Incredible3

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 27 Agustus 2017
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

901 Hak Cipta Terlindungi
Incredible3

Incredible3

January 30th, 2013

            Hari ini adalah hari pertamaku memulai aktivitas mengajar. Sesuai permintaan aku hanya ingin mengajar di kelas primary, bukan kindergarten. Setelah mendapatkan jadwal dan class touring sebelumnya, kini aku mempersiapkan diri bertemu anak-anak India, seperti apa ya mereka?

Pertanyaanku terjawab ketika aku mengikuti Assembly. Assembly adalah waktu dimana denting bel dimulai dan mereka akan berjalan menuju halaman belakang sekolah untuk kemudian berbaris rapi sesuai urutan kelas. Assembly antara primary dan kindergarten terpisah. Anak-anak kecil itu tampak terburu-buru berjalan, bahkan setengah berlari. Guru-guru sibuk mengatur barisan yang tidak rapi dan ketika semuanya telah dinilai rapi beberapa murid akan maju kedepan sebagai perwakilan kelas masing-masing. Aba-aba di mulai dalam bahasa Inggris.

Adegan selanjutnya adalah mereka akan menangkupkan tangannya didepan dada, menutup mata untuk kemudian menyenandungkan doa. Akupun mendengarkan dengan seksama apa yang mereka kumandangkan, yang familiar ditelingaku tentu saja hanya satu baris kalimat meskipun aku sendiri tidak tahu apa artinya, kalimat itu adalah “Om shanti shanti shanti”, selebihnya tak ada yang aku mengerti walaupun diakhir doa ini mereka juga menggunakan bahasa Inggris sebagai penutup dan berkata Amin secara serentak. Oh, jadi ini cuma acara berdoa, ujarku dalam hati, tapi ternyata itu belum berakhir teman, setelah mereka membuka matanya, agenda selanjutnya adalah perwakilan kelas akan maju kedepan membawa secarik kertas dan membacakan today headline news, hmm keren juga.

 “Prosesi assembly” masih berlanjut dengan menyanyikan lagu “Happy Birthday” karena kebetulan hari itu ada siswa yang berulang tahun. Menyanyi tak hanya sekali, setidaknya setelah itu mereka akan kembali menyanyikan lagu marsh sekolah dan lagu kebangsaan India, “Jana Gana Mana”. Assembly akan ditutup dengan exercise sederhana yang di komandoi oleh satu orang guru. Setelah semua selesai, barisan paling kiri akan berjalan paling awal dan menyapa gurunya dengan salam pagi, “Good Morning Mam”, kata-kata itu keluar dari mulut-mulut kecil mereka bersamaan dengan keluarnya uap dari mulut yang menandakan winter begitu merasuk kejasad semua orang pagi ini. Brrrrrrrrr….  

 Dari semua rangkaian assembly tentu saja yang paling berkesan bagiku adalah prosesi pertama yaitu berdoa. Ada yang menarik ketika kutanyakan kepada salah satu orang guru, apakah mereka berdoa menggunakan tata cara Hindu, Sikh atau Kristen? Bagiku jawaban sang guru abu-abu karena dia berkata bahwa mereka tidak menggunakan satu agama tertentu tapi yang jelas mereka percaya bahwa bahwa Tuhan itu satu. Karena penasaran dengan “senandung doa” tersebut aku kemudian dilain hari meminta salah satu murid kelas lima menuliskan dibuku kecilku, beginilah kira-kira bunyi doa itu:

“Om bhurbwa swaha tasa vitur varanium bhargo de vasya di mahi  diyo yachona prancho daya asto ma sat gamya tamso ma jotil gamya meityo ma amitam gamya Om shanti shanti shanti. Ekam kar satnam karta purde nir bho nir ba akal purt ejuni sapam gurpasad. Oh my dear God, bless us all for give us  for our morning. Dear God bless our parents and our teachers help us to be good and obedient. Thank you God for the world so sweet, thank you God for the food we eat. Thank you God for the birds that sing. Thank you God for everything. Amin”           

 

Terlempar ke masa lalu 

                Sebagai negara koloni Inggris, India memang boleh dikatakan beruntung diwarisi bahasa Inggris oleh negara Pangeran William ini. Rata-rata sekolah di India sudah memperkenalkan bahasa Inggris mulai dari tingkat Pre-Nursery meskipun tentu saja masih dibantu dengan bahasa ibu sebagai bahasa pengantarnya. Yang aku temui dilapangan adalah seperti halnya di Indonesia, pada level-level dasar mulai dari Pre-Nursery sampai dengan kelas tiga mereka masih berkata kepadaku menggunakan bahasa Punjabi, yang tentu saja tidak aku mengerti.

