Incredible32

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 23 September 2017
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

921 Hak Cipta Terlindungi
Incredible32

Incredible32

April 14th,2013

"PROTECTION CENTRE FOR RUN-AWAY COUPLES" 

                Kesempurnaan minggu ini kami tutup dengan menyambangi sebuah museum yang terletak di Sector 19B Chandigarh. Menurut Lonely Planet, museum ini akan memberikan pengetahuan bagaimana kota Chandigarh direncanakan. Konon kabarnya Chandigarh adalah kota paling tertata rapi dari semua kota yang ada di India.

Bermodal peta yang ada di Lonely Planet kami memulai pencarian dengan mencegat simerah C.T.U menuju Sector 19. Kami hanya mengandalkan arahan dari sang kondektur alias tak tahu persis dimana harus turun. Begitu turun yang kami lihat hanyalah barisan toko, prepaid boot taksi dan rickshaw. Kemana harus bertanya, tak ada kantor polisi yang terlihat. Kami terus berjalan hingga memutuskan menyebrang jalan dan bertanya kepada yang bisa dipercaya. Tepat didepan kami sebuah gereja katedral berdiri dan tak ragu aku dan Nicole bertanya kepada petugas jaga.

Petugas jaga kebingungan malah menanyakan, Hindi? Punjabi? Aku menjawab, “Nehi Hindi, Nehi Punjabi”, dia tersenyum kemudian berkata, “Father, Father”, katanya sambil membawa kami kesebuah ruangan, rupanya dia mempertemukan kami dengan seorang pendeta karena kuyakin dia tak bisa berbahasa Inggris. Bapak berjubah putih ini tersenyum dan  dengan ramah menanyakan apa yang bisa dia bantu. Nicole mengutarakan maksud kami yang ingin mengunjungi Le Corbusier Centre. Bapak pendeta tampak kebingungan, rupanya dia sendiri tidak tahu, untunglah ada seorang pria disampingnya. Mereka berdua tampak memicingkan mata memperhatikan peta kecil yang tertera di Lonely Planet. Sang asisten rupanya menemukan titik terang kemudian berkata, “You go straight, find roundabout and turn left, there the museum”, begitu petunjuknya.

Kamipun berpamitan dan mengucapkan terimakasih. Sesuai petunjuk kami berjalan lurus, bertemu roundabout dan belok kiri, tapi kami tak menemukan apa-apa. Yang kami lihat justru barisan rumah semacam apartement, tak ada tanda-tanda bangunan pemerintahan disini, tapi tunggu kami menemukan sebuah plang yang amat menarik perhatian kami. “PROTECTION CENTRE FOR RUN-AWAY COUPLES”. What??? What kind of building is that, aku dan Nicole saling berpandangan kemudian tertawa terbahak-bahak. Such a weird, begitu kami berdua berkomentar hampir pada waktu yang bersamaan.

Lama kami tertegun memikirkan apa maksud dari plang tersebut, tapi kami ingat bahwa tujuan kami menemukan museum, kamipun beranjak meneruskan perjalalanan lagi. Nicole yang berambut pirang banyak menarik perhatian termasuk ketika kami berhenti didepan sebuah gedung bertuliskan Information Centre, tapi tak ada satu orangpun disana malah terkesan tutup. Seorang bapak yang berdiri di pinggir jalan berinisiatif bertanya kepada kami, “Where are you going?”, Nicole hanya menjawab singkat, “Museum”, sang bapak dengan percaya diri memberikan petunjuk kepada kami yaitu, “Age, sidhe jao, right”, aku yang mengerti sedikit Hindi menangkap maksud si Bapak yaitu, lurus kemudian belok kanan. “Are you sure?”, aku yang kurang yakin masih berusaha percaya pada dia, “Yes,yes, museum”, katanya.

