Incredible26

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 22 September 2017
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

1.5 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible26

Incredible26

My new roomate    

Kuldeep aunty datang menghampiriku ketika aku sedang menunggu air mendidih. Sejak Ha meninggalkanku dan membawa pulang teko elektriknya, aku mengalami penderitaan lain yaitu harus memasak air untuk diminum karena aku tak mau minum air dari kran seperti yang biasa orang India lakukan. Aunty datang seperti tergesa-gesa dan berkata “Irma Mam, Principal Mam call”. Aku berkata pada aunty untuk menunggu sejenak karena aku ingin minum dulu, tapi aunty seperti membawa mandat penting. Ada apa sih, paling-paling dia mau ngasih jadwal “ngajar dadakan”, gantiin guru yang minta izin pulang, fikirku. Tapi aunty seolah setengah menyeretku untuk pergi dengan perintah “ASAP” ke ruang sang kepsek. Akupun tergopoh-gopoh membawa air panas yang baru saja aku tuang ke tumbler ku dan berjalan bersama dia ke gedung sebelah. Dan lihatlah apa yang aku temukan disana, teman… My new roommate is coming…

Duduk manis dengan sikap sempurna dan membusungkan dada, dialah Nicole, teman sekamarku yang baru. Jadi inilah orang yang rajin mengirimiku message di facebook sebelum kedatangannya ke India. Dan inilah kali pertama aku melihat wajahnya karena di account facebooknya, aku tak menemukan secuilpun potongan wajah dia. Album fotonya hanya berisi siluet bayangan seorang gadis yang sedang berdiri setengah terbang. Kini kutemukan sosok aslinya. Perawakannya tinggi semampai dengan rambut blonde sebahu. Dia berpenampilan casual, mengenakan jeans navy blue selaras dengan t-shirt yang menempel di badannya dan scarf hijau muda motif bunga-bunga kecil melingkari lehernya, sederhana saja tetapi kelihatan berkelas.

Kami saling berjabat tangan kemudian sang Principal yang sudah menganggap aku familiar dengan sekolah ini, “menyerahkan” Nicole kepadaku. Hal yang pertama ingin dia lihat adalah kelas-kelas yang ada, akupun dengan senang hati menunjukkan kepadanya, sesekali dia bertanya hal-hal yang berkaitan dengan para siswa, berapa umur mereka, bagaimana cara mengajarnya, dan lain sebagainya.

Hingga selesai touring class kami, tibalah saatnya aku mengajak dia ke “ROOM SWEET ROOM” kami. Aku, Ha dan Salma memang menamai kamar kami dengan jargon tersebut. Didalam kamar kami ada sebuah blackboard usang dan iseng-iseng waktu itu Ha menulis kata tersebut, akupun menambahkannya dengan menuliskan nama dan negaraku, ternyata itu diikuti pula oleh Ha dan Salma. Nicole senyum-senyum melihat ruangan tempat tidur kami. Entah apa maksud dari senyum tersebut yang jelas dia tetap menunjukkan wajah tenangnya sambil terus mengamati sudut kamar kami. Hingga tiba saatnya ketika melihat kamar mandi, dia tertegun sejenak dan berkata, “You don’t have a shower?”. Aku menggelengkan kepalaku, dikamar mandi hanya ada satu ember berwarna pink lengkap dengan gayungnya dan satu ember lain yang biasanya aku gunakan untuk mencuci baju. “Allright”, ujarnya singkat setelah keluar dari kamar mandi.

Jika Ha dan Salma membawa luggage besar maka Nicole membawa luggage dengan type backpack berdesign kotak-kotak hijau seolah ingin menunjukkan bahwa dia adalah cewek sporty. Yang pertama kali dikeluarkan dari backpacknya adalah empat foto berframe biru. “This is my boyfriend”, begitu ujarnya sambil tersenyum dan menunjukannya empat foto tersebut kepadaku. Tiga foto pertama mempunyai arti berharga bagi Nicole dan dia tidak sungkan berbagi kepadaku. Tiga foto tersebut memang mempunyai kemiripan yaitu, seorang pria dengan sweater navy blue berlatar belakang danau yang tenang dan snowfall dialah Simon, sang kekasih. Di foto pertama Simon bergaya cool dengan kedua jempol mengarah kedadanya, foto kedua dia membawa papan berbentuk hati berwarna merah dan foto ketiga adalah gesture jari telunjuknya seolah menunjuk sesuatu. Dari ketiga foto tersebut Nicole memberitahu aku bahwa sebenarnya Simon berkata: “I Love You”. Duhhh Romantisnya…       

Dihari pertama sesampainya di Ropar, Nicole sudah minta aku menunjukkan kota kecil Ropar, “but if you don’t mind”, begitu ujarnya. Tentu saja aku tak keberatan karena tak perlu waktu lama menunjukkan tempat ini, bahkan Salma pernah berkata bahwa, “Ropar is very suburban”, untuk menunjukkan bahwa tak ada yang menarik disini selain ladang gandum dan gurudwara. Tapi berbeda dengan Nicole, setiap aku jelaskan suatu tempat walaupun itu kalimat singkat dia akan mendengarkannya dengan seksama seolah informasi yang aku berikan adalah info penting bagi dia, sesekali dia bertanya kepadaku. Aku membawanya hingga ke roundabout Ropar ketika aku kebingungan harus kemana karena konon katanya ada sungai yang menjadi asal muasal kota Punjab, tapi aku sendiri tak tahu dimana. Hingga kami berhenti di suatu bangunan bertuliskan “DISTRICT LIBRARY”, mungkin kita bisa rehat sejenak diperpus sambil duduk-duduk fikirku dan Nicole setuju dengan ideku. 

Memasuki area library suasana tak hanya tenang tapi juga hening bahkan cenderung sunyi senyap tak ada orang. Seorang pria yang bertugas sebagai resepsionis bertanya kepada kami dalam bahasa Punjabi dan kami menjawab dengan menebak-nebak. Tak ada tulisan dalam bahasa Inggris sama sekali, semuanya kukira bahasa Punjabi/Hindi. Perpustakaan ini tampak sangat tua bahkan boleh dibilang lapuk. Gantungan postcard begitu usang dan berdebu. Ada beberapa ruangan, tapi tak ada buku sama sekali didalamnya, yang terlihat hanyalah beberapa orang pria berturban sedang membaca Koran bahkan ada yang sedang minum chai. Tak hanya Nicole, tapi aku juga kecewa mendapati perpustakaan yang tanpa buku sama sekali. Dengan perasaan yang sama kami angkat kaki meninggalkan perpustakaan yang tanpa buku ini.

Dalam perjalanan pulang Nicole bercerita tentang Indian guy yang menjemputnya di airport. “He’s so crazy in driving and the music is so loud.And you know what, he brings me to a restaurant that make me couldn’t sleep all night long”. Itulah kesan pertamanya kepada India, selain tak bisa tidur karena makanan yang dia makan “sang penjemput” juga mengajak Nicole ke sebuah bar, “He thought that I am a European so he asked me to drink but I won’t drink unpurpose”. Aku dibuat terpingkal-pingkal mendengarkan ceritanya karena Nicole juga memperagakan gesture sang Indian guy membawa mobil, berbicara hingga mimik mukanya ketika menenggak minuman, hahahaha…so funny…

  • view 34