Kadang-kadang sang anak mengulangi pertanyaan atau pernyataannya dalam bahasa Punjabi dan aku berkali-kali menekankan, “English, please”. Tapi bukan Indian students namanya kalau langsung menyerah, mereka kutemui lebih sering “keukeuh” agar aku mengerti mereka. So, for the first impression, in my opinion, they are persistence and trying to get what they want. Sebuah sikap yang positive tapi kadang menurutku juga negative karena mereka kadang setengah “memaksakan” kehendaknya. Tapi ya sudahlah, namanya juga anak-anak, fikirku.

Aku diserahi tanggung jawab untuk mengajar Spoken English Class. Kuperhatikan disetiap sudut kelas terpampang kertas karton putih yang berisi peraturan ketika siswa mengikuti Spoken English Class. Karton putih yang ditulis seadanya dengan menggunakan spidol hitam melambai-lambai diterpa angin dingin, menandakan bahwa dia hanya menempel didinding yang ditopang dengan lakban putih bening yang juga ditempel sekenanya. Dinding kelas yang berwarna putih sudah tidak jelas lagi warnanya dan aku menebak entah sudah berapa lama dinding ini tidak di cat ulang.

Bangku-bangku yang “satu paket” dengan meja berderet sesak diantara tas-tas para murid yang tak bisa kutaksir berapa beratnya. Jika satu ukuran mungkin akan terlihat  harmonis tapi lihatlah bangku itu, ada yang tinggi, ada yang rendah, ada yang masih bagus, setengah bagus bahkan ada yang sudah tidak berfungsi tapi masih “tetap difungsikan” untuk menulis. Atribut lain yang tentu saja tak boleh terlupakan adalah papan tulis. Sebuah blackboard berukuran sedang beserta kapur putih sudah menunggu untuk digunakan menerangkan materi bahan pelajaran. Semburan debu papan putih tak bisa kuhindari ketika menghapus papan tulis dengan penghapus, yang menurutku bukan penghapus, karena yang digunakan adalah secarik kain kecil yang tentu saja sudah kumal. Last but not least tentu saja “meja kebesaran” untuk sang guru.

Meja yang telanjang tanpa taplak meja sama berdebunya dengan papan tulis. Tak ada vas bunga yang biasanya menghiasi meja agar terlihat cantik, yang kulihat justru buku besar berukuran kertas folio tersampul kertas kopi bertuliskan “Students Attendence”. Apa yang tertulis didalamnya tentu saja daftar nama anak-anak kelas lengkap dengan record nama ayah, ibu dan lain sebagainya yang tertulis dalam ukiran sambung. Adapun kursi yang digunakan adalah kursi plastik yang biasa kita jumpai di warung-warung atau kedai-kedai abang bakso.

Bagaimana dengan guru-guru nya? Jika di Indonesia kita terbiasa melihat figure guru dalam tampilan baju seragam, bersepatu fantofel dan menyungging senyum dibibirnya, maka disini kujumpai bahwa mereka semua adalah para wanita dengan mimik serius, sedikit tersenyum dan semakin dingin sedingin suasana winter diluar sana. Tak ada seragam, mereka semua mengenakan Punjabi suit, sebutan untuk baju tradisional khas Punjab. Pakaian ini terdiri atas tiga bagian yaitu chuni/dupata, suit dan shalwar. Chuni/dupata adalah sejenis selendang yang biasanya disampirkan di pundak dan suit adalah baju atasan yang biasanya pas dibadan dengan bentuk kerah yang beraneka ragam dan bagian paling akhir adalah shalwar. Shalwar adalah jenis celana Punjabi. Celana ini mempunyai dua macam yaitu celana panjang longgar berbentuk baggy dengan kerutan diujung celana. Bentuk celana yang kedua yaitu celana yang menurutku “aneh” karena bagian atasnya besar bukan kepalang, semakin kebawah sampai ke mata kaki semakin mengecil.

