Incredible24

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 22 September 2017
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

6.3 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible24

Incredible24

Sekilas tentang pendidikan di India

                Jika di Indonesia tahun ajaran baru dimulai bulan Juli setiap tahunnya, maka tahun ajaran baru di India adalah bulan April. Dan satu yang baru aku tahu bahwa siswa diperbolehkan pindah tempat sekolah setiap tahunnya jika mereka merasa tidak “sreg” dengan sekolah yang mereka diami sebelumnya. Hal ini menarik karena bagiku itu adalah hal yang tidak lumrah aku temui di Indonesia. Hal umum yang ditemui di Indonesia jika siswa berpindah sekolah biasanya disebabkan karena orang tuanya pindah rumah, pindah tugas dan sebab lain yang membuat mereka tidak memungkinkan lagi untuk tinggal di tempat tersebut.

Tapi lain halnya dengan di India, orang tua mempunyai kebebasan untuk “mengevaluasi” kualitas sekolah setiap tahunnya. Jika sekolah dinilai tidak memenuhi kriteria yang mereka inginkan maka mereka akan memindahkan anak-anaknya untuk mendapatkan kualitas pendidikan yang lebih layak bagi anak-anaknya. Kriteria ini biasanya mencakup infrastruktur sekolah, keadaan sekolah, atmosphere dan kualitas guru-gurunya. Sehingga bisa ditebak apa yang terjadi kemudian. Kompetisi yang ketat terjadi diantara sekolah-sekolah di India, terutama tentu saja sekolah-sekolah swasta. Iklan-iklan sekolah membanjiri tak hanya koran, majalah atau televisi, tapi juga tembok-tembok bangunan rumah ataupun tembok bangunan yang tak terpakai. Huruf besar-besar dengan warna yang mencolok mata digunakan agar orang-orang pay attention dengan iklan “sembrono” itu.

Yang ada dalam fikiranku ketika membayangkan mereka pindah sekolah setiap tahunnya adalah buku raportnya. Jika tingkat Junior Wing (Primary 1 s/d 10) mereka berpindah sekolah maka mereka akan mendapatkan 10 raport yang berbeda, ckckckckck. Salah satu koleksi yang unik juga. Meskipun “habit” berpindah sekolah setiap tahunnya banyak menuai protes dari para guru, nyatanya hal ini tetap saja terjadi. Ada benarnya juga para guru protes karena secara psychologis, anak-anak (terutama anak-anak TK) belum bisa menyesuaikan dengan keadaan dengan sekelilingnya, mereka sudah dipindahkan ke lingkungan baru. 

India membagi tingkat pendidikan menjadi beberapa tahap yaitu Pre-Nursery, Nursery, Junior Kindergarten, Senior Kindergarten, Junior Wing, +1, +2 (setingkat kelas 11&12), College (Graduated), Post Graduated, Master, dst.

Dalam suatu “percakapan” tanpa sengaja antara aku dan Rupam Mam, wali kelas anak kelas tiga, dibutuhkan waktu kurang lebih 24 tahun untuk menyelsaikan sekolah di India jika ingin mendapatkan pekerjaan yang layak. “And I complete it”, begitu ujarnya, sehingga tepat berusia dua puluh empat tahun dan menyelesaikan dua puluh empat tahun masa pendidikannya dia kemudian menikah.

Seperti halnya di Indonesia, mendapatkan pekerjaan di India bukanlah hal yang mudah. Setidaknya anda harus bergelar S2 untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Hal ini pula yang mendorong guru-guru disekolah dasar untuk meneruskan jenjang pendidikan mereka ke tempat yang lebih tinggi setingkat S2. Apalagi untuk kaum pria, lapangan pekerjaan jauh lebih susah daripada kaum wanita. Hal ini diakui oleh Prince dan Mukesh, dua orang cowok India yang sama-sama vegetarian. Mukesh sudah lulus kuliah tapi sampai dengan saat ini masih tetap belum mendapatkan pekerjaan. Sebagai Sarjana tekhnik sipil, dia rajin mengirimkan lamaran dan mengikuti tes-tes baik yang digelar pemerintah ataupun swasta, tapi rupanya dewi fortuna belum berfihak padanya. Lain lagi dengan Prince, setelah lulus sarjana dia menjadi jobless selama bertahun-tahun. Prince sendiri saat ini tengah berusaha menyelesaikan gelar masternya dan berancang-ancang untuk pindah kerja guna mendapatkan upah yang layak untuk kehidupan pernikahannya yang dia rencanakan satu tahun kedepan.         

Kembali ke masalah perpindahan sekolah setiap tahun, lalu bagaimana dengan sekolah tempat internshipku? Dengan fasilitas yang aku kemukakan diawal, tentulah agak sulit untuk bersaing dengan sekolah-sekolah yang lainnya. Ketika hari pertama sekolah dibuka hanya sedikit siswa yang terlihat. Tiga ruangan kelas kosong tak terisi menandakan tak ada panghuninya. Kelas empat yang jumlah siswanya tigapuluh dua kini yang tersisa hanya setengahnya. Kelas enam hanya dihuni sepuluh orang, karena lima orang “melarikan diri” kesekolah lain. Beberapa orang guru tak terlihat sampai hari ketiga awal sekolah dibuka, hanya dua orang guru yang kuketahui statusnya yaitu, resign, selain dari itu aku tak tahu kemana. Inikah nasib guru dibelahan dunia lain?

  • view 123