Incredible33

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 23 September 2017
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

875 Hak Cipta Terlindungi
Incredible33

Incredible33

Am I (being) vegetarian?

                Memasuki minggu ke dua belas India begitu terik bagiku. Bagaimana tidak, temperature diluar sekitar 43 s/d 45 bahkan kabarnya bisa mencapai 48. Cuaca diawal spring yang begitu bersahabat berbanding terbalik saat ini. Dia sekarang membuatku tersiksa. Kulit menjadi amat sangat kering, sudah diolesi olive oil sekalipun tetap saja kering, seperti tak kuasa menghadapi sang surya. Tak hanya kulit, bibir dan tenggorokan pun lebih cepat mengering dibuatnya. Kemana-mana rasanya selalu ingin minum air es tak ada yang lain. Kulit kepala rasanya cepat kotor, padahal tertutup kain kerudung. Sang surya memang seperti unjuk gigi. Dia datang lebih awal, ditandai dengan waktu subuh yang juga datang lebih awal yaitu sekitar jam 04.45 tapi dia pergi amat sangat telat, yaitu jam 19.15 bahkan lebih. Sekitar jam 19.30 barulah dia mulai menutup matanya.  

Tapi rupanya ada yang lebih membuat hati sedih selain karena cuaca yang begitu terik dan “menghanguskan” kulitku yaitu Nicole jatuh sakit. Masalahnya sama dengan aku dan Salma ketika datang ke India pertama kali yaitu sakit perut. Aku ingat betul, dua minggu pertama di India selain tersiksa dengan winter juga tersiksa dengan bumbu-bumbu yang sungguh amat sangat tidak bersahabat di perut. Setiap kali selesai makan maka dipastikan aku akan langsung ke toilet “membuang”nya. Tapi Nicole jauh lebih parah, dia seperti lemah tak berdaya dengan semua yang dimakannya. Setelah selesai makan apapun dia tak hanya kebelakang tapi mengeluh bahwa perutnya sakit. “I am not only got stomachache, my stomach is really hurt”, ujarnya sambil meringis dan memegang perutnya. Obat yang dibawanya dari Jerman seolah mental menghadapi bumbu India. Karena sudah kehabisan obat dengan diantar Prince dia ke rumah sakit, dan sang dokter hanya mengatakan bahwa dia mengalami gangguan pencernaan. Obat yang diberikan bermacam-macam, dari puyer sampai tablet. Dan dia hanya bisa pasrah menelan butiran-butiran kecil dan besar tersebut.

Kejadian sakit perut sebenarnya berawal seminggu yang lalu ketika kami menghadiri farewell party-nya Nadunika (intern asal SriLanka) disebuah fast food ayam goreng ternama. Tentu saja kami semua, para intern dari berbagai negara biasanya memesan menu non-veg dan ayam goreng adalah menu favorit bagi semua orang. Tapi entah mengapa malamnya aku dan Nicole merasakan hal yang sama, yaitu sakit perut. Kami bergantian bolak-balik ke toilet. Tapi kasus itu berhenti sehari saja, karena perut kami mulai normal kembali. Kami hanya berfikiran, mungkin kami terlalu bersemangat sehingga makan terlalu banyak dan menyebabkan kami sakit perut. Itu saja “diagnosa” kami dan nyatanya memang kemudian kami membaik sehari setelah itu.

Dua hari kemudian pada suatu weekend, kami memesan nasi goreng dan egg roll dalam ukuran jumbo. Tak terasa apa-apa ketika kami makan bahkan kami merasa amat sangat istimewa, maklumlah sudah lama tidak makan telur. Tapi tebak yang terjadi keesokan harinya, kami lebih parah bolak-balik ke toiletnya. Setelah cukup sering dan menyadari masalah ini mulai “serius” aku dan Nicole minum obat masing-masing. Aku dan Nicole mulai bertanya-tanya ada apa sebenarnya dengan perut kami berdua? Mengapa mengalami hal yang sama? Mungkinkah ayam dan telur penyebabnya?

Aku yang sudah dua bulan tinggal di India, mungkin sudah terlatih menjadi vegetarian maklum aunty sendiri adalah penganut “pure veg”. dia selalu menyuguhkan aku semua menu berbau sayuran, tak ada telur, ikan apalagi ayam dan semua jenis daging yang lainnya. Mungkinkah sekarang perutku terlatih untuk tidak makan semua jenis daging dan telur? Aku tidak tahu, seperti halnya Nicole yang tidak mengerti mengapa dia tetap mengalami sakit perut dan lemah tak berdaya padahal separuh dari obat yang diberikan dokter sudah ditelannya bahkan sudah lima hari berjalan dari kejadian pertama ketika kami sama-sama mengalami sakit perut. Setengah bercanda menghibur lara, aku pun berkata kepada Nicole, “Now, we are being a vegetarian, swear will not eat chicken and egg anymore as long as we are in India”, mendengar itu Nicole tertawa sambil menahan perutnya.