Tak ada salahnya percaya, kamipun berjalan sesuai petunjuk dia, tapi tahukah yang kami dapatkan, kantor polisi, hahahahahaha. Aku dan Nicole tercengang, tapi baguslah setidaknya ini tempat yang tepat untuk bertanya. Duduk dua orang polisi, yang satu berturban dan satunya lagi tidak. Kami yang setengah kecapean, bertanya kepada mereka dimana letak sang Museum, dua-dua nya tak mengerti apa yang kami tanyakan, Nicole langsung menunjukkan Lonely Planetnya dan keduanya terlihat bingung. Bapak polisi tanpa turban, menjawab singkat, “Go straight, right, right, take double right”, meskipun agak ambigu, tapi kami tak ada option lain untuk manut, karena didepan memang jalan terbelah dua, arah kiri dan kanan.

Keringat bercucuran diwajah kami, minggu ini begitu terik. Bapak polisi berturban melihat kea rah kami berdua dan berkata, “Water, water”, sambil menunjuk air kran yang terletak disudut. Kami berterimakasih atas tawarannya tapi lebih baik kami melanjutkan perjalanan kami. Berjalan lurus dan berbelok ke kanan, yang kami lihat adalah asrama yoga dan kuil hindu. Tapi mengapa di kuil Hindu tertulis Sector 19A, wadoh jangan-jangan menyesatkan lagi ni petunjuknya fikirku. Tak jauh dari kuil Hindu banyak bergelimpangan para gelandangan yang sedang tidur bahkan berbincang-bincang. Terdengar pula nyanyian dari salah satu radio mereka. Kami terus berjalan lurus dan berbelok ke arah kanan lagi, terus berjalan tapi tak menemukan titik temu. Nicole hampir putus asa bahkan setengah ngedumel, bagaimana mungkin orang-orang itu tidak tahu museum dari orang yang membangun kota mereka.

Dengan beban tas ransel dan teriknya sang mentari kami berniat untuk istirahat sejenak di shelter yang terletak tak jauh dari tempat kami berdiri sekedar untuk minum, tapi niat itu urung kami laksanakan begitu melihat shelter itu lagi-lagi dipenuhi para gelandangan yang tertidur pulas. Ditengah keputusasaan kami terus berjalan and bingo… aku berteriak histeris, nyaris sejajar ditempat kami berdiri terpampang baliho besar putih bertuliskan “Le Corbusier Centre”. Yeah finally we find you, Victory, kami merayakan kemenangan dengan langsung mengambil gambar secara bergantian di depan baliho tersebut. Waktu menunjukkan jam 02.50, artinya kami sudah berjalan lima puluh menit untuk menemukan museum ini, hadeuh…

Fisik museum ini kecil saja bahkan seperti rumah tua, didepan gedung berjejer pohon-pohon besar nan rindang. Lengang sekali, malah tak ada pengunjung. Kami mengetuk-ngetuk pintu masuk yang berbentuk kaca, tak ada yang menjawab. Kami nyelonong masuk dan seketika dari sisi kiri kami seorang bapak tua berseragam muncul, mungkin dialah penjaga museum ini. Tak tersenyum dan tak berbasa-basi dia hanya melihat kami dan gerakan selanjutnya adalah tangannya menekan tombol on di dinding dan seketika semua kipas angin di ruangan ini berputar. Brrrrrrrrrrr, setidaknya kami merasa sejuk walaupun suara fan itu berderak-derak ribut sekali. Dan anehnya setelah fan berfungsi, sang bapak tua menghilang entah kemana, meninggalkan kami berdua yang celingak-celinguk.

Museum ini memang terdiri dari beberapa ruangan, seperti yang diberitakan oleh Lonely Planet, tapi ruangan-ruangan tersebut tergembok dengan sempurna dan tak ada yang bisa kami mintai tolong untuk membukanya. Alhasil aku dan Nicole hanya berjalan di lorong museum saja, kebanyakan yang terpampang disisi kiri dan kanan adalah foto-foto jadul Le Corbusier yang memperlihatkan bagaimana dia bekerja ketika merancang kota, coretan-coretan tangannya ketika mendesign Open Hand, bahkan beberapa surat yang ditulis tangan oleh dia untuk pemerintah India.

