Incredible4

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 10 September 2017
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

262 Hak Cipta Terlindungi
Incredible4

Incredible4

February 9th, 2013

Call me Eddy

                Kehadiran Ha sebagai roommate memang memberi warna bagiku. Dia adalah pribadi yang easy going. Banyak perbedaan diantara kami, tapi satu yang kusuka adalah kami sama-sama tak suka dandan sehingga memudahkan kami jika akan pergi kemana-mana. Sudah jadi rahasia umum kalau para kaum hawa membutuhkan waktu untuk merias diri sebelum pergi, tapi tidak dengan kami. Ha hanya membutuhkan waktu untuk cuci muka (terkadang dia tidak mandi hehehehehe) dan menyemprotkan deodorant spray-nya sedangkan aku hanya perlu waktu untuk memakai jilbab dan memoleskan bedak “seadanya” sebagai tanda bahwa aku sudah mandi.

 Selain easy going, dimataku dia adalah pribadi yang berfikir logis dan eksak karena latar belakangnya sebagai mahasiswa jurusan ekonomi. Tak hanya itu, dia adalah seorang artist, diwaktu luang sepulang jam sekolah berakhir dia akan memainkan ukulele nya dan bernyanyi dengan riang, terkadang dia menggambar karikatur lucu-lucu. Berada disampingnya seolah selalu mendapat energy positive, ide-ide baru untuk mengajar dan berdiskusi tentang apa saja, termasuk tentang seorang cowok yang baru dikenalnya di Delhi.

Cerita perjalanannya hingga sampai Ropar memang jauh berbeda dengan aku. Tidak ada local committee yang menjemputnya di airport sehingga dia harus struggling menuju Chandigarh. Ketika sedang keluar bandara dia berkenalan dengan cowok India bernama Eddy. Eddy tidak sendiri, ada dua teman yang bersama dia yaitu Navjot dan Deep. Betapa beraninya dia, karena jika itu terjadi dengan aku, pasti aku tak berani pergi dengan orang yang baru saja dikenal beberapa menit dibandara, maklum isu tentang pemerkosaan terhadap wanita adalah isu yang sedang hangat-hangatnya di India. Peristiwa pemerkosaan yang terjadi pada Desember 2012 ini bahkan menjadi isu internasional. Sang  mahasiswi yang diperkosa dan dianiaya oleh sekelompok laki-laki ditinggalkan dipinggir jalan tanpa ada satu orangpun yang menolong! Terjadi gelombang protes besar-besaran di India tapi itu tidak merubah keadaan karena akhirnya sang mahasiswi korban pemerkosaan dilarikan ke rumah sakit Singapura dan akhirnya meninggal dunia.

Dan entah apa maksudnya, Eddy cs justru membawa Ha menuju Ludhiana, tempat asalnya. Dari Ludhiana, Ha meneruskan sendiri perjalanannya ke Chandigarh. Alhasil, Ha datang ke Chandigarh dini hari sekitar jam setengah dua dan harus berusaha mencari hotel untuk menginap malam itu. Meskipun tidak terjadi apa-apa bahkan mereka berteman baik, aku masih tidak mengerti mengapa mereka tidak menunjukkan bis arah Chandigarh langsung kepada Ha malah mengajak dia berputar-putar, tapi sudahlah, case close dan aku lihat Ha tidak pernah berfikiran kearah negative tentang perkenalannya dengan Eddy. Yang terjadi setelah itu adalah Eddy rajin menelepon Ha, hanya untuk sekedar menanyakan kabar.

Dari foto-foto yang ditunjukkan Ha, kulihat Eddy adalah cowok yang berusaha tampil sebagai anak gaul, sedangkan dua temannya tampil sederhana dan berturban yang menandakan mereka pasti orang Sikh. Intensitas telepon yang terjadi setiap hari menghasilkan undangan untuk datang ke rumahnya di Raikot, Ludhiana. Ha tampak ragu-ragu menerima undangan itu mengingat jaraknya cukup jauh dan kemungkinan sampai malam hari disana, sedangkan aku sendiri punya rencana ke intern house di Panchkula dan mengambil celana jeans dan rok batikku yang ketinggalan.

