Incredible37

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 23 September 2017
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

1.2 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible37

Incredible37

Glow Party

 

                Tiga minggu di Ropar sudah membuat Nicole stress karena dia mulai merasa boring. Tak hanya Nicole aku lebih-lebih sudah tiga bulan disini. Sabtu siang usai menghadiri meeting dengan para guru, aku dan Nicole runaway ke Chandigarh dan menginap di intern house. Tak ada planning yang pasti untuk malam minggu tapi di hari minggu sore yang pasti kami akan menonton live cooking show dari sebuah ajang lomba memasak terkenal sejagad raya dan kabarnya sang Indian masterchef sendiri yang akan memandu acara itu dan kami bisa mendapatkan free dinner. Rencana semakin sempurna karena kami bisa mengajak dua puluh orang lebih untuk satu voucher, artinya kami bisa mengajak intern lain jika mereka berminat. Dan yang lebih membuat kami bahagia adalah pulangnya kami bisa numpang disalah satu staf sekolah yang juga memberikan kami voucher tersebut hingga kami tak perlu berdesak-desakan naik bis dari sector 43 menuju Ropar.

Salma menyebut intern house adalah heaven bagi kami, meskipun pada awalnya dia sendiri menyatakan bahwa intern house bukanlah tempat yang nyaman, tetapi setelah dia mendapati kenyataan di Ropar, intern house ternyata lebih bisa diandalkan, terutama untuk akses internet. Akses wifi memang tersedia dua puluh empat jam disana, tentu saja jika tidak ada trouble. Biasanya, seketika kami tiba di intern house, hal yang dilakukan pertama kali setelah menyapa tuan rumah adalah membuka laptop masing-masing dan tenggelam dalam surfing lautan internet akses.

Maka begitu pula Nicole, dia yang seorang European sepertinya tak bisa hidup tanpa koneksi yang menghubungkan jutaan umat manusia di seluruh dunia ini. Dari group intern facebook biasanya ter-posting apa saja rencana para intern jika weekend sudah di depan mata. Ruang chatting dibuka lebar-lebar dan Chelsea, intern asal negeri Paman Sam memberitahu kami bahwa akan ada house party malam ini. Adalah Sachin, seorang Indian guy yang akan menjadi host untuk pesta tersebut. Nicole yang untuk pertama kali akan menghadiri party terlihat antusias dengan berita ini. Dan kami tak hanya berdua, ada seorang new comer dari Rusia, Mila namanya. Semua yang ada diwajah Mila nyaris memenuhi kriteria Barbie girl. Postur tubuhnya tinggi kurus, seperti impian para cewek-cewek yang tergila-gila menjadi Barbie di dunia nyata, rambutnya blonde panjang sebahu dan megar dia tambahkan aksesories bando, dan ya ampun wajahnya seperti benar-benar pahatan boneka Barbie. Lihatlah hidung mancungnya, tirus pipinya dan mata kecilnya. Sungguh dia Barbie yang benar-benar sempurna. Berjalan dengan dua wanita Eropa ini aku seakan menjadi kerdil dan semua mata para pria seakan berputar 180 derajat jika melihat mereka berdua.     

Sebelum sampai di house party, kami menyambangi flat Chelsea untuk pergi bersama-sama dari sana. Sesampainya di flat Chelsea dan begitu pintu kamar dibuka, aku dan Nicole nyaris salah tingkah, bukan karena apa-apa, kami melihat Iuliia, teman sharing flat Chelsea duduk diatas tempat tidur sambil mengolesi paha mulusnya dengan body lotion. Dan kami tahu persis bahwa benar-benar paha dari bagian atas hingga ujung-ujung jari kakinya, dan persis disamping ranjang duduk seorang Indian guy yang sepertinya menikmati pemandangan ini. Dan sepertinya dia baru selesai keluar kamar mandi karena kami bisa mencium bau parfume khas cewek jika selesai mandi. Menyadari hal itu aku dan Nicole seperti mencari tempat lain yaitu menyusul Chelsea dan berpura-pura melihat bathroom dan kitchen flatnya.

