Incredible2

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 27 Agustus 2017
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

130 Hak Cipta Terlindungi
Incredible2

Increadible2

January 26th 2013.

Menuju Chandigarh,Punjab 

                “Welcome to Indira Gandhi International Airport”, itulah sapaan yang terpampang pertama kali aku menginjak tanah Bollywood. Indira Gandhi International Airport begitu megah. Setidaknya itu tergambar dari patung jari tangan-tangan yang menempel di dinding-dinding tembok dengan simbol-simbol tertentu yang aku tidak mengerti. Mas Agus dan aku berjalan berbarengan setelah mengisi form dan menyerahkan kepada petugas di bandara. Setelah mendapati koper masing-masing kami berjalan menuju pintu keluar sambil terus mengobrol dan mendorong trolley. Percakapan begitu hangat karena kita akan berpisah arah.

Aku menggunakan jasa kereta api dari Delhi menuju Chandigarh. Kereta yang aku tumpangi adalah kereta api jenis AC bernama Shatabdi Express. Diticket tertera bahwa jarak Delhi-Chandigarh adalah 220 km, dengan estimasi kereta akan berangkat jam 07.40 dan sampai di Chandigarh jam 11.05.

Kereta ini adalah kereta yang nyaman, mereka memberikan koran ketika penumpang sudah menempati tempat duduknya, menyajikan teh, dan menu breakfast. Petugas yang hilir mudik pun berpakaian rapi dan semuanya teratur. Tak ada masalah berarti didalam, tapi justru “pemandangan” diluar lah yang tidak sedap di pandang mata, gunungan sampah begitu mendominasi beberapa tempat, tapi aku masih bisa menikmati teh ku dengan nikmat karena aku sendiri adalah penggila teh, tapi ketika menu breakfast disajikan aku begitu terkejut ketika menengok arah jendela. Kini “pemandangan” gunungan sampah berganti dengan “pemandangan” yang membuat aku menelan ludah dan menghentikan kunyahan perkedel di rongga mulutku. How come it happened? How it could be? Tak henti-hentinya aku bertanya dan membuat aku buru-buru memalingkan pandanganku. Tahukan apa yang membuat aku tak berminat menuntaskan sarapan pagiku? Baiklah akan kuceritakan perihal ini.

Ketika pemandangan gunungan sampah berakhir, maka aku melihat para pria dengan posisi berjongkok, ok mungkin dia kebelet, fikirku, tapi kemudian pemandangan itu tetap berlanjut bahkan tidak hanya satu, dua, tiga, empat, dan seterusnya. Ok, aku tidak akan menengok kearah jendela lagi, dan memilih membaca koran meskipun perutku agak mual dan aku memilih sudah tidak berminat meneguk jus mangga yang terhidang, aku takut muntah. Tapi ketika kufikir “tragedi” itu sudah berakhir dan berganti dengan pemandangan yang sebenarnya, aku malah menemukan yang lebih “amazing”.

Aku tidak meminta kalian untuk membayangkan karena sampai aku menulis ini perutku pun mendadak “berontak”. Tapi aku akan tetap menceritakannya, jika didepan aku bilang bahwa para pria adalah para pemain tunggal, maka pemandangan “amazing” ini adalah bukan hanya pemain single, double, triple, kwartet, tapi massal!!! Dan anehnya mereka membentuk lingkaran dan saling mengobrol satu sama lainnya. What??? Jika diibaratkan tokoh kartun, maka bola mata ku pasti lah sudah lebih dari sekedar membelalak, bahkan mungkin keluar.

Amazing, bagaimana mungkin mereka akrab ketika buang hajat bersama tanpa penghalang apapun diantara mereka dan mereka melakukannya di darat, sekali lagi didarat dan aku tidak melihat adanya sumber mata air didekat mereka, bagaimana dan dengan apa mereka membersihkannya??? Akupun langsung menutup mata dan memaksa indra penglihat ini tidur, walaupun sebenarnya aku tidak mengantuk, tapi aku bersikeras memaksa dia agar sampai di fase delta.

