Incredible8

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 10 September 2017
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

158 Hak Cipta Terlindungi
Incredible8

Incredible8

 Prosesi Pernikahan ala Sikh (Part 3)

Wedding Party,finally… 

                Entah jam berapa pesta tadi malam berakhir. Aku, Ha dan Cinu pulang kerumah sekitar jam sepuluh malam, sedangkan Prince entah jam berapa dia pulang. Cinu mengatakan bahwa pesta tak terbatas dengan waktu. Jika mereka kuat berdiri hingga dini hari bahkan pagi sekalipun pesta akan tetap berlangsung. Tapi para wanita umumnya mengundurkan diri lebih awal karena harus bermakeup dipagi hari hahaha. Maka seperti pagi ini, Cinu sibuk mempersiapkan “dresscode” untuk kami dari koleksi wardrobe nya. Dia memilihkan Punjabi Suit model umbrella berwarna hijau untukku dan Punjabi Suit coklat muda untuk Ha, dia sendiri tampil gergous dengan lehenga-nya. 

Semua sudah siap, termasuk Prince yang “dipaksa” memakai dasi oleh ibunya. Tapi sebelum berangkat ternyata ada sesi “pemotretan” dulu untuk keluarga mempelai pria, kamipun diajaknya kesana. Kini sang mempelai pria sudah tampil gagah dengan baju pengantin dan pedang kebesaran kaum Sikh. Cukup lama juga sesi “pemotretan” ini bahkan saking lamanya orang-orang mulai mengenali bahwa kami berdua adalah “stranger”. Dua orang asing yang “menyamar” dengan memakai Punjabi suit milik Cinu.

 Mereka bertanya kepada Cinu dan kulihat Cinu kerepotan menjelaskan identitas keberadaan kami disini. Hingga tiba-tiba salah satu keluarga Cinu meminta berfoto bersama kami. Tentu saja kami tak keberatan, tapi tebaklah apa yang selanjutnya terjadi teman, setelah itu tak hanya ibu-ibu tapi juga bapak-bapak, anak kecil, tua dan muda, cewek dan cowok ingin berfoto bersama kami. Kami tiba-tiba mendadak menjadi selebritis dadakan yang harus selalu tersenyum ketika dibidik kamera    

 Iring-iringan mobil pengantin pria berjalan meninggalkan rumah dan menuju gurudwara terdekat. Kufikir “akad nikah” akan berlangsung disini, ternyata tidak kawan, disini keluarga mempelai pria hanya akan melaksanakan ibadah memohon blessing, aku tak tahu lagi blessing untuk apa bukankah mereka sudah melaksanakannya dihari pertama mereka akan menggelar hajat, tapi sudahlah semua orang sibuk dengan doanya masing-masing di gurudwara ini, termasuk sang mempelai pria yang sudah tampil keren dengan busana pengantin adat Punjabi.

 Seusai menerima blessing yang ditandai dengan diberikannya “sweet” oleh sang pandit, maka kini iring-iringan menuju marriage palace. Di India, gedung, hall, atau apapun bentuknya, mau besar, sedang ataupun kecil, jika tempat itu diselenggarakan untuk resepsi pernikahan tetap akan disebut “palace”. Sebelum kami mengetahui definisi “palace” di India, suatu hari pernah aku dan Ha terkecoh dengan kata “Green Palace”. Kami mengira itu adalah suatu bangunan bersejarah raja-raja jaman dulu dan layak untuk dikunjungi, tapi ketika kami tiba disana, kami hanya melihat bangunan memanjang persis seperti bangunan Puskesmas di Indonesia yang dicat dengan warna putih dan hijau, dan ternyata itu adalah gedung pernikahan, kami tertawa kecut menyadari “kebodohan” kami waktu itu. Kini setiap mendengar kata palace, aku dan Ha hanya tersenyum-senyum sambil mengingat “Green Palace”.

 Kami sampai dilokasi ketika matahari tepat berada diatas kepala kami, waktu sudah menunjukkan siang hari. Mobil mempelai pria sudah terparkir didepan kami. Baru memasuki area parkir, para waiter berdasi kupu-kupu menyambut kami dengan welcome drink dan spring roll. Stand-stand “snack” India berjejer disana mulai dari golgapa, samosa, dosa hingga pizza. Entah berapa jumlahnya amat sangat tak terhitung, tapi tentu saja yang paling diminati adalah stand baverages. Chai, kopi dan semua jenis softdrink ada disana. Cinu mengajak kami masuk ke indoor dan menawarkan kami untuk breakfast. What??? Jam segini masih dibilang breakfast? Jam sudah berlari dari angka dua belas.

