Incredible13

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 16 September 2017
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

2.4 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible13

Incredible13

March 3rd, 2013

Si Putih di padang Shimla

                Salma adalah orang yang paling update dengan aktivitas para intern. Dia tak mau ketinggalan semua info terbaru, mulai dari planning party hingga travelling. Minggu ini dia mendengar kabar bahwa Afghani intern akan travelling ke Shimla. Maka setelah kelas usai kamipun langsung melarikan diri ke Chandigarh.

Sesampainya di intern house, mereka menyambut kami dengan ramah, tapi ternyata hanya dua dari empat Afghani yang berencana ke Shimla, yaitu Wahid dan Hamid. Dan rencana mereka pun cukup unik yaitu kita berangkat tengah malam, menghabiskan malam di bis dan sesampainya diShimla sudah pagi hari sehingga kita tidak perlu menginap di hotel. Dan tentu saja hal ini akan menghemat budget trip kami. Untuk menunggu waktu hingga tengah malam kami ngobrol-ngobrol, dan ternyata kami kedatangan teman baru, dialah Daraz.

Wajahnya yang amat sangat Chinese dan berlogat Chinese pula membuat kami semua “kecewa” bahwa dia dari Malaysia. “It doesn’t fit your face, that you come from Malaysia”, Ha berkata yang disambut dengan tawa kami yang terbahak-bahak. “Ya,I know, I even can’t speak Melayu as well” akunya dengan jujur, makin membuat kami tertawa. Daraz yang campuran antara Chinese dan Taiwanese mengaku kaku berbahasa Melayu dan lebih confidence berbahasa Cina, aksen Melayu nyapun lucu ketika mereka semua meminta aku dan dia yang “bertetangga” untuk berbicara dan bercakap-cakap.

Aku masih bisa mengerti apa yang dia tanyakan sedangkan dia terlihat bingung menanggapi apa yang menjadi jawabanku. Mereka semua tertawa geli, mendengar percakapan antara Indonesia-Malaysia dan lebih tertawa lagi melihat wajah Daraz. Fisiknya yang tinggi langsing tak pas dengan wajahnya yang kekanak-kanakan. Kami “mengompori” Daraz supaya ikut trip, walaupun kecil kemungkinan untuk dia ikut karena dia baru sampai dan mungkin jet leg. Dan memang dia ternyata tak berniat untuk ikut. Semakin dia tidak mau ikut semakin keras usaha kami untuk dia ikut, termasuk bertanya kepada dia, apa yang akan dia lakukan di intern house jika tak ada satu orangpun disini. Dia berfikir cukup lama, tapi tetap pada jawaban kalau dia tetap tak mau ikut, ya sudahlah, kami menyerah. Jadi yang berangkat hanya kami berlima.

Waktu menunjukkan jam sebelas ketika kami bersiap-siap beranjak dan meninggalkan intern house juga berpamitan kepada Daraz. Tapi tiba-tiba secara mengejutkan Daraz berkata, “Wait guys, I’m in”, yeah kami pun bersorak gembira tanda kemenangan. Lengkap sudah Shimla crew kami, tiga cowok dan tiga cewek.

Dari intern house kami menuju housing board, berharap bisa mencegat bisa dari sana menuju Shimla tidak perlu ke bus stand. Ternyata tak hanya kami yang menjalani trip tengah malam, banyak juga orang yang bersama kami di housing board menunggu bis, terutama penduduk lokal. Kami semua tak menyangsikan kemampuan dua Afghani yang bersama kami, Wahid dan Hamid berbicara dengan penduduk lokal dengan kemampuan Hindi nya, mungkin mereka mencari tahu informasi Shimla sebanyak-banyaknya. “Guys, we can see snow in Shimla”, Hamid datang dengan wajah berseri-seri memberi tahu kami hasil “wawancara”-nya dengan penduduk lokal.

Local bus yang datang tak bertahan lama, orang-orang yang berdiri di shelter ternyata jauh lebih sigap “menangkap” bus yang dalam hitungan detik sudah berlalu dari hadapan kami. Bhaiya auto memberitahu kami bahwa akan lebih baik jika kami pergi ke bus stand daripada menunggu disini dan tak berkesempatan mendapat tempat duduk. Setelah berdiskusi akhirnya kamipun setuju untuk tetap ke bus stand dan mencari bis disana. Tak lama bagi Wahid mendapatkan tiket local bus dan kamipun duduk didalamnya, tepat tengah malam bis meninggalkan Chandigarh.

