Incredible15

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 20 September 2017
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

1.5 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible15

Incredible15

 March 9th,2013

Amritsar 

                Travelling kami minggu ini adalah tempat yang sebenarnya tak jauh dari Ropar. Hanya empat jam saja menggunakan bis, kabarnya kami sudah bisa sampai disana. Amritsar, itulah nama tempat itu. Nama lain dari tempat ini cukup panjang, “The Pool of the Nectar of Immortality”. Di Amritsar pula ada satu tempat yang menjadi destinasi nomor satu bagi NRI (Non Resident Indians) yaitu Sri Harmandir Sahib atau orang lebih mengenalnya dengan nama “The Golden Temple”.

 Sebagai tempat dengan mayoritas penduduk yang beragama Sikh, tempat ini menjadi tempat suci bagi mereka. Tak hanya umat Sikh yang datang kesana, tempat ini sudah seperti destinasi wajib bagi para pelancong yang datang ke Punjab. Jika ingin melihat gambaran The Golden Temple, tontonlah film “Rab Ne Bana Di Jodi”, dimana Shah Rukh Khan berperan ganda sebagai petugas PLN Punjab dan seorang dancer. Film itu benar-benar menggambarkan Punjab pada umumnya, mulai dari baju yang biasa dipakai wanita Punjab, golgapa; cemilan one bite, hingga gambaran suci The Golden Temple dan tentu saja Bapak berjanggut putih yang selalu mengangkat tangan kanannya, Guru Nanak.

 Jam tujuh pagi kami berangkat menuju bus stand. Bis masih kosong, hanya ada beberapa penumpang yang memeluk erat jaket atau mantelnya. Diluar masih saja dingin, kami terbuai dan meneruskan kembali tidur kami di bis bersama penumpang lainnya. Bis melaju kencang, suaranya mengalahkan lantunan chant dari televisi yang disiarkan langsung dari Golden Temple, Amritsar.

 Setibanya kami di Amritsar dan memasuki kawasan Golden Temple, hawa spiritualisme mulai terasa. Alunan nyanyian damai terdengar dari kejauhan. Toko-toko dan pedagang pinggir jalan banyak yang menjajakan penutup kepala. Di Golden Temple memang diberlakukan peraturan, tak hanya para wanita yang harus menutup kepala/kerudung tapi juga para pria. Penutup kepala para pria biasanya berbentuk segitiga dan berwarna putih atau orange, sedangkan wanita Punjab cukup menutup kepala mereka menggunakan dupatta. Sejak dari bis, Ha sudah membiasakan diri memakai syal nya untuk menutupi kepalanya, jadilah kami seperti tiga orang muslimah yang berkunjung ke Golden Temple. Untuk menjaga kesucian Golden Temple, ada juga yang bersedia membuka alas kaki mulai dari memasuki gerbang Golden Temple dan menitipkannya di tempat-tempat yang sudah disediakan. Adapula yang menitipkannya hanya ketika sudah berada persis di depan Golden Temple.

 Sebelum tiba di Golden Temple kami menyempatkan diri mengunjungi Jallianwala Bagh. Tempat ini adalah tempat bersejarah bagi warga India. Jika Indonesia punya Lubang Buaya, maka India mempunyai Jallianwala Bagh. Disinilah, pada tanggal 13 April 1919 sekitar 2000 orang India ditembak mati secara massal oleh seorang jendral Inggris bernama Michael O’Dyer. Ada beberapa spot untuk memperingati para patriot ini, diantaranya tugu merah bata berbentuk piramida, ada juga martyr well dan api yang diletakkan didalam cawan berukuran sebesar baskom. Kulihat orang-orang yang datang berdiri tertegun dan berdoa didepan api yang terus menerus menyala. Kemerdekaan memang selalu harus ditebus harga mahal.

Terus berjalan menuju tujuan utama kami, jalan-jalan dipenuhi dengan toko-toko souvenir mulai dari handicraft hingga penjual karpet. Akhirnya tiba juga kami disebuah bangunan yang menjadi icon kota Amritsar. Kini didepan kami terlihat bangunan emas berkilatan ditempa sinar matahari. Sebagai bangunan utama, dia berdiri tenang diatas air dan menjadi pusat perhatian bagi siapa saja yang datang. Dia seperti leader building diantara bangunan putih memanjang yang mengelilinginya, memanggil semua orang untuk masuk kedalamnya dan meresapi nilai kemanusiaan dan spirituallisme yang terkandung dalam ajaran Sikh. 