 “Come on Irma, come with me”, pintanya ketika dia mengutarakan ingin bertemu Eddy. Setelah kufikir-fikir ada baiknya aku menemani dia toh setelah itu aku bisa ke intern house keesokan harinya. Dia tampak gembira ketika kukatakan okay.

                Sesuai rencana kami pergi ke Ludhiana seusai jam mengajar. Dari sekolah menuju bus stand kami menggunakan rikhsaw. Ini adalah pengalaman kami naik rikhsaw, tak tega rasanya melihat bapak tua ini menarik kami berdua dijalanan yang kadang berlubang, tapi tak ada kendaraan lain jika kami ingin menuju bus stand. Inilah perjalanan perdana kami menggunakan kendaraan umum di India khususnya rikshaw dan bis.

 Ada yang menarik mengenai bis di India, ketika kami ingin duduk didepan tepat disebelah sang sopir, sang sopir tampak marah dan menyuruh kami pindah ke belakang, kenapa sih? Duduk disebelah sopir adalah langkah preventif dari nyasar, dan dengan kecewa kami pindah ke bangku paling depan tepat sebelah pintu masuk. Ingin tahu kenapa sang sopir tidak mengijinkan kami duduk disebelahnya? Nanti akan aku ceritakan jika sudah kutemukan jawabannya dikemudian hari.

 Sisi lain dari Ha adalah dia pelor, dia bisa dengan mudah dan tidur dengan cepat, anytime and anywhere, termasuk di bis ini. Aku yang baru pertama kali naik bis India dibuat tersenyum-senyum sama kondektur bis. Di India, sang kondektur dilengkapi dengan tiga peralatan “perang” yaitu tas hitam berbentuk persegi panjang, whistle dan alat pembayaran berbentuk mesin gesek atm/kartu kredit yang biasanya bisa kita jumpai di took-toko. Ketiga “alat wajib” ini tentu mempunyai fungsi masing-masing.

 Tas hitam berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan uang baik uang receh maupun lembaran. Jika sang kondektur tidak dilengkapi dengan “mesin gesek” maka tas ini juga berfungsi untuk menyimpan tiket. Bentuk tiket juga ada dua macam, ada yang ditulis manual dan ada yang sudah di print. Jika jenis tiket adalah print, maka sang kondektur tinggal membolongi sisi kiri/kanan sebagai bukti bahwa tiket sudah terjual. Jenis tiket yang “keren” tentu saja tiket yang diketik di “mesin gesek” itu. Sang kondektur tinggal bertanya arah tujuan, mengetik dan tercetaklah struk tiket tersebut. Jadi dia tidak repot-repot menulis (jika tiket manual) atau membolongi (jika print tiket). Baru aku tahu, di India naik bis apapun (mau AC ataupun odong-odong, kecuali autorickshaw) kita pasti mempunyai tiket!

 Peralatan yang terakhir adalah “whistle”, untuk apa sih dia bawa-bawa priwitan segala? Ooo, ternyata pluit itu berfungsi ganda sebagai alat untuk memberi tahu sang sopir jika ada yang penumpang yang berhenti dan jika sang sopir ingin memarkirkan kendaraan. Jadi untuk para abang parkir yang bermimpi bisa “go international” jadi tukang parkir di India, maka lowongan itu tidak akan pernah ada disini hehehehehe.  

 Tak terasa tiga jam berlalu sudah, bis yang membawa kami akhirnya tiba disebuah kota yang bernama Ludhiana. Waktu menunjukkan jam setengah tujuh ketika semua penumpang turun di bus stand yang cukup luas tapi remang-remang. Tak tahu persis dimana Eddy akan menjemput kami hingga sebuah suara berat mengejutkan aku dan Ha. Hmm, jadi ini cowok yang bernama Eddy? Tidak terlalu tinggi untuk ukuran cowok, perutnya agak buncit, berjambang dan “bermutu” alias bermuka tua padahal dia baru selesai kuliah ditahun pertama.