Bis melaju dengan kecepatan sedang, kami masih tersadar ketika tiba-tiba bis berhenti mendadak, tapi kami masih tidak perduli karena kami masih asyik mengobrol, bahkan bermain tongue twister. Kami menyadari bahwa ada yang “serius” telah terjadi ketika para penumpang banyak yang turun. Wahid yang ikutan turun, kembali mencari informasi ada apa. “A man lost his ticket”, begitu katanya sambil kembali duduk disamping Hamid dan Daraz.

Kehilangan ticket untuk perjalanan cukup jauh memang menjadi masalah di India, karena biasanya akan ada pengecekan ticket dibeberapa titik. Semua orang turun tangan membantu sang pria yang kehilangan tiket, mulai dari sang kondektur, driver hingga beberapa orang yang membantunya mengingat-ngingat dimana dia menyimpan ticket tersebut. Entah berapa lama kami menunggu, hingga tongue twister sudah terasa membosankan dan foto narsis dalam bis sudah beberapa kali jepretan. Kembali terdengar ribut-ribut dibelakang, sang driver berencana kembali ke bus stand! What???

Kami sudah meninggalkan bus stand kira-kira lima puluh menit yang lalu, apakah ini ide bagus untuk kembali ke bus stand. Kembali terdengar keributan, tapi kali ini ditemani dengan sorak-sorai, rupanya sang pria menemukan ticketnya! Dan tak lain disaku jeans-nya sendiri. Konyol, but the problem solved, dan bis kembali melaju dengan tenang disertai kami yang mulai mengantuk dan tertidur satu sama lain.

Mata kami masih sepet ketika harus dibuka, diluar gelap gulita. Bis berhenti disebuah tempat yang hanya diterangi temaram lampu dari warung-warung kecil. Jalanan yang lancar dimalam hari membuat bis sampai lebih awal dari yang diperkirakan. Semua penumpang turun begitu pula dengan kami yang turun dalam kondisi kedinginan, tiba-tiba seorang bapak kurus dan kecil menghampiri kami. Wahid terlihat berbincang serius dengan dia. Hari masih sangat gelap, padahal waktu sudah menunjukkan jam lima pagi.

Tak hanya bapak kurus itu yang masih berbincang serius dengan Wahid, sopir-sopir taksi mulai berdatangan dan mengerubungi kami. Dari wawancaranya, Wahid berkata bahwa tidak mungkin untuk kita langsung ke Shimla karena hari masih gelap, setidaknya sekitar jam sembilan atau jam sepuluh kami baru bisa berjalan-jalan menikmati hawa pegunungan tersebut. Akhirnya mau tidak mau kami harus tetap check in di hotel. Sang lelaki kurus tadi akhirnya mengantarkan kami ke sebuah tempat yang katanya untuk reservasi hotel. Dalam keadaan setengah kedinginan kami memasuki ruangan yang sempit, bahkan tak layak disebut untuk reservasi hotel. Bayangkan ruangan itu hanya muat untuk tiga orang. Lagi-lagi Wahid melaporkan hasil obrolannya dengan sang resepsionis, seorang bapak tua yang kurus tinggi. Aku jadi bertanya-tanya mengapa semua bapak disini kurus-kurus ya???

Harga yang ditawarkan untuk sewa kamar terlalu mahal, begitu komentar Wahid. Sang bapak kurus yang sejak dari bus stand membuntuti kami mengatakan, jika ingin kamar yang murah dia bisa mengantarkannya kesana tapi jaraknya cukup jauh. Kamipun menyanggupi nya. Jalanan terus menanjak dan berkelok. Entah sudah berapa jauh kami berjalan tapi mengapa gak nyampe-nyampe??? Rupanya hotel tersebut benar-benar jauh. Wahid dan Hamid membantu aku dan Salma yang sudah kelelahan dengan menggendong backpack yang kami bawa. Hingga sampailah kami disebuah jalan berlorong dan gelap. Disanalah hotel tersebut berada. Hadeuh… kami semua terduduk sambil ngos-ngosan dibangku panjang yang disediakan pemilik hotel.

