Incredible1

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Project
dipublikasikan 27 Agustus 2017
The Incredible Journey

The Incredible Journey


Catatan perjalanan ketika saya menjalani internship di tempat yang banyak memberikan saya pelajaran tak hanya mengenai pekerjaan, persahabatan, cinta bahkan agama.

Kategori Petualangan

131 Hak Cipta Terlindungi
Incredible1

Incredible1

                Aku bertolak dari Jakarta pada tanggal 24 January, 2013 pada hari Kamis jam delapan pagi bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW. Taksi yang kupesan tadi malam sudah siap mengantarku menuju bandara Soekarno-Hatta. Empat puluh lima menit kemudian aku sudah berada di bandara bersama lautan manusia yang hendak pergi entah kemana. Aku memang sepertinya datang “early bird” karena di e-ticket check in counter tertera jam 11.20, tapi tak apalah mengingat ini adalah pengalaman pertamaku terbang ke luar negeri dan sendiri.

Waktu yang senggang aku manfaatkan untuk mengirim pesan dan membalas beberapa pesan yang masuk. Tapi lebih banyak aku bertanya kepada mereka yang sudah sering bepergian ke luar negeri baik untuk study ataupun sekedar plesiran.

Dari petunjuk petugas ticketing ketika aku booking ticket, aku mendapat sedikit “pencerahan” yaitu ketika sampai airport aku langsung menuju terminal 2D. Setelah menemukan terminal 2D aku berusaha mencari maskapai penerbangan yang akan membawaku pergi dari Jakarta. Setelah sedikit muter-muter mencari, akhirnya seorang petugas (tanpa ID) memberitahuku (dan tanpa aku minta) untuk berdiri tepat didepan sebuah counter milik penerbangan Singapura. Baiklah, aku akan menunggu dengan setia karena jam di tanganku baru menunjukkan angka 10.15.

“Naik Mihin Lanka juga?” seseorang tiba-tiba bertanya kepadaku

“Iya, mba?” jawabku sambil menyunggingkan senyum

“Sama, tujuan kemana?”

“Saya ke Delhi, mba ke Delhi juga?”

“Ngga, saya ke Oman, majikan saya sudah telepon suruh saya pulang”

Oh, okay, sekarang aku tahu siapa dia. Usianya kutebak sekitar tiga puluh atau tiga puluh lima tahunan, perwakannya tinggi, putih dan berambut panjang. Bersama dia ada dua orang wanita lainnya. Disebelah kiri aku lihat segerombolan ibu-ibu yang bercampur baur dengan beberapa anak gadis tampak riang gembira bersenda gurau. Mereka berkumpul sekitar dua puluh orang kukira.

Tak sempat kutanyakan siapa namanya, karena dia dengan cepat berbalik badan dan mengobrol dengan kedua teman perempuan lainnya. Baiklah, aku kembali sendiri. Tiba-tiba seorang ibu dengan koper amat sangat besar berdiri tak jauh dari tempatku. Besar dugaan dia akan terbang dengan maskapai yang sama, dia tampak sibuk membaca layar-layar monitor yang berjejer di depan kami. Sekarang giliran aku yang memberanikan diri bertanya kepadanya. Dan ternyata aku benar, horay… seperti mendapat teman baru, kami saling tek-tok bertanya satu sama lain. Ternyata tujuan dia ke Oman, tapi berbeda dengan “purpose of visit” dari si mba yang pertama. Dia hendak menengok suaminya yang bertugas di Oman. Karena ternyata dia berasal dari Bandung, dan ternyata juga pernah tinggal di Sukabumi, jadilah percakapan kami berlangsung dengan bahasa Sunda yang amat sangat nyaman J

Tepat pukul 11.00 check in counter dibuka. Ibu Ami, nama teman baruku, kemudian mengajak aku untuk mengantri. Dan aku dengan senang hati menerima ajakannya agar kami duduk bersebelahan. Jadilah aku mendapat seat nomor 20A dan dia 20B. Setelah boarding pass, kami melakukan serangkaian “prosesi” lainnya sebelum menaiki pesawat milik Sri Lanka ini.

Rangkaian “prosesi” selesai sekitar jam 12.00 sambil menunggu waktu shalat Dhuhur tiba, Ibu Ami menghabiskan waktu dengan membaca buku biografi Dahlan Iskan dan aku sendiri corat-coret di buku kecilku yang setia menemani perjalananku.

