KEABADIAN

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 04 Juli 2017
KEABADIAN

= KEABADIAN =

Dulu, setiap malam takbiran, saya dan ketiga kakak perempuan saya, biasanya akan berhamburan keluar rumah dan menikmati jalan raya yang dipenuhi takbiran keliling, gema takbir yang saling bersautan, kembang api dan semua kemeriahan di jalan raya.

Kami akan pergi ke Labora-Cibadak dan bergabung dengan semua orang merayakan euphoria hari kemenangan. Biasanya kami akan makan bakso di warung bakso, "Lumayan" namanya. Warung bakso ini selalu ramai, tak perduli siang dan malam.

Seusai makan bakso biasanya berlanjut dengan agenda mengunjungi toko-toko kecil yang berderet disepanjang pertokoan Labora. Ketiga kakak-kakak saya umumnya mampir ke toko kosmetik dan membeli peralatan make up mulai dari pemulas bibir, perona pipi sampai pensil alis.

Biasanya ini memakan waktu yang lama, yang kadang membuat saya bertanya-tanya, apa yang sebenarnya mereka cari. Membandingkan satu warna pensil alis perlu keahlian khusus rupanya. Apalagi jika sudah mencari pemulas bibir, alamak ini jauh lebih complicated!

Sebagai anak paling kecil, saya biasanya teronggok disudut menunggu mereka selesai bertransaksi. Sebagai bonus, biasanya saya dihadiahi es krim atau jepitan kecil, bandana dan hadiah kecil lainnya. Jika saya beruntung kadang-kadang mereka akan memberikan saya “hadiah” dari permintaan saya. Bentuknya macam-macam, mulai dari monopoli, ular tangga atau mainan bola bekel.

Pulangnya, kami biasanya membeli martabak manis yang dipesan bapak, biasanya rasa kacang, rasa legendaris. Tak lupa kami mampir ketukang bunga membeli beberapa tangkai sedap malam untuk diletakkan diruang tamu beralas taplak meja baru. Dari semua deretan aktifitas diatas yang paling saya senang tentu saja selain diberi hadiah adalah menikmati deretan tukang bunga yang berjejer di pinggir jalan. Bagi saya bunga adalah perlambang kebahagiaan, rasa suka cita dan rasa syukur.

Ummi, ibu kami, biasanya hanya akan menunggu di rumah saja, memastikan bahwa hidangan ketupat dan kawan-kawannya sudah siap sedia untuk santapan esok hari, di hari nan fitri. Kakak saya yang laki-laki (si tengah-tengah) biasanya bergabung dengan temannya ikut takbiran atau sekedar ngumpul-ngumpul di teras rumah atau diteras tetangga sebelah.

Semua terus berlalu seperti itu, dari tahun ke tahun, hampir tak ada yang berubah. Sampai kemudian pada suatu masa di tahun 2002.

Kami tak pernah menyangka diusianya yang masih sangat muda, satu-satu nya saudara lelaki kami berpulang untuk yang selamanya. Kami seperti kecolongan, tak pernah menyangka sama sekali. Bagi saya pribadi, dia adalah teman sejati karena kami mempunyai terlalu banyak persamaan daripada perbedaan. Kami berulangtahun pada tanggal dan bulan yang sama, kurasa itulah alasan mengapa kami bisa akur menjadi saudara sekaligus teman sepermainan.

Kami adalah dua pribadi yang lebih banyak berbicara tentang buku ketika ketiga kakak saya berbicara tentang make up. Kami berdua juga adalah petualang sejati, pergi ke suatu tempat kadang hanya berbekal ongkos ditangan. Pernah dalam satu kesempatan, kami benar-benar kehabisan ongkos. Entah mengapa sebabnya saya sudah lupa, yang jelas saya begitu ketakutan waktu itu. Tapi kakak saya waktu itu tenang saja ketika ditagih sang kondektur. Kenyataan bahwa dia telah tiada adalah hal yang cukup mengejutkan bagi saya.

