Incredible40

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 27 September 2017
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

1.2 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible40

Incredible40

Surprising May!               

everyday is a surprise

everything is unpredictable

that’s why we call it Incredible…

 

 

                Weekend ini seperti biasa kami ngabur ke Chandigarh sekedar untuk bertemu teman-teman intern lain dan hang out bareng mereka, tapi ada yang kabar lain dari Local Committee Chandigarh bahwa akan ada new comer di kamar kami. Kami berdua terkejut dan bertanya-tanya, mau di taruh dimana dia, secara kamar kami saja hanya cukup untuk dua orang. Tak terbayang sesaknya kamar kami jika dia bergabung dengan kami berdua, ditambah dengan cuaca yang amat sangat panas, bisa-bisa kami rebutan oksigen didalam kamar hahahaha. Hari Minggu jam setengah dua belas siang bel intern house berbunyi dan lihatlah siapa yang datang kawan. Seorang gadis dengan sorot mata tajam dan warna serba hitam mulai dari hijab hingga bajunya mengingatkan aku pada gadis-gadis timur tengah. Perkenalkan dialah Amal, asal Tunisia yang akan menghiasi hari-hari kami selanjutnya di India karena dia akan menjalani internship selama enam bulan kedepan.

Sedikit berpuisi dipagi hari meskipun dalam hati ketika kami mendapati kenyataan bahwa bapak berturban itu hari ini berlaku so sweet and tenderly. Senin tanggal 6 May dia menyediakan taksi eksklusive untuk aku, Nicole dan Amal, roommate baru kami dari Tunisia. Dalam perjalanan dari Chandigarh menuju Ropar dia tak henti-henti nya berbicara mengenai rencana Summer Camp yang sudah lumayan sering dan bosan kami dengar. Nicole yang berencana akan mengajar ballet dan pilates terus ditanyai, sementara aku masih bercabang antara mengajarkan bahasa Arab atau drama. Amal yang duduk di jok depan langsung “ditodong” mau ngajar apa summer camp ini. Benar-benar ya tu bapak berturban gak mau rugi, dia baru datang dan entah masih jet lag atau tidak, dia kagak perduli brow.

Sejenak kami menepi karena ada seseorang yang ingin bertemu dan dia tak lain adalah Sanya, sang pengurus Local Committee Chandigarh. Tanpa tedeng aling-aling kami mengemukakan keluhan kami mengenai ketiadaan space untuk Amal dikamar kami. Rupanya dia cukup tanggap juga dan langsung berkata pada bapak berturban tersebut. Kulihat dia manggut-manggut dan kamipun masuk kembali kedalam taksi tersebut.

“Acha, so you need a new room now”, katanya membuka kembali perbincangan kami yang sempat terputus.

“I’ll show you a new room, if you like it you can stay there”, seketika kami curious dengan apa yang akan kami lihat.

Hingga kami tiba didepan sebuah pos jaga security dan taksi berhenti disebuah flat yang cukup lumayan tertata rapi. Seorang ibu tersenyum kepada kami dan mempersilahkan kami masuk melihat-lihat. Flatnya cukup bagus, ada tiga kamar tidur, yang dilengkapi dengan living room, bathroom juga kitchen. Seketika kami seperti berbunga-bunga mendapati tempat yang jauh berbeda dengan kamar kami di Ropar.

This is so nice”, ujar Nicole dan bapak berturban itu manggut-manggut mendengar komentar-komentar kami yang memang cenderung mengarah kea rah positive memuji tempat tersebut. Secara terus terang kami bertanya kapan kami bisa pindah dan dia sedikit kebingungan dengan pertanyaan kami. “See, somebody will arrange for it and it’ll be finish within one week”.

Begitu janjinya kepada kami dan kami mencatat benar-benar perkataan “one week” versi India, bisa jadi itu dua minggu, tiga minggu bahkan bisa jadi satu bulan, kita lihat saja nanti. Kami langsung berangan-angan bahwa kami bisa secepatnya pindah ke “istana” ini karena keadaan ini begitu berbanding terbalik dengan keadaan kamar “kelas” kami di Ropar. Nicole berangan-angan melakukan pilates di ruang tamu sementara Amal bermimpi memasak makanan khas Tunisia di dapur dan aku menyadarkan dua gadis ini untuk menurunkan ekspektasi mereka terhadap semua kemungkinan terburuk yang akan terjadi termasuk jika itu hanya omdo belaka.

Sekembalinya memasuki taksi, bapak berturban ini kembali banyak bercerita tentang apa saja, bahkan kadang ceritanya ngawur ga jelas dan ga focus karena sesekali dia mengangkat teleponnya dan  berbicara dalam bahasa Punjabi dengan koleganya. Tiba-tiba taksi berhenti disebuah warung pinggir jalan dan dia menawari kami cold drink.

Tentu saja kami mengangguk senang, siapa yang menolak cuaca panas begini ditawari soft drink dingin yang mengalir ke tenggorokan kami. Sementara kami menyeruput minuman bersoda tersebut sesungguhnya kami bertanya-tanya ada apa dengan “kebaikan” dia sejauh ini, mulai dari menyediakan taksi eksklusive, memperlihatkan flat yang katanya selesai dalam seminggu dan menawarkan kami soft drink di teriknya siang hari. Pasti ada maunya nih dan hanya dia seorang dan Tuhan-lah yang tahu semua itu dan kami menunggu “kejutan” selanjutnya apa yang akan terjadi di India.  

  • view 28