Incredible28

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 22 September 2017
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

1.5 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible28

Incredible28

Water Filter and Persistence…

Ini adalah weekend pertama bagi Nicole di India, dia masih tidak percaya bahwa dia sudah berada di India seperti kali pertama aku sadari bahwa aku sudah di India ketika mendengar azan subuh jam enam pagi. Dia sendiri bilang bahwa dia akan tersadar bahwa dia sudah di India jika melihat aku shalat subuh dan membaca Qur’an. Aku memang sudah berbicara dari awal bahwa aku akan bangun lebih pagi dari dia untuk shalat subuh dan membaca Qur’an, hal ini aku lakukan supaya tidak terjadi hal yang sering Ha tanyakan kepadaku, “Why you wake up so early?”, sejak saat itulah aku sendiri menyadari bahwa aku sekarang dikelilingi oleh orang-orang yang tidak semuanya beragama Islam. Pertanyaan merekapun kadang terdengar lucu ditelinga seperti, apa warna rambutku, kapan aku membuka jilbab dan memperlihatkan rambutku kepada mereka. Tapi yang paling sering ditanyakan adalah “Mengapa aku terlalu sering bertemu dengan Tuhan?” alias, mengapa aku shalat sampai lima kali dalam sehari. 

Nicole membawa Lonely Planet berbahasa Jerman setebal 1360 halaman dan dia menandai khusus halaman tentang Chandigarh. Dia bertanya kepadaku tempat-tempat yang bisa dikunjungi di Chandigarh. Dari semua tempat yang direferensikan, dia begitu ingin mengunjungi Rock Garden. Dia meminta dengan santun kesediaanku untuk mengantarkan dia kesana, tentu saja jika aku tidak keberatan katanya. Akupun menyanggupinya karena tidaklah susah untuk menuju kesana. Karena akses yang mudah menuju kesana aku dan Nicole sepakat berangkat Minggu pagi dan pulang Minggu sore, artinya kami tak akan mampir ke intern house.

                Sudah jadi rahasia umum kalau di India persediaan air bersih adalah barang yang mahal, begitu juga untuk air minum. Seperti sudah kuceritakan aku sekarang memasak air untuk keperluan minum tapi rupanya air yang dididihkan tak selalu bisa langsung diminum karena harus didiamkan dulu untuk beberapa saat dan baik aku maupun Nicole tak mau minum langsung dari keran, yang dimasak saja masih harus disaring apalagi yang mentah. Nicole rupanya gregetan dengan hal ini. Suatu hari dia bertanya mengapa aku tidak minta water filter ke sekolah.

Aku, Ha dan Salma bukannya “tidak meminta” tapi mungkin kami “bosan meminta” karena sampai mereka pulang kenegara masing-masing dan menyelesaikan internshipnya selama dua bulan di India, dua request kami yaitu water filter dan wifi, seperti dianggap angin lalu. Nicole yang mendengarkan ceritaku langsung berdiri dan berkata, “Now my turn, I’ll asked them everyday until they buy one for us”, begitu janjinya. Akupun mendukung dia dari belakang, seperti salah satu slogan pendidikan kita, “Ing Karso Sung Tuludo, Ing Madya Mangun Karso, Tutwuri Handayani”.

Maka setiap hari kami menghadap sang Principal menyampaikan “petisi” kami yaitu “water filter dan wifi”. Dan sepertinya sang Principal jengah juga hingga dia berjanji akan mem-forward request kami kepada bapak berturban yang tak lain adalah pemilik sekolah. Saking bosannya ditanyai oleh kami, sang Principal akhirnya berkata dengan tegas, “Actually, all the decisions are depended on him”, begitu katanya seolah menyiratkan bahwa sebaiknya lo pada minta aje dech sama dia. Dan kamipun memutuskan untuk meminta langsung kepada dia, atau him. Hari itupun datang, hari dimana konon kabarnya dia akan datang meninjau sekolah dan tentu saja tak kami sia-siakan kesempatan itu.

