Incredible6

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 10 September 2017
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

1.4 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible6

Incredible6

 February 14, 2013

Sikh Wedding Party 

                February adalah cinta, dan begitu pula India…

 Suatu malam diatas rooftop aku dan Ha memandangi rumah yang kerlap-kerlip dan menyangka itu adalah sebuah coffee shop. Ha yang tergila-gila dengan kopi begitu bahagia dan berencana untuk mendatanginya. Tapi harapan itu buyar ketika Prince, cowok Sikh yang menjadi teman kami, mengatakan bahwa itu bukanlah coffe shop melainkan rumah mempelai/pengantin yang akan melaksanakan pesta pernikahan hahaha. Ternyata baru kutahu bahwa di India, di Punjab khususnya, rumah yang akan melaksanakan pesta pernikahan “disulap” bak coffee shop, menurutku. Lampu warna-warni berkerlap-kerlip menghiasi rumah, mulai dari lantai paling atas (biasanya rumah berlantai dua atau tiga) hingga dinding-dinding rumah paling bawah.     

 Hampir setiap malam kami mendengar “keributan”, berupa nyanyian riang gembira dan musik yang menghentak-hentak. Dan itulah bagian dari pernikahan tersebut. Saking seringnya kami mendengar aku dan Ha berangan-angan menghadiri pesta pernikahan ala India. Jika di Indonesia biasanya pernikahan dilangsungkan setelah Lebaran (entah Idul Fitri ataupun Idul Adha) maka di India Februari adalah bulan yang dipilih untuk mengikat janji sehidup-semati.

 Aku dan Ha pun mencari-cari siapa orang yang bisa mengajak kami kesana. Weekend ini aku tak tahu akan kemana sementara Salma berencana untuk menghabiskan waktunya bersama intern yang lain untuk pergi ke Agra dan Jaipur. Ha tertarik untuk gabung bersama mereka. Sementara aku masih fikir-fikir karena kudengar dari murid kelas 7, jumat ini sekolah akan diliburkan karena ada festival layang-layang atau Basant Panchmi Festival. Akupun exciting untuk merasakannya dan kemungkinan tak akan bergabung bersama Ha dan Salma juga intern lain untuk pergi ke Agra dan Jaipur.

 Suatu malam Prince berkata bahwa minggu ini dia harus pulang ke kampung halamannya untuk menghadiri sebuah pesta pernikahan. Akupun langsung “mendaftarkan diri” untuk ikut bersamanya. Gayung bersambut, dia dengan senang hati akan membawaku kesana bahkan menawarkan untuk menginap dirumahnya supaya bisa melihat keseluruhan prosesi pernikahan. Berhubung dia adalah seorang Sikh, maka pesta pernikahan yang akan aku lihat nantinya adalah Wedding Sikh. Yuhu… aku bersorak gembira, akhirnya kesampean juga lihat pesta pernikahan India. Tak hanya pesta pernikahan akupun bisa merayakan Basant panchmi disana, yeah… double happiness…

 “Most probably I won’t join with you to go to Agra”, kataku pada Ha ketika dia menanyakan akan kemana aku minggu ini. Dia begitu terkejut dan menanyakan mengapa aku tak mau pergi ke Agra. Kukemukakan alasanku bahwa, ke Agra bisa dilakukan nanti, toh aku masih banyak waktu, tapi Basant Pachmi hanya satu tahun sekali dan aku tak mau melewatkannya. Akupun mengutarakan planningku untuk pergi kekampung halaman Prince, melihat pernikahan ala India dan merayakan Basant Panchmi disana. Dan lihatlah apa reaksi Ha ketika mengetahui planningku. Ia mengubah rencananya yang tadinya akan pergi bersama Salma menjadi pergi bersamaku.

 Hari yang ditunggu tiba, tgl 14 February kami berangkat ke rumah Prince di Mandi Gobingarh. Mandi Gobingarh adalah kawasan industri di Punjab. Seperti layaknya kawasan industri maka yang aku lihat sepanjang perjalanan adalah para karyawan yang berlalu-lalang, tapi yang menarik perhatianku adalah kendaraan para karyawan tersebut. Mereka mengayuh sepeda tua semacam sepeda ontel sebagai pengganti motor dan menenteng “rantang” untuk bekal makan siang mereka. So traditional…