Mereka begitu tradisional, semakin tradisional dengan rambut mereka yang panjang, hanya satu orang guru kulihat berambut pendek ala Demi Moore, selebihnya rambut mereka diikat dengan satu ikatan ataupun di kepang, benar-benar tradisional. Untuk melengkapi “dress code”, mereka biasanya mengenakan juti, flat shoes ala India yang bercorak bunga ataupun peacock dengan warna-warna mencolok dan rame sekali. Yang unik dari juti adalah tidak ada perbedaan antara kaki kanan dan kaki kiri, jadi tak usah bingung akan terbalik memakainya, karena bhaiya penjualpun kadang-kadang tak tahu mana yang kanan dan mana yang kiri, such a weird, tapi inilah India, kawan…     

 Like teacher, like student. Kiranya begitulah yang kulihat. Rambut para ibu guru yang hitam legam sama halnya dengan rambut para murid cewek yang tak kalah indahnya. Rambut mereka tebal-tebal dan panjang. Dan untuk kerapihan tentu saja rambut mereka diikat dan dikepang, tak hanya kepang satu tapi juga kepang dua, yang mengingatkanku akan kepangan Siti Nurbaya. Sedangkan untuk murid-murid cowok mereka lebih banyak yang “berjambul”.

 Warga Punjab memang penganut Sikh terbesar di India, dan salah satu tradisinya adalah memanjangkan rambut dan janggut. Maka tak heran anak-anak kecil inipun tak pernah pergi ke barber shop untuk memangkas rambutnya. Konon kabarnya, ada waktu-waktu tertentu bagi mereka untuk memotong rambutnya. Sebagai konsekuensinya rambut anak-anak cowok inipun akan dikepang keatas dan dibentuk bulatan untuk kemudian dibalut dengan kain yang membentuk jambul kecil-kecil dibagian atas kepala mereka. Kelak jika mereka beranjak dewasa maka jambul inipun berubah menjadi turban sebagai penghias kepala mereka sebagai bukti ketaatan kaum Sikh.

Perjalanan jauh dari Jakarta, Colombo dan akhirnya sampai di Delhi, inilah yang aku temui, terlempar kemasa lalu. Kondisi kelas-kelas itu, bangku-bangku, anak-anak berkepang dua, semua mengingatkanku akan aku sendiri. Aku seperti berkaca dengan diriku sendiri atau mungkin berkaca dengan negeriku. Sekolah-sekolah di Indonesia seakan terus berlomba dengan gelar nasional plus ataupun internasional, tentu saja dengan segudang fasilitas didalamnya. jika disekolah-sekolah tersebut pasti menggunakan AC sebagai pendingin ruangan maka kami disini dilengkapi dengan kipas angin yang suaranya memekakan telinga, whiteboard dengan marker sama dengan papan tulis berdebu dan kapur putih, computer lab dengan operating system paling update adalah PC tabung dengan window server 2003 yang akan berfungsi jika sudah di charge, jika tidak maka komputer tersebut hanya akan diam seribu bahasa di mejanya, tidak berfungsi sama sekali. Ooh…

Tapi kondisi sekolah sepertinya tak pernah menghalangi mereka untuk terus berpacu dan belajar. Murid-murid India yang aku temui adalah pribadi-pribadi yang, selain keukeuh (seperti yang aku katakan diatas), adalah anak-anak dengan tingkat self confidence yang tinggi bahkan melebihi batas normal, berani bersaing dan amat sangat kompetitif. Mereka selalu membuka sesi “tanya jawab” ataupun “debating class” tanpa diminta. Awesome, suasana yang tak pernah kutemui dikelas-kelas negeriku.   

Gambaran diatas aku temui ketika aku mengajar anak kelas empat, aku membawakan materi “perkenalan” tentang aku dan Indonesia. Mereka begitu antusias memperhatikan aku menggambar peta Indonesia dipapan tulis dan mendengarkan penjelasanku tentang Indonesia. Ditengah-tengah penjelasanku yang belum usai beberapa siswa sudah mengacungkan tangan tanda ingin bertanya dan tanpa aku persilahkan hampir semuanya bertanya pada saat yang sama membuat kelas riuh rendah. Suasana kelas menjadi tidak terkontrol, yang ada kemudian mereka berdebat tentang apa yang aku jelaskan satu sama lain.   