 Aku dan Ha tak berminat untuk makan berat, karena sudah mencoba snack-snack diluar sana. Kami akhirnya keluar dan ngopi. Meskipun belum ada sepasang mempelai pengantin tapi Punjabi hits sudah diputar dan para pria sudah ber-bhangra ria.

 Tiba-tiba Prince menghampiri kami dan menanyakan apakah kami ingin melihat prosesi “akad nikah” ala Sikh? Tentu saja, justru ini yang kami tunggu-tunggu dari kemarin. Aku, Ha dan Cinu bersama paman dan bibi nya masuk kemobil dan menuju gurudwara tempat akan dilaksankannya “akad nikah” tersebut. Tapi sayang seribu kali sayang kawan, kami tidak menemukan gurudwara tersebut. Seperti kehilangan jejak sang paman yang sudah cukup tua tak tahu persis dimana gurudwara tempat “akad nikah” berlangsung. Kamipun pulang kembali ke marriage palace dengan tangan hampa dan sedikit kecewa karena tidak bisa menyaksikan secara lengkap prosesi disyahkannya mereka sebagai pasangan suami istri.

 Untuk menghibur diri Cinu mengajak masuk kedalam ruang resepsi yang kini sudah mulai dipenuhi para undangan yang mulai berdatangan dan tentu saja berbhangra ria. Kini stage bahkan lebih luas dan tak hanya ada sang dj tapi juga para penari bhangra. Aku dan Ha cekikikan melihat kostum para penari tersebut. Terlebih melihat bentuk topi mereka yang menjulang keatas dan membentuk kipas. Ada empat cowok penari bhangra dan dua cewek yang berdancing ria bersama mereka. Ada yang menarik yang aku perhatikan dari panggung itu yaitu, ternyata tradisi “saweran” tidak hanya terjadi di Indonesia, aku melihat pria-pria yang menari bersama dua orang cewek diatas panggung itu memberikan uang lembaran baik secara langsung kepada sang penari maupun menghamburkannya diudara.

 Disisi kiri panggung prasmanan yang membentang hingga pintu masuk sudah berganti dengan menu makan siang. Tak perlu waktu lama para tetamu langsung mengantri, termasuk Cinu, Ha dan tentu saja aku. Sambil mengunyah makanan yang ada dipiring aku menduga-duga berapa ya biaya pernikahan ala Sikh ini? Karena setidaknya mulai dari “syukuran” sampai hari ini mereka menghidangkan makanan mulai dari breakfast, lunch hingga dinner, juga stand stand makanan yang menggoyang lidah, baverages, es krim, dsb… Belum lagi biaya gedung, dj, penari bhangra, ah aku pusing kenapa jadi ngelantur gini. Cinu tiba-tiba memberitahu kami bahwa kedua mempelai akan memasuki gedung dan duduk di singgasana.

 Semua hadirin serentak berdiri. Mempelai memasuki gedung dengan iringan musik yang dibawakan oleh satu pasukan seperti pesta pedang pora. Dan inilah mempelai yang ditunggu-tunggu. Sang pria kini mengenakan turban merah senada dengan warna mempelai wanita. Sang wanita kelihatan “keberatan” dengan gaun yang dipakainya sendiri. Gaun merahnya saja sudah berat ditambah dengan aksesoris bangles dikedua belah tangannya yang nyaris sesiku. Itulah yang dinamakan chura teman, konon kabarnya chura tidak boleh dilepaskan selama enam bulan setelah menikah sebagai tanda bahwa seorang perempuan telah bersuami.

 Jika suami berkehendak dan berkata bahwa dia menyukai sang istri memakai chura maka dia tetap akan mengenakannya, bahkan bisa sampai satu atau dua tahun setelah pernikahan. Bayangkan bagaimana repotnya jika dia tetap mengenakan chura tapi tetap harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga, another complicated of India… Seorang teman bahkan setengah bercanda bahwa ada juga pengantin wanita yang “dibebaskan” dari semua pekerjaan rumah tangga selama dia memakai chura, pekerjaannya hanyalah makan dan tidur. “Wah enak dong kalo gitu”, begitu komentarku, “Yes, you are! but after you take off the chura you’ll be maid for the whole of your life hahahaha”. Jadi pilih yang mana teman? Memakai chura dengan pilihan pertama atau kedua, atau mungkin tidak kedua-duanya hahahaha.

 Well, balik lagi ke resepsi pernikahan, jika di Indonesia biasanya disediakan tempat khusus untuk para tamu memberikan angpau, maka di India tamu akan memberikan angpaunya langsung kepada sang mempelai. Para tetamu dimulai dari keluarga terdekat, tetangga dan teman-teman kedua mempelai akan berbaris rapi dan memberikan blessing juga angpaunya dipelaminan yang hanya dihuni berdua oleh the groom and the bride. Adapun angpau yang diberikan ada yang diberi amplop ada pula yang tidak.

