Incredible25

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 22 September 2017
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

4.6 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible25

Incredible25

April 4th, 2013

Keadaan sekolah dan kesendirianku semakin membuat aku boring, kini kurasakan bahwa Ropar benar-benar membosankan. Ropar is really dull. Sudah dua hari sekolah berjalan tapi aku belum mendapat time table baru. Ketika kutanyakan kepada sang principal dia bilang kemungkinan besok sore baru aku akan mendapatkannya, tapi sampai saat seharusnya aku dapat, time table itu tak kunjung datang, harusnya aku mulai mengerti janji orang India, bukankah mereka terbiasa berkata “after two minutes”, “after fifteen minutes”, “after one hour” dan “tomorrow”. Jika orang Indonesia mengenal jam karet, maka entah jam apa yang tepat untuk mereka.

Jika ditanya, “Kaseo?” yang artinya “How are you?” dalam bahasa Punjabi, maka aku menjawab “Theek kai” (Fine) dengan lemas. Lemasnya aku menjawab tak hanya karena keadaan sekolah yang membosankan tapi juga karena kesendirianku. Aku merindukan Ha dan Salma.

Namun entah energi positive apa dan dari mana yang membangkitkan aku dari segala kebosanan dan kekecewaan yang aku alami akhir-akhir ini. Jika aku tidak menciptakan sendiri suasana hati yang kondusif maka aku akan tetap larut memikirkan semua hal yang menyerap energi positive ku. Maka ketika terbangun dipagi hari, aku berniat akan mulai mengajar, masuk ke kelas manapun entah dengan atau tanpa time table dari sang principal.

Benar saja ketika sampai sekolah, kulihat guru-guru sibuk mencatat jadwal mereka mengajar dan tak ada namaku disitu. Akupun menemui sang principal dan seperti biasa dengan senyum manisnya sang principal menyapa aku. Ketika aku menanyakan (lagi) mengenai time table ku dia hanya berkata bahwa, jadwalku sedang disusun dan belum selesai, adapun hari ini, aku bisa masuk kesemua kelas dan mengambil tiga puluh menit setiap kelasnya. Ketika aku tanyakan dari mana aku mulai, maka dia menjawab terserah aku, katakan saja bahwa aku akan mengajar spoken English class selama tiga puluh menit kesetiap homeroom teacher. Okay, deal. Semuanya terserah aku, bahkan jika aku katakan bahwa aku hanya ingin tidurpun itu terserah akau dan dia pasti hanya akan tersenyum hahahahahaha…

Kelas pertama yang menerimaku adalah kelas 6 dan sesuai nama kelasnya aku mendapati enam orang siswa pula. What a coincidence… Ketika mereka masih kelas lima, aku ingat betul jumlah mereka adalah lima belas orang jadi sudah tahukan jawabannya kemana mereka pergi???. Perbincangan yang menarik dengan mereka hari ini adalah tentang sekolah mana yang menjadi tujuan teman-teman mereka, mengapa mereka pindah dan satu yang aku mulai sadari bahwa satu orang siswa laki-laki itu bukankah anak kelas empat? Mengapa dia ada dikelas enam?

Ternyata fenomena jumping class tidak hanya terjadi di Indonesia. Ini terjadi juga di India, dikelas ini. Syarat yang utama jika anak dinyatakan jumping class adalah dia harus mempunyai nilai yang bagus. Nilai yang harus didapat adalah 550-600/term yang mencakup enam mata pelajaran yaitu Maths, English, EvS (Environmental Science), SSt (Social Studies), Hindi dan Punjabi. Dan yang menarik adalah mereka diwajibkan untuk mempelajari Maths (pada tingkat kelas yang mereka tinggalkan) secara otodidak, artinya sekolah tidak bertanggungjawab untuk mengajarkannya tapi orang tua dirumahlah yang bertanggung jawab atas hal ini. Dan mengapa Maths? Serentak semua siswa menjawab karena Maths adalah International Subject. Sekarang aku faham, mengapa mereka sejak kelas 1 sudah “dijejali” dengan table perkalian bahkan anak kelas dua sudah diajarkan table perkalian belasan dan puluhan. Ckckck…