Hanya Wahid dan Hamid yang berdiri menghadapi sang resepsionis. Dua Afghani ini memang begitubertanggung jawab sepenuhnya akan perjalanan kami. Mereka cukup lama bernegosiasi dengan petugas resepsionis, dari mereka kami tahu bahwa mereka menawarkan full price untuk satu malam, padahal kami hanya check in untuk short term, alias tidur sebentar sambil menunggu matahari keluar. Tapi bukan Afghani namanya kalau tidak pandai bargaining, hahahaha, hingga tercapai kesepakatan, maka kami pun masuk kamar dan langsung menarik selimut masing-masing. Dua double bed, satu untuk Wahid, Hamid dan Daraz, satu lagi untuk aku, Ha dan Salma.  

Jam sembilan aku sudah terbangun walaupun sebenarnya aku tak sepenuhnya tidur. Daripada melongo ga jelas, sambil mengenakan jilbab pashmina seadanya aku ngeloyor keluar kamar, karena kulihat matahari sudah menampakkan sinarnya dari balik kisi-kisi jendela. Dan ternyata Wahid berada dibelakangku, ternyata kami sama-sama tak bisa tidur hahaha. Brrrrrrrrr, angin mulai menyapu kulit kami yang kedinginan, kami menanjak kearah roof top dan Subhanallah, lihatlah apa yang kami lihat didepan mata kami, terhampar barisan pegunungan yang begitu indahnya diselingi oleh rumah penduduk yang berwarna-warni dan berbentuk kubus, this is Shimla, buddy…

Shimla yang indah adalah jalanan yang penuh dengan pohon-pohon tinggi besar dan udara yang segar. Amat sangat berbeda dengan Chandigarh yang hiruk pikuk dengan bus dan autorickshaw. Ibukota Himachal Pradesh ini bertengger di ketinggian 2.100 metres dan dari buklet yang aku baca Shimla juga merupakan ibukota dengan julukan the biggest hill station in the world, wow... Puas jeprat-jepret diatas roof top kami turun dan mendapati kamar yang sudah kosong, walah kemana mereka semua? Barang-barang kamipun sudah tak ada, kami berdua celingak-celinguk dan langsung berlari ke meja resepsionis, jangan-jangan mereka sudah check-out. Hehehe, ternyata mereka gelisah menunggu kami, maaf ya teman-teman.

Salma yang menenteng tas ku bertanya-tanya kemana kami menghilang selama satu setengah jam, rupanya pemandangan Shimla di roof top telah membuat kami tak sadar menikmatinya selama sembilan puluh menit. Kami berjalan menuju taksi yang sejak kami terbangun sudah menawarkan jasanya untuk mengantar kami melihat si cantik Shimla. Sebelum memulai perjalanan sang sopir mempersilahkan kami untuk breakfast terlebih dahulu, dia membawa kami kesebuah kedai kecil dengan chai dan cheese naan sebagai menu utamanya. Hmm, kapan lagi bisa menemui moment seperti ini, breakfast dialam terbuka dengan background pegunungan yang seperti kedinginan karena dia diselimuti si putih, ya dialah salju yang baru pertama kali aku lihat seumur hidupku. Ternyata tak hanya aku sodara-sodara, kami semua baru pertama kali melihat salju hahhahaha…  

Afghani bargain, Afghani guide

                Kufri, itulah nama tempat pertama yang ditunjukkan sang driver kepada kami. Dia berkata bahwa Kufri adalah salah satu tempat paling terkenal di Shimla tak hanya karena penampilannya indah tertutup salju tapi juga karena lokasi ini sering dijadikan setting pembuatan film-film Bollywood.

Tiba di Kufri kami melihat kuda-kuda yang berjejeran lengkap dengan orang-orang yang berlalu-lalang dan mengenakan boots tinggi selutut. Taksi-taksi terparkir disepanjang jalanan, pedagang chai saling dipenuhi pelanggan yang menghangatkan badan dan para penunggu kuda bersemangat menawarkan jasanya. Aku dan Salma tidak terlalu tertarik untuk naik kuda, melihat tampang para penjaga dan kudanya saja sudah seram, apalagi menaikinya. Lihatlah kuda-kuda itu meringkik dan berjingkrak-jingkrak jika dinaiki penumpang baru dan lihatlah jalanan menuju track nya, lumpurnya hampir selutut, hiyyy, bagaimana kalau terjatuh dan terlempar dari kuda. Aduh, aku tak sanggup membayangkan semua baju dan badanku kotor.