 Mengenakan kemeja garis-garis hitam putih, Eddy membawa kami menuju mobil putihnya. Dari Ludhiana, mobil bergerak menuju arah Raikot, tempat dimana rumah Eddy berada. Sambil memacu kendaraan dengan kecepatan cukup tinggi, dia mengajak aku dan Ha ngobrol. Tak hanya kecepatan yang tinggi diapun memutar Punjabi song dengan volume yang memekakan telinga. Diluar sana jalanan gelap gulita, dan Eddy dengan bangga mengatakan bahwa dia adalah driver yang handal karena bisa mengendarai mobil putihnya dengan kecepatan tinggi ditengah suasana ini.

 Dari hasil obrolan sepanjang jalan barulah kuketahui kalau dia akan meneruskan kuliahnya di Lithuania, bersama dengan dua orang sahabatnya yang aku sebutkan diawal. Mobil terus melaju melalui jalan-jalan besar hingga masuk ke sebuah gang yang ukurannya hanya cukup untuk satu mobil hingga kami tiba didepan sebuah rumah dengan gerbang hitam dan putih.

 Seorang wanita berambut pendek membukakan pintu gerbang dan menyambut kami dengan ramah. Dialah mama Eddy. Mama Eddy langsung membawa kami menuju ruang tamu. Rumah Eddy cukup besar dan “berliku-liku”. Jika diawal aku ceritakan bahwa rumah di India biasanya dilengkapi dengan double door, maka rumah Eddy lebih gila “pintu”. Satu pintu untuk satu setiap ruangan, aje gile…

 Dimeja sudah terhidang chai dan sweets, berupa-rupa sweets ada disana. Mama Eddy tampak sibuk menawari kami untuk mencicipi setiap sweets. Ha yang mulai keranjingan dengan panjiri, terlihat begitu bersemangat mencicipi jenis sweets tersebut. Percakapan kami terhenti ketika Eddy memperkenalkan seorang pria yang berpenampilan dandy. Berpakaian rapi dengan setelan kemeja dan vest berwarna krem, celana panjang amat sangat rapi dan sepatu fantofel hitam yang mengkilat. Rambutnya tak kalah rapi dengan bajunya, dialah ayah Eddy yang biasa dipanggil Papa. Papa dan mama Eddy bisa berbahasa Inggris, walaupun pasif dan kadang ga nyambung.

 Keluarga Eddy adalah keluarga yang well educated. Mamanya seorang dekan disebuah universitas di Ludhiana sedangkan papa adalah seorang pensiunan. Dua saudara papanya tinggal di Canada dan Inggris, papa sendiri emoh meninggalkan India, “I love India, India is a beautiful country”, begitu katanya ketika kutanya mengapa papa tak mau tinggal di luar negeri. Selain well educated keluarga Eddy juga open minded.

 Sehari sebelum mengunjungi Eddy, aku membaca di koran bahwa tidaklah mudah bagi keluarga di India melepas anak perempuan ke luar negeri, tapi tidak demikian dengan keluarga ini. Dua kakak perempuan Eddy tinggal di luar negeri yaitu Canada dan Melbourne, Australia. Bahkan kakak Eddy yang pertama meraih gelar double master dari dua disiplin ilmu yang berbeda. Eddy sendiri berencana untuk mengambil sekolah hukum dan ingin jadi lawyer kelak.

 Jika Eddy study di Lithuania, maka yang tersisa dari keluarga ini adalah dua orang yang sudah tua melewati hari-harinya, terutama Papa karena dia sudah pensiun, pasti mereka kesepian, tapi ternyata anggapanku salah, setidaknya itu yang terucap dari mulut Papa. “I’m not lonely, I have many friends and Gagan will have a better future if he goes abroad”. Hohoho, jadi nama asli Eddy adalah Gagan toh?

 Ngobrol-ngobrol diteruskan dengan touring de house, dikemudian hari ternyata aku tahu bahwa salah satu kegiatan jika kita bertamu dikeluarga India, mereka akan dengan bangga memperlihatkan semua sudut rumahnya. Tak hanya menunjukkan sudut-sudut rumah, mama Eddy juga menunjukkan beberapa piala, sertifikat, medali dan benda-benda yang terkait dengan Eddy’s achievement baik dibidang academic maupun sports. Terakhir dia menunjukkan kepada aku dan Ha tiga koper ukuran besar-besar untuk persiapan Eddy ke Lithuania. “This is Gagan’s luggage for going to Lithuania”.