Entah berapa lama aku tertidur, karena nyatanya ketika aku membuka mata yang berada dihadapanku kini adalah “pemandangan” yang sebenarnya. Dengan balutan kabut yang tebal, pohon-pohon berjejer rapi seolah tersenyum walaupun kedinginan dan hamparan greenfield begitu menyejukkan mata. Seketika otakku seakan di refresh, seperti aku mengingat perkebunan teh di Gunung Mas-Puncak atau indahnya Lembang, Bandung. Perjalananku menuju Chandigarh disempurnakan dengan datangnya seorang pemuda yang bernama Sarthak dari Local Committee Chandigarh.

Dia mengantarku ke intern house yang berjarak kurang lebih empat puluh lima menit dari stasiun kereta Chandigarh. Sepanjang perjalanan aku banyak bertanya kepada Sarthak agar segalanya jelas, tapi kelihatannya dia tak tahu semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku. Dia hanya menyampaikan bahwa tugasnya hanyalah mengantarku menuju intern house. That’s it. Dan sekarang tugas itu sudah selesai ketika kami sudah berada di depan sebuah rumah tingkat tiga bernomor 2103. Dia meninggalkan nomor telepon dan berkata jika ada apa-apa aku bisa menghubunginya.

And the complicated is begun

                Tiba di daun pintu aku disambut oleh sekumpulan orang-orang yang tidak aku kenal sama sekali, warna kulit dari yang hitam legam hingga pucat, berbagai jenis potongan rambut, mulai dari lurus, bop, curly bahkan kudengar bahasa mereka berbeda-beda tapi terlihat akrab mengobrol satu sama lainnya. Berasa geer, serasa semua mata seakan tertuju kearahku, aku hanya melihat sekilas wajah-wajah mereka, ketika salah satu dari mereka bertanya kepadaku,

“Are you the new intern?”, ujar satu cewek dengan kulit hitam legam

“Yes”, jawabku sambil memperkenalkan diri dan menjabat tangan mereka satu persatu       

“Where are you from?”, masih dengan seulas senyum dibibirnya.            

“Indonesia”, sambil berusaha tetap membalas senyum-senyum mereka.

“Oh Indonesia, there are Indonesian girls beside this room, hang on, I’ll call them”, tanpa menunggu reaksiku dia langsung bergegas menuju pintu samping dan kembali dengan rombongan para gadis yang mudah kukenali. 

Ada setidaknya empat cewek yang balik keruangan depan dan menyapaku dengan bahasa Indonesia yang kental. Mengetahui aku sudah lulus kuliah, mereka memanggilku dengan sebutan kakak, mereka sendiri masih berkuliah di semester empat jurusan ekonomi dan hukum.

Waktu sudah menunjukkan jam makan siang ketika aku beramah-tamah dengan cewek-cewek ini, dan mereka memang akan pergi mencari tempat makan dan shopping. Waduh, belum apa-apa sudah shopping aja tapi aku mengutarakan maksudku untuk hanya ikut makan siang karena aku ingin segera beristirahat dan shalat zuhur.

Perjalanan menuju arah pulang aku tempuh dengan menggunakan tuk-tuk atau auto, alat transportasi sejenis bajaj di Indonesia. Aku mulai memperhatikan cara menawar tuk-tuk dari salah satu gadis Indonesia, hal yang biasanya aku “ignore”, sebelumnya. Dia terlihat luwes menjelaskan arah dan akhirnya deal bahwa aku harus membayar 150 rupee untuk sampai intern house.

Pintu VS Saklar

Maksud hati ingin mandi sesampainya di intern house, tapi ternyata mati lampu dan tidak ada yang tahu kapan akan berakhir. Belakangan kutahu bahwa “tradisi mati lampu” adalah hal biasa yang terjadi di sini, dan aku hanya bisa menunggu sambil beres-beres. Keinginan untuk mandi urung aku tunaikan tak hanya karena mati lampu tapi juga keadaan kamar mandi yang “berantakan”. Sampah kemasan shampoo, sabun mandi dan yang lainnya tumpang tindih diwastafel. Botol-botol air mineral berukuran satu setengah liter tergeletak entah apa maksudnya berada disitu. Aku bisa memaklumi karena kamar mandi dilantai satu ini digunakan setidaknya oleh tujuh orang cewek dan cowok. Satu hal baru yang ku tahu di India bahwa dalam satu ruangan mereka biasa memasang dua bahkan tiga pintu, entah apa maksudnya. Begitu pula dengan kamar mandi ini, terdapat dua pintu yang bisa diakses dari dalam dan luar, sehingga jika ingin mandi pastikanlah kedua pintu ini sudah terkunci.