Empat tahun kemudian, entah karena duka dalam dada kehilangan putra tercinta, atau karena sakit dirahimnya, ibunda kami pun berpulang untuk selamanya. Ditahun-tahun terakhir dalam masa hidupnya, dia kuperhatikan sering melamun dan menerawang. Fisiknya semakin lama semakin menyusut. Dan beliaupun menjadi pasien rumah sakit dan divonis menderita tumor rahim.

Semenjak itu, Ummi kerap bolak balik ke rumah sakit dan akhirnya diputuskan untuk dioperasi, mengangkat tumor di rahimnya. Saya melihat dengan langsung sebentuk daging dalam gelas kaca yang katanya adalah daging yang baru saja diangkat.

Pasca operasi, keadaannya semakin memburuk. Fisiknya semakin ringkih, dia hanya tertidur diatas kasur. Kenangan terakhir yang masih saya ingat sampai sekarang adalah menggosok giginya dan menerawang jauh ke kedalaman mata hatinya. Diakhir masa hidupnya sering dia memanggil nama saudara laki-laki kami yang telah lebih dulu berpulang. Tahun 2006, akhirnya beliau menutup mata untuk selamanya.

Kehilangan dua orang tercinta ternyata berat juga. Saya tak bisa menjelaskannya dengan kata-kata. Saya kemudian berburuk sangka, siapa yang akan meninggalkan kami untuk yang kali ketiga? Ketiga kakak saya, bapak, atau jangan-jangan saya sendiri ?

Nyatanya tak ada apa-apa. Saya kemudian mengambil hikmah dari kedua peristiwa ini, bahwa meninggal bisa terjadi secara tiba-tiba dan tanpa pemberitahuan. Saya kemudian bertanya dalam hati, bagaimana jika kemudian jika saya yang akan mengalami?

Saya tidak tahu dorongan apa yang terjadi, namun saya masih ingat sekali, ketika seminggu setelah kakak saya pergi, saya bertanya kepada teman sejati, "Bagaimana jika saya ingin mulai berjilbab?"

Sejak saat itu, tanpa persiapan "dress code" dan koleksi rupa-rupa jilbab saya mulai memakainya. Ketiga kakak saya kaget bukan kepalang, maklumlah saya dianggap masih hijau dan belum sampai saatnya berkeputusan berjilbab. Saat itu jilbab tak seperti sekarang, yang menjadi lumrah dikenakan anak kecil, remaja hingga orang tua.

Tahun 2011 saya dikejutkan oleh pesan singkat yang mengabarkan bahwa kakak (yang berada persis diatas saya) koma di rumah sakit. Kali ini jauh lebih tragis kejadiannya. Dia ditabrak pengendara sepeda motor yang ngebut berlari kencang, padahal ketika dia menyebrang jalanan lengang bukan kepalang. Saksi mata mengatakan bahwa kakak saya terlempar jauh beberapa meter, saking tingginya kecepatan sang pengendara motor.

Saat itu, rumah kami menjadi riuh rendah, padahal sang korban (mungkin) saat itu tengah bertarung dengan sakaratul maut. Polisi, orang asuransi, ketua rt biasanya datang di pagi hari. Sementara keluarga penabrak yang minta anaknya dibebaskan dan tetek bengek lainnya biasanya ramai dibicarakan disore hingga malam hari.

Saya terpekur meratapi semua. Saya dan kakak saya, kami berdua saat itu tengah membicarakan kemungkinan membuka toko jahit, dengan bahasa keren ingin membuat boutique kebaya. Dia saat itu baru saja selesai kursus menjahit dan senang membuat rupa-rupa kebaya. Kami pun sudah merancang nama boutique tersebut, "IDA COLLECTION", sesuai nama depannya.

Namun apa daya, setelah bertarung dengan koma, dokter akhirnya menyatakan dia meninggal dunia. Kami tak menyangka dia kemudian menjadi orang ketiga dikeluarga yang berpulang untuk selamanya.