Mushola yang kami tuju untuk shalat dhuhur ternyata penuh sesak oleh serombongan orang yang berpakaian seragam dan bisa kutebak mereka adalah rombongan ibadah umrah atau haji. Ibu Ami kemudian mengajakku berjalan sekalian mencari Gate 4 dan menunaikan shalat dhuhur disana.

Ternyata didepan Gate 4 antrian sudah cukup mengular. Karena berjalan cukup jauh Ibu Ami mengajakku untuk duduk sebentar. Tepat duduk disebelahku seorang wanita yang asik berbicara dalam bahasa Jawa yang medok, sedangkan disebelah Ibu Ami sendiri adalah seorang wanita yang berbicara dalam bahasa Inggris. Masing-masing dari kami menghela nafas ketika wanita yang berbicara dalam bahasa Inggris bertanya kemana tujuan kami. Dan, dengan gampangnya dia bertanya, “Dari agent mana?”, dan kami berdua saling berpandangan, saling menatap untuk sesaat kemudian tertawa. Ibu Ami dengan tenang menjawab, “Saya mau nengok suami, adik ini (menunjuk ke aku) mau pendidikan.”. Dia hanya membulatkan mulutnya dan pamit untuk mengantri di Gate 4. Ini memang common terjadi kala wanita Indonesia berkerudung dan pergi luar negeri, pasti di sangka TKI, mengenaskan, tapi inilah kenyataannya…

Setelah beberapa saat kamipun ikut mengantri bersama puluhan wanita yang umumnya berkerudung dan bergerombol. Mencari mushala adalah tujuan kami selanjutnya dan disanalah kami menunaikan shalat dhuhur. Ah, tenang rasanya…

Tertera ditiket bahwa pesawat akan take off jam 14.20. Molor sekitar empat puluh menit, karena nyatanya pesawat take off jam 15.00. Sisa waktu yang ada kami manfaatkan untuk menelepon. Dalam tuturan bahasa Sunda halus, kudengar Ibu Ami menelepon keluarganya, mama nya dan anak-anaknya. Sepertinya dia berbicara dengan anak tertuanya. Beliau dengan telaten menanyakan semua “prosedur” di rumah, seolah mengecek apakah sang kakak dan adik-adiknya sudah makan, kalau mau bepergian jangan lupa mengunci pintu dan minta doa agar selamat karena pesawat akan segera take off. What a great mom.

“Ayubowan”, itulah greeting yang diucapkan oleh pramugari maskapai penerbangan Sri Lanka ini. Dengan postur tinggi besar, berkulit agak gelap dan dengan dua tangan yang menangkup didepan dada disertai senyum yang tersungging dibibir seolah dia ingin menyapaikan pesan dan berkata, “Lets fly with us”.

Nyatanya memang pesawat kami dipenuhi oleh rata-rata wanita berkerudung. Duduk bersama kami seorang wanita muda berumur sekitar dua puluhan, dengan tujuan Qatar, dia tampak diam saja, tidak riang seperti yang lainnya, kalaupun boleh kukatakan dia terlihat bermuram durja. Sementara duduk didepan kami seorang Ibu yang tampak riang gembira dengan perjalanan ini. Sesekali dia berbicara dengan bahasa Arab dengan penumpang laki-laki disamping ataupun bercakap-cakap di telepon selular miliknya. Logat Ibu ini adalah Cirebonan yang dengan sangat mudah dikenali.

Aku dan Ibu Ami sibuk dengan majalah milik penerbangan ini dan kadang-kadang berdiskusi tentang negara yang akan kami singgahi untuk transit. Tapi kadang berdiskusi tentang para wanita didalam pesawat lebih menarik ketimbang majalah pesawat ini karena mau tidak mau kami mendengar pembicaraan mereka. Perempuan di samping Ibu Ami ternyata berasal dari Cianjur. Mengetahui hal itu, kudengar Ibu Ami melanjutkan pembicaraan dengan bahasa Sunda. Hal menarik lain yang kudengar adalah percakapan antara Ibu dengan logat Cirebonan dengan lelaki disampingnya.

