Incredible9

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 10 September 2017
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

1.3 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible9

Incredible9

Fatehgarh Sahib

                                Bermalam dirumah Prince seperti bermalam dirumah keluarga harmoni. Kedua orang tua Prince berlatar belakang sebagai pendidik. Dua-duanya adalah pensiunan guru sekolah negeri yang kini masih aktif mengajar disekolah swasta. Mama Prince adalah seorang kepala sekolah di sebuah sekolah menengah atas sedangkan papa adalah seorang dosen. Bahkan Cinu, adik Prince juga seorang guru, hanya Prince yang tidak mau menjadi guru, cukup tiga orang saja yang menjadi guru, begitu katanya.

 Suatu malam seusai menunaikan shalat isha, papa mengajak aku berbincang-bincang. Dengan bahasa Inggris yang tidak terlalu lancar dan kurang jelas aku agak susah menangkap apa yang ia tanyakan. Tapi “diskusi” ini menarik karena dia banyak menanyakan aku tentang Islam. Pertanyaan pertama adalah apakah aku Sunni atau Syiah? Pertanyaan kedua apa saja isi rukun Islam dan Rukun Iman? Pertanyaan ketiga, berapa kali aku shalat dalam sehari dan shalat apa saja?. Aku sedikit kewalahan dicecar pertanyaan-pertanyaan itu, namun sesungguhnya itu seperti mengetes “keislamanku” sendiri.

 Sejujurnya aku agak sedikit linglung dengan jawaban-jawabanku terutama tentang Rukun Iman, rasanya aku terbalik-balik menjawabnya. Dari situ papa malah lebih banyak bertanya, berapa banyak nabi yang wajib diketahui dalam agama Islam, apa bunyi syahadat, mengapa mengenakan hijab hingga pertanyaan paling sensasional, mengapa Islam memperbolehkan poligami? Ampun papa, aku seperti menjerit dalam hatiku.

 Belum selesai sampai disitu, papa juga bertanya apakah aku bisa bahasa Arab? Akupun menjawab bahwa aku (dan umumnya orang Indonesia) mempelajari bahasa Arab untuk keperluan shalat dan membaca Al-Qur’an, tidak sampai ke level-level percakapan, dialogue, apalagi sastra Arab hehehe. Papa rupanya “curious” tentang agama Islam, sampai-sampai dia ingin tahu seperti apa huruf Arab dan bagaimana aku membacanya. Untungnya aku membawa buku kecil “Kumpulan Juz 28,29,30” dan aku menunjukkannya kepada beliau.

 Aku membukanya dan membaca Al-Fatihah dihadapan dia, dia manggut-manggut dan khusuk mendengarkan aku. Usai itu aku berniat “kabur”, tapi papa malah berkata lain, “Now, tell me the meaning”. Hadeuh, sekarang bukan ampun lagi tapi aku berharap bahwa salah satu handphone kami berdering dan diskusi dinyatakan usai, bukan apa-apa rasanya pengetahuan agama ku amat sangat limited dan papa adalah seorang professor, seketika aku dihinggapi ketakutan bahwa apa yang aku katakan tidak sesuai dengan pengertian yang sebenarnya, terlebih ini adalah masalah agama. Seketika handphone nya berdering, yeah… aku bersorak dalam hati tapi dia malah mematikannya dan meminta aku tetap duduk karena dia masuk ke kamar dan membawa sebuah buku.

 “Do you know Urdu?” aku menggeleng, aku memang pernah mendengar bahwa bahasa Urdu hampir mirip seperti bahasa Arab. “This is the book of Urdu”, katanya sambil membuka halaman-halaman buku tersebut, dan tanpa diminta dia memberikan “kursus singkat Urdu” kepadaku. Aku seketika bertanya-tanya, mengapa papa bisa bahasa Urdu? Jawabannya aku ketahui setelah “diskusi” kami berakhir. Aku pamit dan papa merelakan aku pergi setelah sebelumnya dia meminta aku menuliskan huruf-huruf hijaiyah di buku Urdu nya.

 “You look so serious talking with Papa”, Ha berkomentar ketika aku masuk kamar. Prince yang duduk bersama kami hanya tersenyum dan berkata bahwa tentu saja papa serius berbicara dengan aku secara dia mengambil gelar doktornya untuk kajian agama Islam. Tuh kan bener, pasti tadi doi cuman ngetes aku, arghhhhhhhhhhhhh entah berapa nilai yang dia berikan untuk aku.