 Eddy dengan bangga mengekor dibelakang mamanya dan mengangguk-ngangguk tanda setuju dengan semua perkataan mamanya. Hari sudah semakin larut, aku sudah terkantuk-kantuk ketika keluarga ini masih meneruskan cerita-cerita keluarga mereka. Eddy tampak beberapa kali keberatan namanya disebut dengan nama sebenarnya yaitu Gagan padahal di kamarnya tertempel namanya besar-besar yaitu “Gagan Gaurav Sharma”, kamipun memanggil dia dengan sebutan “Gagan” seperti kedua orang tuanya memanggil dia, tapi kemudian dia protes, “Call me Eddy”.

 Ketika ditanya mengapa dia tidak mau dipanggil dengan nama sebenarnya dia hanya mengangkat bahu. Dasar ababil, fikirku.

 

 Sisi lain Raikot

Pagi hari aku dibangunkan dengan bau dupa yang menyengat. Ternyata disebelah kamar yang kami tempati, ada sebuah kuil kecil. Kulihat mama Eddy tersenyum sambil memegang nampan penuh bunga-bunga ditangannya,“Good morning”, sapanya dengan hangat. Mama Eddy berkata bahwa dia tidak bisa menemani sarapan karena harus ke kampus cepat-cepat, sebagai gantinya papa akan menemani kami untuk sarapan, sedangkan Eddy masih tertidur. Chai dan aloo prantha sudah terhidang dengan manis, kami bertiga duduk dan ngobrol dengan hangat. Papa selalu tampil prima dengan penampilannya, dia tetap mengenakan setelan seperti kemarin bahkan menambahkan jas pagi ini. Menyadari bahwa putranya masih asyik tertidur, papa justru menjadi “host” yang baik bagi kami. Dia mengajak kami jalan-jalan ke luar. Entah kemana yang jelas aku dan Ha senang daripada bergelung selimut seperti Eddy.

 Sepuluh menit kami berjalan ketika Papa mengajak kami menuju sebuah kuil yang lumayan besar. Memasuki kuil ini serasa berada di Bali, karena yang kulihat adalah pohon-pohon besar yang disarungi dengan kain, tapi bukan kain kotak-kotak hitam putih melainkan warna merah. Didalam kuil Papa memperkenalkan kami kepada seorang pandit yang sedang bersila, sang pandit tampak tersenyum kepada kami berdua. Banyak patung-patung dari bermacam-macam dewa dan papa dengan telaten menerangkan satu persatu kepada kami. Satu goddess yang menarik perhatianku adalah sang dewi kesenian, Sarasvati. Dia tersenyum anggun sambil memegang alat musik menyerupai gitar. Cantik sekali. Kuil ini tak hanya berdiri sendiri, ternyata di samping bangunan kuil ada hall besar yang menurut papa, adalah tempat bersemayamnya para jenazah yang meninggal dan akan dikremasi. Tapi pemandangan yang mencengangkan kami berdua adalah patung Hanuman yang berdiri gagah di bagian belakang kuil. Untuk mengambil foto dibawah kakinya kita diharuskan melepas alas kaki karena disana terhampar karpet merah. Dewa berwajah kera ini berdiri diatas lahan yang luas dengan tinggi hampir menyamai bahkan melebihi tinggi hall yang berlantai dua. Kami seakan menjadi manusia kerdil didepan sang Hanuman.

 Kulihat papa menangkupkan kedua tangannya didepan patung tersebut dan menutup mata untuk kemudian berdoa. Hanuman adalah dewa yang dipercaya melindungi manusia dari musuh-musuh yang mengelilingi kehidupan dialam semesta. Supremasi Hanuman begitu kuat hingga menjadi symbol hampir disemua kuil yang aku lihat. Dan kurasa dia harus berbangga hati karena patung-patungnya kudapati selalu dalam ukuran gigantic, bukan ukuran kecil-kecil seperti dewa-dewa yang lain.    