Di Punjab, terlebih lagi di Ropar memang semua orang kukira adalah vegetarian, jika pergi kepasar tak ada bagian pedagang penjual ikan dan daging semuanya sayuran. Murid-muridku sering bertanya kepadaku, apakah aku seorang veg atau non-veg. tentu saja kujawab aku adalah seorang non-veg, dan mereka semua bergidik melihat kearahku. Mereka seolah tak percaya bahwa aku memakan ikan, ayam dan daging. Kuingat betul suatu hari aku, Ha dan Salma menggoreng chicken nugget untuk makan siang kami, tentu saja itu hal yang biasa bagi kami. Tapi mereka (para murid) yang melihat kami berbisik-bisik satu dengan yang lainnya dan memandangi kami dengan tatapan aneh. Mula-mula hanya satu-dua anak yang memperhatikan kami makan mengapa tiba-tiba mereka berkerumun dan bergumam satu dengan lainnya. Salma yang iseng tiba-tiba berdiri membawa piring alumunium berisi beberapa potongan chicken nugget dan berkata kepada mereka, “Do you want to try chicken? This is very tasty”. Dan lihatlah apa yang terjadi, mereka serentak berteriak hiyyyyyyyyyyyyyy dan lari tunggang langgang seperti dikejar setan, hahahahahaha, kami bertiga tertawa terbahak-bahak melihat mereka yang dibuat blingsatan hanya karena melihat ayam goreng.

Cerita lain berasal dari tetangga sebelah, Reetika dan kawan-kawan. Aku mengenalnya ketika sedang menjemur baju di rooftop. Dia dan ketiga temannya adalah sekawanan cewek yang menjadi anak kos di rumah yang persis menempel dengan kamarku. Mereka adalah para wanita dengan background pendidikan setara Post Graduate, yang memiliki karir yang cemerlang. Dua dari mereka bekerja di kantor pemerintahan departemen kesehatan, yang satu seorang bankir dan yang satu lagi seorang dokter. Suatu malam kami bertemu tanpa sengaja dan mengundangku makan malam. Mereka kuperhatikan adalah pribadi-pribadi yang smart, termasuk ketika mengajakku “berdiskusi” tentang mengapa aku dan para non-veg lainnya memakan ikan dan ayam, terlebih lagi sapi, yang notabene disucikan bagi mereka. “You people (non-veg) are killing the animals to fulfill your human satisfaction”. Aku tentu saja tidak sependapat dengan argumentasi itu, terlebih lagi dalam Islam ada beberapa syarat ketika kita akan memotong hewan.

Tapi aku sedikit kesulitan mencari padanan kata yang tepat untuk “menyembelih/memotong” hewan dalam bahasa Inggris dan berusaha menegaskan bahwa kami, khususnya kaum muslim tidak “membunuh” hewan hanya untuk memenuhi kebutuhan jasmani kami. Melihat kami berdua yang “bersitegang” dan “keukeuh” pada pendirian kami masing-masing, dua dari mereka tampak berusaha menenangkan Reetika dan memintanya berhenti untuk membicarakan itu denganku. Meskipun mereka berbicara dalam bahasa Punjabi tapi aku mengerti bahwa sebaiknya kami usai berbicara masalah veg dan non-veg karena makan malam sudah terhidang. Anehnya setelah itu Reetika berkata yang membuat aku multitafsir, “Irma, you are like a doll”, katanya sambil tertawa terbahak-bahak. Aku yang tak mengerti maksud dari apa yang dia katakan menjawab bahwa aku tidak mau seperti boneka. “Why Irma, Indian girl will be happy if someone says that, it’s a compliment”. What??? Being a doll is a compliment??? Akupun buru-buru mengemukakan alasanku, “Yes the doll is pretty, but she does nothing”, dia terdiam mendengar ucapanku.

Kadang aku bingung dengan pujian orang India. Hanya dengan berjilbab senada dengan baju dan mengenakan bros jilbab (yang menurutku biasa saja), tak hanya muridku, guru-guru dan orang disekelilingku sering kudengar mereka berkata, “You are smart”. Nicole yang kurang setuju jika kata smart hanya untuk penampilan belaka, berargumentasi lain bahwa seharusnya orang India mencari kata yang pas jika ingin memuji seseorang. Menurut dia kata “smart” menunjuk kepada ranah akademik/intelegensia, sedangkan untuk memuji penampilan cukuplah kamu berkata, “Good looking”. Dia sendiri kebingungan ketika dipuji bahwa dia “smart” ketika dia mengenakan celana gombrong ala India. “How do they know that I am smart only because I use this pants, weird”, begitu komentarnya. Rupanya inilah India kawan, kadang menurutku mereka terlalu berlebihan ketika memuji atau mengatakan sesuatu. Bolehlah kukatakan kalau mereka itu lebay…  

  • view 19