Incredible10

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 10 September 2017
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

923 Hak Cipta Terlindungi
Incredible10

Incredible10

 Rouja Sharif dan Arti Namaku

                Adalah hal yang lumrah jika bertemu intern-intern dari berbagai negara saling bertanya mengapa memilih India sebagai negara tujuan internship. India dikalangan Eropa terkenal dengan kultur tradisionalnya. Mereka yang sudah terbiasa hidup serba modern (mungkin) bosan dengan segala kemapanan tekhnologi dan ingin kembali hidup secara tradisional. Selain itu India menawarkan hal-hal yang “diluar dugaan” baik orang-orangnya, kebiasaan mereka sehari-hari dan tentu saja tempat-tempat indah yang menjadi list dari para internship students untuk bertraveling. Sedangkan aku kadang masih bingung mengapa tiba-tiba match dengan India.

 Sejujurnya India bukanlah negara yang ada dalam benak dan fikiranku. bahkan ia tak ada dalam list ku. Sungguh, bermimpi pun aku tak pernah akan sampai di negeri Hindustan ini. Sebagai mahasiswa yang bergelut dengan sastra Inggris aku memimpikan pergi kenegara-negara yang berbahasa Inggris pula, paling tidak negara paling dekat seperti Singapore dan Australia. Tapi bukanlah hal yang mudah mendapatkan project dalam dunia pendidikan karena pada dasarnya negara-negara maju lebih banyak menawarkan internship dalam bidang business dan management. Maka bisa ditebak kemana arahnya project education internship ini akan bermuara. Asia, adalah benua dengan bejibun education project, dan salah satu negara tersebut adalah India.

 Tapi untuk benar-benar mendapatkan education internship di Asia juga bukan perkara gampang. Aku setidaknya sudah enam kali interview dan entah berapa banyak application yang aku kirimkan, tapi tak ada further information mengenai hal itu, hingga suatu pagi di hari jumat jam sembilan aku melaksanakan interview ku yang justru tanpa persiapan apa-apa. Skype yang menghubungkan kami pagi itu nyaris tanpa gangguan apa-apa, jika sebelumnya ada saja gangguan entah terputus tiba-tiba, entah suara yang tidak jelas dan masih banyak kendala yang lainnya, hari itu seperti berbeda. Wawancara lancar hingga detik terakhir dan aku hanya perlu waktu satu hari menunggu hasilnya. Aku sendiri bertanya-tanya, mungkinkah karena ini yaumul jumah? Salah satu hari besar umat muslim.

 Hingga akhirnya aku dinyatakan match dengan India, aku sendiri tak tahu perasaanku. India dalam benakku adalah Taj Mahal, karya agung dan symbol cinta abadi. Tapi lebih dari itu aku menyadari bahwa match-nya aku dengan India adalah bagian dari perjalanan hidupku yang sudah ditentukan oleh Sang Maha Pencipta. Dan aku tak akan pernah tahu mengapa Dia memberi aku India, bukan negara lain yang aku inginkan, setidaknya mozaik ini bisa menjawab pertanyaanku.

 Masih dalam rangkaian “tour” bersama keluarga Prince, setelah wisata religi untuk kaum Sikh, kini saatnya mereka mengajak aku ke tempat yang konon kabarnya banyak di ziarahi kaum muslimin dari seluruh penjuru dunia. Papa sebelumnya pernah bercerita bahwa tempat ini adalah tempat kedua yang diziarahi umat muslim jika sudah menunaikan ibadah haji di Mekkah Al-Mukaramah. Mereka terkaget-kaget aku tidak mengetahui hal ini, karena memang aku belum pernah mendengarnya. Lokasinya persis bersebrangan dengan gurudwara yang kami kunjungi terakhir. Rouja Sharif, begitulah nama tempat itu. Suasana begitu berbeda begitu memasuki pintu gerbang.