Tak hanya berdebat sesama teman untuk mempertahankan argumentasi, mereka tak segan berdebat dengan gurunya sendiri. Aku yang terbiasa dengan suasana kelas yang tenang amat sangat susah “mengontrol” mereka. Bahkan dimataku mereka adalah “wild students”, susah untuk dijinakkan, jika sudah begitu maka guru disamping kelas akan datang dan memberikan “pertolongan” kepadaku. Meskipun aku tak mengerti bahasa Punjabi tapi aku tahu persis bahwa tentu saja sang murid harus tunduk dan patuh atau bahkan setuju dengan apa yang menjadi “sabda” sang guru. Jika itu tidak mempan, maka tebak apa yang akan dilakukan pahlawan tanpa tanda jasa ini?

Aku begitu terkejut mendapati kenyataan bahwa sang guru menjewer telinga hingga murid kesakitan, menampar pipi, bahkan tak segan memukul kepala. Jika Kak seto ada disini tentulah dia akan bersedih hati melihat kenyataan ini dan KOMNAS anak akan sibuk mencatat setiap hari kejadian pelanggaran HAM ini. Tapi yang lebih sedih tentu saja aku karena aku tak bisa berbuat apa-apa.

Tapi apakah itu memberi efek jera? Kurasa tidak, karena yang kuperhatikan adalah mereka akan diam sejenak merasakan kesakitannya dan berulah kembali dengan hal yang sama, bahkan aku sering mendapati mereka akan berlaku hal yang sama kepada teman mereka jika mereka berkelahi. Adegannya persis sama dengan apa yang dilakukan sang guru yaitu, menampar pipi dan memukul kepala. Oh tidak, akupun mendefinisikan kejadian ini dengan bahasaku sendiri bahwa, children do what adult does. Jadi apa yang harus aku lakukan? Dan akupun termenung sambil memegang secangkir chai yang disodorkan Aunty Kuldeep kepadaku dipertengahan jam rehat.   

Berharganya Autograph

                Masih ingat adegan Jamal Malik cilik dalam film Slumdog Millionaire waktu dia minta tanda tangan kepada Amitabh Bachan? Dia rela menceburkan dirinya kekubangan jamban demi untuk menyelamatkan foto Amitab Bachan untuk ditanda tangani. Ternyata adegan ini juga terjadi dihari pertama kali aku mengajar.

Selesai mengajar jam pertama dikelas empat yang jumlah anaknya dua kali lipat dari kelas-kelas yang lain, tiba-tiba seorang anak menyodorkan kertas dan berkata, “Autograph”, aku masih belum mengerti apa maksudnya, hingga anak yang lain datang dan berkata hal yang sama, kali ini dia setengah memohon “Mam, please autograph”. Apa sih maksud anak-anak ini, aku tidak memberi tugas apa-apa jadi tak ada yang harus aku nilai atau aku tanda tangani. Tapi ternyata makin banyak anak yang mengerubungi aku dengan membawa kertas, buku tulis bahkan buku gambar. Akupun membubuhkan tanda tangan sekenanya,

”Mam, your name and your country,please”. Hadeuh, anak-anak ini ya membuat aku merasa jadi seleb, mereka akan bersorak kegirangan setelah mendapatkan paket lengkap tanda tangan, nama plus tulisan “Indonesia”, dikertas mereka. Bahkan ada satu anak yang terang-terangan memintaku menulis tanda tangan dalam ukuran besar di buku gambarnya. Jangan-jangan habis ini dia bakalan nyari frame khusus untuk membingkai tanda tanganku hahahaha atau mungkin menjualnya seperti yang dilakukan kakak Jamal Malik, hahahahaha… 

“They like you”, begitu kata salah satu guru yang membantu aku dari “serangan” mereka, apa yang mereka suka dari aku? Aku baru satu kali mengajar mereka, jangan membuat aku ge er dan melambung dech, fikirku. Masih ada dua puluh empat minggu kedepan untuk bertemu, aku sebenarnya tidak yakin aku bisa “dealing” dengan mereka. Kita lihat saja nanti.      

 

February 2nd, 2013

                Dua hari berlalu sudah dan aku sudah mempunyai time table tetap, sekarang jadwalku penuh dari jam 09.20 sampai jam 14.50. Aku meminta izin untuk istirahat dari jam 12.00 sampai jam 13.00 untuk menunaikan shalat zuhur dan makan siang. Oya, baru aku tahu ternyata disini tidak ada jam khusus makan siang untuk para guru karena memang makan siang di India boleh aku katakan terlambat, bayangkan mereka menyebut bahwa jam tiga sore adalah jam makan siang, walah bisa kambuh orang yang punya penyakit maag karena tiap hari telat makan. Sebagai pengganti makan siang mereka menyediakan chai dan sweets.

