Incredible20

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 21 September 2017
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

1.5 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible20

Incredible20

Snowfall in Manali

Semakin mendekati akhir bulan semakin terasa kedekatan kami. Ha dan Salma memang hanya akan menjalani internship selama delapan minggu dan bulan ini adalah bulan terakhir mereka. Tempat yang kami pilih untuk travelling terakhir bersama adalah Manali, sebuah hilli area yang kabarnya lebih indah daripada Shimla.

Ternyata ada intern lain yang berminat bergabung bersama kami yaitu sicantik Sophia, Nadu yang asal Sri Lanka, and the one and only man, Daraz.

Jam delapan pagi kami sudah meninggalkan intern house menuju bus stand. Dan ya ampun kerumunan orang sudah menggulung. Setengah memaksa kami menunjuk Daraz menjadi leader dalam arti lain dia yang bertugas mengantri, sementara kami hanya duduk-duduk manis bahkan berkesempatan ke toilet segala.

Semua otoritas kami berikan kepada Daraz, termasuk ketika dia datang membawa tiket bis non AC. Aku dan yang lainnya sepertinya tak keberatan, hanya Salma seperti biasa cemberut dan complaint. Dia beralasan perjalanan akan memakan waktu yang lama jadi perlu bis yang nyaman. Memang alasan dia make sense, dua belas jam bukan waktu yang sebentar, tapi jika tiket bis AC sudah habis, apakah kita harus membuang waktu menunggu bis selanjutnya yang ga jelas kapan sementara waktu terus bergerak. Hal lain yang menjadi pertimbangan adalah masihkah kita memerlukan AC padahal saat ini sedang winter dan kita akan melakukan perjalanan menuju daerah pegunungan yang konon kabarnya suhu disana mencapai minus?

Manali memang lebih jauh dari Shimla, untuk kesana dibutuhkan waktu setengah hari atau lebih. Bahkan ada yang menyarankan, jika ingin menghemat waktu, tenaga dan budget, buatlah satu paket perjalanan Shimla-Manali. Karena empat jam setelah Shimla, itulah Manali. Tapi hal itu tentu saja tak bisa kami lakukan, karena kami hanya punya kesempatan travelling ketika weekend.

Mau tak mau, suka tak suka, akhirnya kami duduk juga di dalam bis ini. Tak ada beban bagiku, semua bis sama saja. Yang penting selamat sampai tujuan. Jalanan menuju Manali memang tak selalu mulus, selalu saja ada jalanan yang rusak. Bis beberapa kali berhenti untuk beristirahat, tentu saja, seperti biasa di kedai chai. Ternyata bis tak langsung menuju Manali. Kami diberhentikan di Kullu dan harus menyambung bis ke Manali. Cuaca sedikit gerimis.

Jam 20.00 kami sampai di Manali dalam keadaan kedinginan dan masih gerimis. Begitu turun dari bis, bhaiya auto langsung berebut menawarkan jasanya. Sejenak kami tertegun, mau kemana? Alamat hotel yang diberikan Mustafa kepada Salma ternyata berada di Old Manali, daerah yang masih harus ditempuh dengan auto dan itupun sudah fully booked. Akhirnya kami memutuskan mencari hotel di sekitar Manali saja, persis ditengah kota. Malam ini setelah kami check-in, barulah kami keluar menikmati Manali di malam hari. Ternyata Manali jauh lebih dingin daripada Shimla.

Kami berjalan menyusuri Manali setelah makan malam. Orang-orang memakai mantel yang amat sangat tebal. Tak hanya mantel mereka mengenakan penutup kepala, syal, topi, sarung tangan dan semua atribut untuk menutupi badan. Tak heran kami semuapun kedinginan. Konon kabarnya suhu mencapai minus lima! Pantesan kulit kami serasa tiba-tiba menjadi keriput. Di Manali pula aku melihat pemandangan berbeda, penjaga kios rata-rata berwajah Kashmiri dan menyambut kami dengan ramah, terutama kepada aku dan Salma. Mereka berdagang mulai dari shawl, pashmina, hingga hiasan untuk dinding.

Resepsionis di hotel memberitahu kami beberapa tempat indah di Manali. Ada juga beberapa jasa tour and travel tak jauh dari hotel tempat kami menginap. Malam ini kami tidur nyenyak dan esok hari kami siap menjelajahi Manali.

Rencana kami bangun jam tujuh menjadi molor karena hujan yang tak henti-henti. Kami hanya bisa menatap hujan dan menutup kembali jendela kamar masing-masing. Hujan berhenti, kami langsung berkemas. Tapi ternyata sekarang bukan air yang turun melainkan snowfall. Wow, aku dan Ha kegirangan, meskipun kami kedinginan kami    seperti anak kecil yang diberi balon. Kami menghambur keluar dan bermain dengan snowfall. Semakin siang,semakin deras snowfall-nya. Tak tuk tak tuk, suara snowfall yang mengenai atap bangunan hotel, restaurant dan gedung-gedung lainnya semakin menambah seru “permainan” kami. Sesekali kami tertawa kegirangan mendapati snowfall dikepala kami. Kami layaknya orang udik, ketika orang-orang menghindari snowfall kami malah bermain-main dengannya.

Kami langsung check-out dan menuju pusat informasi Manali. Disana orang-orang sudah mulai bergumul. Kami berdesak-desakan dalam kedinginan. Mereka memberikan informasi tempat-tempat yang bisa dikunjungi dan yang tidak, karena cuaca buruk. Berbekal beberapa lembar booklet kami membawanya kesebuah restaurant, berdiskusi sambil breakfast. Tak jauh dari information center, kami menemukan restaurant sederhana dan memesan breakfast. Seperti biasa aku memesan ginger chai, Daraz dengan masala chai dan Ha dengan kopinya.

Rata-rata mereka memilih untuk melakukan sport recreation, mulai dari paragliding, ice skating, dll. Tiba giliranku, mereka menatap aku dan seperti berharap-harap cemas. Ketika aku menyatakan setuju, mereka semua menarik nafas panjang. Kenapa sih?

Rupanya mereka takut aku memilih wisata sejarah, seperti mengunjungi situs-situs jejak peninggalan para dewa, dan lain sebagainya. Meskipun sebenarnya aku tertarik juga, tapi aku harus tunduk pada suara mayoritas. “Tragedy” wagah border sudah memberikan aku banyak pelajaran.

Maka disepakati kami akan mengunjungi Solang Valley dan disana kami akan melakukan ice skating. Sang sopir memutarkan lagu Hindi mendayu-dayu mengiringi dinginnya Manali. Sejauh mata memandang yang kami lihat hanyalah hamparan putih yang tebal. Rumah, bangunan, jalanan, pohon, semuanya tertutup salju. Bhaiya taksi ramah mengobrol bersama kami. Dia bercerita kalau winter kali ini cukup berat. Banyak kawasan yang ditutup, begitu juga dengan beberapa sport recreation. Hampir semuanya ditiadakan kecuali ice skating, hanya itu yang bisa dilakukan.

Bersama kami dan bhaiya taksi disediakan pula seorang instruktur yang “mengajari” dan menemani kami bermain ice skating di Solang Valley. Ketika kami sampai disana, yang terlihat adalah lembah cantik dengan barisan pegunungan Himalaya dibelakangnya. Yak, binatang sejenis domba tapi lebih besar bermain-main dikubangan salju. Tak ada warna lain selain putihnya salju. Trip kali ini benar-benar awesome :)

  • view 32