Incredible27

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 22 September 2017
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

1.3 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible27

Incredible27

Aku, Nicole dan India

                Hampir seminggu sudah aku bersama Nicole, banyak yang aku pelajari dari dia. Dia yang seorang Germany amat sangat well-prepared dengan segala kemungkinan yang akan dilakukan esok hari. Harusnya aku menyadari hal ini bahkan jauh-jauh hari sebelum kami bertemu muka. Benar adanya yang dikatakan Andrea Hirata dalam novelnya bahwa Germany menganut faham 3P alias Preparation Perfect Performance.

Dalam “percakapan” udara kami, Nicole sudah bertanya kepadaku seperti apa Ropar, bagaimana anak-anak disekolah, aku ngajar kelas berapa, apa kesulitanku ketika mengajar, bahkan ketika kukatakan bahwa disekolah tak ada “Reading Corner” Nicole berjanji akan membawakan buku-buku cerita yang mudah-mudahan bisa berguna sebagai teaching aids. Rupanya ia tak hanya berjanji tapi juga menepatinyai. Dia memperlihatkan beberapa koleksi teaching aids nya mulai dari flashcard yang dia buat sendiri, buku cerita yang berbentuk seperti pocket nan lucu bahkan ada pula dalam bentuk softcopy alias dia sudah scan cerita-cerita menarik tersebut. Bahkan kami berencana membuat lesson plan bersama-sama dan mengaplikasikannya kesetiap kelas yang kami datangi.

Tapi rencana tinggal rencana karena ternyata sang Principal punya rencana lain ketika kuutarakan maksud kami. Dia menempatkan Nicole untuk mengikuti jadwal Ms. Geeta sedangkan aku dianggap sudah mengenal anak-anak dan mereka comfort belajar dengan aku? Ga salah tuch, bukankah mereka hanya bisa ditertibkan dengan tamparan, jeweran, hukuman berdiri dan teriakan? Aku tak tahu dan aku masih belum mengerti apa maksud sang Principal. Apakah itu hanya alasan dia saja karena ketika aku tanyakan jadwalku, dia hanya memberitahu bahwa jadwalku adalah menggantikan guru yang tidak masuk. What???

Jadi apa yang akan aku lakukan jika semua guru hadir, bengong kayak sapi ompong? Dan ini benar saja terjadi, ketika senin pagi aku hanya mampir didua kelas dan tanpa persiapan apa yang harus aku ajarkan karena jadwal diberikan secara dadakan. Hal ini membuat aku bosan dan malas. Wah ga bisa dibiarin nich, jauh-jauh datang ke India cuman jadi guru pengganti.

Aku pun datang menghadap guru coordinator bahasa Inggris dan “memohon” dibuatkan jadwal untukku. Rupanya dia membicarakan hal ini  dengan sang Principal karena terbukti ketika aku menanyakan jadwalku padanya dia berkata kepadaku untuk menemui sang Principal. Dan sekarang aku seperti Nicole, jika dia berpartner dengan Mrs.Geeta maka aku berduet dengan Mrs.Charu. Anehnya aku tak hanya diberikan kesempatan mengajar bahasa Inggris tapi juga mata pelajaran Moral Science (MSc), General Knowledge (G.K) dan Social Studies (SSt). Wah seru nech, fikirku… Akupun bersemangat kembali, tapi ada hal lain yang membuat aku menjadi lebih bersemangat yaitu, belajar bahasa Hindi.

Ditengah perbincanganku dengan sang Principal tentang time table yang sudah tersusun rapi, aku mengajukan suatu pertanyaan yang sebenarnya agak takut aku tanyakan.

“May I asked you a question”, jawabku berusaha sopan kepadanya.

“Sure, dear”, dia memang typical keibuan jika menjawab pertanyaan

“Will it be possible if I skipped one of my timetable in the fifth grade since I want to follow the Hindi class in the first grade?”, ujarku dengan berhati-hati, dia nampak diam

“Do you want to learn Hindi?”, begitu katanya seakan tidak percaya.    

“Yes, Can I…”, akupun menjawab pertanyaan dia dengan tidak percaya juga, jangan-jangan dia marah karena aku meninggalkankan kewajibanku mengajar, akupun langsung melanjutkan pernyataanku, “but, if its imposibble that’s fine with me”

“Why I should say no for someone who wants to learn”. Alhamdulillah, kiranya hari itu adalah hari yang terpenting bagiku karena aku mulai belajar mengenal alphabet huruf-huruf keriting itu dan aku belajar bersama anak-anak ingusan yang baru belajar membaca pula, hahahaha. Kini aku adalah murid baru di tahun ajaran baru dikelas Hindi bersama Ms. Monika sebagai gurunya.      

