Incredible11

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 16 September 2017
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

347 Hak Cipta Terlindungi
Incredible11

Incredible11

Incredicle 11

February 23rd, 2013

The Creepy Guy

                Minggu ini adalah weekend pertama kami bertiga jalan bareng. Tujuannya hanya satu menghadiri farewell party-nya Mauritius girls yang sudah menyelesaikan project mereka di India. Sambil menunggu malam datang aku dan Ha ingin berjalan-jalan ketiga tempat yang sepertinya satu paket jika kita bertanya object wisata terdekat apa yang bisa kita kunjungi di Chandigarh, mereka pasti menjawab Rose Garden, Rock Garden dan Sukhna Lake. Karena kabarnya object wisata ini tak berjauhan, maka kami memutuskan untuk melakukannya dalam sekali jalan.   

Kebetulan pula sedang ada Rose Festival yang ke 41 yang diadakan di Rose Garden sehingga jumlah pengunjung bisa dipastikan berkali-kali lipat jumlahnya. Dan inilah pengalaman pertama aku dan Ha menyusuri Chandigarh dengan kendaraan umum tanpa tahu arah dan minim perbendaharaan bahasa Hindi. Meskipun disebutkan bahwa bahasa Inggris adalah second language bagi bangsa India, nyatanya tidak semua orang bisa berbahasa Inggris terutama para sopir autorickshaw.

Salma yang sudah mengunjungi Rose Garden dan Rock Garden tak mau lagi pergi kesana, dia memilih stay di intern house dan ngobrol dengan Mustafa, sesama intern dari Egypt. Aku diperkenalkan oleh dia kepada para intern dari Afghanistan yang juga berminat melihat Rose Festival. Ada empat intern asal Afghanistan, mereka berpakaian tradisional Afghanistan dengan dominasi warna putih dan baju mirip kurta pajama, tak ketinggalan peci tradisional yang menempel manis dikepala mereka. Kelima Afghani tersebut adalah para mahasiswa kedokteran yang bekerja untuk project penanggulangan HIV/AIDS juga pencegahan Breast Cancer disalah satu NGO di India.

Mereka tak banyak berbicara bahkan terkesan cuek, namun sesekali tersenyum. Ketika kami mengajak mereka untuk pergi bareng ke Rose Festival, mereka mengatakan bahwa mereka akan pergi kesana setelah makan malam. Aku dan Ha tak sabar menunggu dan ingin secepatnya melihat festival bunga rose tersebut. Berbekal petunjuk minim dari Salma, kami pergi berdua menuju festival tersebut.

Dengan maksud hati ingin melakukan tour sekali jalan maka kami memutuskan untuk memulai dari object terjauh dulu yaitu Rock Garden kemudian melihat festival bunga di Rose Garden. Ketika sampai di Sector 17 kami kebingungan mencari bis menuju Rock Garden dan mencoba bertanya kepada dua orang tapi kedua orang tersebut tidak hanya tidak bisa berbahasa Inggris dan mengerti maksud kami tapi juga menunjukkan dua arah yang berbeda. Ketika kami berdua kebingungan berdiri mematung, seorang pemuda menghampiri kami dan bertanya dalam bahasa Inggris dan kamipun merasa save karena dia mengerti tujuan kami. Aku berdiri disebelah Ha dan dengan meyakinkan dia menunjuk sebuah bis yang berhenti tak jauh dari kami. Kami mengucapkan terimakasih dan duduk berdua didalam bis tersebut.

Sang kondektur menghampiri kami, Ha menyerahkan uang dan meyebutkan tujuan kami, sang kondektur mengerutkan dahi dan berkata, “Nahi Rock Garden, Rose Garden”. Aku dan Ha saling bertatapan, tak lama sang kondektur memberikan isyarat untuk turun dan menunjukkan sebuah tempat yang dari kejauhan sudah hiruk pikuk dengan orang-orang yang hilir-mudik. Aku dan Ha sedikit kecewa dan menganggap bahwa pemuda tersebut mengarahkan kami ke “jalan yang benar” eh tahu nya malah menunjukkan kearah yang berlawanan. “Maybe something wrong with my pronunciation”, ujar Ha yang sedikit merasa bersalah karena dialah yang berbicang-bincang pemuda tersebut. “That’s fine, lets go in”, ujarku dan mengajak dia masuk ke area Rose Garden, tak mungkin kembali lagi mencari bis ke Rock Garden sedangkan kami sudah didepan gerbang Rose Garden.

