Incredible36

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 23 September 2017
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

1.2 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible36

Incredible36

“Save the Girl Children”

                Semangat Kartini yang terbiasa dikobarkan secara ritual setiap tgl 21 April sepertinya tidak hanya terjadi di Indonesia, di India, khususnya disekolah ini aku menemukan hal yang sama. Aku mendapati beberapa guru yang sibuk dengan target kuliah mereka menyelesaikan program Post Graduate nya. Post Graduate sepertinya merupakan suatu “keharusan” dan menjadi standard pendidikan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dan pantas juga menjamin masa depan. Imbas dari pengaruh ini tentu saja terjadinya pengunduran diri bagi mereka yang ingin lebih berkonsentrasi pada studynya. Meskipun ada pula yang masih bertahan untuk tetap nyambi ngajar.

Di satu sisi ini adalah sebuah kemajuan bagi perempuan dibelahan dunia manapun bahwa mereka bercita-cita mendapatkan pendidikan yang layak dan setinggi-tingginya, tapi disisi lain tentu saja ada yang “ketiban” bertambahnya jadwal mengajar. Inilah yang terjadi pada Nisha Mam, seorang guru berkulit putih dan berwajah datar. Jargonnya yang paling kuingat adalah, “Theek kai Ji…”, (Ok ???) untuk meyakinkan kepada muridnya bahwa dia sudah menjelaskan dengan susah payah dan mereka, mau tidak mau, suka tidak suka, “harus” mengerti. Dengan basic sebagai guru Math, di wajahnya seolah tertulis semua angka, rumus-rumus, perkalian, penjumlahan dan dua operasi math lainnya. Wajahnya sudah terlalu lelah dengan semua hal itu dan sekarang dia harus menambah jam nya dengan kelas G.K dan Moral Science.

Aku tanpa sengaja menemui nya dikelas lima pada jam terakhir dan seulas senyum “kelelahan” terpancar diwajahnya. Aku yang free di jam terakhir dan sedang asyik menemukan hal baru yaitu sang G.K dan Moral Science, mencoba menawarkan diri untuk membantunya mengajar dan dia dengan senang hati menerimanya. Jadilah sekarang aku nangkring di kelas lima pada jam terakhir bersama dia. Terkadang dia membawa setumpuk buku Math yang harus dia koreksi dan membiarkan aku mengajar.

Guru yang resign untuk keperluan studynya ada dua yaitu Jyoti Mam dan Sarita Mam. Satu nama yang terakhir cukup akrab denganku, bukan karena apa-apa kami akrab, melainkan aku cukup salut dengan dia. Dibandingkan guru lain yang terbiasa dengan system mengajar ala “preman”, dia kuperhatikan lebih “berkasih sayang” dengan anak didiknya. Sering dia mengundang aku ke kelasnya, bahkan dia tak hanya mengundang aku ke kelas tapi juga kerumahnya. Tapi hingga terakhir dia resign aku belum juga sempat memenuhi undangannya hingga saat itu tiba.

Dalam satu kesempatan libur sekolah, aku meneleponnya dan berkata bahwa aku ingin menemuinya. Diujung telepon dia kegirangan bukan main bahkan suami dan anak-anaknya lah yang akan menjemput aku dan Nicole untuk menuju rumahnya.

Seperti halnya di Bali yang mayoritas penduduknya beragama Hindu, yang mempunyai banyak hari libur keagamaan, begitu pula di India. Hari ini tanggal 24 April 2013 sekolah diliburkan bertepatan dengan Mahavir Jayanti padahal lima hari sebelumnya kami juga libur karena seluruh umat Hindu di India merayakan Ram Navami.

Hari Rabu jam 10.00 seperti yang dia janjikan, dia meneleponku menanyakan apakah aku sudah siap untuk berangkat karena suami dan anak-anaknya sudah dalam perjalanan menjemput kami. Baru saja pesawat telepon ditutup, sebuah mobil sedan putih berhenti dan aku langsung mengenalinya karena anak kecil yang duduk disamping sang sopir (yang tak lain adalah suaminya) adalah Samya, anak ceriwis yang duduk dikelas dua. Rupanya rumahnya tak jauh dari tempat tinggal kami. Tak sampai lima belas menit kami sudah tiba didepan sebuah rumah bertingkat dua yang cukup besar. Samya dan seorang adik perempuannya mengajak kami masuk. Aku dan Sarita Mam berpelukan cukup lama, maklum kami tidak bertemu kurang lebih satu bulan. Dia mempersilahkan kami duduk diruang tamunya dan langsung menyuguhi kami menu pembuka. Sikuning dougla dan bulatan-bulatan kecil kentang yang digoreng yang disebut katlet. “This is South Indian food, I make it special for you”. Dan memang sepertinya kudapan India bagian selatan ini lebih cocok dengan lidahku. Tak terlalu manis dan tak membuat aku meringis “kemanisan” seperti sweets pada umumnya, bahkan sang kentang yang dibulatkan kecil-kecil ini rasanya seperti perkedel.