Dengan tidak bermaksud menguping, akhirnya aku tahu bahwa Ibu ini sudah cukup kenal “medan tempurnya” sehingga dia dengan mudah bolak-balik Indonesia-Middle East. Dia juga mengakui bahwa suaminya meninggalkan dia dan anak-anaknya sehingga ketika baru melahirkan dan anaknya masih dalam hitungan bulan, dia sudah harus “terbang” mengumpulkan dinar untuk keluarganya. Dari arah belakang kursi kami, ternyata tak jauh beda cerita yang kudengar. Himpitan dan tuntutaan ekonomi adalah faktor utama mereka meninggalkan tanah air. Dan akupun tertegun dengan kenyataan ini. No comment dan speechless… 

Dengan kostum sari berwarna biru bercorak peacock pramugari hitam manis ini meminta aku untuk memilih beef atau chicken untuk menu makan. Dan akupun memilih chicken untuk menu makanku. Hmm, inilah persentuhan pertamaku dengan makanan asing. Begitu kubuka, bumbu rempah-rempah langsung menusuk hidungku, seolah “menonjok” mulutku. Menu chicken curry yang disajikan kental dengan rempah-rempah didalamnya dan aku pun menikmatinya dengan riang gembira bersama Ibu Ami disampingku.

Colombo, a one night sleep

                Bendera bergambar singa membawa pedang berkibar-kibar seolah menyambut kedatangan kami. Tepat jam 17.30 waktu Colombo pesawat mendarat dengan sempurna. Dan disinilah kami sekarang, Bandaranaike Airport-Colombo.

Senang rasanya sudah melewati sedikit perjalanan diudara, tapi aku harus berpisah dengan Ibu Ami. Dia harus meneruskan perjalanannya menuju Muscat-Oman dan aku harus transit di Colombo dan menghabiskan malamku disini.

Setelah mencari-cari dan bertanya kepada petugas dengan kumis “baplang” milik Pak Raden, dia menunjuk arah “Colombo Stop Over Counter”. Disinilah aku mengurus transit hotelku. Jika dipesawat para pramugari berseragam biru, maka disini kutemui para wanita bersari dengan warna hijau tapi tetap dengan motif peacock. Mereka tidak ramah tapi juga tidak cuek, pelayanannya amat datar dan berbicara hanya seperlunya. Berdiri tepat didepan antrianku seorang pria berkaos merah dengan tampang yang dingin dan tanpa rambut. Meskipun tidak ada senyum di wajah mereka tapi service nya cukup memuaskan. Proses pengurusan transit hotel berlangsung dengan cepat, secepat mereka menunjukkan aku tempat untuk menunggu.

Diruang tunggu aku bertemu dengan penumpang asal Indonesia. Mas Agus, namanya dengan tujuan Nizamudin-India. Sambil menunggu dipanggil, kami berbincang-bincang ringan. Perawakannya tinggi sedang, mengenakan peci dan baju “ala santri”. Dia hanya mengatakan bahwa tujuannya ke India hanya untuk plesiran saja, tapi aku tidak percaya, mana mungkin plesiran hanya bermodal tas selempang sedang dan tak ada apa-apa lagi ditangannya, padahal dia akan tinggal di India cuukup lama. Tapi ya sudahlah, aku toh tak mau memaksa agar dia bercerita banyak kepadaku karena nyatanya aku lebih tertarik memperhatikan para pramugari dengan kain sari motif peacock dihadapanku.

Adalah cukup aneh dimataku, para pramugari biasanya adalah mereka para wanita dengan postur tinggi langsing dan berkulit putih, tapi didepanku aku menemukan pemandangan lain. Mereka yang lalu-lalang dihadapanku adalah para wanita dengan postur tinggi, pendek, hitam, putih, kurus dan gemuk. Mereka amat sangat harmonis ketika berjalan beriringan bahkan sambil cekikikan.

Tiba-tiba seorang petugas menghampiri aku dan menanyakan kertas yang aku genggam dimana didalamnya tertera nama hotel untuk aku bermalam. Mas Agus ikut-ikutan berdiri dan memperlihatkan kertasnya tanpa diminta. Kami memang berbeda hotel transit dan kami tidak tahu mengapa, padahal tujuan kami sama-sama ke Delhi. Dengan sigap petugas berkata : “You come with me” (sambil menunjuk kepadaku) “and you not yet” (katanya sambil menunjuk Mas Agus). Dan akupun berpisah dengan Mas Agus di ruang tunggu ini.