Intern house tidak menyediakan water heater, karena musim dingin maka jika ingin mandi air panas kita memanaskan air dengan menggunakan alat yang terbuat dari metal berwarna putih berbentuk lonjong seperti lampu neon kemudian menyambungkannya ke saklar listrik. Dan sediakanlah kayu yang akan menampang alat tersebut sehingga dia tidak akan tenggelam dan tunggulah sepuluh sampai lima belas menit maka kamu akan mendapatkan air panas. Tapi jangan berharap air ini benar-benar panas karena ternyata setengah dari permukaan ember bagian bawah terkadang masih dingin, sehingga untuk mendapatkan hasil “yang sempurna” kita harus mengobok-obok air dalam ember persis menguleni tepung dan mentega jika akan membuat donat. Oh, betapa susah perjuangan untuk mandi di India.

Adalah hal yang umum kutemui bahwa ternyata banyak rumah memang menggunakan “double door”, meskipun yang berfungsi hanya satu dan hal yang sama juga terjadi dengan saklar listrik. Berbicara tentang saklar listrik, sama halnya seperti berbicara tentang pintu di India. Mengapa demikian? Jika di Indonesia kita hanya memasang saklar dengan ukuran satu atau dua tombol, maka disini kita bisa menemukan saklar tak hanya satu atau dua tombol, tapi lebih dari itu, namun yang menjadi ironi adalah yang berfungsi kadang hanya satu atau bahkan tidak ada yang berfungsi sama sekali, sehingga kita harus main “tebak-tebak buah manggis” hanya untuk mencari tombol mana untuk menyalakan lampu di satu ruangan.

Ketika aku masih bingung tentang perkara pintu dan saklar tiba-tiba datang dua orang pria tak dikenal yang menanyaiku dan barulah aku tahu kalau mereka adalah “landlord” dari intern house ini. Aku pun memberitahu bahwa aku baru datang. Mereka meminta nomor yang bisa dihubungi untuk menjelaskan “statusku” dan aku memberikan nomor telepon Sarthak. Kulihat dia sibuk menghubungi Sarthak, tapi sepertinya mereka kecewa dan tidak mendapatkan jawaban yang mereka inginkan. Mereka meminta nomor telepon yang lain, akupun memberikan semua nomor “berwenang”, dan dari semua nomor yang aku berikan tak ada satupun yang menjawab. Kulihat mereka kecewa dan meninggalkan aku begitu saja. Berbarengan dengan kepergian mereka, intern dari Indonesia pulang dengan tentengan shopping mereka masing-masing.

“Ngapain mereka ka?”

“Ga tahu tuh nanya-nanya aku”

“Kakak dah tahu kapan mulai program internshipnya?”

“Harusnya sih besok, tgl 28 Januari”

“Hmm, kakak harus pro aktif tanya ke mereka (Local Committee), kalo ga gitu bisa-bisa kita di anggurin ga jelas.”  

Akupun menyimak dengan seksama cerita-cerita mereka. To be honest, Local Committee India memang mempunyai track record yang kurang baik, sehingga seperti yang disarankan “adik-adik-ku”, tanpa menunggu lama aku mengetik email yang mengabarkan bahwa aku sudah ada di intern house dan menanyakan kapan aku bisa memulai internshipku. Tak ada jawaban dari email yang ku. Tak patah arang aku me re-send email kembali, dan tak cukup hanya ke satu orang tapi ke banyak orang yang aku tahu bersangkutan dengan hal ini. Akhirnya ada satu yang me-reply emailku, menjanjikan bahwa mereka akan menjemputku besok.

Esok hari yang dijanjikan tak ada satupun yang datang. Aku tetap getol mem follow up mereka menanyakan bahkan “menagih” janji mereka. Aku juga meminta bantuan kepada local committee Indonesia untuk push mereka. Adik-adik ku menyarankan bahwa sebaiknya aku tak hanya cukup berkirim email tapi juga menghubungi via telepon, salah satu intern berbaik hati meminjamkan telepon selulernya karena aku belum punya nomor India dan kelak akan kuceritakan tidaklah mudahnya mendapatkan simcard disini. Memang benar saran adik-adikku ini, “hasil kerja keras” berbuah respon cepat tanggap dari mereka. Setelah satu hari tertunda mereka menjanjikan bahwa besok salah satu local committee bernama Sanya akan menjemputku jam sembilan pagi. Besok adalah hari pertama memulai internshipku.