Chai adalah teh yang dicampur dengan susu dan ditambahkan gula di dalamnya, sedangkan sweets adalah aneka rupa kudapan yang rasanya amat sangat manis bukan kepalang. Aku selalu ketakutan jika ditawari sweet karena pada dasarnya aku tidak terlalu suka makanan manis. Ada berbagai jenis sweets dan yang paling sering ditawarkan adalah gulab jamun. Gulab jamun berbentuk bulat seukuran onde-onde berwarna coklat diluar tapi putih didalam. Ini tak lain karena bahan dasar gulab jamun sendiri adalah gula pasir dan gula merah, jadi bisa dibayangkan ketika menggigit dia walaupun hanya sedikit tapi satu kilogram gula pasir meleleh dimulut kita. Oh tidak, aku kadang menolak tapi mereka selalu memohon kepadaku untuk mengambilnya, they are begging, hingga aku tak kuasa menolak dan menahan penderitaanku memakan kudapan ini.

Aku kadang tak bisa mengerti bagaimana bisa mereka tahan makan kudapan semanis ini dan apakah mereka tidak takut menderita diabetes? Terlebih mereka memakannya disertai dengan chai yang notabene pasti manis. Teman chai selain gulab jamun adalah jenis sweets yang lainnya seperti burfi, patisa,jelabi, panjiri dan masih banyak lagi yang belum aku coba dan aku tidak terlalu berminat mencobanya walaupun sweets shop yang banyak berjejer dipinggir jalan menawarkan “free trial” untuk itu. Kedai-kedai sweets shop dipenuhi pelanggan menjelang sore hingga malam hari. Dan para customer akan berdiri di pinggir jalan memegang kertas-kertas mungil berisi kudapan-kudapan “menyeramkan” itu.

 Selain sudah mulai tight dengan time table, chai dan sweets, hari ini aku dikejutkan dengan kedatangan seorang intern baru. Aku bertemu dengannya ditangga lantai dua ketika aku selesai mengajar anak kelas empat. Cewek berambut pendek, berkacamata, berkulit putih dan menenteng ukulele di tangannya. Namanya Doung Minh Ha asal Vietnam. Dia memperkenalkan diri dengan nick name Ha.

 Kami ngobrol sambil berjalan menuju kamarku. Jadi inilah roomateku. Sambil terus ngobrol, Ha sibuk mengeluarkan barang-barangnya dari koper yang ukurannya dua bahkan tiga kali lipat koperku. Jika aku membawa barang-barang “seperlunya” dan cukup dengan koper sepuluh kilo, maka kudapati Ha begitu siap sedia dengan semua barang-barang “mungilnya” mulai dari teko listrik, hair dryer, hanger, bowl, pin jemuran, pisau, gunting bahkan sampe jarum dan benang. Tak lupa dia mengeluarkan beberapa mie instan, “Vietnam noodles”, katanya sambil mempersilahkan aku untuk melihat-lihat. Jam berputar sampai menunjukkan waktu makan siang dan akupun punya teman sekarang.

 

Ternyata bukan mesjid hehehe…

 Alunan “Sunday Morning” milik Maroon Five menemani ritualku dipagi hari yang dimulai dengan shalat subuh, baca buku dan breakfast, tapi pagi ini Ha mengajakku “jalan pagi”. Udara yang amat sangat dingin diluar sebenarnya membuat aku malas keluar terlebih lagi sudah memakai tiga lapis baju tetap saja aku menggigil. Tapi ada baiknya juga aku mengiyakan ajakannya, mungkin berjalan bisa menghangatkan badan. Selesai sarapan kami keluar dan menyusuri Ropar di pagi hari.

 Ha berbaik hati meminjamkan sarung tangan hijau dan jaket merahnya yang kurasakan hangat dibadan, tak ada yang menarik sebenarnya tapi aku menemukan bahwa Ha adalah roommate yang asyik diajak ngobrol apa saja dan orang yang easy going, termasuk ketika aku menemukan tulisan “SUN ENCLAVE TOWER”, dan berminat untuk menemukannya. Ha tidak keberatan untuk mencari tower tersebut, at least, kami menemukan objek untuk di foto dipagi hari. Setelah berputar-putar selama tiga puluh menit dan mengikuti arah arrow menuju, tak kami temukan tower tersebut bahkan kami bertanya kepada orang-orang yang lalu lalang pun hasilnya tetap nihil.