Sarita dan suaminya tampak selalu sibuk mondar-mandir dan salah tingkah, persis gadis yang apeli pacarnya pada saat pertama kali kencan. Suaminya yang berhidung bangir dan berkulit coklat terang tampak ramah meskipun hanya mampu berbicara beberapa patah kata dalam bahasa Inggris dan kemudian pamit undur diri karena harus kembali bekerja.

Kami mengobrol layaknya teman yang sudah lama tak bertemu, hingga tak terasa sudah dua jam berlalu. Entah apa yang menjadi trigger perbincangan kami hingga pada akhirnya kami berbicara dengan topik yang serius mengenai pernikahan ala India. Aku dan Nicole menyimak dengan seksama apa yang diceritakan secara runut oleh dia dan sekarang dia seperti curhat kepada kami berdua mengenai cerita pernikahannya. Adalah sudah menjadi sebuah generic term bahwa pernikahan di India secara garis besar menguntungkan fihak pengantin laki-laki. Fihak laki-laki boleh meminta apa saja sebagai syarat untuk sebuah pernikahan baik materi maupun benda-benda berharga lainnya, tentu saja hal ini menjadi beban bagi fihak perempuan.

Inilah yang dikenal dengan Dowry System kawan, Sarita sendiri bercerita bahwa orang tuanya memberikan seperangkat sofa, kitchen set, bedroom set, perhiasan dan banyak lagi benda yang lainnya ketika dia menikah. Namun dia sendiri memberikan catatan bahwa jika sang calon mertua bersikap bijak, maka semua yang mereka jadikan syarat pernikahan akan diberikan kembali kepada pasangan pengantin baru sebagai modal pernikahan mereka, tapi jika tidak maka keluarga mempelai laki-laki akan membawa semua barang tersebut. Ironisnya yang terjadi umumnya adalah paradigma yang terakhir. Tapi tak ada yang lebih membuat dia sedih ketika sang mertua kecewa atas kehamilannya. Sang mertua yang sudah mendapatkan cucu perempuan dari menantu pertamanya kecewa terhadap Sarita yang juga melahirkan anak perempuan. Tinggal satu atap sebagai joint family selama delapan tahun bukanlah hal yang mudah. Terlebih kemudian ketika dia hamil anak yang kedua, sang mertua cepat-cepat menyuruh dia untuk memeriksakan dirinya ke dokter.

Sampai dengan janin berusia empat bulan Sarita tetap keukeuh pada pendiriannya tak mau memeriksakan kandungannya dan sang mertua tetap bersikap hal yang sama. Aku mulai mengerti kemana arah cerita selanjutnya, hingga Sarita sendiri mengungkapkan bahwa sang mertua menginginkan hal yang sama yang terjadi pada ibu-ibu India yang lainnya, jika mereka mengetahui bahwa janin yang dikandungnya berjenis kelamin perempuan, apalagi kalau bukan berusaha menggugurkan kandungan tersebut.

Dia menarik nafas sebentar mengingat hal itu dan melanjutkan kembali ceritanya. Sarita tetap menjaga kehamilannya yang tanpa USG, hingga dia kembali melahirkan anak perempuan. Sepertinya sang mertua makin murka karena dimatanya sang menantu tidak manut dan tetap memberikan mereka cucu perempuan. Masa-masa pasca melahirkan seperti climax dalam sebuah plot drama. Dia yang melahirkan dengan cara operasi, dijauhi sang mertua dan yang lebih aneh lagi sang pandit mengatakan bahwa suaminya tak boleh melihat anaknya sendiri selama dua puluh tujuh hari. Jika tidak mendengar apa kata sang pandit maka sang suami akan mendapat sial. Cerita menjadi mellow ketika sang suami yang secara diam-diam menemui dia yang terbaring lemah dan melihat anak keduanya tertangkap basah. Maka digelarlah upacara adat keagamaan yang memakan biaya yang tidak sedikit.