Intern-intern dari Indonesia memang menyangsikan bahwa local committee akan datang tepat waktu seperti yang dijanjikan. Mereka bahkan punya pengalaman ketika local committee menjanjikan menjemput jam sembilan tapi baru nongol jam setengah dua. What???  Tapi aku tetap husnudzan, bahwa mereka akan datang hari ini meskipun waktu sudah lewat dari tiga puluh menit dari jam sembilan. Selena, nama salah satu intern asal Indonesia, memberikan handphonenya kepadaku memberitahukan bahwa seseorang di ujung sana ingin berbicara denganku.

“Hi Irma, Sanya is talking here.The school van is on the way there to pick you up and we will be meeting the principal today.”

“Okay thanks, see you soon there”   

Aku tersenyum kepada cewek-cewek asal Indonesia, at least, mereka tidak menjemputku jam setengah dua seperti pengalaman mereka. Tidak berapa lama, suara bel berbunyi, aku berlari menuju arah pintu depan dan mendapati seorang lelaki berdiri yang kemudian mulai berbicara bahasa Hindi, trus bagaimana aku bisa mengerti?

“Are you from the school?”

“No, Taxi driver”

Aku dibuat bingung, karena setelah itu dia berbicara bahasa Hindi lagi.Kami berdua sama-sama bingung, sampai kemudian kulihat dia mengeluarkan handphonenya dan berkata “Wait”, dan mulai berbicara bahasa Hindi lagi, kemudian dia memberikannya kepadaku. Diujung telepon sana kudengar suara berat seorang laki-laki berkata memberitahu bahwa dia mengirim seorang sopir taxi menjemputku untuk bertemu dengannya dan memang benar dia dari sekolah tempat aku akan memulai internshipku. Untuk lebih meyakinkan aku tanyakan siapa nama sopir itu dan kudapati nama tersebut cocok dengan apa yang kutanyakan kepada sang sopir. Intern asal Indonesia membantu aku mengangkut koper dan tas ranselku menuju taksi. Akupun berpamitan.

“Selamat jalan ka, semoga mendapatkan pengalaman berharga”, ujarnya.

“Terima kasih ya”, aku menjawab sambil menutup kaca mobil dan melambaikan tangan.

Sang sopir membawaku ke sebuah gedung perkantoran dan aku masih mencari-cari dimana gerangan lokasi sekolah karena yang kulihat hanyalah ruko-ruko berbaris rapi dan mobil-mobil terparkir berjajar. Sang sopir mengajakku ke lantai dua menuju kesebuah ruangan yang terletak disudut. Kami harus menunggu beberapa saat, kulihat diruangan itu banyak keluar masuk orang-orang yang sepertinya bergegas melakukan seperti halnya dikantor-kantor. Hingga ruangan itu terlihat kosong sang sopir taksi mempersilahkan masuk.

 Yang kulihat pertama kali adalah seorang pria dengan turban besar melingkar dikepalanya tampak sibuk menandatangani kertas-kertas, berdiri disampingnya seorang wanita gemuk, kuduga dia adalah seorang sekretaris. Dia mempersilahkan aku duduk dan menawari aku chai. Sekarang aku familiar dengan bau teh bercampur susu ini. Dia masih sibuk dengan kertas-kertasnya dan tak henti berbicara bahasa Hindi dengan sang sekretaris sambil mempersilahkan aku untuk meminum chai. Adegan itu terus berlangsung sampai seorang gadis memasuki ruangan dan menyapaku. Aku langsung menegurnya meskipun aku hanya menebak dan memang tebakanku benar. Ya, dia adalah Sanya, local committee Chandigarh.

