Incredible34

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 23 September 2017
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

1.5 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible34

Incredible34

Cinta, Wanita dan Kasta di India

 

                Berbicara India tak hanya berbicara tentang chapatti, prantha, chai dan tarian juga nyanyiannya, tapi mari sedikit berbicara tentang perempuan, wanita dan cewek-cewek India yang tak jauh berada di sekelilingku, para Local Committee di Chandigarh, aunty yang terbiasa melayani kami setiap hari, para guru yang berpartner bersama kami dan masih banyak lagi perempuan-perempuan India yang kami temui tanpa sengaja baik dipasar, dijalanan, disalon, di mini market dan lain sebagainya.

Dimataku perempuan India adalah perempuan yang multi talenta. Mereka tak hanya pandai menari dan bernyanyi tapi juga terampil mengolah bumbu masak, sayuran dan tepung hingga menghidangkannya dipinggan-pinggan alumunium untuk siap disantap. Mereka juga bekerja professional dan berpendidikan tinggi. Empat wanita yang menjadi temanku secara “kebetulan” diatas contohnya, mereka adalah wanita dengan pendidikan yang cukup tinggi dan pandai memasak. Tapi ada contoh perempuan yang lebih dekat dengan keseharianku yaitu aunty.

 Aunty adalah perempuan yang biasa “melayani” kebutuhan makan kami tiga kali dalam sehari. Tugas aunty selain membersihkan ruangan kelas-kelas disekolah, membuat chai untuk guru-guru dan segudang tugas yang lainnya yang aku tidak tahu, tentu saja tugas utamanya melayani uncle.

Sering aku lihat menjelang malam tiba aunty memanggul manja, ranjang untuk tidur uncle beserta selimut dan bantal dikepalanya. Mengapa uncle tidak melakukannya sendiri, padahal kuperhatikan dia tak ada pekerjaan lain selain menjadi driver school bus. Sisa waktu uncle diluar driver school bus hanyalah duduk-duduk dikursi, ngobrol bersama teman-temannya dan tidur. Hal ini kukira yang menyebabkan dia overweight dan menderita penyakit gula.

Melihat hal ini Ha sempat bercanda yang bernada serius kepadaku, “I don’t want to have Indian brother-in-law sis”, aku dan Ha memang pernah berdiskusi tentang hal ini, dimata dia (dan akupun setuju) sepertinya tidak ada persamaan hak antara suami dan istri di India, sang istri benar-benar menjadi “pelayan” bagi sang suami.

Contoh kongkrit yang lain yang aku temui disekolah adalah Simi, perempuan dua puluh tahun yang bekerja di Day Care, satu lantai dibawahku, mengatakan bahwa dua tahun kedepan dia akan menikah. Bagaimana kau akan menikah kalau kutanya pacar saja dia tak punya. Wajahnya yang tirus memperlihatkan air muka tidak setuju denganku, dia tahu persis bahwa dua tahun kedepan dia akan menikah karena ayahnya akan mencarikannya seorang pria yang akan menjadikannya calon suami dan Simi akan menerimanya menjadi laki-laki yang akan menemaninya seumur hidup dia. As simple as that. Dia sendiri berkata secepatnya dia ingin menikah karena saat ini dia tinggal bersama ayah dan saudara laki-lakinya yang gemar mabuk dan memukulinya. Malang nian hidupnya,

Meskipun arrange merried/perjodohan bukanlah hal baru tapi tetap saja hal ini masih menjadi issue yang masih menjadi perbincangan hangat karena “love married” di India amatlah tidak popular. Setidaknya hal ini bisa dilihat dari beberapa iklan yang seliweran ditelevisi. Sering kali digambarkan sang perempuan hanya duduk terdiam di kursi ketika kedua belah fihak ribut berbicara, mengenai “kedua” anak mereka.

Membicarakan “arrange married” seperti membicarakan para cowok-cowok India yang terlibat atau sengaja melibatkan diri terlibat cinta lokasi dengan para intern, terutama intern dari belahan Eropa. Aku tak mengerti cewek-cewek bule nan cantik ini bisa jatuh kepelukan para India keling hahahahaha.