 Jam sepuluh kami tiba ditempat tujuan, teman Prince datang menjemput kami disana. Tibalah kami didepan disebuah rumah besar bertuliskan DR.K.S.Kalsi.Phd. Kami disambut oleh seorang perempuan berkulit putih dan berambut panjang, dialah Cinu, adik Prince. Jika Prince berperawakan tinggi besar dan berkulit mengarah ke coklat legam, maka Cinu sungguh kebalikannya. Chai dan cookies menyambut kedatangan kami. Kulihat dia sibuk mondar-mandir, entah apa yang sedang dipersiapkan, hingga tiba-tiba dia menghampiri kami dan “menyuruh” kami dress up. Hohoho, ternyata prosesi menjelang pernikahan akan segera digelar. Dan kamipun bersemangat. Cinu dengan sigap mengajak kami melihat-lihat koleksi Punjabi Suit nya. Sehari sebelumnya kami memang kebingungan dengan dresscode yang akan kami kenakan dan Prince memberi ide untuk mengenakan koleksi Punjabi Suit milik Cinu.

 Cinu memilihkan suit berwarna pink untuk aku dan hijau untuk Ha. Aku yang tidak terlalu pe-de dengan warna pink agak ragu-ragu mengenakannya, tapi Cinu berkata lain. “This pink suit will look good on you”, begitu katanya seolah meyakinkan aku. Tak hanya kufikir bahwa pink suit terlalu girly untuk ku tapi juga lihatlah dupata yang menjadi pelengkap suit ini. Suit yang akan aku kenakan memang lebih fancy ketimbang Ha yang lebih simple dan aku merasa seperti Syahrini dengan abaya renda yang sempat menjadi trend di Indonesia. Dengan pertimbangan bahwa objektivitas lebih penting dari pada subjektivitas maka akupun mulai mengenakannya.

 Jika Cinu sudah meyakinkan aku dengan pink suitnya, kini dia menyarankan aku untuk menggantikan jilbabku dengan dupata “abaya renda” nya. Tapi rasanya tak mungkin aku “melepaskan” jilbabku dan akupun mengutarakannya pada Cinu. Dia dengan segala kesabarannya bahkan menawarkan bantuannya. “Let me manage your veil”, begitu ujarnya, meskipun aku tidak “terlalu setuju” dengan model jilbab yang dia coba aplikasikan tapi aku menerima dengan senang hati sebagai tanda bahwa aku menghargai “karya” nya.

 

Prosesi Pernikahan ala Sikh (Part 1)

“Syukuran” ala Sikh

                Teman Prince adalah mempelai pria sehingga kami menyaksikan prosesi pernikahan dari sudut mempelai laki-laki. Letak rumahnya pun tak jauh dari rumah Prince, hanya berjarak lima menit. Setelah dress up lengkap dengan Punjabi suit, aku, Ha, Cinu dan mama Prince beranjak meninggalkan rumah. Sebelum beranjak Cinu membekali aku dan Ha uang lembaran rupee, aku dan Ha yang tidak mengerti mau diapakan hanya menuruti apa yang Cinu perintahkan. “When you arrive there follow what I do, okay”, begitu katanya sambil memberi aba-aba kepada Ha untuk memakaikan dupata diatas kepalanya.

 Sesampainya disana suasana rumah sudah ramai, tenda bernuansa pink bunga-bunga menghiasi halaman rumah tak lupa pula dengan berbagai hidangan prasmanan yang sudah tertata rapi. Tapi jangan harap menemukan ikan atau daging ya, semua yang terhidang adalah menu vegetarian. Tak hanya hidangan utama, hidangan appetaizer dan dessert pun tersedia dengan lengkap mulai dari beraneka macam sweets hingga ice cream menunggu berpindah tempat dari pinggan-pinggan besar menuju perut para tetamu. Tamu yang diundang hari ini adalah kerabat keluarga dan para tetangga.

 Setelah perut kenyang terisi makanan vegetarian tersebut Cinu mengajak kami menuju lantai atas rumah sang mempelai pria. Lamat-lamat terdengar alunan seperti nyanyian. Cinu berdiri didepan dan kami membuntutinya dari belakang. Di rooftop ternyata sudah berkumpul orang-orang yang duduk bersila, kebanyakan ibu-ibu. Kini, aku tahu fungsi rooftop bagi masyarakat India. Ternyata halaman luas yang terletak paling atas disetiap rumah tersebut berfungsi sebagai temapat untuk menyelenggarakan special occasion, salah satunya upacara pernikahan.

 Rupanya darisanalah suara alunan nyanyian itu berasal. Yang kulihat pertama kali adalah sekelompok orang yang membawakan nyanyian yang diiringi musik tradisional dengan alat musik berbentuk akordeon dan sitar, para pemain musik maupun “penyanyi” nya duduk bersila menghadap para ibu-ibu yang berkumpul. Sejajar dengan para pemain musik kulihat seorang pria tua duduk disuatu tempat yang cukup tinggi, semacam altar dan mengibas-ngibaskan alat seperti alat dari tali rafia, seperti pedagang makanan yang mengusir lalat agar tidak menghampiri dagangannya. Tapi benda apa sich dihadapan pria tua itu. Berukuran persegi panjang dan tertutup kain berwarna emas.  