 Jika di Fatehgarh Sahib begitu ramai pengunjung, disini justru kebalikannya. Setelah melalui pintu gerbang, kulihat beberapa pedagang yang sedang bersih-bersih dikios masing-masing. Wajah mereka pun, amat sangat “tidak India”, rata-rata mengenakan baju terusan bernuansa timur tengah. Papa mengajakku masuk ke bagian utama Rouja Sharif, aku masih belum mengerti tempat apa ini. Suasana diluar yang tenang berbanding terbalik dengan yang terjadi didalam. Kami sekeluarga masuk ke bagian utama dan aku melihat para pria dengan jubah putih mengelilingi pusara yang sepertinya dijaga dengan baik.

 Kulihat satu orang pria tengah menjelaskan kepada para “rombongan” pria berjubah putih tersebut. Aku dengan pe-de melangkah kedalam bermaksud ingin mengetahui apa yang sedang dijelaskan, tapi baru selangkah maju, tiba-tiba bapak tua yang sedang khusuk berzikir setengah berkata keras kearahku, aku yang tak mengerti melihat kearah Prince dan Papa. Prince menghampiri aku dan berkata bahwa perempuan tidak diperbolehkan masuk kedalam. Aku cukup kecewa tapi mau bagaimana lagi, memang pernah kubaca bahwa di India ada batasan-batasan tertentu jika seorang wanita muslim ingin memasuki area-area keagamaan, termasuk mesjid. Prince berjanji akan mengambil foto-foto dari dalam karena aku, Ha, Cinu dan mama akhirnya keluar dari “arena” ini.

Cukup lama kami diluar menunggu Papa dan Prince. Aku jadi memperhatikan orang-orang yang keluar masuk tempat ziarah ini. Satu yang menarik perhatianku adalah seoraang pemuda dengan kepala yang diikat kain putih, persis yang biasa dilakukan jika seseorang mengunjungi gurudwara, memasuki area ziarah dan melakukan adab juga persis seperti memasuki gurudwara. Sebenarnya aku agak keheranan juga mengetahui bahwa tak hanya umat muslim yang mengunjungi tempat ziarah ini. Atau inikah yang disebut pluralisme di India? 

Dari seorang guru disekolah aku memang pernah mendengar bahwa di India adalah hal yang wajar jika pemeluk agama tertentu mengunjungi tempat ibadah agama lain dan ikut serta beribadah didalamnya. Satu kali aku pernah mendapati Jasveer, salah satu staff sekolah yang beragama Sikh mengunjungi kuil Hindu dan ikut berdoa, dia juga tak segan mengenakan kalung salib, yang biasanya dikenakan umat Kristiani. Pernah pula aku temui salah satu pengurus Local Committee di Chandigarh mengikuti dua agama sekaligus. Hal ini biasanya disebabkan oleh perkawinan beda agama yang diperbolehkan di India.

 Papa dan Prince keluar dengan memperlihatkan foto-foto yang diambilnya. Papa kemudian mengajak kebagian belakang. Ternyata dibelakang masih luas, bahkan ada semacam taman untuk duduk-duduk bagi pengunjung yang berziarah. Satu tempat yang agak luas dengan ubin seperti catur berwarna hitam putih dan arsitek bangunan yang indah menarik perhatian aku, sedangkan Ha dan Cinu asyik berfoto-foto. Aku dan Papa berjalan berdua memasuki area kuburan yang digembok rapat, seperti tidak boleh dimasuki oleh siapapun. Papa dan aku berusaha membaca semua yang tertera didinding, maklum semuanya ditulis dalam bahasa Urdu.

 Aku yang hanya bisa membaca tulisan bahasa Arab setengah mati berusaha mengeja berharap ada sedikit kesamaan karena menurut Papa antara Urdu dan Arab hampir mirip. Tapi ternyata memang susah jika tidak belajar hehehe, hingga tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara seorang bapak dibelakangku. Bapak ini berpakaian rapi dengan setelan jas hitam dan kemeja putih juga celana panjang hitam. Tanpa diminta dia membaca tulisan Urdu yang tertera dan mengartikannya. Dia berbicara begitu cepat (atau mungkin kemampuan listeningku yang kurang bagus L) hingga aku hanya mampu menangkap satu baris kalimat yaitu, “Rouja Syarif is grave yard”. Okeh, baiklah ini pasti kuburan orang penting yang patut diziarahi, itu saja fikiranku.

