ticket tanpa ingin mengantri. Beberapa kali petugas ticket menyuruh mereka antri, tapi tak ada yang memperdulikan, semuanya saling dorong dan saling ingin berdiri paling depan. Mungkin sang pemuda tadi kasihan kepadaku, dia menawarkan jasanya untuk membelikan aku ticket, karena dia juga berubah fikiran untuk ke Palampur saja dulu, daripada menunggu bis ke Dharamshala.

Dalam sekejap ticket kesanapun ludes, dia meminta maaf, tak bisa mendapatkannya untukku. Dia saja yang berpostur tinggi tegap tak bisa mendapatkan ticket, apalagi aku! Dia berubah fikiran lagi, akan menunggu bis ke Dharamshala saja, mudah-mudahan penumpang sudah berkurang, jadi dia bisa mendapatkan ticket kesana. Aku kembali menyingkir dan menunggu.  

Tiba-tiba sang pemuda mendekati aku dan berkata kalau ada bis ke Kangra. Aku langsung bersemangat. Kali ini ada petugas berseragam jadi ada antrian. Ternyata penduduk India sama saja dengan penduduk Indonesia, menjadi patuh dan taat jika ada aparat. Petugas berseragam, polisi, satpam, satpol PP atau apapun namanya ternyata mempunyai fungsi yang sama di India dan Indonesia.

Ternyata pemuda itu antri bersamaku. Lho dia berubah fikiran lagi, katanya tadi mau ke Dharamshala saja? “Yes, I change my mind”, begitu kilahnya. Hmm, change your mind in a second, adalah suatu skill yang baru aku pelajari di India. Bagaimana tidak, hanya dalam hitungan menit (atau mungkin detik) aku dan pemuda tadi sudah berubah fikiran selama tiga kali! Pertama ke Dharamshala, kemudian berubah fikiran ke Palampur dan akhirnya memutuskan ke Kangra.

Sang pemuda menunjukkan padaku antrian baru, female queue. Akupun segera berpindah tempat meninggalkan dia. Ternyata terjadi “insiden” diantrian para wanita ini. Ceritanya begini, seorang ibu yang mengantri, tiba-tiba meninggalkan antriannya dan seorang ibu dibelakangnya maju. Antrian memang panjang sekali. Tiba-tiba sang ibu (yang meninggalkan antrian tadi) balik lagi dan memaksa kembali ke posisi semula. Terjadi adu mulut yang amat sangat sengit sampai-sampai sang anak dari ibu masing-masing turun tangan. Hadeuh, please deh… Aku menoleh ke samping melihat sang pemuda changing mind, dia hanya nyengir. Akhirnya setelah perjuangan yang cukup lama, melewati dua orang ibu yang masih beradu mulut, aku mendapatkan ticket juga. Aaah, lega rasanya, kutunjukkan ticketku kepada sang pemuda dan dia tersenyum sambil berkata, congratulation.

Karya : Irma Rahmatiana