Winter dan rose adalah paduan sempurna untuk romantisme. Digerbang sudah terpampang besar-besar televisi layar datar dengan beraneka macam jenis rose yang dipamerkan. Ini adalah festival tahunan yang diadakan oleh Chandigarh state. Bunga cantik beraneka rupa warna dan species ini dibentuk menjadi macam-macam bentuk mulai dari binatang seperti peacock dan kangguru, juga bentuk-bentuk lainnya seperti layang-layang, wajah manusia dan tentunya Open Hand, symbol kota itu sendiri. Entah berapa lama kami disana, fragrance dan warna-warna segar mulai dari warna original merah dan putih hingga warna-warna yang belum pernah kulihat sebelumnya, kuning, purple, orange, maroon, seolah melupakan semua rencana kami untuk mengunjungi tempat yang lainnya yang kami ingin kunjungi karena tiba-tiba hari sudah gelap.

Aku dan Ha tak tahu jam berapa ketika kami keluar dan memutuskan pulang. Diluar gerbang makin banyak orang yang berdatangan dan hilir mudik, lalu lintas sudah semakin padat dan kami kebingungan lagi menuju arah pulang. Setengah bercanda Ha menyuruhku untuk bertanya karena dia takut mengulangi kesalahan yang sama, yaitu menanyakan arah Rock Garden tapi yang ditanya menunjuk arah Rose Garden. Ada shelter tak jauh dari Rose Garden dan duduk seorang pria disana, aku menanyakan kepadanya arah pulang menuju intern house, dia berkata bahwa bis tujuan kami akan datang sebentar lagi.

Kamipun mematung lagi dishelter, sambil menunggu datangnya bis. Lumayan lama kami menunggu tapi bis tak datang-datang, aku bertanya lagi kepada dia dan dia bilang sebentar lagi. Dia yang duduk diujung bangku shelter mempersilahkan aku duduk disebelahnya. Dengan pertimbangan berjalan-jalan melihat festival cukup lama dan berdiri menunggu bis, aku meletakkan pantatku disebelahnya, sementara Ha enggan duduk. Dengan bahasa Inggris yang terbata-bata dia bertanya-tanya kepadaku bahkan dia bercerita tentang keluarganya. Dia mengatakan bahwa istrinya sebentar lagi akan datang menjemputnya dan mempersilahkan aku dan Ha jika ingin menumpang karena rumahnya searah dengan tujuan kami. Bis masih belum datang dan kami mulai gelisah, sementara dia semakin aktif bercerita.

Kini Ha sudah duduk disampingku, dia tak kuasa lagi berdiri karena kecapean menunggu. Sang pria masih aktf bercerita bahkan sekarang dia menawari kami softdrink dengan halus kami menolak, tapi dia terus mendesak. Secepat kilat dia berlari dan kembali dengan sebotol softdrink ditangannya, aku mulai gelisah dan ingin berlari saja. Ketika beranjak akan pergi dia membukakan botol softdrink dan memberikannya padaku, aku menolak dan berkata dengan sopan, “No, thanks. We’re full”, tapi bukan Indian namanya kawan jika dia menyerah, dia tetap meminta kami untuk minum bahkan setengah memaksa sambil menambahkan kata “please” dibelakangnya.