               Minggu pagi ini kami breakfast bersama dengan menu aloo prantha dan tentu saja susu murni hasil kerbau sendiri. Ada yang menarik yang aku amati pagi ini. Keluarga Prince mempunyai pembantu rumah tangga yang bertugas bersih-bersih dan memasak. Pagi ini setelah selesai tugasnya memasak sang mba dengan tenang juga menikmati sarapan pagi nya di meja makan yang terletak di ruang tamu, bukan di dapur atau ditempat terpencil yang biasanya dikhususkan untuk pembantu rumah tangga. Inikah arti dari semboyan “Sikh has no caste”, seperti yang pernah aku baca disalah satu gurudwara yang aku datangi?

Pernah satu kali dalam Spoken English Class aku membawakan tema agama yang ada di India, Amitoj, begitu nama salah satu murid yang “berjambul kain putih” sebagai symbol bahwa dia seorang Sikh, mengatakan bahwa tak ada perbedaan dalam agama Sikh dalam hal apapun termasuk dalam beribadah, semua sama, perempuan dan laki-laki, miskin dan kaya, dan mereka tidak mengenal system kasta seperti umat Hindu. Mungkin pemandangan mba yang makan dengan lahap dimeja majikannya tak akan aku temui dirumah umat Hindu atau mungkin dikediaman keluarga di Indonesia sendiri.

 Setelah selesai sarapan, keluarga Prince berencana akan mengajak kami mengunjungi salah satu gurudwara yang cukup besar dan bersejarah. Kami hanya manut-manut saja, aku sebenarnya tidak terlalu excited karena melihat gurudwara sudah bukan pengalaman pertama kali (lagi) bagi aku dan Ha, tapi jika dibilang bersejarah rasanya aku menjadi tertarik dan pasti ada yang menarik untuk disimak, maklum aku pribadi adalah penyuka pelajaran ini.

 Fatehgarh Sahib, begitulah nama gurudwara tersebut. Adapun nama gurudwara tersebut diambil dari salah satu putra Guru Gobind Singh yang bernama Fateh Singh. Gurudwara ini memang salah satu gurudwara yang banyak di ziarahi umat Sikh selain Golden Temple dan Anandpur Sahib. Mengapa gurudwara ini begitu popular sampai-sampai jika orang lewat didepan gurudwara tersebut, bahkan meskipun dia mengendarai mobilnya, mereka akan berhenti sebentar dan menangkupkan tangannya didepan dada sebagai tanda penghormatan.

 Gurudwara ini memang cukup besar bahkan kubahnyapun terbuat dari emas, banyak peziarah yang berdatangan silih berganti. Didepan disediakan tempat penitipan sandal/sepatu seperti halnya dimesjid. Dan air untuk mencuci kaki dan tangan mengalir dengan tenangnya. begitu dingin selain karena juga masih winter. Papa dengan setia mengumpulkan sandal dan sepatu kami untuk kemudian dititipkan. Kini aku mulai familiar dengan isi gurudwara. Disini lebih banyak umat yang menghabiskan waktu untuk duduk dan membaca sang kitab suci. Setelah dirasa cukup, keluarga Prince mengajak aku dan Ha menuruni anak tangga yang tak kalah ramainya dikunjungi para peziarah. Agak sedikit berdesak-desakan untuk masuk kedalam tapi aku masih belum menemukan “keistimewaan” gurudwara ini hingga aku membaca tulisan besar-besar yang terpampang persis didepan pintu masuk, itupun agak susah payah untukku mengambil gambar ini.

 Lebih jauh masuk kedalam suasana dipenuhi dengan haru biru, tampak para peziarah larut dalam suasana. Aku melihat dua kuburan yang ditata dengan rapi dan ditutupi kain berwarna pink. Dikiri dan kanan kuburan tersebut aku melihat dua orang membaca dengan khusu Guru Grant Sahib, kitab suci umat Sikh. Prince dan Cinu kulihat juga ikut larut terharu dan memanjatkan doa hingga aku tak berani bertanya ini dan itu. Seperti halnya umat muslim yang biasanya berziarah, disini juga kutemukan mereka membaca ayat-ayat suci disekeliling dua kuburan tersebut.