Petugas yang menanyaiku membimbing aku menuju sebuah mobil sejenis sedan, mungkin taxi, tapi itu terlalu bagus untuk ukuran sebuah taxi. Whatever, yang penting aku sudah berada didalamnya dan ternyata aku tidak sendiri. Tahukah siapa temanku dalam taxi, ya dia adalah lelaki berkaos merah, berkepala tanpa rambut dan bertampang dingin. Aku coba melemparkan senyum, hanya sekelebat kulihat dia membalas senyumku maklumlah didalam mobil cahaya tidak cukup terang. Seketika aku disergap perasaan “ngeri” karena aku baru menyadari, aku perempuan seorang diri bersama dua orang lelaki tak dikenal.

Kucoba mencairkan suasana dengan menawarkan permen kepada pria bertampang dingin ini, padahal dalam hati aku sebenarnya kebat-kebit. Maksud hati ingin bercakap-cakap tapi ternyata dia hanya menjawab singkat, “No, Thanks”. Akhirnya perjalanan dilewati dengan suasana hening. Seperti halnya suasana didalam mobil yang hening begitu pula yang kulihat diluar, sepanjang perjalanan yang kulihat adalah patung-patung yang di terangi dengan lampu warna-warni, besar kemungkinan itu adalah patung para dewa karena banyak orang berdiri dan menangkupkan tangan didada mereka. Dan itu tidak hanya satu, patung besar dan kecil mendominasi hampir di sepanjang jalan yang kami lewati.

Waktu menunjukkan jam 19.30 ketika sang driver menghentikan mobilnya dan menunjukkan hotel untuk kami bermalam. Aku bertanya apakah besok dia akan menjemputku lagi menuju bandara dan dia menjawab singkat, “The hotel will manage.” Inilah kesan kedua ku kepada Sri Lanka, mereka tidak ramah, tapi tidak pula cuek. Ibarat pesawat televisi mereka adalah televisi layar datar, so flat, tapi kita bisa menikmati kenyamanan untuk menonton.   

Petugas resepsionis adalah seorang laki-laki tinggi besar, proses check in berlangsung secepat kilat, secepat dia menyerahkan kunci kamar No.18. Again, wajahnya seperti televisi layar datar. Ketika membuka pintu menuju lobby, kulihat baquet dinner tengah di gelar. Live music yang digawangi oleh tiga orang pria hitam legam secara akustik begitu merdu di telinga karena sebait kalimat begitu hangat menyambutku dan kalimat itu adalah “What a wonderful world”.

Seorang pria dengan seragam koki menyapa ku dengan hangat dan pendek, “Hi…” Akhirnya ada juga wajah “manis” yang menyapa tamunya. Dia sepertinya tahu bahwa aku sedikit kebingungan mencari kamarku, karena suasana yang temaram. “Just go straight and turn right, then you will find your room”. Dan akupun sampai dikamarku. Kamar ini rasanya terlalu besar untuk kutempati sendiri, bahkan ukuran kasurnya pun bukan single melainkan double. Warna putih mendominasi kamar mulai dari cat, sprei, hingga bath tub di kamar mandi.

Tigapuluh menit dari jam setengah delapan aku sudah bersiap untuk dinner. Si koki hitam manis sedang berdiri “di bootsnya” ketika aku melangkahkan kakiku menuju tempat digelarnya dinner.

“Want to try chapati?”, Tanya nya memulai percakapan,

“Sure”, jawabku mantap seolah menemukan teman baru.

Dan kami pun berbincang-bincang. Dia mengambil satu bulatan besar dan proses pembuatan chapatti dimulai sambil dia bercerita bahwa dia sudah lulus sekolah dan sedang menyelesaikan kuliah perhotelannya dan hanya bercita-cita jadi koki. Dia pun bercerita bahwa dia saat ini juga mengambil kursus bahasa Inggris, untuk itulah dia ingin berbincang-bincang denganku, alas an bahwa dia ingin practice English.

“Here you go”, dia menyodorkan satu bulatan chapatti diatas piring besar. Setelah mengucapkan terimakasih akupun mencari tempat duduk.