 Berambut panjang dan berhidung bangir, wajahnya tirus sepadan dengan badannya yang tipis. Ketika Sanya sudah duduk barulah “percakapan” dimulai. Pria berturban itu meminta aku memperkenalkan diri dan menanyakan aku tentang segala macam, termasuk minta diceritakan segala hal tentang Indonesia. Sesekali dia membandingkan apa yang aku katakan tentang Indonesia dengan India dengan “mengkonfirmasi” kepada Sanya termasuk tentang jumlah penduduk, jumlah provinsi, sistem pendidikan hingga keragaman agama. Hingga sampai pada diskusi tentang agama, dia bertanya kepadaku dengan mimik serius.

Dalam hatiku sebenarnya wajah seriusnya justru membuat aku tertawa geli karena aku membayangkan sosok didepanku adalah Aladin yang berubah dari kurus menjadi Aladin yang berbadan gemuk dan berjanggut putih

“Are you a moslem?” tanyanya seperti menyelidik

“Yes” jawabku mantap

“You do five times praying in a day”

“Yeah, of course”

“You do?” seolah dia tidak percaya, dia mengulanginya hingga tiga kali. Aku semakin geli karena sepertinya dia heran dengan jawabanku kemudian dia bertanya bagaimana aku melakukannya. Aku kemudian mengambil mukena dan sajadah kecil yang ada didalam tasku dan memperlihatkan kepadanya.

“I bring this so it’ll be easy for me to pray”, dia manggut-manggut kemudian berbicara dengan Sanya dalam bahasa Hindi, yang tentu saja tidak aku mengerti. Kemudian pada saat yang bersamaan mereka melihat kearahku dan entah apa yang mereka perbincangkan tapi kemudian kami sama-sama tersenyum dan menikmati chai.

“Ok then, you must be tired.My driver will dropp you to the school”, tukasnya menutup percakapan kami. Dan kamipun berpisah.

 

Prosedur panjang mendapatkan simcard

                Selesai berbincang dengan pria berturban besar yang akhirnya kuketahui bernama Mr.Shokey, Sanya mendampingiku mendapatkan simcard. Oya harus kuberitahu bahwa tidaklah mudah mendapatkan simcard di India. Untuk mendapatkan simcard bagi penduduk lokal harus menyerahkan identity proof (ktp atau sim), mengisi formulir dan menyerahkan foto, sedangkan untuk penduduk non local harus menyerahkan foto copy passport, visa, foto dan mengisi formulir. Finish? Not yet

Prosedur tidak hanya berhenti sampai disitu. Bhaiya penjual simcard akan me-record data kita, sampai se-detail-detailnya, mulai dari nama, nama ayah dan alamat. Untuk penduduk non lokal alamat akan diuraikan mulai dari kota, kabupaten hingga kecamatan, hahahahaha, betapa telatennya bhaiya penjual simcard ini. Meskipun rangkaian “prosesi” sudah selesai bukan berarti lo akan melenggang senang dengan nomor India di tangan, tunggulah sampai provider penyedia jasa komunikasi mengkonfirmasi dalam jangka waktu satu, dua, bahkan ada yang sampai empat hari. Mereka akan mengkonfirmasi ulang dengan menanyakan nama, nama ayah dan alamat sesuai dengan apa yang sudah di record sebelumnya. Adapun harga kartu perdana bervariasi mulai dari Rs 150, 250 sampai dengan 500.

Mengingat kerumitan diatas betapa kita harus sangat bersyukur dan berbahagia, bahwa lo, gue dan kita semua di Indonesia bisa membeli dan bahkan “membuang” kartu perdana, kapan dan dimana saja semau kita dengan nominal serendah-rendahnya, lima ribu atau bahkan dua ribu rupia. Dan akupun harus sabar menunggu demi pempunyai nomor baru.

Selesai semua proses “mendapatkan” simcard, Sanya mengajakku untuk kembali ke kantor bapak berturban besar untuk berpamitan. Tiba dikantornya Mr.Shokey masih kelihatan sibuk berkutat dengan kertas-kertas dihadapannya. Tak banyak yang dia bicarakan hanya berkata bahwa sang sopir taxi akan mengantarkan aku menuju sekolah dan dia berharap bisa bertemu denganku nanti dilain kesempatan. Sanya mengantarkan aku sampai ke taxi yang dituju. Kamipun berpisah,

 

Culture and “Agriculture”