 Tidak seperti umat Hindu yang hidup berkasta, umat Sikh justru sebaliknya. Mereka mengedepankan prinsip equality, no caste, no race. Karena prinsip ini pula, konon kabarnya umat Sikh memperlakukan kaum wanita jauh lebih baik daripada umat Hindu yang biasanya memandang kaum pria lebih “berharga” daripada kaum wanita. Siapa saja boleh memasuki Golden Temple tanpa terkecuali. Bahkan untuk mengakomodir para pengunjung yang datang tak henti-henti, mereka menyediakan free accommodation dan free kitchen baik untuk penduduk lokal maupun asing.       

 The Golden Temple yang dibangun memanjang seperti terapung jika dilihat dari kejauhan. Ini tak lain karena keberadaan “air suci” yang mengelilingi dia. Keberadaan holy sarovar/pool of nectar yang mengelilingi Golden Temple ini seperti Sungai Gangga bagi umat Hindu. Umat Sikh diperbolehkan untuk nyemplung dan mandi didalamnya untuk “membersihkan” diri. Jadi tak usah heran begitu memasuki Golden Temple (dari arah manapun) kawan akan melihat orang-orang yang sedang berendam didalamnya. Penggalian Amrit Sarovar (Holy Tank) dilakukan pertama kali pada tahun 1577 SM oleh Sri Guru Amar Dass Ji (Guru ke 3) dan Sri Guru Ram Dass Ji (Guru ke 4). Sebelas tahun kemudian Sri Guru Arjan Dev Ji (Guru ke 5) memulai kontruksi pembangunan Golden Temple ini. Disini pula untuk pertama kali naskah Guru Granth Sahib (kitab suci umat Sikh) dibukukan pada tahun 1604 SM. Dan ditunjuklah seorang Sikh yang bernama Baba Budha Ji sebagai The First Priest of Sri Harmandir Sahib.   

 Cukup lama kami mengelilingi The Golden Temple hingga tak terasa perut sudah keroncongan. Kami mampir ke community kitchen yang terletak tak jauh dari Golden Temple. Ini bukanlah pengalaman pertama aku dan Ha makan di langar, nama lain dari community/free kitchen. Tapi bagi Salma, ini adalah pengalaman pertamanya. Kami duduk berbaris dan berhadap-hadapan ditempat sebesar mesjid dan memegang piring-piring alumunium. Serasa mengikuti acara buka puasa bersama. Petugas-petugas berkeliling mulai dari pemberi chapatti, bubur, dhal hingga chai. Khusus untuk chapatti kami harus menengadahkan kedua tangan kami, dan petugas akan melemparnya hihihihi…

Prinsip “persamaan derajat” yang digagas oleh Guru Nanak Dev Ji (Guru pertama agama Sikh) menjadikan langar adalah tempat berkumpulnya orang-orang dengan latar belakang segala perbedaan mulai dari  agama, negara, profesi, atau apapun namanya menjadi sama dimata Tuhan. Tahukah kawan kalau King Akbar, penguasa Mughal pun pernah datang dan duduk bersama dengan rakyat biasa dan makan makanan yang sama di langar ini? Guru Ka Langar, nama community kitchen ini bisa melayani s/d 50.000 pengunjung dan jumlahnya bisa menjadi dua kali lipat jika ada special occasion.    

Para petugas terus berkeliling dan menawari siapa yang ingin nambah. Entah lapar atau apa, diluar perkiraan, Salma yang biasanya jijik-an malah nambah makan bubur dan minum chai. Mungkin dia sekarang mulai beradaptasi. Ketika keluar langar, kami meledek Salma dengan menunjukkan tempat mereka mencuci piring dan gelas. Para petugas “bagian belakang” ini terdiri dari cowok-cowok perkasa yang terdiri dari tukang masak dan tukang cuci piring. Khusus untuk bagian mencuci piring, terlihat disana bak-bak besar berisi air dan piring-piring itu dilempar sekenanya kedalam bak-bak tersebut. Trang… trong… trang… trong…., begitulah kira-kira bunyi piring, gelas, sendok yang saling beradu didalam “kolam” sabun itu. Aku dan Ha nyengir kuda sementara Salma terlihat gundah gulana. Sepertinya dia ingin melupakan dirinya yang sudah lahap makan bahkan sampai nambah hahahahaha…

  • view 29