Incredible30

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 23 September 2017
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

1.2 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible30

Incredible30

“Special Offer” for Nicole

                Berjalan bersama Nicole, aku memang seperti menjadi manager artist, tentu saja dia yang menjadi artisnya. Aku setengah bercanda bahwa dia harus “memungut” lima rupees jika ada yang meminta foto bersama dia. Dan dia terbahak-bahak. Terlepas dari sikapnya yang strict sebenarnya dia adalah type yang humoris. Dia pandai menirukan ekspresi orang-orang yang kadang membuat aku terpingkal-pingkal. Bersama dia sepertinya semua orang siap membantu dan bertanya apa yang bisa mereka lakukan untuknya, tapi jangan salah dia juga menjadi “sasaran” empuk para pedagang yang menjajakkan dagangannya.

Para intern cewek biasanya berkumpul untuk shopping ke Sector 22, Shastri Market. Pasar ini adalah pasar yang terkenal dengan barang bagus tapi harga miring. Pasar ini memang tidak sebesar tanah abang tapi semua orang pasti tahu dimana letak pasar tersebut. Semua yang berbau Punjabi ada disini mulai dari suit, saree, juti hingga tetek bengek. Seperti halnya aku, Salma dan Ha ternyata Nicole juga tergila-gila dengan Punjabi Suit dan dia berminat membelinya disana. Akupun menemani dia berbelanja. Harga fabric Punjabi suit yang dibandrol memang rata-rata sama di setiap toko tergantung dari jenis bahannya, tapi lihatlah harga yang ditawarkan salah satu toko fabric suit (tanpa bandrol) kepada Nicole, mereka menawarkan hampir dua kali lipat harga biasanya. Ini juga terjadi ketika dia mencoba juti, toko pertama menawarkan harga 350 s/d 400 rupees kepada Nicole padahal harga normal adalah 150 s/d 250 rupees.

Aku dan dia berusaha mencari toko yang lain, tapi ternyata toko-toko setelah itu juga menawarkan harga yang sama kepada dia. Olala, pedagang dimana-mana memang sama, selalu mengambil keuntungan dari setiap perbedaan kulit, meskipun tidak semua pedagang berlaku seperti itu. Cukup lama juga kami “bergerilya” mencari harga normal, hingga kami tertumpu pada salah satu shop yang mematok harga “memang normal”, tanpa membedakan siapa yang membeli. Nicole mengucapkan terimakasih karena aku telah menemani dia belanja dengan “harga normal”. Kini ditangannya sudah tertenteng satu pasang Punjabi suit, juti dan celana gomrong ala India. Diapun memamerkan kepada keluarganya di German semua barang yang dibelinya melalui skype. Keluarganya di German terperangah demi mengetahui bahwa dengan RS 350 yang sama dengan 2 Euro, Nicole bisa membeli seperangkat baju. Dua Euro seperti tak ada harganya bagi mereka karena uang itu hanya berbentuk sekeping coin.

Langkah selanjutnya setelah membeli fabric Punjabi Suit, tentu saja pergi ke tukang jahit. Setelah badannya diukur sang tailor menjanjikan dalam dua hari Punjabi Suit bisa diambil. Aku nyengir saja mendengarnya. Pengalaman membuktikan ketika aku, Ha dan Salma menjahit Punjabi Suit disini mereka menjanjikan waktu satu minggu, dan dengarkanlah kisah kami dibawah ini, kawan…

Lucu juga pengalaman waktu itu kalau diingat. Tepat seminggu sudah artinya kami bisa mengambil Punjabi Suit kami. Dengan semangat 45 kami menuju tukang jahit pada jam istirahat sekolah, tapi toko mereka tutup. Dari toko kelontong sebelah kami tahu bahwa mereka sedang istirahat, maka kamipun pulang menyantap makan siang kami. Usai jam sekolah sekitar jam 3 kami kembali kesana dan toko mereka masih tutup, kami bertanya kepada toko kelontong lagi, dia hanya menyarankan untuk kembali lagi pada jam 5 sore, maka kamipun pulang dengan harapan akan kembali lagi kesana. Untuk yang ketiga kalinya kami sengaja “menelatkan diri” satu jam yaitu jam 6, tapi toko tetap tidak buka.