Hidangan yang melingkar begitu menarik selera, tapi ketika aku mendekatinya selera itu mendadak hilang berganti mual karena bau rempah yang menusuk hidung. Seolah dia mengawasi dari jauh, sikoki hitam manis itupun datang kearah ku dan menjelaskan satu persatu hidangan yang ada tanpa diminta, secara umum aku bisa menebak-nebak karena tepat didepan setiap hidangan tertera nama hidangan tersebut. Dan akupun memilih tidak mencobanya walaupun sedikit. Aku berbalik arah dan lebih memilih mengambil sayur-sayuran dan buah. Seketika dia memperhatikanku dan bertanya.

 

“Are you sure you don’t want to try that food”, seolah dia kecewa karena sudah menjelaskan dengan susah payah. Bagaimana mungkin aku makan makanan yang baunya saja sudah bikin mual. Dan sekarang aku begitu senang ketika mendapati piringku telah penuh dengan sayuran mentah dan buah. I missed raw food, seketika darah Parahyanganku mendominasi dan menggerakan tanganku untuk segera melahapnya tapi dia masih berdiri dan mencoba meyakinkan aku lagi.

 “Just it?”

“Yes” 

“Ok then, enjoy your dinner”

Musik akustik dibawakan oleh trio degan formasi dua gitar dan satu drum tradisional yang aku tidak tahu namanya, menyerupai gendang, telah membuat aku betah duduk dikursi hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 21.00. Rasa kantuk mulai menghinggapi mata, kulihat si koki hitam manis tengah sibuk dan akupun berjalan meninggalkan lautan makanan yang sudah mulai berpindah tempat keperut orang-orang dengan dengan berbagai rupa kulit, warna dan bahasa yang kudengar.

Aku beranjak tidur ketika tak lama pintu ku diketuk. Si koki hitam manis berdiri dengan senyum tersungging dibibirnya sambil mengucapkan terimakasih sudah mau berbincang-bincang dengannya. Aku berkata tidak usah khawatir karena besok bisa bertemu lagi, tapi dengan nada kecewa dia berkata bahwa besok tidak mungkin bertemu karena dia masuk jam 15.00 sedangkan aku harus check out paling tidak jam dua belasan. Dan kami pun berjabat tangan tanda sebagai tanda perpisahan.

 Leaving Colombo

                Jika dinner tadi malam aku duduk sendiri, maka breakfast pagi ini aku ditemani oleh seorang wanita asal Philippine. Namanya Maria Magaddatu, dia baru saja selesai holiday di Thailand dan menyarankan aku untuk mengunjunginya. “Thailand is nice, you have to go there”. Aku hanya manggut-manggut sambil menikmati orange juice. Ternyata kami berdua punya kesamaan pandangan tentang hidangan yang tersaji. 

“The spices is too hard on your throat”, begitu komentarnya dan aku pun setuju.

“Have you seen the beach?”

“Is there any beach near here?” seketika aku sumringah

“Yeah, you didn’t hear?”

Kukira aku tidur terlalu nyenyak tadi malam hingga tidak menyadari deburan ombak dan aku begitu tidak menyadari bahwa nama hotel tempat aku menginap adalah “Catamarin Beach Resort”.

Terhampar didepanku adalah kilatan warna biru laut berpadu dengan birunya langit dan burung-burung riang berhamburan terbang laksana menyambut pagi. Kulihat para turis asing berkulit pucat berjalan-jalan, lari pagi bahkan sekedar berjemur.

Tiba-tiba khayalan keindahan pagiku buyar ketika seorang laki-laki tua menghampiri dan mengucapkan salam nya padaku. Sebagai seorang muslim aku menjawabnya dan kemudian dia bertanya asalku, dan tanpa disangka dari tas besarnya keluarlah barang-barang “dagangan”. Sebenarnya aku sudah curiga kalau dia adalah seorang pedagang, tapi tidak mungkin tidak menjawab salam yang dialamatkan kepada kita. Terlebih dia berkata bahwa dia pun seorang muslim yang tinggal tak jauh dari pantai ini.

Maksud hati ingin menolak secara halus bahwa aku tidak berminat membeli barang-barang dagangannya tapi dengan halus dia terus “merayuku” dengan menjelaskan semua aksesoris yang dia jajakkan. Tapi pada akhirnya aku luluh juga dengan “kerja keras” bapak tua ini. Anggaplah aku memberi rezeki di pagi hari kepada dia dan aku pun mengambil satu kalung berwarna gading berliontinkan gajah. Si bapa tua terlihat senang dan sebagai kenang-kenangan aku memberikan selembar rupiah kepadanya. Kulihat dia semakin berseri-seri. Seulas kebahagiaan dipagi hari.