Tangan Ha dengan cepat menyambar softdrink tersebut, menenggaknya dan memberikannya kepadaku. Dia tersenyum gembira memamerkan giginya yang membuat aku semakin ketakutan. Setengah berbisik aku mengajak Ha untuk berlari angkat kaki dari shelter, sudah berdiri eh tanganku ditarik oleh si “creepy guy” dan meminta aku untuk minum softdrink juga. “Okeh, mari kita selesaikan semuanya sekarang”, batinku dalam hati. Aku meminum softdrink, menyerahkan kepadanya dan menarik tangan Ha untuk berlari. Aku dan Ha berlari menuju keramaian sambil terengah-engah dan berhenti disana, tapi tahukah apa yang terjadi kawan, si creepy guy tadi mengejar kami, benar-benar gila.

“We don’t need your help, our friends will pick us up”, kataku berbohong tapi dia masih tidak percaya bahkan masih saja mengoceh, aku dan Ha pergi meninggalkan dia, eh dia masih membuntuti kami.

Sekarang kami berdiri benar-benar dibawah cahaya terang lampu kota dan beberapa petugas berseragam disana, sepertinya dia menyerah. Dia berkata bahwa dia hanya ingin memberikan kami tumpangan, tapi dia terlalu “menyeramkan” untuk kami. Gesture tubuhnya, lirikan matanya, cerita dia yang mempunyai tiga istri dan semuanya membuat kami ketakutan. Kami tetap keukeuh berbohong dan akhirnya dia pergi sambil meminta bersalaman dengan aku dan Ha. Dia juga menyerahkan botol softdrink yang didalamnya masih tersisa setengah dan ngeloyor pergi. Kami berdua menarik nafas panjang dan tiba-tiba aku teringat akan Afghani guys, bukankah mereka juga berencana mengunjungi Rose Garden?.

Dengan cepat aku menelepon Salma dan menanyakan apakah mereka sudah berangkat dan meminta nomor telepon salah satu dari mereka. Tanpa menunggu, Ha menghubungi nomor yang Salma berikan. Ternyata mereka semua masih didalam menikmati festival tersebut. Kami janjian untuk bertemu dan pulang bareng dengan mereka. Festival ini memang cukup besar, bahkan diselenggarakan didua venue berbeda, yang membuat kami saling mencari. Akhirnya kami bertemu juga, ternyata mereka melihat festival di venue yang berbeda dengan kami sehingga memakan waktu untuk saling menemukan satu sama lain. Aku dan Ha dengan mudah mengenali mereka dari kejauhan karena kostum Afghani mereka yang berwarna serba putih.

Aku dan Ha kini benar-benar lega dan menarik nafas amat sangat panjang. Mereka terlihat kebingungan dengan wajah pucat kami. Tanpa diminta kami bercerita kepada mereka semua yang terjadi. Hamid, yang wajahnya mirip Andrea Hirata mengeluarkan suaranya, “Oh My God, be careful girls, this is India”, katanya seolah menyadarkan kami, “Don’t worry, you’re save now, lets go home with us”.    

Dan kamipun pulang dengan autorickshaw, kini mereka adalah hero bagi kami. Seketika percakapan kami dalam auto memberikan kesan lain dari Afghani guys, mereka ternyata tidak cuek seperti yang kami kira, bahkan mereka sebaliknya, mereka amat sangat humoris. Tak terasa auto membawa kami menuju intern house. Sesampainya disana mereka mempersilahkan kami duduk-duduk bersama mereka di ruangan yang diisi oleh keempat Afghani tersebut. Mereka menyambut kami seperti teman baru, terutama Sebghat yang begitu “bahagia” mendapati aku yang seorang Indonesia, entah mengapa dia begitu antusias ketika mengetahui aku dari Indonesia, “Wow, Indonesia, the biggest moslem country”, begitu komentarnya, mungkin itulah sebabnya mengapa dia begitu senang, bertemu dengan sesama muslim memang terasa lebih dari sekedar bertemu teman sebagai sesama intern. Mereka memberikan souvenir gelang karet warna hijau dan merah bertuliskan bahasa Arab dan Pastun yang berbunyi “Man Afghan Hastam” dan “Man Afghan Yam”.

 

 

  • view 11