Incredible14

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 20 September 2017
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

2 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible14

Incredible14

Spring is in the air

                Winter, satu kata yang selalu membuat aku merasa kedinginan. Tapi hal itu pula yang membuat aku mengetahui kebiasaan orang-orang dinegara dengan empat musim yaitu mereka tak pernah mandi pagi, hiyyy… Aku yang tak pernah pede jika keluar rumah belum mandi tak bisa mengikuti kebiasaan itu. Aku tetap mandi dua kali sehari dikala pagi dan sore hari. Lagipula tak ada alasan untuk tak mandi, toh aku tinggal menyalakan tombol on jika ingin air panas dan heater siap digunakan.

Ketika datang pertama kali India dingin sekali. Mantel dan syal selalu melekat dibadanku. Kadang-kadang aku mengenakan sarung tangan, aku tak kuat dengan udara dingin. Diluar sana pedagang chai, terutama ginger dan masala chai laku keras. Teh campur susu dengan jahe adalah favoritku, sedangkan chai dengan rasa pedas (masala)  adalah kesukaan Daraz. Harganya yang relative murah, Rs 10-Rs 20 membuat orang tak ragu meminum chai berkali-kali. Di India, rasanya chai lebih popular daripada kopi. Kedai chai bisa ditemui dimana-mana, mulai dari pedagang pinggir jalan yang biasanya disandingkan dengan kue-kue jajanan pasar, restaurant biasa, bahkan restaurant berkelas sekalipun, chai selalu ada dimana-mana.

Pulang sekolah untuk menghindari kebosanan, aku dan Ha kadang ikut menumpang school bus. Berkeliling-keliling melihat Roopnagar, melintasi sungai, ladang, sawah, penggilingan padi, pasar, hingga jalan-jalan kecil. Uncle adalah driver-nya dan Aman adalah kondekturnya. Di bis Uncle akan menyetel lagu-lagu Punjabi dengan high volume dan anak-anak kecil itu akan ikut bernyanyi, bahkan berteriak-teriak. Tak ada yang tidur, atau mengobrol, mereka semua menyanyi dan tentu saja, menari.

Intensitas kami ikut school bus semakin sering belakangan ini. Tak hanya dengan school bus berwarna kuning (di India semua school bus berwarna kuning) tapi juga mencoba baggy. Namanya lucu, selucu bentuknya. Kendaraan ini sebenarnya adalah sepeda yang amat sangat jadul dan “disulap” menjadi “mobil”. Dengan bantuan kayu dan terpal seadanya baggy siap mengantar kemanapun rumah para murid itu. Kapasitas angkutnyapun tak banyak hanya sekitar 8 sampai 10 orang. Mereka duduk berhadap-hadapan dengan bebas karena tas mereka digantungkan diluar.

Tapi sebenarnya ada hal yang membuat kami betah duduk didalam school bus ataupun baggy, tak lain dan tak bukan adalah pemandangan diluar sana. Pohon-pohon tinggi langsing yang akhirnya kami tahu bernama popula kini sudah semakin rimbun dan meniupkan angin segar, tak lagi sedingin dulu dan lihatlah itu, aku dan Ha sangat suka melihat dia. Kadang kami meminta Uncle untuk berhenti sebentar sekedar untuk memotret sicantik sarsoo. Yellowish sarsoo, begitulah kami memberi nama untuk dia. Sejenis bunga yang menghasilkan minyak untuk keperluan dapur dan bisa juga dimanfaatkan untuk menyuburkan rambut. Bunga mulai bermekaran, matahari mulai menampakkan senyumnya, spring is in the air…   

Kemudian aku merasakan indahnya bunga bermekaran, tak lagi berjaket dan bersarung tangan ria. Spring menjadi hiburan aku dan Ha ditempat terpencil diutara India. Kadang kami merasa bahwa kami terdampar jauh kemasa silam, masa dimana aku melihat setrikaan ayam jago masih dipergunakan. Punjab telah merekatkan kami berdua. Gadis kecil nan lincah ini nyatanya jauh lebih dewasa dari aku. Pembawaannya riang gembira. Tak pernah dia kulihat dia bermuram durja, padahal keadaan kami "amat sengsara".

Di India, aku belajar dari dia...

"You worry too much about life Irma," begitu dia berkata!

  • view 37