                Dimataku Chandigarh adalah kota yang indah. Sebagai ibukota Punjab, Chandigarh selalu cantik dan menawarkan banyak kemudahan untuk warganya. Kota ini memproklamirkan diri dengan julukan “The City Beautiful”, agak janggal dan aneh sich kedengarannya, tapi begitulah adanya, kelak akan kuceritakan banyak frasa-frasa aneh dan janggal kutemui di India. Sarana transportasi dimudahkan dengan adanya “Chandigarh Transport Undertaking”, bus merah yang mengingatkan aku pada bis transjakarta atau busway di Jakarta. Dengan tiket mulai dari Rs 5 hingga Rs 15, si merah akan membawa penumpangnya kesetiap sektor yang dituju.

Taman-taman kota bertaburan bunga dengan pesan-pesan yang menyenangkan hati terpampang di sudut-sudut taman, misalnya “Have a Nice Day” atau “Have a Nice Journey”, Tapi kemana aku akan dibawa?

Sang sopir taksi yang dengan setia bersama aku mulai dari menjemput aku di intern house, mengantarku ke ruang Shokey Sir dan sekarang aku tetap bersama dia. Shokey Sir memang mengatakan bahwa sang sopir akan membawaku menuju sekolah, jadi pantas saja aku tidak melihat anak-anak berlarian, ruangan kelas dan semua hal yang berhubungan dengan sekolah, rupanya lokasi sekolah memang jauh dari kantor bapak berturban ini.  

 Di Invitation Letter memang tertulis nama sekolah beserta alamat. But I don’t know exactly where it is. Dari hasil “tanya-tanya sekedarnya” aku hanya mendapati info bahwa Ropar, tempat dimana sekolah tersebut berada berjarak sekitar satu jam dari Chandigarh. Tapi apa yang kulihat sekarang teman? Duduk tepat dibelakang jok sang sopir taksi seakan aku begitu menikmati pemandangan diluar sana. Disisi kiri dan kanan yang kulihat adalah hamparan hijau membentang, pohon-pohon kurus tinggi menjulang seperti hendak menyentuh langit dan gapura-gapura berwarna putih dengan ukiran huruf-huruf Hindi yang seolah meliuk-liuk diterpa semilir dingin angin winter, sesekali kulihat pria-pria berturban seperti Shokey Sir lalu lalang dipematang lapangan hijau, inikah Ropar? Tempat dimana aku akan menghabiskan waktu dua puluh empat minggu kedepan?

 Angan ku pun melayang dan memutar ulang percakapan dengan Hunny Hans, sang local comitte Chandigarh, ketika dia bertanya “Apa yang paling menarik dari sebuah bangsa?”, Jika ditanya apa yang menarik dari sebuah bangsa tentulah budayanya, dan dimataku India adalah negara yang penuh dengan “warna-warni” setidaknya itu tergambar dari film-film yang membanjiri televisi Indonesia ketika salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia begitu getol menampilkan film India bahkan kemudian demam Shah Rukh Khan melanda Indonesia ketika film berjudul “Kuch Kuch Hota Hai” booming sekitar tahun 90an. Rasanya masih segar dalam ingatan ketika sekolah dasar aku dan kakak ku berlari-lari cepat sepulang sekolah demi menuju rumah agar tidak ketinggalan serial Mahabarata. Serial yang dipenuhi dengan para dewa dan dewi didalamnya ini tentu saja dihiasi dengan nyanyian-nyanyian merdu yang hanya aku mengerti jika membaca teksnya dan sekarang disinilah aku berada, di Ropar-Punjab, North India.

 Entah berkelakar atau sekedar joking, seorang teman yang asli India dalam salah satu emailnya mengatakan bahwa keinginanku untuk mempelajari budaya India tak akan aku dapati jika aku berdiam di Ropar, adapun yang akan aku dapati adalah bagaimana seni bercocok tanam, setidaknya ini tergambar dari apa yang dia tulis: “there is a lot of culture in India but in Punjab where you go, there is a joke which says the only culture, is agriculture”. Dan akupun tersenyum-senyum sendiri demi mengingat hal itu seakan aku membuktikan bahwa apa yang dikatakan dia adalah benar adanya dengan apa yang aku lihat diluar sana melalui kaca mobil taksi.

