Life Cycle

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 Juli 2017
Life Cycle

~~~ Life Cycle ~~~

#2013

“Aku kenyang...”

“Baiklah, kau tak mau makan lagi?”

“Nope”

“Packed please”

Bhaiya waiter dengan cekatan membungkus sisa-sisa makanan kami. Aku sempat kaget. Packed? Untuk apa dia membungkus nasi briyani, butter chicken (konon katanya makanan terenak seantero jagat), dhall, dan semua makanan yang terhidang diatas meja. Malam itu ceritanya dia mentraktirku. Tapi seperti biasa ukuran satu porsi disini bisa cukup untuk berdua. Kami berjalan menembus malam. Tangan kanannya menenteng satu kresek besar makanan yang tadi di packing. Sementara aku bertanya-tanya bahkan sempat berfikiran sempit, untuk apa dia membawa sisa-sisa makanan kami, dirumahnya tak ada siapa-siapa. Masa iya orang tajir seukuran dia makan dari sisa makanan kami dan dia yang (ganteng itu hihihi) tak malu meminta sisa makanan untuk di packing dan ditentengnya. Bayangkan jika itu di Indonesia, kurasa para gentleman itu malu melakukannya.

Beberapa ratus meter lagi aku akan sampai ke dormitory ku. Pertanyaanku akhirnya terjawab juga! Tiba-tiba dia menghampiri mereka dan memberikan tentengan kresek tadi. Aku berdiri tak jauh darinya. Dia terlihat berbicara sebentar. Kau bisa menemukan peminta-minta dimana saja disini. Di los pasar, disamping mini market, di stasiun kereta api lebih parah, orang tidur bergelimpangan sembarangan saja, termasuk wanita bersari yang jika tersingkap bagian atasnya, mungkin akan menghidupkan birahi para lelaki.

Kami berpisah didepan pintu.

“Kau pasti bertanya-tanya kan mengapa aku membungkus makanan tadi?”

“Honestly yes. But I found the answer already”

“Kau tahu orang-orang berbicara pembangunan disana-sini. Anak-anak disekolah pasti bercita-cita ingin ke Canada dan Inggris atau mungkin Australia. Mereka bermimpi ingin menjadi engineer, ahli komputer, tenaga IT kelas dunia. Mereka berlomba memoles kota, tapi mereka seakan melupakan orang yang tak punya rumah, orang miskin, pengangguran, dan tak menemukan chapati untuk makan.”

Aku mengerti benang merah yang dia maksud. Sayang hari sudah malam. Kamipun berpisah. Aku hanya bisa menatap punggungnya dikejauhan. Lelaki itu, lelaki strata ketiga jika dilihat dari kastanya, adalah lelaki yang berkata jujur ketika lelaki lain membual mengenai bangsanya.

#2016...

“Kau turun dimana?” tanyanya menyelidik dibalik topi miringnya.

“Pasar Modern Bang” ketar ketir karena takut diturunin ditengah jalan.

“Kalau sudah begini sebenarnya aku malas jalan. Mana ada kerja kaya gini. Mana ada kerja ga dapat duit.”

(kedengarannya ada yang mulai curhat :p)

“Mungkin karena hari Minggu bang”

“Bukan!” (eits dia langsung interupsi, sedikit naik mendekati satu oktaf)

“Mobilnya terlalu banyak, sewanya tak ada. Kau lihat tadi saja sudah ada dua angkot yang ngetem. Aku tak tahan ngetem terlalu lama, iya kalau ada sewa, kalau tak ada?”

(Aku terdiam, curhat sudah mulai tahap introduksi)

“Lama-lama aku cari kerjaan lain juga. Tak tahan lah kalau kerja kayak gini. Kau tahu berapa setoran mobil didepan itu?” (sambil menunjuk angkot mulus, kinclong berbentuk mobil espas).

“Bisa dua sampai tiga kali lipat angkot ini” (ya ya ya, aku baru sadar duduk dibangku butut dan sobek-sobek). 

“Kalau yang depan itu, lebih gila setorannya, bisa 500ribu sehari. Trayeknya panjang kali deres sampai serpong. Tak terbayang panasnya pantatmu.”

“Trus gimana kalau ga bisa bayar setorannya bang? Ngutang?”

“Mana mau aku ngutang. Bilang saja sama si bos. Kalau bos pengertian tak apa-apa, kalau bos marah-marah ya aku cari bos yang lain.”

Aku manggut-manggut mendengarkan curhat colongannya. Angkot yang kutumpangi sudah hampir mendekati Pasar Modern. Tapi sepertinya dia masih mau curcol.

“Aku cuma mau kerja halal........”, katanya menggantung.

“Emangnya abang pernah kerja ga halal?”, aku mulai menyelidik.

“Ya pernah, judi itu uangnya banyak Mba. Cepat pula dapatnya. Tapi cepat pula habisnya hahahaha.” Dia seolah bernostalgia dengan masa lalunya.

“Sekarang udah enggak?”

“Ya enggak lah, buktinya aku narik angkot.” Dia menghela nafas, kemudian melanjutkan

“Judi itu tak baik, kita banyak uang tapi uangnya entah pergi kemana. Rumah tangga jadi tak karuan, setelah itu barang-barang yang ada dijual tak bersisa. Sekarang biar sedikit yang penting halal.”

Now, he starts his preeching!

Sayangnya, perbincangan dan wawancara tak resmi saya harus berakhir. Saya sudah tiba di muka Pasar Modern.

“Ini ongkosnya Bang”, aku memegang uang dan menyorongkan kepadanya.

“Simpan saja disitu!”. Dia tak memperdulikan uangku. Tak tega rasanya meminta kembalian, dari tadi angkot yang aku tumpangi, nyaris tak ada penumpang lainnya.

Kuletakkan uang satu lembar sepuluh ribuan.

“Ini buat Abang”, aku menyimpan satu bungkus besar kotak putih. Aku menangkap reaksi yang tak biasa, matanya membelalak.

“Hey, serius kau? Apa itu?”

“Makanan, saya baru pulang dari rumah teman, ada selamatan.”

“Waduh, terimakasih banyak ya, tahu saja kau kalo aku belum makan dari tadi siang.” Diraihnya kotak putih tadi, seperti lebih berharga dari selembar uang yang tergeletak tak jauh dari nya.

“Sama-sama bang.”

Aku tersenyum sambil turun dari angkotnya, padahal tadi aku malas-malasan membungkus makanan berlimpah ruah yang disajikan sang tuan rumah. Kita memang kadang senang bermewah-mewah ketika sebagian orang bahkan belum makan seharian saja.

 

 

  • view 33