Incredible38

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 26 September 2017
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

1.3 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible38

Incredeble38      

Exercise, exercise, exercise…

Awal minggu ini Prince dan Nicole mengajukan ide gila, yaitu makan es krim setelah dinner. Gila aja dinner saja sudah sangat telat, ini lagi pake acara makan es krim. Aku langsung paranoid, bayangkan meskipun menunya vegetarian tapi cara memasak selalu oily dan diakhir dinner kamipun minum susu. Kepalaku langsung pusing, tubuhku gampang gemuk dan aku tipikal orang yang malas berolahraga.

Aku langsung berkata tidak dengan rencana ini, Nicole meradang, “Why not, Irma?”.

Dengan dua alasan tersebut diatas Nicole seperti “tidak terima”, dia berusaha membuka “wawasan fikiranku”.

“But you want to eat ice cream right?” katanya seolah menggoda aku. Tentu saja, siapa yang tidak tergoda dengan lelehan dan potongan ice cream disaat summer seperti ini. Bayangkan saja, cuaca yang seperti memanggang kulit dan membuat tenggorokan selalu gersang jika disiram ice cream, hmmm pasti lupa semua “keruwetan” yang mengelilingi kami sehari-hari.

“Hey, you want to eat ice cream but you are lazy to exercise”, skak mat! Nicole seolah menyimpulkan pribadiku dan aku pun mengakuinya.

“Now, eat the ice cream and I’m gonna kick you ass to do exercise with me” .

Ohh noo, aku langsung membayangkan aku akan tepar jika dia menjadi coach ku.

 Sekali waktu seusai shalat maghrib aku membaca Qur’an dan dia exercise didepan aku. Keterbatasan tempat tak membuatnya malas berolahraga, dia menyulap tempat tidur menjadi matras dan berpegangan pada gagang lemari baju ketika melakukan peregangan otot ketika memulai exercise. Kami sungguh melakukan dua hal yang berbeda, aku duduk dan membaca Al-Qur’an dan dia berolahraga sambil mendengarkan music ditelinganya. Hingga aku selesai membaca Al-Qur’an dia masih belum selesai melakukan exercise-nya, sampailah aku pada adegan yang mencengangkan mataku ketika badannya lentur seperti karet dan mudah dibengkokkkan kesana-kemari. Wow, dengan basic ballet dan pilates seperti yang dia ceritakan kepadaku, aku tak ragu mengatakan bahwa dia multi talenta.

 Dan hari itupun tiba, dengan memanfaatkan sisa lahan yang tersedia dilantai bawah kami memulai exercise. Latihan pertama adalah jogging selama lima belas menit, berputar mengelilingi ruangan seukuran kamar. Aku yang tidak pernah berolahragacukup dibuat repot dan ngos-ngosan padahal baru beberapa menit berputar.

 Prince juga ternyata demikian, Nicole menyarankan untuk berlari pelan dahulu dan jika cape jangan berhenti tapi berjalan perlahan-lahan selama dua menit kemudian berlari lagi. Cuaca yang panas tak pelak mengundang keringat yang membanjiri kaos yang aku kenakan. Ada adegan lucu jika aku terlalu lama berjalan dan tidak lari kembali, Nicole membawa sapu lidi dan dengan wajah setengah galak plus wajah kartunnya dia mengarahkan sapu lidi tersebut kearah bokongku, sambil berkata “Come on Irma, run” Aku dan Prince pun ikut tertawa.

Dia persis seperti nenek sihir yang membawa sapu terbangnya mengejar aku yang terbirit-birit berlari menghindari dia. Seketika Ropar tak lagi terasa membosan karena keceriaan kami bertiga. Setelah alarm berbunyi yang menandakan bahwa lima belas menit telah berlalu, dari kami bertiga tentulah dia pemenangnya, dia konstan berlari selama lima belas menit tanpa henti, keringat bercucuran membasahi tubuh atletisnya. Two thumps up dech buat dia.

Nicole juga mengajarkan aku secara bertahap latihan untuk kaki, tangan dan perut. Untuk latihan pernafasan dia mengajarkan tekhnik pilates. Latihan kaki dan tangan menggunakan hitungan 1 sampai 15 masing-masing untuk tangan kanan dan kiri. Dan lagi-lagi badanku yang tak pernah bergerak serasa amat sangat kaku dan ngilu jika digerakkan. Nicole membantu aku melakukan exercise dengan posisi yang benar hingga benar-benar “terasa” bahwa aku tahu bahwa aku benar-benar tidak pernah “mentraining” badanku untuk bergerak. Latihan berlangsung selama kurang lebih satu jam hingga menjelang waktu maghrib dan aku undur diri. Dia kulihat masih meneruskannya bersama Prince.

 Keesokan harinya…

Jadi ya teman-teman beginilah derita orang yang tidak pernah berolahraga, sekalinya berolahraga badan terasa langsung sakit semua. Disuatu pagi ketika bangun tidur, tak hanya kaki yang terasa tapi juga paha, bokong, pergelangan tangan, bahkan perut semuanya terasa ngilu. Aku berjalan seperti robot, mulai dari bangun tidur hingga berangkat dan pulang dari sekolah. Nicole yang melihat aku terkekeh-kekeh dan hanya berkata, “Good, now you feel better right?”, aku hanya mengangguk sambil meringis. “Next time we’ll do sport again”. Mampus dech gue…

  • view 33