Incredible5

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 10 September 2017
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

1.5 K Hak Cipta Terlindungi
Incredible5

Incredible5

February 11th, 2013

                Cerita kedatanganku ke intern house mengambil jeans dan rok batik membawa aku dan Ha mengetahui bahwa kami akan mendapatkan roommate baru. Dialah Salma, an Egyptian girl. Kami hanya sempat berkenalan selayang pandang dengannya. Dari pertemuan singkat kami, Salma begitu senang bertemu dengan aku yang seorang Indonesia, karena ternyata negara pertama yang menjadi tujuan intershipnya adalah Indonesia, tapi karena satu dan lain hal dia tidak bisa menunaikannya, kemudian India-lah yang menjadi tujuannya. Tiga hari berselang setelah pertemuan kami, maka sampailah Salma di Ropar, dan tebaklah apa yang terjadi ketika aku membawa dia ke kamar yang akan dia diami delapan minggu kedepan.

“Oh No, no,no…” itulah kesan pertamanya.

“I thought intern house is bad, this is even worse”,

begitu ujarnya dengan nada kecewa amat jelas diwajahnya. Hari pertama disiang hari dia menangis, aku sendiri tak melihat kejadiannya karena sedang dikelas, dia sendiri yang bercerita kepadaku. Dan dimalam hari ketika aunty menyediakan makan malam barulah kulihat dia menangis ketika mendapat telepon dari keluarganya. Aku, Ha dan aunty hanya mampu saling memandang dan tak tahu harus berbuat apa.

“Kyo???”, ujar aunty dalam bahasa Punjabi yang artinya kurang lebih menanyakan mengapa dia menangis. Ha dan aku hanya terdiam, tak tahu harus menjawab apa hingga akhirnya aunty ngeloyor pergi, meninggalkan kami bertiga.

Cukup lama Salma berbicara ditelepon, aku dan Ha yang tidak mengerti bahasa Arab hanya menjadi pendengar setia keluhan Salma ditelepon yang disertai dengan isak tangis. Aku hanya menebak-nebak mungkin Salma bercerita kepada keluarganya tentang semua keadaan kamar kami, toilet dan ketidak adaan fasilitas wifi seperti yang dijanjikan. 

Sebenarnya bukanlah hal yang mudah menerima kenyataan tidak sesuai dengan apa yang tertulis dan mungkin itu lebih tidak mudah bagi Salma. Tapi entah mengapa itu tidak begitu membuat aku dan Ha sampai menangis seperti dia. Kami melaluinya dengan normal saja. Atau mungkin aku pribadi bukanlah berasal dari kalangan “the have” yang ketika melihat situasi ini menjadi “murka”. Aku tak tahu, yang jelas aku dan Ha tidak ada masalah dengan fasilitas yang diberikan, meskipun memang agak sedikit “ngenes” jika aku ceritakan dimana letak kamar kami berada. Kamar kami sebenarnya bukanlah “kamar sungguhan”.

Kamar kami adalah adalah kelas yang disulap jadi kamar. Bahkan dikamar kami masih ada papan tulis hitam, lampu neon yang tertempel didinding dan gambar Mickey Mouse yang sedang bermain bola. Ruangan ini menjadi kamar karena kemudian dilengkapi dengan gorden yang alakadarnya. Jika kami membuka pintu kamar, maka yang ada dihadapan kami adalah ruangan kelas empat, yang jumlah anaknya kuceritakan diawal dua kali lipat jumlah anak kelas lain, sehingga jikapun kami istirahat siang, kelas tersebut ributnya minta ampun.

Ayah dan ibu Salma adalah pasangan dokter yang bekerja untuk salah satu rumahsakit besar di Saudi Arabia. Dari ceritanya, dia dan keluarganya bisa dengan mudah melaksanakan haji dan umrah ditanah suci Mekkah. Hanya perlu dua jam bagi Salma jika ingin pulang-pergi Cairo – Mekkah. Latar belakang keluarganya yang dokter membuat dia selalu melihat segala sesuatu dari segi kebersihan. Aku ingat betul, ketika pertama kali dia kebelet pipis, masuk ke kamar mandi dan tak lama keluar lagi. Aku langsung memberikan tisu basah kepadanya, dengan sedikit tersenyum dia kembali lagi masuk ke kamar mandi. Apakah dia akan menyukai India, Ropar tepatnya? Masih menjadi pertanyaan besar bagiku karena dia akan melalui semua hal ini dalam dua bulan kedepan.

  • view 33