    Selesai touring the temple, papa masih mengajak kami berjalan-jalan ke pasar. Disetiap toko yang kami singgahi papa akan mampir dan memperkenalkan kami kepada teman-temannya, sehingga bisa ditebak apa yang terjadi pada kami, kami kekenyangan minum chai, meskipun kami menolak tapi mereka tetap menyuguhkan teh bercampur susu tersebut. Tak kurang dari toko perhiasan, baju, silverware hingga toko kelontong kami singgahi. Touring ditutup dengan mampir ke salah satu street food yang sepertinya menjadi langganan papa, akupun tak menolak karena kulihat cheese pekora, snack favoritku sudah nangkring dengan manis didisplay dikaca sweet shop.

 Sepulang dari pasar, kulihat Eddy sudah rapi, dia berjanji kepada Ha untuk mengajaknya menemui Navjot dan Deep, tapi sebelum itu kami akan menjemput mama dikampus tempat dia mengajar. Mobil putih kembali dikemudikan Eddy membawa kami menuju kampus tempat mama Eddy bekerja. Sesampainya disana, kulihat mama sudah siap-siap tapi sebelumnya dia memperkenalkan kami kepada para dosen disana, mereka manggut-manggut ketika mama menjelaskan siapa kami dalam bahasa Hindi. Aku dan Ha hanya pasang tampang senyum didepan para dosen ini.

 Tak hanya memperkenalkan para koleganya, mama juga mengajak kami melihat-lihat seluruh fakultas yang ada digedung ini, kami berasa jadi orang penting, seperti pejabat pendidikan yang berkunjung kedaerah-daerah, aku dan Ha mendengarkan dengan seksama setiap penjelasan yang mama berikan dan sesekali bertanya kepada beliau. Kufikir semuanya sudah selesai ketika kami mentok disudut terakhir lapangan yang cukup luas dimana tak jauh Eddy memarkir mobilnya, tapi ternyata para kolega mama ingin berfoto dengan kami, hahahahaha.

 Mereka sudah berbaris rapi untuk berfoto bergiliran dengan aku dan Ha, kini aku dan Ha benar-benar menjadi pejabat dari Vietnam dan Indonesia. Lambaian tangan menandai tanda berpamitan kami dengan para kolega mama, mobil melaju dengan kecepatan sedang.

 Tahu film “Little House on the Prairie”? Film yang diperankan oleh Michael London tentang kehidupan masyarakat pedesaan di Amerika. Yang tergambar pertama kali dalam ingatanku jika mengingat film itu adalah Melisa Gilbert yang berlari-lari ditengah rumput hijau diawal pembukaan film tersebut. Dan tahukah teman apa yang aku lihat saat ini, apa yang aku lihat disisi kiri dan kanan mobil yang dikemudikan Eddy?

 Mobil Eddy seperti membelah greenfield yang menghampar kedepan, tanaman gandum begitu hijau, bunga-bunga yang cantik seperti tampak tersenyum. Sesekali kulihat petani lengkap dengan gerobak kudanya sedang menepi disisi pematang greenfiled itu. Aku merasa menjadi Melissa Gilbert walaupun aku tidak berlari-lari diluar sana. Aku dan Ha benar-benar menikmati pemandangan sore ini. Selain pemandangan lahan gandum yang menghampar kedepan dan si bunga yang cantik, birunya langit sore yang ramah menyempurnakan lukisan semesta ini, hingga tak kami sadari mobil yang kami tumpangi berhenti disebuah rumah pedesaan yang apik.    

 Dari bangunan rumahnya cukup besar, kulihat seorang pria berturban kotak-kotak keluar menyambut kami. Dia menghampiri papa dan mama Eddy kemudian menyentuh kakinya. Dialah Navjot, sahabat Eddy. Navjot yang seorang Sikh dan Eddy yang seorang Hindu adalah dua orang sahabat yang melampaui pertemanan mereka mulai dari sekolah dasar hingga kuliah, mereka bahkan kulihat sudah seperti keluarga. Tak hanya kuliah didalam negeri mereka berencana kuliah bareng-bareng di Lithuania, sungguh pertemanan yang hakiki. Seperti halnya anak mereka, mama Eddy kulihat seperti sudah tak asing lagi dirumah Navjot. Pertemuan dibuka dengan evening tea, tentu saja chai adalah menu utama yang disertai dengan cookies, akhirnya bertemu kudapan asin juga. Kami duduk dibagian dibelakang rumah Navjot yang menghadap kearah “apotik hidup” milik keluarga ini. Indah sekali, kami berkumpul seperti keluarga yang sudah lama tidak bertemu dan berbincang dengan akrab, padahal aku dan Ha adalah orang baru di India.