Sebenarnya ada hal lain yang menjadi “trigger” mengapa anak melakukan jumping class, yaitu orang tua. Hal ini menarik untuk disimak, karena aku perhatikan orang tua mempunyai peran yang cukup dominan disekolah. Selain mereka bisa mengevaluai keadaan sekolah setiap tahunnya, mereka juga bisa mengajukan anaknya jika ingin jumping class. Alasannya pun kadang kufikir “aneh”, yaitu mereka mengira bahwa umur anak mereka sudah terlalu tua, takut mereka bosan pergi kesekolah dan yang terakhir adalah tanpa alasan yang pasti mengapa mereka harus jumping class.

Alasan terakhir kutemukan ketika aku menjadi assistant teacher untuk mata pelajaran EvS di kelas dua. Anak perempuan dengan rambut kepang dua, duduk dengan restless ketika menulis dibuku tulisnya sendiri. Ketika kudekati ternyata dia sedang mengeja kata “organs” yang ditulis sang guru dipapan tulis. Aku tahu persis dia kesulitan untuk menulis kata tersebut. Ketika kuberitahukan kepada guru yang bersangkutan, guru itu tampak sependapat denganku.

“Actually, I’m not agree she’s here now”, begitu katanya seolah menegaskan, dia menghela nafas seolah menaruh rasa kasihan pada si bocah berkepang dua tersebut.

“She jumped from Senior Kindergarten to second grade, means she lost her first grade”, dia terdiam sejenak sambil membolak-balik buku Science yang dipegangnya.

“Is she smart enough?”, tanyaku seperti menggali informasi.

“No, she’s average”, jawabnya seolah sedikit kecewa, “but her parents asked for it” (jumping class maksudnya).

“And the school allowed for it?”, aku sekarang seperti wartawan yang menyelidik kasus penting dan berharap menemukan jawaban yang significan.

“Yes”, ujarnya pendek

“Why?”, aku seperti dibuat penasaran, tapi aku tak mendapatkan jawaban yang memuaskan karena dia hanya mengangkat bahu dan berkata, “School decided it”. Ternyata dimana-mana “penderitaan guru” banyak persamaannya. Mereka selalu terjepit diantara keinginan orang tua dan sekolah, terlebih jika sekolah itu milik swasta dan dikelola oleh pengusaha. Aku seolah meraba-raba apa yang dia maksud dengan perkataannya bahwa “sekolah sudah memutuskan”. Perkataan itu seolah menegaskan suatu pribahasa bahwa nasi sudah menjadi bubur dan bubur itu sudah ada di mangkuk, sudah ditaburi dengan sayuran dan kecap juga sambal. Pilihannya ada dua yaitu menyantapnya atau membuangnya. Dan aku tahu persis bahwa pasti pilihan pertama yang diambil sang guru.

Dari perbincangan soal bocah cilik berkepang dua nan lugu, sang guru seperti “curhat” kepadaku tentang hal yang lain. “This class is too large, I cant control them”. Aku memang sependapat dengan dia bahwa dengan jumlah siswa 38 orang dan satu guru adalah situasi yang tidak mudah. “I have told to Sir that this class should be devided into two classes but Sir thinks it doesn’t need”. Kembali dia menghela nafas dan kembali pula aku menganalisa mengapa lelaki berturban besar itu tidak sependapat dengan sang guru untuk membagi siswa menjadi dua kelas, karena aku tahu persis masih ada satu ruangan kosong disudut sana bekas anak kelas tujuh.

Curcor tidak bisa diteruskan karena bel manual sudah dipukul Lalita aunty diluar sana. Sang guru pamit karena dia harus pindah kelas dan aku masih termenung mencoba mencari jawaban dengan menebak-nebak dua kasus yang aku temukan hari ini, dan semua jawaban mengacu pada dua kata kunci yaitu, “School and Sir”, but still, I couldn’t find the exact answer for my two case studies. Mungkinkah waktu yang akan menjawabnya?

  • view 62