Incredible12

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 16 September 2017
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

3.9 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible12

Incredible12

So, this is what we call party? (Part 1)

                Setelah berbincang-bincang dengan para Afghani dilantai paling atas intern house, Salma memanggil kami untuk turun menghadiri party yang akan segera dimulai. Inilah party pertama yang aku hadiri. Mustafa, intern asal Egypt begitu bersemangat dan bergembira mempersiapkan pesta tersebut, dia meniup balon-balon berwarna pink, merah dan putih. Mr. Rawat dan Mr. Bali, sang landlord, membantu mendekorasi dan menyulap ruangan yang biasanya dipenuhi dengan tempat tidur menjadi living room yang nyaman bagi para tetamu. Dipastikan bahwa akan banyak intern yang hadir karena, Mauritis’s girls dikenal sebagai pribadi-pribadi yang supel dan lively. Pernah satu kali jam setengah sebelas malam aku mendapati mereka tengah bersiap-siap pergi clubbing. Tak ada sedikitpun ketakutan diwajah mereka, atau aku sendiri yang paranoid mendapati mereka hanya mengenakan tank top dan jeans robek-robek keluar tengah malam hanya untuk clubbing. Kadang aku berfikiran terlalu naïve, apa mereka tidak kedinginan? Ditengah winter seperti ini hanya mengenakan tank top dan disambut dengan angin yang bertiup brrrrrrrrrrrr dikulit kita. Tapi itulah mereka kawan…

Sebenarnya tak hanya Mustafa yang antusias akan party ini, Salma kulihat dua kali lebih antusias dari itu. Dia yang biasanya pergi ke sekolah hanya mencuci muka dan berjilbab seadanya, kini tampil maksimal dengan make up  yang sempurna. Bahkan dia dua kali menyapukan bedak, eye shadows dan lipstick demi mengetahui kalau Pedro, intern asal Brazil sudah datang. Pesona wajah Pedro sang Brazilian sejenak membuat Salma menyesal mengapa dia bertunangan terlalu cepat dengan pria Mesir. Sekitar jam sepuluh party dimulai dengan sedikit sambutan dari kelima Mauritius’s girls. Tak hanya memberikan speech seadanya, mereka juga memutarkan video yang mereka buat sebagai kesan-kesan selama di India.

Lampu dimatikan dan semua orang khusuk melihat video tersebut dan berdecak kagum bahkan tertawa terpingkal-pingkal melihatnya. Selesai menyaksikan video, semua orang rehat sejenak dan mulai mengobrol disertai dengan memakan chips dan coke. Tak berapa lama, musik mulai dimainkan pertanda pesta sebenarnya dimulai. Chips dan coke mulai tersingkir berganti dengan rokok, beer dan semua jenis minuman beralkohol lainnya. Ada juga pemotongan tart cokelat kecil yang dibawa Manuela, yang disebut sebagai our Shakira, dan dicoreng-morengkan kewajah mereka menambah suasana pesta menjadi lebih meriah. Ha dan Salma kulihat begitu enjoy dengan party ini, tapi tidak dengan aku. Bau rokok dan minuman beralkohol lainnya membuat kepalaku pusing.

Aku yang tadinya berdiri bersama para Afghani kebingungan mencari mereka, mereka raib entah kemana. Dari Salma aku tahu bahwa mereka sudah “mengundurkan diri” dari party, akupun berfikiran hal yang sama yaitu hendak menyingkir dari hingar-bingar keramaian, toh “formal-nya” party sudah selesai, tinggal acara anjangsana saja sepertinya. Aku pergi kekamar dan membuka laptop, sepertinya chatting dengan teman lama lebih mengasyikan ketimbang menghirup bau rokok dan beer diruang sebelah. Aku mungkin orang kampung yang terlalu ndeso untuk duduk berjam-jam diluar sana hanya untuk mengobrol sambil menghisap rokok dan minum beer, bagiku itu membosankan.

Satu jam berlalu, aku masih asyik chatting ketika Joele, salah satu host party numpang ke toilet dengan “kesadaran penuh” dan mengucapkan permisi. Dua jam berlalu dan aku masih saja sibuk chatting ketika seorang pria India, yang belakangan kutahu bernama Rishab, setengah memaksa aku untuk keluar kamar dan bergabung dengan mereka. Alison, intern asal Columbia yang memanggil dia dengan sebutan baby, malah meminta maaf kepadaku atas perbuatan Rishab yang setengah memaksa. Yang aku tahu mereka berdua adalah couple. Aku tak terlalu perduli dengan mereka, kukira Rishab setengah mabuk ketika bertanya kepadaku. Alison dengan sopan menutup kembali pintu kamarku.

Tak lama kemudian, Joele masuk kembali ketoilet, tapi kali ini tanpa permisi dan meracau tidak jelas, pasti dia setengah mabuk. Dia senyum-senyum kepadaku sambil berterimakasih dan ngeloyor pergi. Hari sudah semakin malam, bahkan menjelang pagi, tapi party masih berlanjut. Aku mulai mengantuk dan ingin pergi tidur tapi mana bisa, diruang sebelah begitu ramai oleh suara orang-orang yang tertawa terbahak-bahak meskipun kini musik yang menghentak sudah hilang. Baru saja menutup ruang chatting dan bermaksud sign out, tiba-tiba Joele masuk kembali ketoilet, kali ini dia tidak bertanya, tidak bernyanyi dan tidak permisi, tapi dia menangis. Lha piye, ono opo toh Nduk??? Dipastikan dia mabuk sekarang, bahkan dia lupa dengan resleting jeansnya yang tidak dia kancing. Tak lama, salah satu Mauritius’s girls lainnya mencoba menenangkan dia dan berusaha membuat dia berhenti menangis. Minuman keras memang membuat orang tak sadar bahkan tak mengerti akan dirinya sendiri.

Jam dua dini hari, party dinyatakan closing. Akupun beranjak dari tempat tidur untuk menghadirinya sebagai tanda penghormatan bagi mereka. Baru menuruni tempat tidur, datang seorang cowok berwajah mirip salah satu personel One Direction, dialah Kostia, Ukraine intern, yang berdiri menatapku dan berkata, “You must be cannot sleep huh?, I’m so sorry for that”. Aku hanya tersenyum dan berkata tidak apa-apa, tidak mungkin aku menyuruh mereka berhenti party hanya karena aku ingin tidur. Dia cepat akrab dan banyak bercerita tanpa diminta. Wajahnya yang unyu-unyu mirip salah satu personal One Direction, sejenak melupakan aku bahwa aku hanya ingin tidur. Inilah pengalaman pertamaku kawan, tak bisa blending dengan mereka, bagaimana kalau lain kali ada party semacam ini?

  • view 60