Belakangan kutahu ternyata memang tower itu tidak ada hahahahahaha, trus ngapain mereka buat plang dipinggir jalan, menyesatkan!

Jam 09.30 kami diundang untuk datang kesekolah menghadiri “Baby Show”. Puluhan anak kecil dengan aneka rupa baju dan aksesoris sudah siap beraksi diatas panggung. Anak laki-laki kebanyakan berbaju resmi dengan setelan kemeja, vest dan celana panjang, sedangkan anak perempuan begitu “meriah” tak hanya karena baju yang gemerlap tapi juga make up di wajah mereka bahkan kulihat beberapa anak dengan “smoky eyes”. Para guru hari ini hadir dengan “fancy dress” menyambut para orang tua, tak ketinggalan Mrs.Pavneet, sang Principal juga tampil anggun dengan saree merahnya. Waktu menunjukkan jam makan siang ketika Ha sudah mulai bosan jeprat-jepret dengan kameranya dan berkata, “Do you want to go out?” aku dengan sigap mengangguk tanda setuju untuk keluar dari tempat ini. “Lets discover Ropar”

Kami berjalan keluar dan mengambil arah berlawanan dari arah “jalan pagi” kami. Lurus berjalan kami menemukan pasar kecil, Ha tertarik untuk mencoba street food, aku yang sudah pernah mencoba makanan itu tak berminat lagi untuk membelinya. Dia membeli samosa dan bread pekora. Samosa berbentuk seperti pastel tapi lebih “gemuk” karena isinya adalah kentang sedangkan bread pekora adalah roti tawar yang digoreng dengan tepung. Dua kudapan ini biasanya bersanding harmonis didisplay oleh para penjual street food dibandrol dengan harga tujuh sampai delapan rupee per item.

Dia begitu menikmati street food yang dipegangnya sambil terus berjalan. Kami melewati kuil Hindu tapi tidak terlalu menarik malah terkesan tidak terlalu terawat. Terus berjalan akhirnya aku tersenyum ketika kulihat bangunan dengan kubah besar sedang dalam proses renovasi. Wow, kutemukan mesjid di India, fikirku. Akupun mengajak Ha berjalan melewati gapura putih tinggi dengan tulisan Hindi. Seorang bapak berpakaian seperti Pak Haji melihat kearah kami berdua.

“Is it a mosque?”, tanyaku kearahnya. Dia menjawab dalam bahasa entah Hindi atau Punjabi, yang jelas kami berdua tidak mengerti. Ha mengulangi pertanyaanku dan meminta bapak tua itu menjawabnya dalam bahasa Inggris. Si bapak kelihatan mengerutkan dahi dan berfikir keras untuk menjawab dalam bahasa Inggris.

“This is not a mosque, this is gurudwara”, ujarnya

Aku dan Ha saling bertatapan. Aku memang pernah membaca dibuku travelling bahwa tempat ibadah umat Sikh adalah gurudwara yang fisik bangunannya menyerupai mesjid. Tapi aku tak mengira bahwa bangunan ini benar-benar mirip mesjid, apalagi dengan kubah bulat dan bercat putih. Hanya saja bedanya jika biasanya di atap kubah mesjid ada lambang bulan sabit dan bintang maka di gurudwara kulihat hanya bendera kecil berwarna kuning melambai-lambai ditiup angin.  

“Can we get inside?” Sepertinya aku dan Ha punya rasa penasaran yang sangat tinggi, ingin melihat seperti apa isi gurudwara ini. Sibapak terlihat bersedia mengantarkan kami kedalam. Ternyata bapak tua ini bisa berbahasa Inggris walaupun patah-patah. Dia menjadi “guide” kami dengan memberitahukan langkah-langkah apa yang harus kami lakukan.

Prosedur yang pertama adalah melepas sepatu/sandal dan kaos kaki. Terbentang karpet hijau didepan menuju bangunan utama, tapi sebelum itu kami dipersilahkan untuk mencuci kaki, ada kolam kecil dan air mengalir disitu. Menaiki anak tangga, yang aku lihat pertama kali adalah sebuah gambar besar seorang laki-laki tegap berdiri dengan tombak di tangan kiri dan terselempang pedang dipinggang kanan. Tak kalah besar gambar disebelahnya adalah pria yang sama, kali ini dengan iring-iringan kuda, seperti sedang memimpin perang. Dialah Shri Guru Gobind Singh Ji, guru (Master) kesepuluh dalam agama Sikh. Masyarakat India umumnya meletakkan kata “Ji” dibelakang nama seseorang sebagai tanda hormat.