Menikmati Kufri dan bermain salju sudah cukup bagiku, ternyata Salma berfikiran sama. Tapi kawan, aku tak sanggup menolak usaha dua orang Afghani yang meyakinkan aku dan Salma bahwa everything will be okay with the horses, tak perlu takut katanya, mereka akan berada disamping kami, dan yang lebih mengharukan mereka mampu menawar setengah harga untuk kuda yang akan kami naiki pulang-pergi! Amazing… mereka benar-benar handal dan bisa diandalkan untuk apapun. Aku pribadi harusnya tak perlu menyangsikan kemampuan mereka menawar mulai dari harga auto, sewa kamar hotel, taksi hingga sewa kuda sekarang. Tak hanya itu dimataku Afghani adalah seperti keluarga, bukan semata karena kami sesama muslim tapi lebih dari itu mereka selalu siap sedia melindungi kami dari hal sekecil apapun terlebih di India, mereka beberapa kali mengingatkan kami untuk tidak bepergian sendiri. Mengingat semua ituaku dan Salma pun tak mampu berkata tidak lagi atas usaha dua Afghani ini untuk tetap bersama-sama hingga ke puncak Kufri.

Setelah berganti sepatu dengan boots, rombongan kami berangkat, aku dan Wahid, Salma dan Hamid, Ha dan Daraz. Kuda meringkik mulai beraksi, aku yang tak tahu cara mengendalikan kuda memperhatikan Wahid dan dia memberiku aba-aba. Jalanan berlumpur tanpa ampun, banyaknya peminat menuju Kufri membuat jalanan terasa semakin sempit, kadang-kadang sang kuda sedikit “sensi” jika mereka saling bertubrukan ataupun hanya tersenggol sedikit saja. Ternyata seru juga, walaupun pertama kali menunggang kuda tapi kuda yang dipilihkan cukup jinak dan bersahabat. Wahid terlihat tertawa senang dan akupun sedikit relax dan berjalan sambil mengobrol dengan dia. Begitupula yang kulihat dengan Salma dan yang lainnya.

“Kufri Fun World” itulah jargon utama gerbang Kufri, disini ternyata pemandangannya memang menakjubkan. Pengunjung yang ada jumlahnya lebih banyak dan semakin bertambah banyak. Aku dan Wahid tiba lebih dulu dari yang lainnya, setelah menitipkan kuda ditempat yang disediakan, kami menghambur berjalan seperti tak tertahankan lagi menikmati Kufri bersama ribuan umat manusia lainnya. Yak adalah binatang yang mendominasi Kufri selain kuda. Binatang ini dijadikan objek untuk mengabadikan moment di Kufri, stand yang menjajakan jasa foto bersama yak menyediakan property seperti topi koboy, senapan dan jaket rumbai-rumbai persis dandanan Lucky Luck.

Dan memang benar apa yang aku lihat adalah another sight of India. Kuda, boots,jaket dan topi koboy serta senapan ditambah lagi dengan background pegunungan, semuanya persis setting untuk film-film koboy yang biasanya aku lihat di TV ketika aku masih esde. Dan Lucky Luck adalah fim favouriteku dengan latar belakang setting seperti ini selain Bonanza dan Little House on the Prairie. Ahhh, melihat semua ini aku seperti larut dalam ingatan masa kecilku…

Cukup lama rombongan kami berpisah, aku dan Wahid sementara empat sekawan lainnya entah kemana. Sampai kami melihat bahwa ternyata ada temple diatas sana, dengan ciri bendera kecil berwarna-warni yang berkilauan diterpa sang mentari. Untuk menuju temple tersebut kami harus terus mendaki, Wahid dengan baik hati mengambil alih bagpack yang ada di punggungku, ahh lega rasanya. Wow, sesampainya diatas sana, Shimla lebih menakjubkan. Barisan pegunungan nampak semakin jelas, jalanan berkelok-kelok tampak semakin mengecil dan orang-orang dibawah sana seperti semut yang bergerombol. Untuk memasuki area temple, pengunjung diharuskan membuka alas kaki, ada dua temple yang saling berdekatan yaitu temple untuk umat Sikh dan temple untuk umat Hindu. Tak lama setelah kami duduk-duduk terlihatlah rombongan empat sekawan datang, kami pun reunited menikmati indahnya Shimla bersama orang-orang yang datang silih berganti untuk berdoa.