Maka diujung kecewa kami, mengapa kami tidak berfikir logis untuk menelepon saja menanyakan kapan mereka buka toh nomor mereka terpampang jelas di baliho segede gaban diatap bangunan ini. Diujung telepon seorang laki-laki mengangkat telepon. Aku bertanya dalam bahasa Inggris dan dia menjawab dalam bahasa Punjabi. Sungguh membingungkan, hanya dua kata yang kutangkap “holiday dan Monday” dan akupun mengambil kesimpulan sendiri, bahwa mereka hari ini libur dan akan kembali buka hari Senin. Hmm, kalau mereka tutup seharian mengapa toko kelontong sebelah mengatakan seolah-olah toko itu buka, sehingga kami sudah 3x mendatangi tailor ini. Inilah karakter orang India yang lain, malu mengatakan jika mereka tidak tahu, membuat kita yang sudah berharap dan kebelet pengen pake baju Punjabi seperti kehilangan kesadaran, yaitu datang kesana 3x dalam sehari seperti minum obat sesuai perintah dokter hahahahaha.

Anehnya walaupun kami tahu bahwa probabilita Punjabi suit kami belum selesai, kami datang juga hari Senin kesana. Sang penjahit sedang nangkring dimeja kebesarannya dan tersenyum manis kepada kami. Ketika kami bertanya dia dengan simple menjawab “Not finish, yesterday I go hometown”, katanya dengan bahasa Inggris yang patah-patah. Ketika kami menanyakan kapan akan selesai, dia menjawab dengan pasti, “Tomorrow”. Salma pulang dengan cemberut, Ha seperti biasa bersiul riang, aku? Mati rasa, dah ilfeel sama janji-janji yang diutarakan mereka.

Sepulang dari sana kami menemui Jasveer, orang yang mengantarkan kami ke tailor shop sebelumnya. Salma “memaksa” Jasveer untuk meminta tailor itu menyelesaikan dengan segera pesanan kami. Dan Jasveer seperti biasa berkata, “Okay, no problem.I’ll talk to her”, itulah “magic word” orang India, No problem, semua hal bisa diselesaikan dengan “no problem” padahal sesungguhnya banyak masalah dibelakang kata “no problem” itu sendiri. Gong dari “perjuangan” kami adalah kami mendapatkan Punjabi Suit pada “visiting” yang kelima kalinya entah pada hitungan hari keberapa setelah satu minggu berlalu  

Itulah sekilas pengalamanku dengan tukang jahit di India kawan, maka ketika dia berkata kepada Nicole bahwa Punjabi Suitnya akan selesai dalam dua hari, aku nyengir kuda saja sambil mengingat “history” yang baru saja kuceritakan kepada kalian. Dalam perjalanan pulang, kami bertemu dengan salah satu guru yang ternyata juga menjahit suitnya disitu. Dengan wajah kecewa sang guru keluar dari pintu tailor shop, ketika kutanyakan mengapa, dia menjawab bahwa sudah dua puluh hari jahitannya belum selesai. Nicole langsung terkaget-kaget mendengarnya. Dengan penduduk lokal saja dua puluh hari apalagi dengan orang asing macam dia. Sudahlah tak usah difikirkan lihat saja nanti, kataku seperti mengobati kerisauan di wajah Nicole yang tidak pernah mengenal kata telat.

In Germany, you have only two options, be punctual or finish earlier, there is no option to be late.”

Aku dan sang guru mengangguk-ngangguk seolah baru mendapatkan “pelajaran baru” dari negeri Paman Fuhrer tersebut.

Hari itu aku ingat betul sedang mengajar di kelas 3, ketika aunty memberitahu ada seorang ibu yang ingin bertemu denganku di resepsionis. Siapa gerangan yang ingin bertemu denganku? Ketika aku berjalan kedepan kulihat seorang ibu yang sudah kukenal wajahnya tersenyum kepadaku. Aku pun sedikit terkejut mendapati dia kesekolah, ya dialah sang tailor, sambil tersenyum dia berkata, seperti biasa dalam bahasa Inggris yang patah-patah, “Suit finish yesterday, ready wear, now at shop”, Aha, jadi dia datang ke sekolah khusus memberitahu kalau Punjabi Suit milik Nicole sudah selesai toh.

Aku menghitung hari menggunakan jari tanganku, hari ini tepat hari ketiga dari dua hari yang dijanjikan. Tak kusangka dia tepat waktu. Apakah ini hanya karena Nicole? Bagaimana dengan suit sang guru yang sudah dua puluh hari menginap di tailor shop nya? Aku bingung dan pusing menghadapi kenyataan-kenyataan yang terjadi akhir-akhir ini, water filter, taxi eksklusif, penjahit yang tepat waktu. Inikah keunggulan bangsa Aria seperti yang digadang-gadang Hitler bahwa ras mereka memang unggul dari ras manapun didunia ini. Aku tak tahu, yang jelas sekarang didepanku Nicole tersenyum didepan cermin mencoba suit nya.

  • view 24