Incredible23

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 22 September 2017
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

1.5 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible23

Incredible23

 April 1st, 2013

April Mop 

                Hari ini adalah hari terakhir Ha di India, besok pesawat akan membawanya terbang kembali ke Vietnam. Dia ingin berpamitan kepada semua guru disekolah dan membawa Patisa sebagai tanda perpisahan. Dari sector 43 bus stand Chandigarh, seperti biasa kami naik bis kearah Ropar dan seperti biasa pula Ha akan tertidur dengan pulas ketika kami baru saja duduk di bis. Sudah satu jam berlalu, biasanya satu jam perjalanan kita sudah sampai di Ropar bus stand tapi mengapa rasanya perjalanan jauh sekali dan kami melewati jalan-jalan yang tidak aku kenal.

Aku mengguncang-guncang Ha yang tertidur pulas, tapi dia dengan enteng menjawab, “Maybe they take another route Irma, just take it easy”, katanya kemudian tertidur lagi. Mungkin juga, fikirku tapi aku tetap gelisah, kutanyakan kepada sang kondektur yang berdiri tak jauh dari kami. “How long we’ll get Ropar?” tanyaku kepada dia, kening dia terlihat berkerut dengan pertanyaanku, dia kemudian menjawab dalam bahasa Punjabi, aku kemudian mengulangi “kata kunci” yaitu Ropar, dia tetap saja berbicara dalam bahasa Punjabi, hingga akhirnya ada seorang pria yang menghampiri kami,

 “Where do you want to go?”,

“Ropar”, aku mengulangi kata itu lagi.

“Look, you have ten kilometers away from Ropar”

 What? Tuh kan benar dugaanku, kita nyasar. Kulihat Ha sudah terbangun dari tidur nyenyaknya dan kuperhatikan pria tadi berbicara dengan sang kondektur. Sang kondektur dengan sigap mempunyikan pluitnya tanda penumpang turun. “Niche,niche,niche”, serunya tanda menyuruh kami turun dari bis. Kami turun bersama pria yang tadi membantu menjadi penterjemah. Dan seperti biasa aku akan menyalahkan diriku sendiri mengapa aku tidak tanggap waktu kulihat banyak penumpang turun dan sang kondektur berseru-seru dan menyebut kata “Ropar”,

“See, we got lost”, kataku agak sedikit kesal kepada Ha, aku sibuk bertanya bis mana yang mengarah ke Ropar kepada pria tadi, tapi lihatlah apa yang Ha lakukan, kawan. Dia dengan tenang mengeluarkan handphone nya dan menghubungi orang sekolah dan menyerahkan handphonenya kepada pria itu menjelaskan dimana kami berada saat ini. Mengapa hal itu tak terfikirkan olehku, bukankah cara yang dilakukan Ha lebih efektif dari pada kami harus berbalik arah dan mencari bis lagi.

 “Just stay here, okay. Don’t talk to everybody, its dangerous” warningnya. Kami hanya mengangguk dan mengucapkan terimakasih, diapun berpamitan meninggalkan kami.

Sekarang disinilah kami berada, Ghanauli Railway Statiun, sepuluh kilometer dari Ropar, orang-orang yang baru keluar dari stasiun kereta sejenak memandang kearah kami, kulihat mereka berbicara sambil terus memandangi kami.

Tak jauh dari stasiun kereta ada kedai kecil, disanalah kami numpang duduk, aku duduk termangu menunggu yang akan menjemput kami. Tiga puluh menit berlalu sudah, kami masih menunggu, sekelebat motor besar berhenti didepan kami,

“You are still waiting, will somebody pick you up?”, tanyannya sambil membuka helm. Oh rupanya pria tadi sekarang dia duduk gagah diatas motor besarnya mengenakan jaket dan memegang helmnya. Aku dan Ha hanya berkata singkat “yes”,

“Do you need my help?”, dia menawarkan bantuannya. “No, thanks”, jawabku.

“Just stay there and don’t go anywhere”, katanya seperti khawatir kepada kami berdua.

Perut mulai keroncongan karena kami belum sarapan ketika meninggalkan intern house. Tiba-tiba Ha menyodorkan aku chip dari arah belakang. Kuambil chip terkenal itu, merobeknya dan mengunyahnya. Kami berdua duduk termangu diantara orang-orang yang sesekali masih memandangi kami. “How much is the chip?”, tanyaku

“Because they sell here, its 40 Rupees each”, ujar Ha

“What???, but its written 20 Rupees here”, protesku

“Gotcha, April Mop”, pekiknya dan terkekeh mentertawakan aku.

Hmm, itulah Ha kawan, selalu menjadi penyeimbang aku yang selalu berfikir serius dan lurus. Lagipula baru aku ingat hari ini adalah tgl 1 April yang biasanya identik dengan April Mop, akupun menganggap bahwa nyasarnya kami sebagai kado April Mop dan, aku menyadari betapa aku akan merindukan gadis tomboy ini.

Jam setengah sebelas kami tiba disekolah, Ha berkeliling berpamitan kepada guru-guru sambil “menjajakkan” patisa nya. Menit-menit terakhir dengannya dihabiskan dengan minum juice terakhir di pinggir jalan, sebagai salam perpisahan Ha mentraktir aku juice seharga 20 Rupee tersebut. Dari situ dia berminat langsung pulang ke Chandigarh, tapi aku menawarkan untuk makan siang terakhir, dan dia menyetujuinya. Makan siang terakhir kami “agak istimewa” bahkan terkesan perfect karena aunty menghidangkan ayam dan chapatti sebagai menu makan siang kami.

Seperti kebiasaan yang kekenyangan, setelah itu kami tertidur pulas. Aku yang biasanya tidak bisa tidur siang hari itu benar-benar terlelap. Jam empat sore, aku menyadari ternyata Ha sudah tidak berada disampingku lagi, dia membiarkan aku tidur dan terbangun sendiri, tanpa ada dia.

  • view 29