Incredible16

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 20 September 2017
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

1.5 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible16

Incredible16

“Tragedy” Wagah Border

Puas berada di Golden Temple, kami bergegas menuju taxi stand untuk destinasi kami selanjutnya yaitu Wagah Border. Border antara India-Pakistan ini memang menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Daya tariknya tak lain dan tak bukan terletak pada upacara pergantian petugas perbatasan antara India dan Pakistan. Petugas perbatasan India bernama Border Security Force (BSF) sedangkan petugas Pakistan bernama The Sutlej Rangers. Aku tertawa geli ketika membaca nama petugas perbatasan dari sisi Pakistan. Menurutku BSF lebih keren ketimbang The Sutlej Rangers, nama yang mengingatkanku pada Power Ranger (film action hero asal Jepang) atau Cangcut Ranger (nama fans The Changcuter).

Anyway, ternyata booth taksi banyak yang sudah tutup. Jangan-jangan kami kesorean. Kami yang sedang mencari kesana kemari tiba-tiba mendengar seorang laki-laki tinggi kurus, berturban, berkemeja biru langit, berteriak-teriak, “Border, border,border…” Kulihat dia mendekati Salma, menawarkan jasa taksinya. Sejurus kulihat dia melengos dengan ketus, ketika kutanya mengapa, dia bilang sopir taksi itu gila menawarkan harga taksi menuju border seharga Rs 350 padahal jelas-jelas terpampang di booth-booth taksi yang ada kalau harga taksi ke Wagah border adalah Rs 100. Dibeberapa selebaran/booklet bahkan beberapa teman memang menganjurkan untuk selalu berhati-hati ketika berada di Amritsar, termasuk sopir taksi yang biasanya seenaknya memasang tariff, terlebih mengetahui kalau kita turis. Aku sempat berkilah kalau itu adalah kawasan holy place. Dan temanku berkata, “Oh Irma my dear, inside The Golden Temple you are save, but outside of it we never know, you must always be careful”. Aku memang selalu ceroboh, selalu menganggap semua orang adalah baik, sampai aku ketemu batunya.  

Entah dorongan apa yang membuat pria kurus itu kembali menghampiri kami dan menawarkan yang sebenarnya. “One hundred rupees to border Madam”. Salma melirik tajam dan bertanya ulang, kali ini dia sedikit galak. Pria itu mengangguk-ngangguk, “Yes Madam, yes”. Dia pun memberikan kami bukti pembayaran untuk lebih meyakinkan kami. Aku belajar banyak dari Salma, setelah dia mengumpulkan uang dari kami sejumlah Rs 300, dia hanya memberikan Rs 100 dan sisanya akan diberikan jika kami sudah sampai. Tak hanya itu dia pun memotret kertas bukti pembayaran. “Just in case, we lost it”. OMG, aku tak pernah seteliti dia. She prepared all the precautions!

Taksi kami adalah mobil sejenis kijang yang juga berwarna biru selaras dengan warna kemejanya. Bersama kali ada beberapa cowok India, hanya kami bertiga cewek yang ada didalam. Tampaknya kami masih harus menunggu penumpang lain sampai kijang ini penuh. Dan kami semakin gregetan menunggu, karena hari sudah semakin sore.

Jam lima sore kami sampai disana. Taksi diparkir cukup jauh dari lokasi sesuai peraturan. Semua barang tanpa terkecuali harus dititipkan. Hanya kamera, itupun tanpa sarungnya, benda yang hanya boleh dibawa. Kami sempat khawatir, karena semua barang kami simpan di dalam di tas, termasuk paspor dan uang. Tapi apa daya, begitulah peraturannya. Semua pengunjung baik lokal ataupun foreigner harus melewati pemeriksaan yang ketat.    

Kami berlari-lari, sepertinya kami memang terlambat. Dua puluh kilometer kedepan itulah Lahore,Pakistan kawan. Jauh diujung jalan sana suara riuh rendah begitu kencang terdengar. Kami memang benar-benar terlambat. Tak bisa melihat apapun kecuali punggung orang-orang itu. Kami berusaha mencari tempat strategis, tapi tak kami temukan karena semua tempat sudah benar-benar penuh. Tapi ini India kawan, seperti halnya Indonesia, banyak para pelanggar! Mereka melompat dari tangga yang sebenarnya sudah penuh sesak demi untuk masuk dan melihat ceremony. Aku tak menyangka, Ha dengan secepat kilat sudah berada didalam. Dia melompat seperti warga India! Come on Irma, katanya sambil mengulurkan tangan. Tanpa fikir panjang, aku mengulurkan tanganku, tapi tangan Ha terlalu pendek, tak sampai kepadaku. Tiba-tiba seorang pria India tinggi besar mengulurkan tangan dan membantuku melompat. Hop!!! Lompatan sukses! Aku sudah bersama Ha. Aku mencari Salma dan memintanya melompat seperti yang aku dan Ha lakukan. Tapi dia menolak dan berkata “No,no,no, I don’t want to do that”. Aku tak punya waktu menunggu dia, kulihat Ha sudah berlari mencari tempat duduk, aku menyusulnya, setengah berlari kesetanan karena sang penjaga berpakaian loreng dan bersenjata laras panjang melihatku dengan ganas. Tapi aku berhasil lolos, aku sukses berada dibelakang Ha! Kami terus berlari, menyusup diantara kerumunan dan bergabung diantara para wanita bersari warna warni yang terus menerus heboh.