 Kami meniru semua yang Cinu lakukan. Memasuki area rooftop kami berjalan didepan altar menangkupkan kedua belah tangan dan menyimpan uang rupee lembaran yang Cinu berikan kemudian bersujud. Dan setelah itu bergabung dengan ibu-ibu yang aku ceritakan sebelumnya. Entah berapa lama kami menunggu, karena setelah semua berkumpul (termasuk sang mempelai pria) acara barulah dimulai. OMG, jadi ini dia “the groom” yang kami tunggu-tunggu. Berpostur tinggi yang kutaksir kira-kira 180 cm dan ehem, cakep hehehehe.

 Hasil “penelitian” amatiranku, mengatakan bahwa rata-rata orang Sikh emang cakep-cakep, mereka berpostur tinggi dan berhidung mancung. Mungkin sumbernya berasal dari guru ke sepuluh mereka yaitu Guru Gobind Singh. Di bandingkan  dengan sembilan guru yang lain dalam agama Sikh, Guru Gobind Sing memang digambarkan lebih “energetic”. Lihatlah gambar-gambar dia yang bertebaran dimana-mana, dia digambarkan dengan “cool”, mulai dari baju yang dipakainya, kuda serta pedang panjang yang akhirnya menjadi salah satu aksesoris wajib bagi para mempelai pria di hari pernikahan mereka. 

Anyway, aku masih memperhatikan the groom dan mereka-reka nasib dia jika dia datang ke Indonesia. Mungkin kalau di Indonesia, dia tinggal menanggalkan turbannya dan pasti banyak agency modeling yang akan menawarinya melenggang diatas catwalk ataupun iklan-iklan minuman berenergi, perfume dan segala macam yang menggambarkan bentuk badan yang six pack. Aku yang tersenyum-senyum sendiri tersadar ketika suasana hening sejenak dan pria tua yang memainkan musik tadi seperti memberi ceramah, siraman rohani atau kultum, aku tak tahu kata yang tepat untuk mendeskripsikannya.

 Aku merasa seperti menghadiri pengajian bulanan yang digelar ibu-ibu karena kulihat semua hadirin mendengarkan dengan seksama. Ternyata selama acara ini berlangsung para perempuan diwajibkan menutup kepalanya dengan dupata mereka, benar-benar seperti pengajian bulanan jadinya, dan aku tertawa geli melihat wajah Ha yang seketika menjadi “muslimah dadakan” dengan Punjabi Suit yang berlengan sesiku dan dupata yang menutupi kepalanya.

 Setelah “siraman rohani” selesai, semua hadirin berdiri. Kali ini maju kedepan seorang bapak yang lebih tua tapi masih terlihat gagah dan kukira dia adalah “imam” yang akan memimpin upacara selanjutnya. Jika sebelumnya aku merasa seperti menghadiri pengajian bulanan, maka sekarang aku merasa seperti menjadi makmum shalat berjamaah. Dengan tidak bermaksud menyama-nyamakan antara Sikh dan Muslim, tapi aku semakin dekat pada kenyataan bahwa ada kemiripan antara keduanya. Aku masih ingat betul ketika acara “discovering Ropar” bersama Ha, sebelum memasuki gurudwara kita harus mencuci tangan dan mencuci kaki, kemudian bersujud dan sekarang dihadapanku seorang “imam” berdiri tunggal didepan seolah memimpin shalat berjamaah, dan aku adalah salah satu makmumnya. Dengan turban dan pakaian serba putih dia kini kulihat mirip salah satu wali dari kesembilan wali (Wali Sanga) yang kita kenal. Sekarang para “makmum” terlihat lebih khusuk karena selain berdiri, menangkupkan tangan didepan mata mereka juga memejamkan matanya seolah benar-benar meresapi apa yang disabdakan oleh sang imam.

Setelah rangkaian “doa” selesai hadirin kemudian dipersilahkan duduk kembali, dan kulihat para “imam” ini tidak lagi terlibat dalam hal-hal yang terjadi kemudian. Sama seperti halnya di Indonesia, ternyata dalam upacara adat Sikh juga diperlihatkan “kemampuan materi” sang mempelai pria untuk menikah. Diperlihatkanlah barang-barang yang akan dipersembahkan untuk sang mempelai wanita mulai dari perabotan rumah tangga, selimut, tivi plasma dan tetek bengek yang lainnya. Selain itu juga diperlihatkan bukti keluarga memberi restu kepada mempelai pria untuk menikah dan mensupportnya dengan beberapa hadiah yang diberikan kepada sang mempelai mulai dari cenderamata/hadiah hingga uang.

