Incredible35

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 23 September 2017
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

1.5 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible35

Incredible35

Discovering Ropar (Part 2)

                Kondisi Nicole masih belum pulih benar, aku memutuskan untuk tidak pergi kemana-mana minggu ini, hanya menemani dia saja, takut-takut dia perlu bantuan karena dokter menyarankan Nicole untuk minum air yang sudah direbus, meskipun air itu adalah air dari water filter. Aku dan aunty sempat “bersitegang” didapur ketika dia mendapati aku merebus air, dia dengan bahasa Punjabi-nya tetap bersikukuh aku tidak perlu merebus air, aku berusaha menjelaskan dalam bahasa Inggris bahwa dokter yang berkata jadi kami harus mendengarnya.

Aunty sepertinya kesal dengan aku, begitu pula aku, walaupun pada akhirnya aku mengalah juga dan pergi dari dapur aunty dan menuju dapur yang lain untuk merebus air. Aku tak bisa membayangkan Nicole yang masih pucat harus mengalami hal yang sama dengan aku. Biarlah aku saja yang bersitegang dengan aunty, karena sesungguhnya hal yang membuat kami bersitegang adalah kendala bahasa diantara kami. Dititik manapun Punjabi dan Inggris tak akan bisa bertemu dan mengerti satu sama lain.

Tapi ini hari Minggu, apa yang bisa kami lakukan di Ropar? Tak ada yang menarik untuk dikunjungi didesa agriculture ini, tapi masa sich tidak ada secuil pun tempat yang bisa kami banggakan disini. Nicole mengatakan dia boring, begitupun sebenarnya aku. Maka kami memutuskan untuk “jalan-jalan”, setidaknya kami melihat ada satu museum dekat library tanpa buku, yang kami datangi tempo hari. Jam dua belas teng kami mulai berjalan keluar kamar. Wajah Nicole cukup cerah tak terlalu lemas seperti beberapa hari yang lalu. Dan seperti biasa, semua mata akan tertuju pada Nicole, terutama cowok-cowok berturban yang seperti tak pernah melihat cewek hahahahahaha. Satu jam berjalan, akhirnya kami menemukannya, ya dialah Archaelogical Museum Ropar.

Seketika semua orang yang tadinya berkerumun duduk santai berdiri ketika kami memasuki ruang registrasi. Dengan membayar lima rupees, petugas jaga mempersilahkan kami memasuki area museum. “No Photography”, begitu katanya. Ruangan museum cukup tertata rapi dan bersih. Tidak terlalu banyak koleksi benda yang dipamerkan, kami hanya melihat koleksi-koleksi koin, benda-benda yang terbuat dari copper dan seonggok tulang-belulang manusia. Tak lama kami berada disana, kemudian kami berniat untuk berjalan menuju jalan raya, mungkin kami bisa menikmati es krim.

Tapi tiba-tiba Nicole berkata yang membuat aku menghentikan langkahku dan menoleh kepadanya.

“I feel weak again”, wajahnya terlihat pucat lagi.

Akupun berusaha mencari tempat untuk berteduh dan duduk. Jalanan lengang sekali, seperti tak ada penduduk yang mendiami tempat ini. Aku menemukan sebuah batang pohon besar yang teronggok dan akupun memanggil Nicole untuk duduk sejenak disana sambil beristirahat untuk kembali pulang. Tapi tahukah teman apa yang terjadi kemudian?

Tiba-tiba dua motor besar berlalu didepan kami. Dan seperti biasa para cowok-cowok dimotor itu melihat kearah kami berdua, yang sedang duduk manis dibatang pohon dipinggir jalan. Mereka berlalu amat kencang, tentu saja tak kami perdulikan meskipun mereka berteriak-teriak ga jelas. Tapi kemudian satu motor berbalik arah dan menuju kearah kami berdua.

“Should we go?”, Nicole bertanya kepadaku dan aku dengan sigap berdiri dan berkata,

“Yes, we are.” Kami berjalan dengan cepat tanpa menoleh ke belakang. Kami berjalan dengan cepat sekali hingga tak mendengar suara motor mereka lagi. Indian guys, either at the city or in the village, are the same. Girls, beware of them. Harus selalu berhati-hati dan waspada tingkat tinggi dimanapun berada.  

Kami mencegat tuk-tuk dan menuju kembali ke sekolah. Weekend ini kami habiskan dengan menonton serial “One Tree Hill” sampai enam season dalam suatu sore sambil menikmati makan siang kami yang seperti biasa, amat sangat telat.

  • view 38