 

“Angry” Wahid

Cukup lama kami duduk mengobrol hingga berfoto dengan berbagai pose disini sampai hilang sedikit cape kami, kemudian kami berenam turun kembali menuruni anak tangga dan bermain salju hahahaha. Waktu sudah menunjukkan jam tiga ketika kami menyadari perut kami keroncongan dan kami menyadari harus segera meninggalkan tempat ini untuk melihat Shimla dari sudut yang lain. Kami berjalan menuju tempat penitipan kuda untuk kembali ke taxi stand. Cukup lama petugas penitipan mencari-cari kuda untuk kami. Rupanya kami akan kembali dengan kuda yang berbeda, walah padahal aku sudah akrab dengan kuda coklat yang aku tunggangi menuju kesini. Tapi tak apalah dan yang tersedia hanya ada lima kuda!!! Walah, piye kita kan berenam.

Dua Afghani mempersilahkan aku, Salma, Ha dan Daraz memilih kuda masing-masing sementara mereka masih berdiskusi tentang siapa yang akan menunggang kuda yang hanya tersisa satu, Wahid atau Hamid. Ternyata diputuskan Wahid yang menunggu. Kami masih terdiam menunggu datangnya kuda untuk Wahid dan perlu waktu yang cukup lama untuk itu. Wahid bersikap bijaksana untuk mempersilahkan kami pergi terlebih dahulu, karena sepertinya dia tahu menunggu adalah hal yang tak menyenangkan, walaupun kami tak keberatan. Tapi dia meyakinkan akan secepatnya menyusul jika sudah mendapatkan kuda. Beberapa kali kami bertanya, “Are you sure?”, dia pun menjawab mantap dengan ya dan kami harus menghormati kebaikan hatinya untuk mempersilahkan kami istirahat lebih dulu di taxi yang menunggu kami dibawah sana, setidaknya dibawah sana udara tak bercampur dengan keringat kuda disini.

Cukup lama kami menunggu Wahid, sudah berganti boots, sudah berpose dengan kuda, sudah makan kacang tetap saja Wahid belum datang. Hamid berkali-kali meneleponnya tapi tak diangkat. Ada apa dengan Wahid? Kami mulai cemas. Hamid bilang dia akan menyusul Wahid, tapi sekonyong-konyong terlihat dari atas sana, seorang cowok dengan air muka “memerah” menahan amarah. Dialah Wahid yang turun dengan berjalan kaki!

Tanpa tedeng aling-aling dia mencari stand kuda dan menghampiri petugas yang bertanggungjawab atas kuda yang seharusnya bersama kami. “I swear they have to give back my money, they don’t give me the horse. I was walking from the top of Kufri”.

Kami semua berjalan mengikuti Wahid yang dipenuhi amarah. Siapa yang tidak kesal, menunggu kuda selama berjam-jam dan dengan entengnya mereka berkata tak ada lagi kuda untuk turun. Hamid berdiri disamping Wahid. Dan tak bisa dielakkan adu mulut pun terjadi. Wahid marah sejadi-jadinya. Hamid tampak berusaha menenangkan Wahid. Hamid menyuruh kami semua masuk kedalam taksi, biar mereka berdua yang menyelesaikan, katanya.

Kami hanya bisa melihat dari dalam taksi, semua dari kami hanya berharap-harap cemas, mudah-mudahan Wahid tak akan mempertaruhkan nyawanya hanya karena perkara kuda. Aku cukup khawatir dengan Afghani ini, mereka adalah pribadi-pribadi yang tak diragukan untuk memberikan jiwa raga ketika perang menegakkan kebenaran. Semakin lama mereka semakin terlibat perdebatan sengit, kini kulihat Hamid berdiri ditengah-tengah mereka.

Sampai Wahid dan Hamid menghampiri taksi dan masuk kedalam, barulah kami bisa menarik nafas lega. Hamid berusaha menenangkan Wahid. Kami tahu pasti mereka tak mau mengganti/mengembalikan setengah uang jasa penyewaan kuda. Keadaan taksi sunyi senyap, tak ada yang berkata sedikitpun, sampai akhirnya sopir taksi mengusulkan Himalaya Zoo sebagai destinasi kami selanjutnya. Kami semua setuju dan tak berapa lama kami sudah sampai disana.   