Dalam salah satu suratnya, Le Corbusier yang berkebangsaan Prancis, mengutarakan bahwa maksud kedatangannya ke India bukanlah untuk “make money”, melainkan dia ingin “membantu” India, setidaknya, India mempunyai satu kota yang tertata harmonis antara pemukiman warga, gedung pemerintahan, pusat kota, sekolah, universitas, rumah sakit dan lain sebagainya. Di foto-foto selanjutnya memang terlihat Le Corbusier yang sedang merancang High Court, Punjab University (PU), dan bangunan-bangunan untuk pelayanan publik lainnya. Le Corbusier ternyata bukan hanya seorang arsitek, dia juga ternyata seorang artist. Terbukti dari salah satu lukisan yang dia gambar mengenai dirinya sendiri, narsis juga opa Le Corbusier ini. Foto-foto lain yang terpampang besar-besar adalah foto Le Corbusier bersama Perdana Menteri India, Jawaharal Nehru yang meresmikan beberapa gedung. Le Corbusier menghabiskan masa tua hingga beliau meninggal di India, dalam salah satu foto diperlihatkan beberapa orang mengiringi kepergiannya yang sudah dalam bentuk abu, untuk ditaburkan di Sukhna Lake.

Tepat dibagian akhir lorong, tiba-tiba kepalaku berputar-putar, badanku oleng dan bruk, aku tertumbuk disudut lorong tersebut. Aku mendengar samar-samar suara Nicole memanggil-manggil namaku. Setengah sadar aku mendengar Nicole yang menyuruhku untuk berbaring dilantai dan mengangkat kedua kakiku keatas, dia juga memberikan botol minumanku dan menyuruhku untuk minum yang banyak. Dan tiba-tiba entah darimana dia datang, bapak petugas museum itu berdiri disebelahku dan membukakan salah satu ruangan yang berada persis ditempat aku duduk. Dia mempersilahkan aku untuk berbaring di sebuah ranjang rotan bertuliskan “Original Furniture”, Nicole masih menyuruhku untuk mengangkat kedua kakiku keatas, bahkan sekarang dia membantuku memeganginya, ah aku merasa baikan sekarang. Nicole menyuruhku untuk menghabiskan sisa air minum yang ada dibotol. “Better?”, akhirnya kudengar juga suara sang bapak penjaga museum bertanya kepadaku, akupun mengangguk. Mudah-mudahan dia mengerti body language ku yang tidak menggoyangkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaannya.

Aku berdiri memperhatikan ruangan disekelilingku. Semua furniture ini benar-benar jadul, lihatlah meja segede gaban yang terletak disudut ruangan juga ranjang yang masih aku duduki ini, benar-benar tua, dibelakangku terbentang dengan luas peta Chandigarh, kulihat Nicole sedang berdiri disitu. Sebenarnya aku ingin berdiri dan melihat-lihat apa yang ada disekitarku, tapi aku tak kuat, kepalaku rasanya masih berputar-putar, aku hanya mengira-ngira, inikah ruang kerja sang maestro pencipta kota Chandigarh?

Bapak penjaga terlihat berdiri mematung disebelah pintu dengan serenteng kunci ditangannya. Aku berdiri dan mengajak Nicole keluar. Aku dan Nicole ternyata mempunyai keinginan yang sama yaitu pulang dan beristirahat. Kami berpamitan kepada sang penjaga museum dan berjalan menuju shelter, mencegat bis menuju sector 43 busstand dan melanjutkan perjalanan kami ke Ropar tercinta. Cukup sudah sampai disini cerita kami minggu ini.                      

  • view 18