“Are we come at the wrong moment?” Tanya Nicole kepadaku

“I guess so”, jawabku melihat kearahnya.

Untungnya kami tak lama disana karena setelah itu kami berempat meninggalkan mereka berdua yang tentu saja tak ikut ke party. 

Party dimulai agak telat sekitar jam setengah sebelas malam. Sang host menyambut kami dengan ramah dan langsung membawa kami ke lantai atas rumahnya. Aku pernah bertemu dengan sang tuan rumah pertama kali ketika ada house party di flat Pedro. Anaknya asyik dan kocak. Bertema glow party, maka ruang tamunya disulap bak dance floor dengan kilatan lampu warna-warni yang sebenarnya menyilaukan mata. Flat tivi berukuran 29 inci terpampang didinding dan didepannya ada meja kecil yang disulap seperti meja untuk dj. Karena kami dinilai datang tepat waktu, maka Sachin langsung memasangkan gelang yang terbuat dari plastik dan ketika gelang dipasangkan maka mengkilatlah warna-warna dari gelang tersebut, merah, hijau, biru dan lain-lain.

“Welcome to glow party”, katanya sambil menyorongkan sebotol beer untuk Nicole. Aku seperti biasa mengambil soft drink yang diIndonesia berwarna merah tapi di India berubah warna menjadi orange.

Anna yang asal Columbia tidak percaya bahwa aku tidak minum beer dan sejenisnya.

“You don’t drink?Even you don’t try once?” begitu ujarnya seolah heran dan tak percaya

Aku menggelengkan kepala dan dia masih penasaran, “Are you kidding me? Why?”

Aku hanya bisa tersenyum melihat wajahnya. Ingin rasanya aku perdengarkan lagu dari bang haji Rhoma yang berjudul Mirasantika hahahaha…  

Sebagai seorang European tak susah bagi Nicole dan Mila untuk blending dalam sebuah party, tidak seperti aku yang sedikit susah “menerima kenyataan” dimana asap rokok dan alkohol bercampur baur dengan orang yang sembarangan berkissing ria dimana saja. Bagi aku pribadi, party adalah ajang untuk bertemu muka dengan para intern dan saling bertukar cerita dengan mereka. Semakin terang kenyataan kini bahwa semakin banyak cinta lokasi antara cowok-cowok India dengan cewek-cewek Eropa dan South America. Jika boleh aku mengambil teori figure of speech, maka cowok-cowok India adalah simile, seperti kucing yang melihat ikan ketika melihat cewek baru, terutama yang berkebangsaan Eropa. Mendapati kenyataan ini Nicole dan Mila bergidik tapi mereka tetap tampil anggun dan elegant dimata cowok-cowok “lapar mata” tersebut.

Party terus berlanjut hingga dini hari dan tak terasa waktu sudah menunjukkan jam setengah tiga pagi. Dan beberapa orang sudah mengundurkan diri lebih awal, yang tersisa hanyalah orang-orang dengan tingkat kesadaran yang dipertanyakan. Kostia yang mondar-mandir ga jelas dengan helmnya, Andres yang meracau dengan scarf entah milik siapa dikepalanya dan cewek Mauritius yang duduk dikursi dan mulai throw up. Tuch kan coba denger apa kata bang haji, pasti kalian semua tahu kenapa dia mengarang lagu Mirasantika.

Hal lain yang biasanya menjadi masalah adalah dengan siapa kami pulang? Semua cowok sudah setengah mabuk bahkan full mabuk dan tak ada yang bisa diandalkan untuk mengantar kami pulang, kami berfikiran untuk menelepon taksi hingga tiba-tiba sang host memberi tahu kami bahwa ada cowok yang searah dengan kami dan bersedia mendrop kami sampai intern house. Tapi justru inilah awal “pelajaran berharga” bagi kami.