“Where is Salma?”, tanya Ha kepadaku

“She doesn’t want to jump”, jawabku singkat

“Ah Salma”. Kami celingak-celinguk mencari dia diseberang sana, tapi tak tampak.

 Tiba-tiba kami melupakan Salma. Kami larut dalam euphoria menjadi warga India sesaat. Berdiri di tribun paling atas persis di depan ceremony berlangsung. Kami bisa dengan jelas melihat semua sudut pandang. Diujung kanan sana bendera India berkibar dengan foto Mahatma Gandhi tersenyum dibawahnya. Sedangkan disisi kiri warga Pakistan lebih tenang ketimbang sisi India yang heboh minta ampun. Foto seorang Bapak berpeci yang tak kutahu, mungkin Presiden Pakistan saling berhadapan dengan foto Gandhi, seolah mereka sedang melakukan dialog. Samar-samar dari kejauhan kulihat lambang asma ALLAH yang ditulis dalam bahasa Arab turut terpampang disisi Pakistan bersanding tak jauh dari foto bapak berpeci.

 BSF berseragam warna coklat dengan celana cingkrang, sedangkan Sutlej Rangers berpakaian serba hitam. Persamaan keduanya adalah sama-sama mengenakan topi berbentuk kipas. Euphoria terus berlanjut, sang MC dari kedua negara berbeda yang memandu jalannya upacara berteriak keras-keras meneriakan yell-yell negara masing-masing. Teriakan mereka seakan memamerkan dan melambangkan kekuatan masing-masing. Fihak Pakistan jelas kalah heboh dengan fihak India. Penonton India lebih atraktif, aktif dan menarik. Mereka memakai atribut mulai dari kaos bergambar peta India, membawa bendera kecil-kecil sampai mencorat-coret wajah mereka. Tribun di India penuh sesak bahkan melebihi kapasitas. Lihatlah kini disisi Pakistan, tribun mereka tak sepenuh tribun India, tak ada “kemeriahan” seperti layaknya warga India, teriakan merekapun kalah dengan teriakan warga India. Inikah nasib saudara yang terpecah menjadi dua, hanya karena suatu partisi?

 Wajah-wajah petugas penjaga perbatasan rata-rata berair muka dingin. Atau memang karena sedang winter? Entahlah, tapi Amritsar yang menjadi border India-Pakistan sejak India merdeka tahun 1947 memang menyimpan sejarah kelam tentang perang antar agama. Sebelum di partisi oleh Inggris, kelompok Muslim menginginkan agar Amritsar menjadi bagian dari Pakistan karena 50% penduduknya beragama Islam. Sayangnya hal ini tidak terjadi, karena justru Amritsar masuk menjadi bagian dari India. Disinilah dulu, selama masa partisi, terjadi kerusuhan agama (anti muslim riot) yang menyebabkan penduduk yang beragama muslim meninggalkan semua harta benda yang mereka miliki. Sungguh menyedihkan.

 Ceremony berakhir sekitar jam setengah enam, ditutup dengan berjabat tangan antar kedua negara. Mungkin sebagai symbol perdamaian dan tak ada dendam diantara mereka. Tapi sebenarnya aku dan Ha mengalami “tragedy” yang lebih fatal ketimbang India dan Pakistan yang sudah bersalaman.

 Kami mencari Salma, kami menghubunginya via telepon tapi tak diangkatnya. Sampai kami melihatnya dan memanggil-manggil namanya dia tak bergeming. Kami tak menyangka dia marah besar! Ketika dia berbalik dan melihat kami berdua, dia seperti ular naga yang menyemburkan hawa panas, dia benar-benar marah dan membuat kami berdua menjadi tersangka yang bersalah dan tak bisa dimaafkan.

“What are you doing, if you are going in a group, stay in a group, you left me alone and I did nothing. I see nothing”.

 Pernyataannya membuat kami tersudut. Tak seharusnya kami meninggalkan dia. Tapi tadi, rasanya tak tepat kalau kami harus tetap menunggu dia. Petugas itu pasti tak akan memberi kami ruang jika kami tidak melompat. Hal yang tak bisa Salma lakukan, karena segala sesuatu bagi dia harus selalu “mulus”. Masihkah kawan ingat, dia menangis selama seminggu ketika melihat kamar kami? Atau tak mau pipis hanya karena tak ada toilet paper. Suatu hari kami mencoba street food breakfast seharga Rs 10 dan mati-matian dia tak mau makan meskipun pada akhirnya dia mencoba satu helai chapatti juga. Kami harus selalu menunggu dia, jika akan pergi karena dia harus memastikan bahwa bajunya sudah dia setrika serapi mungkin. Dia juga harus selalu memastikan bahwa riasan wajahnya okay yang membuat kami harus menunggu tiga sampai enam puluh menit! Semua bisa kami tolerir, tapi tadi, kami, aku khususnya tidak bisa menunggu lagi. Rasanya aku ingin marah, tapi Ha jauh lebih dewasa dari aku. Dia “meredam” semua yang sedang bergolak. I knew that she’s a spoil girl, but its not the right time and place for it!!!

 Lama kami terdiam. Perjalanan Amritsar hingga Chandigarh bukan waktu yang sebentar. Tak ada jawaban dari mulut Salma ketika aku meminta maaf. Dia tetap memandang lurus kedepan, tak mau melihat kami.    

  • view 33