 Satu persatu keluarga memberikan restu dan hadiahnya. Kini sang mempelai seperti “berulang tahun” karena dia dikelilingi banyak hadiah. Dan puncaknya tentu saja restu dari kedua orang tua, terutama sang ibu. Sang ibu akan menyuapi sang putra dengan “ladoo”, salah satu jenis sweets yang tentu saja manisnya setengah mati. Rangkaian upacara berakhir dengan photo session, tapi tunggu dulu, ada hal yang mencuri perhatianku yaitu, setelah semuanya selesai tibalah benda yang aku ingin tahu itu diangkat. Ya, benda yang dikipas-kipasi oleh bapak setengah tua yang duduk dialtar yang lebih tinggi itu adalah kitab suci umat Sikh, dialah Guru Granth Sahib. Dibawanya pun tidak sembarangan, yaitu dengan cara dipanggul diatas kepala dan tetap dikipas-kipasi.

 Prosesi dinyatakan selesai, yang tersisa hanyalah beberapa gelintir keluarga yang masih menunggu giliran untuk photo session. Tiba giliran keluarga Prince dipanggil dan merekapun mengajak kami berdua untuk di foto bersama sang mempelai. Click, one snap is done…     

 

Basant Panchmi

When kite is (much more) important than chocolate

                Upacara adat pernikahan (Part1) selesai jam tiga sore. Kulihat Prince buru-buru meninggalkan arena, dia seperti tampak tak sabar pergi dari tempat acara berlangsung. Mau kemana sich dia? Tapi kami cewek-cewek tidak terlalu perduli dengan dia karena ada Cinu, adiknya, yang bersama kami. Prince menghilang entah kemana, kami bertiga  masih sibuk dengan “sesi pemotretan” dalam Punjabi suit kami. Cinu dengan senang mengabadikan setiap momen yang kami inginkan, benar-benar tuan rumah yang menyenangkan. Tapi sore hari dia harus pamit pergi karena suatu urusan. Kulihat dia menelepon Prince dan sepertinya menyuruh Prince untuk pulang.

 Prince pulang dalam keadaan seperti orang kecapean, bajunya sudah tak rapi lagi seperti waktu di kondangan. Aku dan Ha masih terbengong-bengong melihat dia yang sibuk sendiri mengeluarkan beberapa lembar layangan dari dipan ranjangnya. “Do you want to play kite?” begitu tanyanya kepada kami berdua, dan aku ingat sekarang, bukankah tujuan utama kami selain melihat wedding party kami juga ingin menyaksikan seperti apa yang disebut dengan “Basant Panchmi”.

Basant Panchmi adalah festival layang-layang yang biasanya diperingati setiap tgl 14 February setiap tahunnya. Jika dibelahan dunia lain orang-orang merayakan Valentine Day, maka disini rasanya layang-layang lebih penting daripada coklat dan bunga ros. Why it seems so precious? Bukankah ini cuma sekedar main layang-layang? Tunggu dulu, Basant Panchmi diperingati seperti halnya hari-hari “bersejarah” yang lain, padahal tak ada catatan khusus mengenai hal ini ketika kutanyakan pada orang-orang.

Sekolah-sekolah diliburkan, termasuk sekolahku, para pria yang sudah bekerja pun meminta izin, cuti bahkan tidak masuk kerja dengan sengaja untuk berpartisipasi pada hari ini. Beberapa kantor pemerintahan juga libur meskipun tidak semua, namun yang jelas ini adalah hari special bagi anak laki-laki yang bebas seharian bermain layang-layang semaunya. Mereka sudah mempersiapkan layang-layang dalam jumlah yang tidak sedikit, puluhan bahkan ratusan. Seminggu sebelum Basant Panchmi digelar toko-toko mendisplay layang-layang yang beraneka ragam bentuk dan ukuran. Supaya lebih seru biasanya mereka janjian untuk main layang-layang bersama-sama, mereka, para pria dewasa ini seperti kembali menjadi anak kecil. Mereka bermain tak hanya di rooftop, dijalan raya, rel kereta api, dimana saja yang membuat langit India penuh dengan layang-layang berwarna-warni. Sampai jam berapa acara ini selesai? Unlimited kawan, dimulai dari pagi, siang, sore hingga malam bahkan hingga pagi lagi.

  • view 41