Maria mengingatkanku untuk get ready berkemas karena setelah kutanyakan akan ada mobil yang akan mengantarku ke bandara dan aku harus sudah bersiap jam 11.00.

Lima menit sebelum jam 11.00 telepon di kamarku berdering, suara seorang perempuan diujung telepon mengabarkan bahwa taxi sudah siap didepan menungguku. Akupun bergegas menuju lobi dan menyerahkan kunci kamar. Sang resepsionis berkata bahwa mobil yang akan mengantarku ke bandara sedang keluar sebentar dan menyarankan aku untuk menunggu di lobi.

Lobi terlihat lengang, hanya aku dan seorang laki-laki berturban berdua dengan seorang anak laki-laki yang kuduga adalah anaknya. Tanpa sengaja dari arah berlawanan, kulihat Maria sudah rapi padahal katanya dia akan check out sekitar jam 14.00. Ketika kutanyakan mengapa, dia hanya berkata bahwa dia tidak bisa beristirahat di kamarnya karena kamar sebelah cukup ribut dan dia memilih untuk menunggu di lobi sampai datangnya jam dua.

Tiba saatnya berpisah dengan Maria karena mobil untuk mengantar ke bandara sudah siap. Dia tidak henti-hentinya mengingatkan aku untuk menghubunginya jika aku akan berkunjung ke Philipine atau Abu Dhabi, tempat dimana dia bekerja sekarang. Kami saling bertukar alamat email dan berpelukan. Saatnya meninggalkan Colombo.

Jika Colombo dimalam hari hanyalah kota dengan cahaya temaram dan patung dewa-dewa maka di siang hari bisa kulihat dia yang sederhana. Jalanan memang dipenuhi gugusan temple dan rumah-rumah sederhana. Van driver yang membawa kami menuju airport dengan senang hati menjelaskan setiap temple bahkan gereja yang saling bersebelahan dengan salah satu temple besar. Gapura-gapura jalan terlihat dihias dengan buah nanas besar-besar. Dari penuturannya, barulah kuketahui akan ada festival keagamaan cukup besar di Colombo esok hari, sayangnya aku tidak mungkin melihatnya.

Ternyata aku satu mobil dengan pria berturban dan anak lelaki dan duduk paling belakang adalah rombongan turis bermata sipit yang kukira berasal dari Jepang.

Sesampainya di Bandaranaike, aku langsung check in dan mencari Gate 10. Karena waktu check in masih lama dan waktu sudah menunjukkan jam 12.30 akupun bergegas mencari mushola untuk menunaikan shalat. Mushola yang kutuju ternyata terletak di pojok dan tampak “bersembunyi” diantara hiruk-pikuk Bandaranaike.

Tampak para laki-laki berhidung mancung dan berpostur tinggi tegap mendominasi mushola pria sementara disebelahnya terletak mushola wanita yang didominasi oleh para akhwat yang mengenakan burqa hitam.

Selesai menunaikan shalat aku rehat sebentar dan meneruskan untuk kembali ke Gate 10. Dalam perjalanan menuju Gate 10 aku menyempatkan diri untuk nge-check email di boot-boot wifi sepanjang gate di sisi kiri dan kanan. Di Bandaranaike kembali aku bertemu Mas Agus dan saling bertukar cerita pengalaman di hotel transit.       

Jam 14.00 waktu Sri Lanka, pesawat membawaku terbang menuju New Delhi. Sekarang aku duduk berjejer dengan pasangan suami istri. Pasangan suami istri ini begitu menikmati perjalanannya, bahkan mereka seperti “picnic in the air”, sepanjang perjalanan mereka mengobrol sambil menikmati snack yang silih berganti mulai dari muffin sampai chips. Sesekali sang istri yang duduk tepat disebelahku menawariku “snack” yang mereka bawa. Dari cerita sang istri barulah ku tahu kalau bahwa mereka sudah menghabiskan waktu liburan dimulai dari Singapura kemudian ke Kuala Lumpur dan kembali ke Delhi, tempat tinggal mereka. What a happy life.

  • view 11