 Jika Ludhiana dikenal dengan kemacetannya, maka Raikot adalah desa dengan sunyi senyap setengah mati bahkan aliran listrik tak mampir ke semua rumah pendududuk. Jalanan umum lebih banyak yang gelap gulita daripada terang-benderang. Hanya ada satu masjid dan satu gurudwara. Penduduknya saling mengenal satu sama lain, itu terbukti ketika Ha begitu tertarik ingin melihat pembuatan “fuel” tak jauh dari rumah Navjot. Tetangga Navjot mempunyai peternakan sapi dan kerbau dengan jumlah yang lumayan banyak. Dengan jumlah sapi dan kerbau pastilah banyak “kotoran” yang dihasilkan. Dan dari kotoran itulah terbentuk fuel. Kami menyebut fuel untuk kotoran sapi yang dibentuk bulat-bulat seukuran piringan hitam dan dijemur didepan atau diatap rumah penduduk. Kotoran sapi inilah yang digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak bagi mereka yang tidak punya kompor gas dan masih menggunakan tungku sebagai alat memasak.

 “That girl is making the fuel”, ujar Navjot menunjuk seorang gadis berusia sebelas tahunan yang sedang membuat “adonan fuel”. Ternyata membuat fuel bisa jadi profesi juga hahahahaha, tak terbayangkan tangan gadis itu mengaduk-ngaduk kotoran sapi, mencetak dan menjemurnya, hiyyy… Sebenarnya aku tak tahan dengan bau sapi ini, tapi apa daya Ha begitu ingin tahu bagaimana kotoran sapi itu bisa dengan rapi tercetak. Dan dia dengan senang hati berjalan-jalan kesana kemari diarea pembuatan fuel tersebut. Oh My God…

 Kunjungan kerumah Navjot diakhiri dengan jamuan makan malam, dua orang wanita duet memasak sementara kami berempat bermain dengan Deasy, anjing putih yang Navjot pelihara sejak bayi. Aku dan Ha disuguhi nasi berwarna hijau, nasinya pulen sekali, inikah yang dikatakan basmati rice, beras dengan kualitas very,very good seperti yang dikatakan Indian brotherku??? suasana tetap hangat sampai kami pulang.

 Tak hanya kehangatan keluarga Navjot yang aku dan Ha rasakan, tapi juga kebaikan keluarga Eddy. Mereka meminta kami untuk bermalam lagi, tapi itu tak mungkin karena aku harus ke intern house mengambil celana jeans dan rok batikku yang ketinggalan dan balik ke Ropar setelah itu. Tarik ulur terjadi bahkan mereka menghidangkan makanan (lagi) sesampainya kami dirumah Eddy, sehingga waktu semakin molor untuk pamit dan kami tak kuasa menolak kebaikan wanita ini. Tapi akhirnya pasangan suami istri ini menyerah juga dan diluar dugaan mereka memberikan kami kenang-kenangan tanda perpisahan, mama memberikan kami masing-masing sebuah kashmiri shawl dan bangles warna-warni.

 “I buy it tomorrow for you both”, katanya sambil menunjuk-nunjuk shawl yang dia berikan. Aku dan Ha saling bertatapan, pasti maksudnya dia membelinya “yesterday” bukan “tomorrow”, ketika Ha membetulkan kalimat mama, mama hanya tersenyum-senyum dan menggoyangkan kepalanya tanda setuju.

“If you see this (shawl) and this (bangles) you remember me”, lanjutnya

“Sure”, ujar kami berdua sambil memeluknya, kulihat dia tersenyum senang.          

 Kami berpamitan pulang dengan mengenakan shawl yang diberikan mama dan berfoto bersama didepan rumah keluarga Anil Sharma. Good bye, Raikot…

  • view 11