Seperti biasa dia datang dengan tentengan koper “jadulnya”, koper yang kukira tak akan kutemui lagi di Indonesia, mungkin koper ini hanya akan kalian temui jika kalian menonton film-film produksi tahun 70 atau 80an dimana adegan seorang suami pergi ke kantor. Tanpa tedeng aling-aling Nicole langsung nembak menanyakan water filter yang dia janjikan dengan perkataan, “I have one”, tentu saja kami berdua berfikiran bahwa dia datang dengan membawa water filter tersebut, tapi apa yang terjadi kawan, dia datang dengan tangan kosong (tanpa water filter) dan berkata, “I will arrange for you to get it”. What??? Jadi maksudnya, dia mau baru beli??? Kami berdua kecewa, eh dia malah menganggap itu hal yang biasa. Aku dan Nicole pun keluar ruangan dengan setengah ngedumel, kami berdua benar-benar salah tafsir tentang perkataan “I have one”- versi India. Tapi kami masih bersemangat menanyakan kembali tentang hal itu esok hari.

02.00 PM Tgl 12 April keesokan harinya setelah jam mengajar selesai aku dan Nicole kembali menghadap sang Principal menanyakan kelanjutan perjuangan kami mendapatkan water filter. Dan seperti biasa kami mendapati dia duduk manis dengan senyum tersungging dibibirnya. Seperti biasa pula Nicole berbicara straight to the point “We want to asked you about water filter, have you buy for us”, sang Principal tampak terdiam sejenak kemudian dia berkata bahwa Sir sudah punya rencana untuk membelinya dan sepertinya dia amat sangat bosan ditanyai tentang water filter setiap hari oleh kami, dia pun menyarankan untuk bertanya langsung (lagi) kepada pria berturban tersebut.

Okay, kali ini kami keluar ruangan tidak langsung pulang tapi menuju meja resepsionis meminjam pesawat telepon dan memutar nomor yang tertera paling atas yang menunjukkan dialah pemilik sekolah ini. Aku mengcopy gaya Nicole, yaitu bertanya straight to the point setelah sedikit berbasa-basi menanyakan kabar, diujung telepon entah dimana dia berada sepertinya dia berhenti sejenak ketika dan meminta aku untuk memberikan gagang telepon kepada seorang wanita yang mengurusi bagian keuangan. Dan entah kebetulan sang finance memang duduk-duduk manis dihadapanku maka dengan sigap aku memberikan gagang telepon itu kepadanya, dia kebingungan ketika aku berkata, “Sir wants to talk to you”. Nicole yang duduk menungguiku bertanya “What’s up?”. Aku hanya tersenyum dan berkata bahwa kita hampir mendapatkan apa yang kita perjuangkan.

Cukup lama sang finance berbicara ditelepon dengan sang pemegang keputusan. Hingga telepon itu ditutup dia langsung masuk ke ruangan sang Principal. “What are they doing?”, Nicole yang Germany pasti tidak telaten dengan cara kerja mereka yang dia nilai amat sangat lambat. Aku hanya tersenyum dan berkata “I think they are discussing whether they will buy the water filter or not”. Arghhhhhhhhhhhh, Nicole gregetan, kulitnya yang pucat tampak memerah sekarang, tapi kami masih duduk dekat meja sang resepsionis sabar menanti, dan cukup lama juga dua wanita itu berbicara didalam, hingga akhirnya sang Principal memanggil kami kembali. Sekarang dia tidak duduk manis melainkan berdiri seperti kami dan tampak sambil beres-beres mejanya menandakan ingin pulang sambil berkata, “We will buy the water filter today, somebody will take it to your room”. Kami menyungging senyum dan berharap itu benar adanya.

04.00 PM Sudah dua jam berlalu tapi tak tampak orang yang mengetuk pintu ruangan kami mengantarkan water filter yang dijanjikan. Mungkin mereka masih dipasar mencari water filter yang bagus untuk kami. Kamipun leyeh-leyeh sejenak, Nicole membakar kulitnya diluar kelas dengan tanktop hitam dan sunglasses nya sedangkan aku menjahit lengan jaket merah kesayanganku. Kami berdua seperti mencari kesibukan masing-masing sambil menunggu datangnya sang water filter.