Seminggu ini kami sudah sibuk dengan jadwal masing-masing, namun kami bertemu ketika recess time. Biasanya aku akan pergi ke rooftop dan menggelar “manja”. Manja adalah sejenis tikar yang bisa dilipat. Manja juga bisa digunakan sebagai alas untuk kasur karena bentuknya menyerupai dipan. Tapi sebenarnya meskipun tanpa kasur, manja bisa digunakan untuk leyeh-leyeh apalagi ditemani semilir angin diatas rooftop. Recess time adalah jam 11.30 s/d jam 12.00 biasanya kami melanjutkan ngobrol-ngobrol sampai lunch time tiba dan aunty akan menyuguhkan menu nasi yang berwarna kuning yang biasanya dimasak dengan kentang, kacang polong dan

 Obrolan biasanya berkutat soal pengalaman kami mengajar dari jam pertama hingga jam ke tiga. Nicole curhat kepadaku bahwa ia dibuat bingung dengan system yang kadang “dadakan”. Dia dengan moto 3Pnya pastilah bukan tipe yang grasa-grusu dan tanpa persiapan. Kenyataannya bukan hanya Nicole yang mengajar tanpa persiapan, akupun juga demikian. Tak ada extra book untuk kami bahkan untuk guru sekalipun. Untuk menerangkan kepada para murid biasanya guru meminjam satu buku murid. Yang jadi masalah adalah bagaimana murid yang kita pinjami buku itu belajar dan jika ada bagian latihan bagaimana dia mengisinya.

Oh ternyata, kuperhatikan sang guru lah yang akan melakukan hal tersebut jika dia meminjam salah satu buku dari salah satu murid dan dengan senang hati para siswa akan berebut meminjamkan bukunya untuk sang guru. Tapi peristiwa lain terjadi ketika Nicole mengajar bersama sang partner. Nicole bercerita bahwa sang guru mengatakan kepada muridnya dengan kalimat “Why you’re so stupid, you didn’t do this exercises”. Padahal dia lupa bahwa dia sendiri yang meminjam buku dan membuat sang murid kehilangan kesempatan untuk mengisi lembar latihan tersebut. Oh mengapa guru harus selalu benar padahal dia salah…

Nicole juga mempunyai pengalaman yang sama dengan aku, Ha dan Salma yang terkaget-kaget ketika pertama kali melihat perlakuan para guru yang “ringan tangan” terhadap para siswa. Dan yang kuperhatikan adalah sebagian besar itu terjadi pada anak laki-laki, karena memang anak laki-laki dikelas manapun jauh lebih susah diatur daripada anak perempuan. Meskipun kami berdua bukan lulusan psychology kami mencoba menganalisa adakah hubungan keterkaitan perilaku para guru yang ringan tangan dengan perkembangan anak didik mereka hingga dewasa terutama jika dikaitkan dengan fenomena pemerkosaan yang marak terjadi akhir-akhir ini di India?

Mungkinkah para pria “balas dendam” kepada para wanita karena mereka diperlakukan “buruk” diwaktu kecil? Mengapa aku mengatakan balas dendam, karena kasus yang marak beredar adalah para pemerkosa ini biasanya tak hanya melakukan kriminalitas tunggal yaitu memerkosa sang korban tapi juga memukuli sang korban hingga tidak berdaya bahkan memutilasi alat kelamin. Dan yang lebih gila lagi mereka melakukannya tak hanya sendiri tapi beramai-ramai, sehingga koran lokal biasanya menyebut mereka sebagai “gangrape”, Naudzubilahimidzalik, bulu kudukku bergidik bersamaan dengan berhentinya aku menguyah hidangan “nasi kuning” yang disuguhkan aunty kepadaku.

Aku dan Nicole ternyata mempunyai “rasa yang sama” yaitu tak sanggup lagi mengunyah dan tak sanggup menyelesaikan membaca koran yang memuat satu halaman penuh berita tentang pemerkosaan terhadap seorang gadis enam belas tahun yang dilakukan oleh, gangrapes. Kami terdiam seolah asyik dengan hipotesa-hipotesa kami masing-masing hingga bel tanda recess berakhir dan kami beranjak dari manja yang benar-benar sudah memanjakkan kami berdua siang itu.        

  • view 26