 Dari buklet yang kubaca ternyata Rouja Syarif adalah makam/kuburan besar yang amat indah dari seorang sufi suci dan seorang theologian Shaikh Ahmad Faruqui Sirhind, juga dikenal sebagai Mujaddad-al-Saani (The Reformer of the Millennium) pada zaman kekaisaran Mughal dari raja Akbar dan Jahangir. Bapak rapi itu mengundurkan diri ketika menerima telepon. Masih ada lagi makam kecil-kecil yang terletak tak jauh dari situ dan ternyata ada mesjid di tengah-tengah area ziarah ini. Seorang pria hitam legam berjubah seperti Rama Aiphama tersenyum kepadaku sambil memamerkan gigi nya yang putih mengkilat dan bertanya asal negara dan tujuanku ke India.

 Dia begitu terkejut dan tersenyum gembira ketika kukatakan bahwa aku dari Indonesia. Aku tidak mengerti maksud dari “keriang gembiraan” nya karena dia hanya mengatakan bahwa dia senang bertemu saudara muslim dari Indonesia. Aku pun turut senang mendengarnya, tapi aku tak lama berbincang dengannya karena Papa memanggilku.  Kulihat Papa sedang berbicara dengan bapak dengan setelan rapi yang kami temui sebelumnya. Papa memperkenalkan aku kepada dia.

 Sepertinya mereka berdua berbicara dalam bahasa Urdu karena aku tak mengerti, aku hanya sesekali tersenyum jika si bapak berpakaian rapi melihat kearahku. “What is your name?” katanya dan kujawab seperlunya saja, sang bapak tampak tidak puas karena aku hanya menyebutkan nama depanku saja. Dia meminta full name, oke dech cuma menyebutkan nama apa susahnya sih.

 “Do you know what is the meaning of your name?”.

Aku dibuat bingung karena setahuku, “Irma” adalah nama yang umum bagi warga Indonesia dan orang tuaku tak pernah memberi tahu dan akupun tak pernah bertanya mengapa mereka memberi nama itu padaku. Nama tengahku “Pelita” yang kutahu berarti penerang, cahaya dalam kegelapan sedangkan surname-ku adalah “Rahmat” yang tak lain adalah nama ayahku. But, still, he doesn’t satisfy with my answer,

 “Do you know what is your first name means?” dan aku hanya menggelengkan kepala.

 Papa terlihat manggut-manggut mendengarkan sabda sang bapak yang belakangan kutahu berasal dari Iran tersebut. “Your first name means heaven”. Aku tak tahu apa yang aku rasakan, sungguhkan itu arti namaku? Dari mana asal kata itu?

 Ingin aku bertanya lebih jauh tapi mama Prince dan Cinu tampak ingin segera pulang karena waktu memang sudah lumayan sore. Bapak rapi yang tak kutahu namanya menyalami aku ketika kami berpamitan. Wajahnya begitu tenang dengan senyum yang terkembang dibibirnya dan kamipun berpisah di ujung lorong pintu keluar.

 Papa menepuk-nepuk bahuku seakan tahu apa yang aku fikirkan. Tiga dekade hidupku aku tak pernah tahu arti nama depanku dan kuanggap itu hal biasa bahkan tak ada artinya, tapi disini, di India dari seorang bapak ber air muka sejuk dan berkebangsaan Iran, aku menemukannya. Inikah salah satu jawaban mengapa Sang Maha Pencipta “menjodohkan” aku dengan India?. Papa juga berkata satu hal yang mudah-mudahan menjadi doa bagiku. Jika orang lain berdatangan untuk berziarah setelah mereka menunaikan rukun Islam yang ke lima, maka menurut Papa, aku akan mendatangi tempat ini dulu baru menunaikan ibadah haji. Amin Yaa Robbal Alamin, hanya itu yang mampu aku ucapkan sambil melihat kewajah Papa.

 “You will go there someday”, begitu katanya seperti meyakinkan hati dan meneguhkan imanku. Tak henti-hentinya aku berkata, Amin Yaa Robbal Alamin sambil melangkah meninggalkan tempat ini.   

  • view 18