Manish, nama cowok yang akan mengantar kami pulang. Kami berkesimpulan bahwa dia tidak mabuk bahkan kami melihat dia hanya memegang botol air mineral. Sepanjang perjalanan dia menjadi talkactive, bertanya sana sini bahkan bercerita mulai dari tokonya di Sector 17 hingga ceweknya yang pramugari asal Malaysia. Dia juga memperlihatkan foto-fotonya bersama sang kekasih. Sampai disitu sepertinya kami semua berpendapat bahwa dia adalah cowok “lurus” yang berniat mengantarkan kami pulang. Cerita menjadi lain ketika ditengah perjalanan dia menawari kami makan, tapi kami semua tak ada yang berminat, kami hanya ingin pulang. Namun rupanya jarak yang lumayan jauh membuat dia tetap gigih untuk menawari kami, sekarang tawaran beralih ke soft drink atau milk shake, dan kami pun tetap menolak kami hanya ingin pulang.

Hingga titik terakhir Manish akhirnya memberikan pilihan karena jalan didepan kami terbelah dua, arah kanan untuk fast food terkenal dan arah kiri untuk pulang. Aku sudah setengah ngantuk mengartikan hal yang sebaliknya, yaitu kanan untuk pulang dan kiri untuk milk shake. Akupun menjawab kanan, anehnya lagi Mila yang duduk didepan juga memilih arah kanan, hanya Nicole yang terbengong-bengong tapi dia tidak berkomentar. Otakku mendadak terkejut ketika mobilnya memasuki area Drive Thru fast food ternama itu. Dia memesan milk shake dan beberapa burger. Dia kembali menjadi talkactive dengan mengatakan bahwa dia sudah visit kebeberapa negara di dunia, aku merasa bahwa perjalanan pulang terlalu panjang hingga kami tiba dipintu gerbang yang dia katakana bahwa kami akan mampir kerumahnya sebentar. Whattt??? Aduh dah ga beres nech urusannya. Dia berkata bahwa mungkin kita akan makan burger bersama keluarganya. Aje gile, emang jam segini mereka masih melek? Mobil diparkir disebuah rumah yang terletak dipojok. Setelah mematikan mesin mobilnya, dia memberikan kami masing-masing burger dan yang membuat kami bingung dia membukakan pintu mobil untuk Mila, “Come on, come with me” katanya.

Aku dan Nicole yang duduk dibelakang tak sempat bertanya karena dengan cepat dia menutup pintu mobil dan membawa Mila masuk melalui pagar depan rumahnya. Mulut kami berdua seolah ternganga dan bingung, sambil memegang burger Nicole berkata, “In two minutes if Mila doesn’t come out I’ll be shouting”.  Kami semakin gelisah terlebih didepan mobil ada seorang pria yang mondar-madir sambil memegang pesawat teleponnya. Dan benar saja tak nampak Mila keluar, dengan sigap Nicole keluar dan berteriak.

“Mila, are you okay?”. Dari rimbun semak-semak tumbuhan dihalaman rumahnya, keluarlah dua orang itu, walaupun berkata okay, wajah Mila begitu terlihat tegang. Dan tak lama mereka keluar dari halaman rumah. Kami tak banyak berkata-kata langsung meminta dia mengantar kami menuju intern house.

Sesampainya di intern house kami bertanya kepada Mila apa yang sebenarnya telah terjadi. Mila dengan wajah yang masih tegang berkata, “That guy is crazy”, begitu ujarnya sambil kemudian menceritakan kepada kami bahwa Mila di tuntun kebagian belakang rumahnya dan menunjukkan taman yang ada di rumah tersebut sambil memuji bahwa Mila mempunyai mata yang indah, senyum yang manis bla bla bla dan meminta dia untuk jadi temannya, sambil berkata demikian tangannya mulai bergerak tidak sopan, untunglah Nicole berteriak memanggil dia kala itu. Teman, malam itu kami bertiga pergi tidur dengan perasaan yang campur aduk karena rasanya kami lepas dari mara bahaya yang mungkin menjadi pemicu dari tindak pemerkosaan oleh orang yang kami kira orang baik.

  • view 23