Kebun binatang ini cukup luas, tapi yang membingungkan mana binatangnya? Yang kami lihat hanya tumpukan salju memenuhi jalanan-jalanan kecil seperti pematang sawah. Tak ada pula tempat beristirahat. Kalaupun ada, tempatnya tidak representative untuk duduk-duduk. Satu-satunya binatang yang kami lihat adalah seekor panda kecil yang sedang tertidur dan tak ingin diganggu! Semua orang berkerumun disana, karena hanya dia penghuni kebun binatang ini spertinya hahahahaha…

Kami terus berjalan dan tahu-tahu sudah berada di pintu bertuliskan EXIT, lha??? Cuman segini aza nich? Mendingan ke Ragunan atau Taman Safari dech…

Rupanya peristiwa inilah yang membuat kami, termasuk Wahid, bisa tertawa lagi mengingat kekonyolan kebun binatang yang tanpa binatang.

Sang sopir taksi bingung, mengapa kami begitu cepat keluar dan kami berkata kepada dia untuk secepatnya pergi dan mencari tempat untuk makan karena kami semua sudah kelaparan. Waktu sudah sore dan kami belum makan siang sedikitpun.

Mall Road

Sopir taksi menurunkan kami disebuah pinggir jalan dan menunjukkan sebuah restaurant. Dia juga berkata bahwa tugasnya sudah selesai mengantar kami. Dia berkata bahwa dari tempat kami makan nanti, kami bisa berjalan-jalan di Mall Road dan menikmati Shimla dimalam hari.

Langsung kami menuju Punjabi restaurant yang ditunjuk sang sopir. Kami meregangkan otot dan menanti datangnya makanan yang kami pesan. Sambil menunggu kami menikmati sore dengan makan siang yang telat dan pegunungan tertutup salju yang terlihat cantik dari kaca yang berada disamping kami.

Hari merambat malam, matahari sudah tenggelam. Lampu-lampu mulai saling bermunculan menghiasi indahnya langit. Shimla diterangi kerlap-kerlip lampu dalam hitungan detik. Kami terus berjalan menyusuri Mall Road. Mall Road adalah kawasan wisata dimana semua souvenir dan pernak-pernik dijajakan. Yang menjadi tempat ini nyaman adalah karena tidak diperbolehkannya kendaraan bermotor berlalu lalang sehingga semua akses dilakukan dengan berjalan kaki.

Dizaman dahulu Shimla memang menjadi tempat peristirahatan para petinggi India dan pejabat teras Inggris. Konon kabarnya, saking betahnya para penjajah itu mendiami Shimla, mereka membangun fasilitas publik yang arsitekturnya mirip gedung-gedung di Inggris, termasuk sebuah universitas “bergaya mirip” Oxford University.

Sayangnya karena keterbatasan waktu kami tak bisa mengunjungi semua objek wisata di Shimla dan Mall Road adalah tempat terakhir yang kami kunjungi di Shimla. Patung Indira Gandhi berdiri anggun ditengah-tengah Mall Road. Beberapa jasa fotography sibuk menawarkan foto langsung jadi ditengah hiruk-pikuk Mall Road. Tak jauh dari patung anggun putri Mahatma Gandhi, kami melihat kerumunan orang yang tertawa terbahak-bahak. Rupanya inilah “The Gaiety Theatre”. Inilah teater jalanan yang konon kabarnya adalah replika dari Old British Theatre.

Pertunjukanpun serasa “berkelas” karena penonton yang tertib duduk dengan melingkar ditangga-tangga yang disediakan. Kamera-kamera berdiri dibeberapa sudut. Semua orang menikmati pertunjukkan meskipun aku dan bule-bule itu mungkin tak mengerti isi cerita karena semua disampaikan dalam bahasa Hindi.

Lingkungan Mall Road pun cukup bersih untuk ukuran India. Lebih jauh kami berjalan kebelakang kami menemukan ini benar-benar bukan seperti di India. Kami merasa seperti di Inggris! Meskipun kami semua belum pernah ada yang pergi ke Inggris, setidaknya kami pernah melihat gambaran Inggris melalui buku-buku.

Rasanya kami semua mempunyai harapan yang sama, tinggal lebih lama di Shimla dan menikmati malam ini. Tapi apa daya, besok kami sudah harus kembali ke sekolah :(

  • view 47