Incredible39

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 27 September 2017
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

5.1 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible39

Incredible39

Syuting and Promoting

 

                Badanku yang berjalan seperti robot mendadak terdiam seketika membaca pengumuman yang tertera diblackboard salah satu kelas siang ini. Lima belas menit menjelang pulang adalah “Diary Period” dimana class teacher biasanya menuliskan informasi penting untuk orang tua. Dan informasi kali ini cukup membuat aku terkejut, anak-anak disuruh berpakaian rapi dan lengkap karena akan ada syuting dari salah satu televisi lokal Punjab. Seperti halnya anak-anak desa di Indonesia, kulihat wajah anak-anak itu berseri-seri, riang gembira dan terus membicarakan bahwa mereka akan masuk tipi hahaha. Terbayang dimataku wajah Tukul Arwana dalam talkshow nya yang selalu berucap, “Masuk tipi…” kepada audience yang berwajah ndeso dan seketika kamera menyorot wajah-wajah itu, maka itulah gambaran wajah anak-anak itu teman.

Ternyata announcement untuk syuting tak hanya untuk anak-anak tapi juga untuk para guru, khususnya Nicole. Setelah sign out dia dengan menggebu-gebu menceritakan apa yang telah dibicarakan oleh sang Principal kepada dia.

“Irma, you should know. The Principal asked me to prepare the lesson for tomorrow for the third grade students and they said that they wanna shoot me”.

Aku tahu dia gembira karena diberi kesempatan untuk mengajar secara independent, hal yang selama ini tidak dia dapatkan karena selalu menjadi cameo jika berdua bersama guru senior. Tapi jauh dilubuk hatiku sebenarnya aku tahu akan dibawa kemana arah lesson plan yang dia buat. Tapi akupun tak mau mengemukakan “hipotesa” ku karena aku menganggap apa yang aku fikirkan belum tentu benar adanya. Biarlah dia melalui masa-masa “excited” ketika mempersiapkan lesson seperti apa yang aku rasakan dua bulan pertama internship ku.

Hari ini tanggal 30 April 2013 aku mencatat benar-benar dalam hatiku bagaimana cara pandang orang India terhadap bangsa Eropa dan Asia. Nicole sudah siap sedia dengan lesson plan dan teaching aids ditangannya, bahkan malam sebelumnya dia meminta pendapat dan saranku mengenai materi yang akan dia ajarkan hari ini. Sebagai seorang Germany aku tahu benar dia tidak pernah setengah-setengah melakukan sesuatu, always doing the best, begitulah yang bisa aku tangkap dari setiap apa yang dia kerjakan.

Dan kami menangkap ada suasana lain pagi ini disekolah. Para aunty begitu sibuk wara-wiri ga jelas, kaca-kaca yang biasanya buram hari ini seketika mengkilat, bangku-bangku sekolah tertata rapi, lantai kelas pun dipel berkali-kali. Pemandangan lain adalah tak hanya siswa yang berdandan rapi, lihatlah guru-guru itu. Mereka seperti mengenakan Punjabi Suit terbaiknya juga lihatlah kaki-kaki mereka, mengapa aku begitu pay attention kepada hal ini, karena biasanya mereka mengenakan alas kaki seadanya, tapi hari ini mereka kaki mereka terlihat berbeda dengan high heels dan koleksi-koleksi sepatu feminine yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Semuanya memang harus berbeda kalau mau masuk tipi hehehe… Dan mereka juga mengundang beberapa orang tua, ada sekitar sepuluh pasang suami istri yang kulihat berkerumun dilobi sekolah dan sedikit ribut berbicara dengan bahasa Punjabi-nya.

Jam 11.00 KBM dihentikan, semua siswa berkumpul disebuah tempat yang mereka sebut hall, padahal tempat itu bukan hall dalam arti yang sebenarnya. Para orangtua dan dewan guru didudukkan disebelah kanan para murid. Perfect setting for syuting. Aku dan Nicole diposisikan ditengah-tengah mereka. Lima belas menit berlalu, tak tampak tanda-tanda crew televisi, kamera, mikrofon dan semua hal yang berhubungan dengan syuting. Lima belas menit kedua berlalu artinya kami sudah setengah jam duduk menunggu dan tak tahu harus ngapain. Aku menyibukkan diri dengan mengulang pelajaran Hindi sambil sesekali iseng bertanya kepada guru disampingku.

