Incredible17

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 20 September 2017
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

1.3 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible17

Incredible17

March 10th, 2013

Afghani Farewell

Hampir satu malam, Salma ngambek dan kami tak bisa berbuat apa-apa. Setibanya kami di intern house yang hampir tengah malam, dia masih membisu.  Keadaan mulai mencair keesokan harinya ketika kami bertemu Afghani. Dari Amritsar kami memang sengaja langsung menuju intern house karena mereka akan mengadakan farewell. Project mereka sudah selesai dan akan kembali ke Afghanistan.

 Tentu saja, farewell mereka berbeda lain dari yang lain. Dipastikan tak ada beer atau minuman keras lainnya. Mereka adalah para family man yang tak segan memasak untuk siapa saja yang mampir kelantai tiga, tempat kediaman mereka. Tidak seperti intern lain, mereka selalu menyuguhkan semua kue, semua buah yang ada di kamar mereka jika kami bertandang. Padahal sebenarnya kami ingin selalu pergi kesana untuk mendengarkan cerita lucu Wahid dan “Mam”, sebutan untuk pendiri yayasan Breast Cancer dimana mereka mengerjakan projectnya. Sebghat, yang paling terkenal kalem dan di ”tua” kan menyebut Mam sebagai “dangerous woman”. Hal ini disebabkan karena wanita ini selalu memamerkan koleksi baju saree nya yang berbeda setiap hari, bahkan dia selalu membawa baju ganti yaitu 2 sampai 3 potong saree yang lain ke kantor.  

Hal lain yang membuat empat cowok Afghani ini tak betah tinggal di kantor Mam adalah karena dia tak pernah berhenti berbicara, mulai dari masuk kantor, duduk sampai jam kerja usai. “Can you imagine if she is my wife, Oh My God, I don’t know…” kami terpingkal-pingkal menyaksikan Wahid menirukan semua gerakan Mam. Wahid menunjukkan sosok Mam melalui facebook yang tak pernah mereka confirm, padahal Mam sudah mengirimkannya friend request berkali-kali. Bandel juga nih cowok-cowok Afghani, alasannya sederhana saja, mereka tak ingin bertemu Mam didunia maya jika mereka bolos tak masuk kerja karena malas.

 Sosok Mam yang disebutkan Wahid adalah sosok wanita aktif dan cerdas. Nama belakangnya “Sharma”, kasta tertinggi, pasti bukan sembarang orang. Penampilannya memang elegant dengan saree yang dipakai nya. Dan pasti saree itu tidak dibelinya di Shastri Market, terlihat berkelas dengan sepatu dan tas branded yang dikenakannya.

 Sebenarnya cerita lucu dari Afghani tak hanya mengenai Mam, mereka selalu mempunyai cerita lucu tentang apa saja. Tentang penyuluhan mereka ke kampung-kampung di India, cara mereka escape dari Mam, tentang kenakalan mereka di rumah sakit dan yang terakhir tentang tradisi perjodohan di Afghanistan. Seperti halnya di India, hubungan “percintaan” di Afghanistan juga diatur melalui arrange marriage. Bahkan lebih ketat, karena kedua calon mempelai tidak mengetahui bagaimana wajah/rupa masing-masing calon mempelai baik dari fihak pria ataupun wanita. Konon kabarnya hal ini terjadi pada Sameer yang sudah bertunangan tapi selalu mengelak jika ditanyai. Teman-temannya mengejek dia bahwa sebenarnya dia kebat-kebit ketika tahu dia ditunangkan, tapi setelah melihat calon istri, yang (untungnya) cantik bukan kepalang, dia ternyata bahagia juga.

 Pernikahan bagi mereka adalah menunaikan ibadah, tak ada alasan untuk tidak menikah. Pun tak ada alasan bagi seorang istri menolak polygamy, semuanya dikembalikan kepada agama. Kami terbelalak ketika Sebghat berkata bahwa dia mempunyai dua puluh saudara perempuan dari dua ibu yang berbeda. Dia adalah satu-satunya anak lelaki dalam keluarganya. Menurut dia tak ada masalah dalam keluarganya. Mereka tinggal dalam satu rumah besar dan selalu berkumpul bersama untuk setiap jam makan. Bisa kubayangkan Sebghat dan ayahnya makan bersama dikelilingi dua puluh dua wanita. Hmmm…

 Seperti konsep keluarga mereka yang selalu ngariung, maka seperti itu pula konsep farewell mereka. Sejak dari siang mereka sudah menyiapkan semua bahan-bahan untuk keperluan memasak. Mulai dari beras, daging,sayuran,buah sampai bumbu dapur. Mereka benar-benar royal family. Aku, Salma dan Ha dengan senang hati turun gunung untuk membantu mereka, padahal jelas mereka lebih cekatan dari kami.

 Menu andalan mereka tentu saja Qobli Pulao, nasi yang dimasak seperti liwet dengan campuran daging, saus tomat dan bumbu rempah. Qobli Pulao biasa mereka santap dengan roti tawar. Untuk yang on diet, pasti menu ini merusak program penurunan berat badan. Dan untuk malam ini mereka benar-benar menjamu semua intern yang bersedia bergabung. Untuk mempermudah mereka menyediakan sterofom baik untuk piring maupun gelas. Hidangan malam ini benar-benar lengkap mulai dari Qobli Pulao, daging, lady finger soup, vegetables salad, yogurt, buah, soft drink, dijamin kenyang. Para Afghani juga “sukses” membuat semua orang harus makan dengan tangan. Tentu ini agak membuat risih bangsa Eropa yang terbiasa makan dengan sendok dan garpu. Mereka senang bukan kepalang memberitahu konsep bahwa Allah SWT menciptakan kedua tangan yang mempunyai banyak fungsi, salah satunya untuk makan. Dan makanan akan lebih nikmat jika diantarkan langsung ke mulut melalui dua tangan yang telah diciptakan sempurna.

 Dari empat Afghani, ternyata hanya tiga yang pulang. Sameer masih ingin travelling di India. Malam itu kami menikmati keakraban khas Afghanistan, yang entah kapan dan dengan intern mana lagi akan kami alami.  

  • view 32