Incredible18

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 21 September 2017
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

1.3 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible18

Incredible18

Exaggerating India

                Minggu ini Simona, intern asal Slovakia memberikan kabar untuk para cewek bahwa akan ada Shoes Exhibition di Chandigarh. Dengan seketika kabar itu disambut hangat, dan semua cewek janjian ketemuan disana. “The Aroma” adalah nama tempat Shoes Exhibition tersebut. Pasti semua cewek membayangkan hal yang sama yaitu koleksi sepatu-sepatu lucu dengan harga miring dan terjangkau untuk ukuran kantong internship students.

Maka ketika weekend tiba, berkumpulah para cewek demi satu tujuan, yaitu sepatu. Setelah semua berkumpul, kamipun berangkat kesana. Setelah mencari-cari, ditemukanlah The Aroma, dan terlihat beberapa intern yang sudah sampai disana. Tapi melihat wajah mereka, sepertinya ada yang tidak beres. Kami memang sudah tiba di The Aroma, tapi mana Shoes Exhibition-nya?

“This is the exhibition”, ujar salah satu intern yang sudah datang bersama satu orang cewek India, mungkin dia pemiliknya. Sophia sigadis Maroko, tampak terkejut! Sebenarnya tak hanya dia yang surprise, kami semua sebenarnya surprise dan ingin tertawa. Bayangan kami tentang sepatu yang dipajang berderet-deret dengan harga miring sirna sudah. Shoes Exhibition yang digadang-gadang tak lebih dari koleksi sepatu yang dipamerkan dalam ruangan seukuran kamar kos untuk satu orang! Dan harga yang ditawarkan pun gila-gilaan Rs 700 sampe Rs 1.000, siapa yang mau beli? Ujung-ujungnya setelah kami berbasa-basi pada penjaga toko, kami pamitan menuju tempat langganan kami yang murah meriah yaitu Shastri Market.

 India kadang kunilai berlebih-lebihan dalam mendeskripsikan sesuatu. Ini bukan yang pertama kalinya, jika ku ingat-ingat. Suatu hari disekolah seorang guru memberi tahu kami bahwa ada Trade Fair, tak jauh dari sekolah. Aku dan Ha bersemangat datang kesana, ingin tahu seperti apa Trade Fair ala India. Apakah lebih okay dari PRJ nya Jakarta? Aku memang tak punya bayangan ekspektasi Ha tentang Trade Fair-nya India, tapi dari yang bisa kubaca dia berharap bisa melihat-lihat souvenir dan kalau memungkinkan membeli souvenir untuk dibawanya pulang.

 Selepas maghrib, kami berangkat, untunglah kami berdandan seadanya, karena ternyata Trade Fair yang dimaksud adalah permainan komidi putar sodara-sodara! Hahahahaha, selain komidi putar khas rakyat memang ada permainan lainnya yaitu kereta-keretaan, rumah hantu, dan teman-temannya. Tapi pengalaman yang lebih mengesankan adalah kami diminta mencicipi “ramuan pooja” (makanan untuk sajen) yang rasanya aneh dengan bau ga jelas. Setelah satu kali naik komidi putar, kamipun pulang membawa kecewa.

 Pengalaman yang ketiga tentang Exaggerating India adalah Global Village. Sejatinya Global Village adalah ajang pameran dari berbagai negara peserta internship. Maka mengetahui arti Global Village itu aku bersemangat untuk datang, terlebih itu diadakan di PU (Punjab University), salah satu universitas top di Punjab. Local Committee Chandigarh memang terus-menerus mensosialisasikan setiap intern agar menghadiri acara ini. yang lebih edan lagi mereka bilang akan ada free drink, free food dan live music. Setiap intern konon kabarnya diharapkan bisa memperkenalkan negaranya masing-masing, malah kalau bisa memakai atribut yang menunjukkan negara asal. Tak pusing-pusing, toh aku memakai tas batik, benda itu sajalah yang aku promosikan. Sementara Sameer, satu Afghani yang masih tertinggal di intern house memakai baju blink-blink khas Afghanistan. Wow, semua mata tertuju padanya.

 Sesampainya kami di PU, memang terdengar hingar bingar dari kejauhan. Pastilah itu music Punjabi yang menghentak-hentak. Dan benar saja, ditengah lapang sekelompok mahasiswa tengah ber bhangra-ria. Kami celingak celinguk mencari-cari harus kemana kami pergi. Memang ada booth untuk kami, tapi kami tak tahu harus berbuat apa. Local Committee malah menggiring kami ke suatu ruangan seminar. Tanpa tahu seminar tentang apa, seorang keynote speaker, mungkin langsung memulai memberikan materi. Kami yang duduk berbaris saling menatap. Setengah jam berlalu, kami semua mengantuk, bahkan Tins, intern asal Mauritius, benar-benar tak kuasa menahan kantuknya. Sampai acara berakhir, kami saling bertanya,

 “Did you get the point from what he said?”              

 Kami semua menggelengkan kepala, bagaimana kami bisa mengerti kalau semua materi seminar disampaikan dalam bahasa Punjabi hahahaha. Yang menjadi concern kami ketika selesai seminar adalah mencari tempat makan! Mana free drink, free food seperti yang dijanjikan? Nda ado!!! Akhirnya kami mencari kafetaria terdekat dan makan dengan lahap, setelah itu ngaburrrrrrrrrrrrrrrrrr.

 Jadi kawan, pesanku kalau kau bertandang ke India, rendahkanlah ekspektasimu se…rendah-rendahnya, supaya kamu tak kecewa, okay :)

  • view 21