Lima belas menit ketiga suasana mulai ribut, anak-anak yang tak bisa dikontrol, sebagai penenang salah satu guru memutarkan Punjabi Hits dan meminta setiap kelas menari didepan mereka. Hal ini cukup mujarab, karena anak-anak itu hanya bisa didiamkan dengan tarian dan nyanyian hahahaha. Tepat enam puluh menit, we sit doing nothing, salah satu guru membawa Nicole entah kemana dan aku masih sibuk dengan huruf-huruf keriting itu. Tak berapa lama Nicole muncul kembali memanggil aku mengatakan bahwa Jasveer, staff Day Care ingin meminjam sepatu kami karena sepatunya putus. Dia sendiri katanya akan mulai syuting dikelas tiga. Tanpa fikir panjang aku langsung menyetujuinya untuk meminjamkan sepatu, artinya aku bisa kabur.

Sejujurnya aku tak mau berpartisipasi untuk hal yang tak aku tahu maksud dan tujuannya, termasuk syuting ini. Dengan alasan mengambil sepatu aku berpamitan dan menuju gedung dimana kami tinggal dan kebetulan pula waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Aku bergegas masuk kedapur mencari aunty, tapi tak kudapati dia, sepertinya dia pun sibuk dengan acara syuting itu. Tak apalah aku mengambil sendiri, kulihat diatas kompor gas nasi berwarna kuning yang siap disantap. Aku sengaja melambatkan makan siang ku dan leyeh-leyeh sebentar hingga waktu zuhur tiba.

Satu setengah jam berlalu dan aku mengira kalau syuting sudah berakhir. Aku datang dengan santai kesekolah sambil membawa makan siang untuk Nicole, takut dia kelaparan maklum mukanya belum nongol-nongol ketika aku di rooftop makan siang.

“Where are you, you should be there, we are looking for you”,

Salah satu guru berkomentar dengan serius kepadaku dan menunjukkan aku seharusnya duduk disana bersama para guru dan orang tua itu. Dengan senyum dibibir aku mengutarakan alasan kemana aku “menghilang” selama satu setengah jam. Semua orang memang sepertinya terpusat dilokasi syuting, semua tempat sepi.

Aku melihat Nicole yang duduk di bangku kecil disudut ruangan bersama dua orang guru yang sepertinya sudah kelelahan. Punjabi Suit mereka sudah mulai kusut, dupata sudah tidak lagi serapi saat pertama dipakai, yang mengenakan high heels mulai mengeluh kesakitan, inikah efek shooting? Aku menghampiri Nicole yang juga seperti kelelahan. “Have you finished your shooting?” tanyaku, dia dengan lemas tapi garang berdiri dari bangku kecilnya dan menjawab “You know what, they haven’t do that. And they asked me to stay here for almost two hours and this is not the third grade”. Meskipun dia sepertinya berusaha sabar tapi aku tahu mimik mukanya tak seperti orang sabar. Aku membuka bungkusan yang kubawa dan menyerahkan kepada dia. “Here, you must be hungry”, dia terdiam dan mengambil kotak makan berbentuk bulat tersebut. “Thank you Irma, you are my hero today, I’m so starving”, katanya dan tanpa ba bi bu langsung melahap nasi berwarna kuning yang bercampur dengan kentang dan kacang polong ini.

Tak lama setelah itu dia sedikit kalem, wajah meradangnya mulai turun. Kami duduk berdua di ruang computer, kulihat anak-anak kelas dua yang sudah seperti cacing kepanasan. Tiba-tiba seorang guru menghampiri kami dan berkata, “Nicole, gets ready, they will shoot you”. Nicole berdiri dan memasuki kelas. Kulihat tiga orang pria ada didalam, satu memegang mikrofon, satu memegang kamera dan satu lagi memegang buku. Pria yang memegang buku mengarahkan sang reporter dan kameraman, setelah itu kulihat sang reporter berbicara kepada Nicole.