 Setelah mengitari kompleks pemakaman, aku langsung bertanya pada Prince, mengapa kedua putra Guru Gobind Singh itu dikubur hidup-hidup padahal usia mereka masih muda belia. “I’ll tell you later”, katanya sambil mengarah ke pintu keluar. Aku dan Ha membuntuti keluarga ini yang ternyata mengarah ke langer, alias free kitchen, artinya makan siang. Nama langer pun diambil dari nama sang ibu dua anak yang mati syahid tersebut yaitu “Langer Mata Gujri Ji”. Sambil mengunyah makan siangnya Prince bercerita alkisah asal muasal pendirian tempat bersejarah tersebut.

 Seperti yang tertera di pintu masuk bahwa hal ini terjadi sekitar abad ke tujuh belas saat Mughal Empire berkuasa di India. Meskipun seperti menelan pil pahit yang artinya tidak terlalu mengenakkan untuk dikunyah atau ditelan, kulihat diwajah Prince seperti orang gundah gulana, maklumlah ini terjadi antara kaum Muslim dan Sikh. Sejarah memang kadang melukai hati siapapun, tak hanya umat Sikh, mungkin aku pribadi merasa sedih mendengarnya ketika Islam disebarkan dengan cara paksa dan keji. Kami saling membisu, Ha yang seorang Buddhist, kulihat hanya mendengarkan saja, tanpa reaksi dan komentar. Hingga mama Prince dan Cinu beranjak dan berkata, “Chalo…” yang artinya mengajak kami menyudahi makan siang kami dan keluar dari area langer. Kini aku mengerti arti dari lukisan-lukisan yang tertempel ditangga masuk dan keluar gurudwara. Gambar dua orang anak laki-laki yang masuk kedalam sumur dan ditutupi dengan bata merah dan siap mati syahid demi mempertahankan “ketauhidannya” sebagai umat Sikh. Mereka memilih mati daripada memeluk agama Islam secara paksa. Dalam konteks apapun aku setuju bahwa memaksakan suatu kehendak terlebih masalah aqidah bukanlah hal yang dibenarkan dalam agama apapun.

Tak jauh dari areal gurudwara ada satu tempat yang dijaga oleh pria dengan tongkat setinggi ukuran tinggi badannya, alias lumayan jangkung. Aku yang melongok-longok dari kaca dan meminta izin melihat kedalam tidak diperbolehkannya, dan memang pengunjung hanya bisa mengintip dari kaca pintu saja. Mempertahankan suatu aqidah dan bersedia mati untuk itu ternyata tak hanya dilakukan oleh kedua putra Guru Gobind Singh Ji, tapi juga para Sikh Warrior. Dan disinilah diletakkan abu kremasi dimana 6000 Sikh Warrior mempersembahkan jiwa dan raganya demi mempertahankan agama. Sedih rasanya, jika mengingat kalimat “Lakum Dinukum Waliyaddin”, mungkin hal ini tak akan terjadi. 

Tak hanya berhenti disitu seusai mengunjungi Fatehgarh Sahib, Prince sekeluarga masih mengajak kami mengunjungi salah satu gurudwara yang terletak tak jauh dari Fatehgarh Sahib. Gurudwara nya kecil saja tapi disinilah makin jelas apa yang diceritakan Prince mengenai “pemaksaan” agama yang terjadi di Punjab. Didepan gurudwara terpampang gambar besar-besar yang membuat aku ngilu melihatnya, bahkan aku tak sampai hati mengambil gambarnya. Digambarkan disitu jika seorang Sikh tak mau memeluk Islam, disediakan semacam mesin yang akan membuat mereka meninggal dengan berlumuran darah. Aku membayangkan mesin itu seperti mesin kelapa parut yang biasanya aku temui dipasar-pasar tradisional. Bedanya jika mesin kelapa parut mengeluarkan santan maka ini mengeluarkan merah darah. Gurudwara ini seperti “museum” karena didinding-dinding masih banyak gambar yang memuat “kekejian” peristiwa tersebut. Untunglah keluarga Prince tak terlalu lama berdoa didalam sehingga aku juga terbebas dari gambar-gambar mengerikan itu.  

  • view 37