 Pohon-pohon tinggi menjulang itu seperti berkejar-kejaran, hamparan greenfield itu ternyata adalah tanaman gandum, tidak ada hiruk pikuk riuh kota seperti yang kulihat di Delhi, semuanya tenang laksana aliran sungai yang beberapa kali aku lewati, so peacefull…

 Sebagai “agriculture village” bolehlah dikatakan kalau Ropar mengingatkanku akan kota kecil Cianjur, Jawa Barat yang penghasil beras, dikatakan juga kalau Punjab adalah lumbung padinya India. Bahkan basmati rice, komoditas utama dari Punjab adalah jenis beras terkenal dan mempunyai kualitas “very very good” begitu katanya. 

“This is the school”, suara sang sopir taksi membuyarkan lamunanku.

Dengan sigap dia mengeluarkan koper dan tas ranselku dari bagasi dan mempersilahkan aku memasuki suatu ruangan. Duduk didepanku saat ini adalah seorang wanita berparas kalem dan keibuan, memegang ballpoint dan buku agenda tepat berada di depannya. Siapa lagi wanita ini, bukankah aku sudah bertemu bapak principal berturban besar satu jam yang lalu? 

Again, dia menanyaiku asal negara dan sedikit “small talk” termasuk habitual action, jam makan mulai dari breakfast, lunch hingga dinner. Tak lupa dia menanyakan menu apa yang biasa aku santap, aku menjawab sewajarnya, hingga dia tertegun ketika aku menyebut kata “fish and meat”, dua lauk pauk yang menurutku umum untuk menu makan siang ataupun malam bagi warga Indonesia, mengapa dia begitu terkejut.

“Are you non-veg?”

“Yes”

“Hmm, let see if we could provide these things for you since most of us are veg”

 Waduh kayaknya bakalan susah ketemu sama ikan dan ayam nech, ucapku dalam hati.

Percakapan berakhir ketika waktu menunjukkan jam 14.00 dan dia menawarkan aku untuk makan siang. Tentu saja aku sudah amat lapar, pagi hari ketika sang sopir menjemput aku hanya sempat minum susu dan mengunyah biskuit. Aku diantar ke suatu ruangan yang kelak menjadi ruang tidur dengan berjuta cerita didalamnya. Seorang wanita setengah tua mengantarkan nampan berisi makanan, entah terdiri dari apa saja menu lunch ku ini, yang bisa kukenali hanyalah sang chapatti yang seperti menunggu giliran untuk berpindah tempat ke perutku. Mrs. Pavneet, wanita yang “mewawancaraiku” terlihat tersenyum melihat aku makan dengan lahap.

“It should be like this”, tukasnya sambil mengambil satu lembar chapatti dan menyobek sebagian kecil kemudian membentuknya seperti perahu dan terakhir mencelupkan ke kuah sayuran yang ada di mangkuk kecil berwarna silver.

Tapi aku tak telaten dengan cara itu aku tetap mengambil satu lembar chapatti, menggulungnya menjadi tiga lipatan dan memakannya seperti memakan roti tawar dan menyendok sayuran berkuah dengan sendok teh.      

“Sooner or later you will learn how to eat chapatti”

Dan akupun tersenyum, melanjutkan makan siangku seorang diri karena Mrs. Pavneet undur diri dengan alasan tidak mau mengganggu makan siangku.

“Enjoy your lunch”, katanya sambil berlalu dan menutup pintu kamarku.

 Akhir dari hari ini adalah aku beres-beres kamar yang akan aku tempati enam bulan kedepan, entah dengan siapa aku akan menempati kamar ini, karena ada dua tempat tidur single dan satu lemari baju dengan ukuran cukup besar berdiri disudut kamar sana, atau mungkin aku hanya akan seorang diri melewati hari-hariku di desa agriculture ini. Entahlah…

 Orang-orang berdatangan ke kamarku, walaupun sebenarnya aku capek tapi tak apalah, mereka memperkenalkan diri mereka satu persatu. Yang paling penting dari mereka tentu saja Aunty Kuldeep, orang yang akan bertugas “melayani” aku jikalau aku perlu sesuatu. Dia pula yang akan menyediakan aku makan tiga kali sehari dan dialah wanita yang tinggal di lantai tiga sekolah ini, dan kamarku satu lantai dibawahnya.

  • view 10