Adegan dimulai dengan Nicole memulai pelajaran dan anak-anak itu mendengarkan dengan baik dan tiba-tiba datanglah sang reporter secara tiba-tiba ke ruangan kelas dan bertanya kepada Nicole. Setelah bertanya pada Nicole diapun kemudian bertanya kepada salah satu murid dan lucunya sang murid yang ditanya hanya melongo saja, hingga sang sutradara berteriak “Cut”. Semua tertawa, mungkin sang sutradara lupa tidak mengarahkan anak-anak itu hahaha, padahal justru merekalah sentral syuting ini, jika ini untuk keperluan “promosi” sekolah.

Adegan kedua dimulai dan sepertinya anak-anak ini sekarang sadar kamera, terlihat mereka sedikit action dengan mengangkat tangan ketika Nicole bertanya dan sang reporter mengulangi hal yang sama kepada sang murid, bedanya kali ini sang murid bisa menjawab pertanyaan sang reporter. Syuting tak lebih dari dua menit, kurasa. Karena setelah itu sang sutradara menyatakan okay dengan adegan yang kedua dan mereka bertiga keluar tanpa pamit meninggalkan ruangan kelas. Tampak kekecewaan terpancar diwajah Nicole.

“I have prepared the lesson for the third grade, not for them and why they stop me while I’m teaching and they are asking the question to the students I never teach before, what is this and why they aren’t shoot your class”.

Aku hanya tertawa kecut, sebenarnya dari awal aku sudah tahu akan dibawa kemana arah shooting ini. Apalagi kalau bukan promosi sekolah yang seolah-olah berkata kepada khalayak ramai bahwa mereka mempunyai guru bule, padahal khalayak ramai tak tahu bahwa dia hanyalah internship students, bukan guru permanent seperti yang dibayangkan. Dan mengapa mereka tidak mengambil gambar dikelasku? Itupun tak perlu dipertanyakan menurutku karena “wajah Asia” tak akan “menjual” seperti wajah Eropa. As simple as that, dan aku rasa semua orang tahu tentang itu. Kulihat reporter itu bertanya kepada salah satu guru mengenai Nicole, guru yang bersangkutan menjawab bahwa mereka tak hanya mempunyai guru dari German tapi juga dari Indonesia, ketika melirik ke arahku sang reporter hanya diam dan berpaling lagi pada Nicole.

Ketika kukemukakan “hipotesa” ini kepada Nicole, sepertinya dia naik darah. Dimatanya banyak yang harus sekolah ini benahi dari hanya sekedar promosi dan aku setuju dengan hal itu. Nicole merasa dirinya didiskriminasikan dan dimanfaatkan. Mungkin ada benarnya juga, setidaknya pengalaman di Sastri Market dimana dia ditawari harga lebih mahal dari harga normal dan sekarang dia dijadikan symbol untuk mendatangkan murid yang lebih banyak bagi sekolah. Nah sekarang siapa bilang jadi bule itu selalu enak, ada juga ga enaknya ternyata, bahkan yang lebih menyeramkan kadang-kadang mereka jadi target pemerkosaan dari para gang rapes.

Kami masih membicarakan tentang sekolah tempat internship kami berada hingga malam. Iseng-iseng Nicole mencoba membuka Youtube dan mengetik nama sekolah. Maka betapa terkejutnya kami mendapati beberapa video dimana sekolah tersebut menampilkan profile sekolah yang benar-benar “berbeda”. Video pertama memperlihatkan seorang guru bule yang sedang mengajar anak kindergarten dengan teaching aids boneka buaya, video kedua menampilkan guru lokal dengan beberapa teaching aids yang tidak pernah kami lihat dikelas manapun dan metode mengajarnyapun benar-benar berbeda dengan yang sebenarnya terjadi dan video ketiga memperlihatkan parents meeting dan yang mengejutkan juga kami mengenali para orang tua tersebut tak lain adalah para guru-guru disekolah hahahaha.

Promosi dimana-mana memang selalu menampilkan yang terbaik, lantai sekolah yang bersih, kaca dan jendela yang mengkilap dan tentu saja guru-guru yang tak hanya produksi lokal tapi juga international, tak perduli dia internship students atau bukan, tak perduli dia hanya tinggal dua sampai enam bulan di India yang penting dia foreigner, ekspat, apalagi berkulit pucat produksi benua Eropa atau pun Amerika.      

  • view 86