Dimataku Sarita adalah generasi orang tua yang berfikiran “logis dan realistis”. Dia tak perduli anaknya perempuan atau laki-laki. Bahkan ketika sang mertua mewanti-wanti untuk investasi barang berharga untuk kedua anaknya sebagai modal pernikahan mereka kelak, Sarita berfikiran lebih maju kedepan. Dia tak ingin melakukan apa yang telah orang tuanya lakukan untuk dia ketika menikah. Dia akan menggunakan semua apa yang dia miliki untuk investasi dibidang pendidikan bagi anaknya, bahkan jika perlu dia akan menyekolahkan anaknya hingga meraih gelar master. Kalaupun anaknya bertemu jodoh seperti yang terjadi padanya, maka dia meminta anaknya untuk mencari pria lain yang lebih bisa menerima “kenyataan”.      

Sarita menambahkan bahwa meskipun pemerintah India mengatakan bahwa tak ada perbedaan antara anak perempuan dan laki-laki, tapi pada kenyataannya slogan resmi dan coretan-coretan gravity yang memenuhi tembok-tembok jalan raya menandakan bahwa para orang tua harus lebih sadar untuk menyelamatkan anak perempuannya. Kini aku mengerti apa arti dari Save the Girl Children, bukan hanya anak laki-laki yang harus ditunggui jika mereka belum pulang malam hari tapi juga janin perempuan yang layak “diselamatkan” sejak mereka dalam rahim sang ibu.

Waktu menunjukkan jam dua siang ketika kami mendengar suara mobil diparkir di depan rumah. “My husband, he’s coming home to have lunch”, katanya seperti menukas cerita yang menyita perhatian kami. Suami istri ini masuk ke dapur dan sibuk mempersiapkan lunch dan menatanya diatas meja. Kami disuguhi bak di restaurant. Noddles rasa spaghetti, chapatti, aloo, veg salad dan curd. Semuanya tasty, lezat dan entah kata apa lagi untuk melukiskannya. Dia seolah mengetahui bahwa perut kami berdua tidak terlalu familiar dengan makanan pedas.

Sudah setengah jam berlalu dan kami merasa terlalu lama bertamu dan berkata bahwa kami pamit untuk pulang. Sarita memperbolehkan kami pulang asalkan kami minum teh dulu bersama mereka. Oh tidak, kami sudah kekenyangan dengan semua makanan tadi, tapi kami tak bisa menolak ketika chai sudah disuguhkan didepan kami. Hingga akhirnya dia rela “melepaskan” kami pulang, tapi tunggu dulu, dia mengajak aku ke kamarnya. Aku bingung awalnya, karena kukira diruang private itu ada suaminya, dan tebaklah apa yang terjadi kawan. Pasangan suami istri ini ternyata menyiapkan sesuatu untuk kami bawa pulang. Di depan lemari pakaiannya ada beberapa baju yang masih terbungkus rapi dan aku dimintanya memilih mana yang aku suka. Aku tak menyangka bahwa mereka benar-benar senang kami datang. Inikah potret keluarga India, kawan?

Bukankah ini bukan yang pertama kalinya aku mendapat “sesuatu” ketika kami berkunjung, shawl dari mama Eddy dan kado mungil dari keluarga Prince. Seolah semuanya berkelebatan menjadi satu frame dalam ingatanku, bukan karena kadonya, tapi mereka membuat kami nyaman, serasa bahwa kamipun mempunyai “keluarga” baru disini, keluarga yang mungkin tak pernah kami bayangkan sebelumnya.    

Aku menjatuhkan pilihan pada t-shirt berwarna hitam, warna favorite ku. Sedangkan Nicole memilih warna merah. Senyum mengembang dibibir suami istri ini dan kami terharu dengan semua yang kami dengar hari ini. Tentang ketegarannya selama delapan tahun satu rumah dengan mertua, tentang keteguhannya mempertahankan janin kandungannya dan tentang laki-laki yang dengan setia bersamanya hingga hari ini. Bukan hal mudah juga ketika suaminya memutuskan untuk keluar dari joint family dan membangun istana mereka berdua. Kini dia patut berbahagia dengan apa yang mereka miliki. Rumah yang nyaman, kendaraan yang memadai dan dua anak perempuan yang cantik dan energik.

Hari ini kami pulang dengan sejuta fikiran tentang wajah wanita di India dan kami melanjutkan “diskusi” ini hingga malam menjemput kami untuk istirahat dan tidur.  

  • view 21