06.00 PM Sekarang empat jam berlari dari jam dua, Nicole dan aku makin resah jangan-jangan mereka tak sungguh-sungguh membelikan water filter buat kami. Dan kami sudah pede tidak masak air untuk persediaan malam ini. Untuk membunuh waktu, kami mampir kesekolah mencoba “peruntungan” membuka internet dengan desktop tabung jadul yang teronggok dimeja sang finance. Hari ini rupanya kami belum beruntung karena tak ada internet connection, entah apa sebabnya, aku dan Nicole berusaha mengotak-ngatik supaya bisa membuka halaman web dan surfing di internet tapi tetap tak bisa.

07.00 Ta-da… handphoneku berbunyi, ada pesan dari sang Principal yang mengabarkan bahwa dia sudah membeli water filter dan akan segera di antar keruangan kami. Yeah…kami berdua bersorak-sorai tanda kemenangan. Sang Principal mengatakan bahwa dia meminta uncle membawa ke ruangan kami tapi dia tidak bisa karena sedang sakit, kami berinisiatif untuk mengambil sendiri ke rumahnya, tapi terlambat karena Sang Principal dalam pesannya mengatakan bahwa aunty sudah membawakannya untuk kami. Aunty??? Oh tidak, kami masih muda dan kami merasa bukan hal yang susah untuk membawa water filter kami sendiri dari rumahnya.

08.00 Tapi ketika kami berfikiran akan pergi ke rumah sang Principal, samar-samar dari kejauhan kulihat sosok aunty yang ditemani oleh Raju, anak perempuannya terhuyung-huyung memanggul sesuatu dan itu adalah…. Water filter. Horay, kembali kami bersorak-sorai tak hanya untuk water filter tapi juga untuk aunty. Aku, Nicole aunty dan Raju mengelilingi water filter seperti benda berharga yang baru kami dapatkan, seperti kami tidak pernah melihatnya saking susahnya kami mendapatkannya. Raju membaca manual book dalam bahasa Hindi sambil terus memberitahu aku bagian-bagian water filter tersebut padahal aku dan Nicole tak pernah mengerti apa yang dia katakan. Dia sama halnya seperti aunty tak bisa berbahasa Inggris, tapi kami membiarkan saja dia “menolong” kami. Hingga water filter terpasang dengan sempurna, semua gembira.

Kebahagiaan kami tak hanya mengenai water filter minggu ini. Malam harinya bapak berturban besar itu “mengkonfirmasi” kami apakah sudah mendapatkannya dan menanyakan apa yang akan kami lakukan weekend ini. Suatu hal aneh yang tidak pernah dia tanyakan sebelumnya. Akupun menjawab bahwa Nicole ingin melihat Rock Garden, dan dia menanyakan bagaimana kami pergi kesana, dan (kembali diluar dugaan) dia menawarkan jasa transportasi kepada kami. Amazing, ada apa sich dengan dia yang mendadak menjadi orang sangat baik. Setelah melalui “follow up” yang panjang bahwa Nicole tak hanya ingin melihat Rock Garden tapi juga tempat lain yang menarik di Chandigarh, dia bahkan menyanggupi mengirim seseorang untuk menemani kami, dan orang itu tak lain adalah sang financial lady.

Malam itu aku dan Nicole seolah merayakan “double victories” bahkan Nicole menyebutnya sebagai “the perfect weekend”. Kamipun tidur dengan tersenyum malam ini dan aku sungguh belajar mengenal satu kata dari Nicole yaitu “persistence”. Seharusnya itu kusadari setiap kali dia berkata, “I will asked everyday until I get it”. Dia tidak kenal kata menyerah, yang dia lakukan adalah terus berusaha hingga mendapatkannya. Hal yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya bersama Ha dan Salma, dan itulah kiranya pelajaran pertama dari Eropa untuk aku. 

  • view 37