Incredible22

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 22 September 2017
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

1.5 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible22

Incredible22

March 28th,2013

Our Farewell

 Tepat dua bulan sudah aku menjalani internshipku, itu artinya Salma dan Ha akan segera pulang ke negara masing-masing. Ha harus pulang karena harus menyelesaikan tesisnya, sedangkan kepulangan Salma lebih karena factor keluarga. Meskipun dia minta untuk extend satu bulan untuk tinggal lebih lama di India, nyatanya keluarga terutama ayahnya tidak mengizinkan. Sebenarnya aku agak aneh juga, mengapa dia yang sering banyak complaint tentang semua hal di India ingin memperpanjang lama tinggal disini. Ketika kutanyakan alasannya, dia hanya menjawab singkat dengan satu kata yaitu, travelling.

Harus kuakui, meskipun segala sesuatu tak berjalan mulus di India, tapi pengalaman travelling dan keep in touch dengan teman dari berbagai bangsa adalah pengalaman berharga dibanding dengan apapun. Begitu pula dengan Salma, dia merasa travelling list-nya belum dia check list semua. Berbeda dengan Ha yang lebih pasrah bahwa dia harus pulang tanpa melihat Taj Mahal, Salma berjuang cukup keras untuk meyakinkan ayahnya bahwa ia ingin tinggal lebih lama. Tapi apa daya, ayahnya tetap pada pendirian pertama yaitu, harus segera pulag sesuai jadwal keberangkatan.

Maka menyadari hal itu, kamipun “merancang” farewell party kami. Sayangnya banyak intern yang melakukan travelling karena liburan Holi, maka setengah bercanda mereka yakin bahwa tak akan ada yang datang kalaupun mereka memposting tentang rencana farewell mereka. Kamipun menggelar farewell sederhana bersama Prince. Kami merayakannya dengan coke, spring roll dan ice cream. Tak lupa hidangan dinner dari aunty menutup makan malam terakhir kami malam itu.         

 Salma pulang lebih cepat dua hari dari Ha. Aku, Ha, Nadu dan Daraz mengantarnya sampai bus stand yang akan membawanya ke Delhi. Hari itu, aku ingat betul, meskipun kadang dia annoying, aku sedih juga ketika memeluk untuk yang terakhir kalinya.

“Irmi, you have to go to Kashmir”, hanya itu pesannya sebelum dia naik bis. Dia memang eager untuk pergi ke Kashmir. Entah apa yang special disana. Detik-detik terakhir keberadaannya di India, Salma begitu rajin browsing harga tiket mulai dari bis sampai pesawat. Tapi segala sesuatu terasa sempit karena kabarnya perlu waktu setidaknya lima hari untuk kesana.

Aku memang harus banyak belajar dari Ha, yang jauh lebih rasional, lebih logical dan lebih sabar menghadapi Salma. Harusnya memang aku sadar bahwa kami berbeda latar belakang keluarga, aku tak mungkin menyamakan Salma dengan aku yang terbiasa hidup apa adanya. Di hari-hari terakhir kebersamaan kami, Salma terbiasa memanggilku dengan sebutan Irmi, entah apa maksudnya. Dia juga sering memuji rambutku yang terkesan lemas, daripada rambutnya yang curly,tebal dan tiba-tiba membesar usai keramas.

Kini tak ada lagi, noodles night, movie night ataupun singing together, menyanyikan lagu kebangsaan kami, “Just Give Me a Reason.”

  • view 33