Dari hasil “analisa amatiran” antara aku dan Nicole, kami menyimpulkan bahwa Indian guys benar-benar memanfaatkan masa muda mereka bersama orang yang mereka mau sebelum terikat dan terkunci dengan wanita pilihan orang tua mereka. Dalam dua party berbeda, aku mengambil dua sample cowok India, Amit, misalnya tak canggung berkissing ria didepan kami dengan intern asal Colombia, begitu pula salah satu cowok India yang tak aku tahu namanya, dia seperti tak mau melepaskan bibirnya dari bibir Lana, hingga mereka berdua masuk ke kamar dan menutup pintu kamar tersebut dengan sembarangan 

Namun apa jadinya jika para muda-mudi ini masih bersikeras menjalin cinta mereka tanpa persetujuan orang tua? Masih ingat keberadaan tempat yang kami temui tanpa sengaja di Sektor 19B Chandigarh? Dari Prince, temanku yang seorang Sikh, memberitahu bahwa “PROTECTION CENTRE FOR RUN-AWAY COUPLES” adalah tempat bagi mereka tetap bersikukuh mengagungkan cinta mereka tanpa persetujuan orang tua. Ya, tempat ini adalah tempat untuk berlindung bagi para pasangan yang keukeuh melanggengkan hubungan mereka tanpa mengenal arrange married alias mereka nekat melakukan kawin lari.

Tempat ini memang sengaja disediakan untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, termasuk pembunuhan yang dilakukan oleh orang tua mereka sendiri. Mereka bisa tinggal disini selama berbulan-bulan bahkan sampai setahun, Apa sich yang membuat para orang tua ini seketika berubah menjadi “serigala” bagi anak-anak mereka sendiri, apalagi kalau bukan “kasta”. Orang tua di India biasanya tidak menyetujui perkawinan antara kasta yang berbeda.

Sungguh ironi memang hanya karena berbeda status sosial mereka tidak bisa bersatu. Konon kabarnya pernah terjadi peristiwa bahwa sang orang tua membunuh pasangan yang berbeda kasta yang tetap bersikukuh menikah.

Prince juga menambahkan bahwa keluarga India lebih senang jika mereka mempunyai seorang anak laki-laki ketimbang anak perempuan. Bahkan di sebagian kalangan keluarga India yang masih berlaku “primitif” (menurutku) mereka akan membunuh bayi jika yang dilahirkan berjenis kelamin perempuan. Yang lebih “primitif” lagi mereka akan membunuh sang jabang bayi ketika masih berada dalam kandungan jika diketahui dari hasil USG bahwa bayi mereka berjenis kelamin perempuan.

Jika diIndonesia USG sepertinya adalah sebuah hal biasa yang dilakukan oleh ibu hamil, maka tidak halnya dengan di India, USG sama tidak populernya seperti love married. Rupanya inilah salah satu pertimbangan rumah sakit maupun dokter dan mungkin ahli kandungan yang tidak menyediakan jasa USG, yaitu mencegah terjadinya “pembunuhan dini” para bayi perempuan. Aku geleng-geleng kepala mendengar cerita Prince, ketika dia mengemukakan alasan mengapa mereka membunuh bayi perempuan.

Alasannya pun tak bisa diterima dengan logis, Prince berkata, butuh biaya yang tidak sedikit untuk membesarkan anak perempuan sedangkan setelah dia dewasa dan menikah, orang lain (suaminya) akan membawanya pergi keluar dari rumah, hal ini berbanding terbalik dengan anak laki-laki yang membawa menantu kerumah mereka. Hmm, itukah juga sebabnya para ibu di India begitu “menjaga” betul anak laki-laki mereka?

 Hal itu kami buktikan dengan para cowok-cowok Local Committee yang pada suatu hari hang out bersama aku, Ha, Salma dan Nadu. Waktu baru menunjukkan jam sepuluh malam tapi handphone mereka sudah sibuk berdering entah berapa kali. Kamipun tahu siapa yang menelepon karena mereka selalu menjawab dengan kalimat, “Hanji Mommy” (Ya, Mama), bahkan beberapa dari mereka sudah pamitan tepat jam sembilan malam karena harus cepat-cepat pulang menuju rumah masing-masing. Hunny, salah satu Exchange Project Manager, our buddy, begitu kami biasa menyebutnya, bahkan tidak makan malam bersama kami karena mamanya sudah menunggu di rumah (dan) harus cepat pulang pula.

Di India, lagu jadul milik Slank yang berjudul, “Kamu Harus Pulang”, sepertinya lebih cocok ditujukan untuk para cowok ketimbang para cewek.

 

                kamu harus cepat pulang

                jangan terlambat sampai dirumah

                kamu harus cepat pulang

                walau sedang nikmati malam ini      

  • view 35