Incredible7

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 10 September 2017
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

871 Hak Cipta Terlindungi
Incredible7

Incredible7

 Prosesi Pernikahan ala Sikh (Part 2)

Party is Bhangra Night

                Sebenarnya tak hanya Prince yang menikmati nostalgia masa kecilnya bermain layang-layang. Jauh dilubuk hatiku aku kembali mengingat bahwa dulu aku adalah penjual layang-layang ketika musim itu datang di Indonesia, dan ayahku adalah orang yang membuatnya. Sayang sekali sekarang masa-masa itu sudah berlalu, kuperhatikan anak-anak sekarang lebih senang bermain PS dan sosial media membuat mereka yang hanya berhadapan dengan computer, laptop, notebook, smartphone dan semua benda yang disebut tekhnologi mutakhir bagi sebagian kalangan, tapi di India, kutemukan kembali serpihan masa kecilku dan nostalgia indah dengan ayah tercinta.

 Waktu menunjukkan jam 18.00 ketika semua layang-layang habis dimainkan, berakhir pula “masa kecil” kami. Kini saatnya turun dari rooftop dan mandi. Kira-kira jam setengah sembilan usai makan malam, Cinu sudah berdandan rapi dan mengajak kami untuk bersiap-siap kembali. Siap-siap? Oh, ternyata rangkaian prosesi adat masih berlanjut. Belum sampai kedalam rumah utama, tapi hentakan musik Punjabi sudah terdengar dari kejauhan. Jalanan menuju rumah sang mempelai kini terang benderang berhias lampu kerlap-kerlip seperti coffee shop, seperti yang pernah aku dan Ha lihat sebelumnya.

 Dan lihatlah kawan apa yang kami lihat begitu kami sampai didepan halaman rumah, beberapa orang pria seperti larut dalam kegembiraan menari bhangra. Halaman rumah seketika disulap menjadi seperti dance floor dengan seorang dj didepan mereka dan sorot lampu yang tajam menusuk mata. Malam ini para pria berdandan amat sangat “dandy”. Mereka mengenakan baju terbaiknya untuk hadir dipesta malam ini. Ada yang mengenakan setelan kemeja dan jas yang bernuansa modern tapi ada juga yang yang lebih tradisional dengan kurta pajama mereka, tak ketinggalan turban yang beraneka warna menghiasi kepala para pria ini.

 Cinu mengajak kami masuk kerumah utama, yang terjadi didalam ternyata jauh lebih “meriah” dari yang aku bayangkan. Kibaran dupata warna-warni dari Punjabi suit para wanita Punjab seperti kompak dengan tabuhan alat serupa gendang besar yang begitu memekakan telinga. Ya Mereka menari dalam circle shape mengelilingi seorang wanita yang memanggul jago dikepalanya. Jago adalah sebuah alat berbentuk bulat yang terbuat dari alumunium. Kelihatannya jago itu cukup berat karena diisi dengan air dan bagian atasnya ditutupi dengan benda semacam piring yang juga terbuat dari alumunium dan disanalah terlihat nyala api, seperti lilin-lilin kecil. Konon kabarnya, itulah symbol dari sebuah pernikahan, as a lightning for your life, penerang kehidupan.

 Semua keluarga berkumpul dari generasi paling tua hingga paling muda, mereka menari dengan riang gembira. Aku terkagum-kagum dengan gerakan-gerakan tarian mereka yang serempak, padahal mereka tidak melaksanakan “gladi resik” sebelumnya. Lirikan mata, gerakan tangan, kaki dan tepukan tangan semua serempak dan tak ada cacat ditambah dengan senyum yang mengembang diwajah mereka. Itulah yang dinamakan bholi kawan. Sang “jago” juga ternyata diarak keluar rumah.

 Keluarga yang “punya hajat” akan mampir kerumah-rumah para tetangga, di halaman depan rumah para tetangga disanalah mereka berhenti sejenak dan tetangga yang didatangi akan keluar dan ikut menari bersama mereka. Dengan diiringi tabuhan gendang besar yang makin menggelegar, sang empu hajat terus berkeliling kerumah para tetangga dan akan kembali jika sudah dianggap selesai “mengunjungi” mereka. Jadi semua sudah berakhir? Tentu saja tidak, pesta terlalu dini untuk disudahi, justru inilah awal pesta, lets the party started. Sekembalinya berkeliling memanggul jago, stage dengan dj yang memutar Punjabi hits seluruhnya adalah milik para wanita.

 Para pria menyingkir, seperti memberikan kesempatan kepada para wanita untuk menunjukkan aksinya menari. Lagi-lagi mereka menari serempak bahkan kini mereka mengajak aku dan Ha untuk bergabung. Mereka memberi ruang kepada kami untuk nyemplung dilingkaran para Punjabi girls, mereka mengajari kami menggerakkan kaki, menggoyangkan badan, melirik dengan genit dan tentu saja bertepuk tangan dengan cepat. Gerakan ini cukup susah karena mereka berputar sambil menggerakkan kaki dan bertepuk tangan secara bersamaan dengan ritme yang cepat, kepalaku malah sempat pusing dibuatnya. Inilah yang dinamakan giddha.

 Giddha tak hanya dilakukan secara berkelompok (dalam lingkaran) tapi bisa juga dilakukan secara work in pairs, alias berpasangan. Meskipun sedikit pusing, aku yang kaku dan tak pandai menari begitu menikmati “kursus kilat” ini. Entah berapa lama aku dan Ha “berpartisipasi” dalam event ini hingga kami kelelahan dan duduk dikursi merah yang berderet disamping panggung. Entah berapa lama juga para wanita itu menari hingga kami tak menyadari ketika kini stage berganti dengan para pria berturban yang mengangkat kedua tangan mereka keatas dan menggerakan bahu mereka dengan sangat gembira. Inilah yang disebut bhangra kawan, Punjabi folk dance.

 Dengan mengangkat salah satu atau kedua tangan keatas, tidak perlu jingkrak-jingkrak bahkan kalau kecapean lo tinggal menggerakan jari telunjuk semua sudah senang bahwa engkau menari bhangra. Dj terus memutar Punjabi hits yang akrab ditelinga para tetamu yang ikut ber-bhangra ria. Sesekali mereka bernyanyi dan menyerukan refrain lagu tersebut.

 Jika lagu-lagu Hindi didominasi oleh irama yang mendayu-dayu dan terkesan mellow maka lain halnya dengan Punjabi hits, iramanya menghentak-hentak, rancak dan selalu mengundang orang untuk menggerakan tangannya dan ber-bhangra ria bersama-sama, tak ada kesedihan diwajah mereka, semuanya senang bahkan the groom turun ke dance floor bergabung dengan para tetamu, seolah dia merayakan bachelor party, untuk mengakhiri masa lajangnya ketika esok hari dia resmi menjadi seorang suami.                  

  • view 23