“Guide” kami, sang bapak tua berkurta pajama terus menerangkan tanpa henti. Dipintu masuk dia bersujud dan berjalan ketengah kami melihat semacam mimbar besar ditengah-tengah gedung dihiasi dengan bunga-bunga berwarna kuning dengan ornamen berwarna gold yang megah. Mimbar dilengkapi dengan speaker dan charity box berbentuk memanjang. Tepat dibawah speaker ada sebuah benda tertutup kain biru, sayangnya tak bisa kami lihat. Itulah Shri Guru Grant Sahib, kitab suci umat Sikh. Sebuah karpet terhampar didepan mimbar. Terlihat seorang ibu melempar koin ke arah charity box kemudian bersujud, setelah itu menuju seorang lelaki yang komat-kamit dan menengadahkan telapak tangannya. Entah apa yang diberikan lelaki berkurta pajama putih dan berompi hitam itu.

Gurudwara ini ternyata cukup besar, masih ada satu lantai diatas, ketika kaki kami mengarah ketangga menuju lantai dua, sang “guide” berseru “No, no, no, not allowed”. Dengan sedikit kecewa kami mengundurkan langkah, berbalik arah dan berniat keluar. Tapi ternyata, kami harus “menghadap” laki-laki yang sedang komat-kamit seperti si ibu tadi. Aku dan Ha pun manut dan berdiri didepan pria itu, “Give your hand, this is sweets for blessing”. Oh no, sweets…

Selesai “tour” kami? Offcourse no, karena ketika kami menuruni anak tangga menuju pintu keluar ada semacam basement dimana kulihat mereka sedang makan berjamaah. Kulirik jam tangan, tepat jam dua belas, lunch time. Iseng-iseng aku dan Ha bertanya kepada petugas yang membagikan makanan, “Can we have lunch here?” Dia memandangi kami berdua dan tanpa jawaban dia malah pergi menuju seorang bapak yang berdiri tak jauh darinya. Kami sudah bersiap pergi tapi kemudian dia mempersilahkan duduk dan memberikan kami dua piring alumunium berbentuk bundar.

Kami tersenyum riang seperti anak kecil yang diijinkan main hujan. Sambil memegang piring alumunium beserta gelas Aladin kami duduk berjejer bersama dengan yang lainnya. Yeah, inilah outing lunch perdana kami tanpa menu dari aunty. Menu yang disajikan tentu saja vegetarian, segelas chai dan si coklat menyeramkan, gulab jamun.

Aku dan Ha hendak berpamitan kepada sang bapak “guide”, tapi dia menghilang entah kemana, maka kamipun berinisiatif untuk pulang saja. Sambil menunggu Ha memakai kaus kaki dan mengenakan sepatunya, aku duduk di bangku yang terletak tak jauh dari gerbang gurudwara. Tiba-tiba seorang pria tinggi besar berjanggut dan berturban hitam menghampiri kami, dia berbicara dalam bahasa yang tidak kami mengerti, hanya satu kata yang kami mengerti, ketika dia berbicara sambil menunjuk kami berdua yaitu, “Name”, sambil menyodorkan tangannya. Okay mungkin maksudnya bertanya nama, aku dan Ha memperkenalkan diri sambil menjabat tangannya.

“Country”, tanyanya pendek, lagi-lagi kami menjawab masing-masing asal negara kami.

“I cook myself”, kali ini dia berkata sambil menunjuk sebuah ruangan yang berhadapan dengan tempat kami makan, “Please”.

Apa sih maksud pria gemuk ini, dia berjalan didepan, anehnya kami nurut saja. Oh, ternyata dia ingin menunjukkan dapur gurudwara toh. Jadi dia adalah “chef” gurudwara, tanpa diminta dia menerangkan “alat-alat perangnya”, yang ukurannya sama besar dengan badannya. Dia tampak senang ketika kami bertanya ini dan itu, meskipun dia hanya menjawab pendek-pendek dalam bahasa Inggris. Setelah tour the gurudwara, lunch di langar dan tour the kitchen, kami berterima kasih kepada sang chef dan pamitan pulang.

  • view 34