 Selembar kain berwarna pink diletakkan dipangkuan sang mempelai pria untuk menampung angpau-angpau yang diberikan. Jika angpau tidak diberi amplop maka tamu akan memberikannya seperti menghamburkan dikepala mempelai pria hingga uang tersebut berjatuhan dikain berwarna pink tersebut. Ada juga tamu yang memberikan uang yang dibentuk seperti kalung dan “kalung uang” tersebut diletakkan di leher sang mempelai pria.

Waktu menunjukkan jam 15.00 ketika kami pulang dan beristirahat kembali ke rumah. Hingga malam berlanjut kami hanya ingin beristirahat meluruskan kaki dan tidur tapi ternyata Cinu mengetuk pintu kamar mengajak kami melihat upacara penyambutan sang menantu di rumah sang mempelai pria. Mungkin kalau di Indonesia ini namanya “ngunduh mantu”. Upacara penyambutan ini dilakukan setelah resepsi di marriage palace selesai, jadi bisa dibayangkan bagaimana capenya pengantin ini, terutama sang mempelai wanita dengan riasan yang (pasti) tebal, baju yang berat, ditambah dengan aksesoris yang menggantung dimana-mana mulai dari hidung, gelang tangan hingga gelang kaki, tapi itulah (mungkin) seni nya menikah hehehehehe…

 Ada yang menarik ketika pertama kali sang mempelai pria memasuki halaman rumahnya. Disana para ipar-ipar sudah berdiri menyambut mereka dan terjadi sedikit “guyonan” dan sedikit “tawar-menawar” sepertinya hingga akhirnya aku melihat sang mempelai pria menyerahkan uang lembaran rupee kepada para ipar yang berjaga dipintu masuk tersebut setelah para ipar menerima uang barulah dia dipersilahkan memasuki halaman rumah. Dari Cinu aku mengetahui kalau “guyonan” tadi tidak sekedar guyonan, lebih jauh dari itu hal ini adalah sebuah symbol bahwa jika laki-laki sudah menikah ketika dia pulang ke rumah dia harus membawa uang untuk mencukupi kebutuhan hidup dia dan sang istri. Hmm, dalem ya bo…

 Dihalaman rumah tersebut sudah disediakan semacam papan untuk kedua mempelai pijaki dan datanglah sang ibu mempelai pria yang artinya sang mertua bagi mempelai wanita. Sang mertua kini sudah memegang semacam teko alumunium yang berisi air dan dedaunan kemudian dia melakukan gerakan seperti memutar-mutar teko tersebut didepan wajah kedua mempelai. Gerakan dilakukan selama tujuh kali, itulah yang dinamakan dengan pani warna, lagi-lagi ini dilakukan sebagai symbol blessing untuk kedua mempelai.

 Sang ibu juga menyuapi kedua mempelai dengan sweet dan setelah itu keduanya dipersilahkan masuk kedalam rumah sebagai tanda bahwa sang menantu sudah “syah”, diterima oleh mertua. Dengan diiringi gendang besar yang ditabuh dan mengeluarkan suara hingar bingar, pengantin diarak memasuki rumah. Selain dengan upacara didepan, didalam rumah beberapa kerabat wanita sudah menari menyambut sang “new comer” dirumah mereka, kemudian para kerabat yang menari tersebut mempersilahkan pengantin wanita untuk menari. Durasi menari tidak terlalu lama karena kemudian kedua mempelai dipersilahkan duduk dilantai yang sudah dialasi dengan karpet dan lagi-lagi sang ibu menyuapi kedua mempelai dengan laddo (salah satu jenis sweets yang bentuknya seperti gulab jamun tapi berwarna kuning).

 Menyuapi laddo pun dilakukan sebanyak tujuh kali, inilah yang dinamakan shagun karna. Setengah bercanda aku berkata pada Cinu, boleh ga ladoo nya diganti ice cream, karena shagun karna juga dilakukan sebanyak tujuh kali, bayangkan saja menggigit “scary” sweets itu sebanyak tujuh kali hiyyyyy, Cinu hanya cekikikan melihat wajah aku. Jam sudah menunjukkan setengah sepuluh tetapi katanya masih ada lagi hal lain yang akan terjadi di rumah sang pengantin ini, semacam games hingga larut malam, tapi aku dan Ha sudah tak kuat menahan kantuk. Kami minta izin pulang dan tidur bersiap dengan apa yang akan dilakukan esok hari.

 Puas sudah kami mengikuti rangkaian upacara pernikahan ala Sikh, setidaknya kami tidak penasaran lagi dengan rumah yang kami anggap “coffee shop” 

  • view 12