Saya hanya bisa menatap nanar, kebaya-kebaya yang tergantung di lemari koleksi buatannya. Mesin jahit merek "SINGER" menjadi saksi bisu impian memamerkan koleksinya.

Waktu kemudian berjalan semakin cepat bergerak. Jarum-jarumnya seakan ringan berlari meninggalkan kami. Dan kami mendapati, lelaki tinggi dikeluarga mulai beranjak senja. Dia sering terbatuk-batuk tak berhenti, tapi masih setia menyaksikan olahraga bola kaki bahkan hingga dini hari.

Semakin hari kesehatannya semakin menurun. Orang tua yang tinggal sebelah ini memang sudah tak segagah seperti dulu kala. Giginya mulai tanggal satu persatu, rambutnya semakin rata memutih, namun suaranya tak banyak berubah, tetap lantang seperti sedia kala. Seiring senja usianya, maka hanya suara lantang alunan suara kitab suci yang mengalir dari kerongkongannya dimalam hari.

Namun sayang, dia disarankan dokter untuk tidak lagi mengkonsumsi minuman bernama kopi dan berhenti mengisap nikotin. Sudah tua, kata pa dokter, sudah saatnya hidup jauh lebih sehat. Tahun 2015/2016 adalah masa up and down kondisi kesehatannya.

Namun, "kejutan" lagi-lagi terjadi di akhir tahun 2016. Kakak tertua kami mengeluh kecapean dan ingin diperiksakan ke dokter. Maka berangkatlah dia ke rumah sakit dekat tempat tinggal kami. Rupanya tak ada catatan serius tentang kondisi beliau. Dokter cuma menyarankan untuk banyak beristirahat dan tidak terlalu banyak fikiran.

Entah ini memang sudah seharusnya terjadi seperti ini, bahwa saat itu justru bapak lah yang berkeadaan payah dengan kondisi kesehatannya, namun ternyata, justru kakak kami yang berpulang. Tak ada yamg mengetahui dan menyadari bahwa dia telah pergi kecuali anaknya sendiri.

Saat itu keponakan kami akan berangkat sekolah di pagi hari dan mendapati mama nya yang masih tertidur pulas. Sang anak seperti biasa meminta dibuatkan sarapan dan meminta uang jajan, namun tak ada tanggapan. Demi berkali-kali tak ada tanggapan, sang anak yang masih anak sekolah dasar berteriak, memanggil tetangga sebelah dan menangis.

Sang Maha Pencipta kembali menunjukkan kuasaNya. Ayahanda kami yang bolak balik bahkan di rawat di rumah sakit, namun justru sang kakak tertualah yang pergi lebih dahulu meninggalkan kami. Desember 2016, perempuan tertua di keluarga kami akhirnya pergi. Saat itu saya masih ingat, saya dan kakak saya yang masih tertinggal berpelukan di stasiun kereta Cibadak sambil menangis keesokan harinya. Kakak saya memang selalu mengantarkan saya ke stasiun kereta jika saya kembali ke ibukota untuk bekerja.

Beberapa bulan kemudian, diawal-awal tahun 2017, sang kepala rumah tangga pun purna tugas. Beliau meninggalkan kami yang tinggal hanya berdua. Beliau menyusul untuk berkumpul besrsama isteri dan ketiga anaknya.

Kini, doa yang saya panjatkan diakhir shalat, semakin panjang dan semakin banyak saya menyebut nama mereka dalam hati dan doa.

Dan hari ini,

Setelah sekian lama "ritual" malam takbiran tak pernah terjadi karena hati yang terlalu mengharu biru, dia kemudian menjelma menjadi suatu kenangan yang indah.

Kami yang tinggal berdua, melangkah keluar; menikmati takbiran, memandang kembang api dilangit yang tinggi dan makan bakso, serta tak lupa membeli beberapa tangkai bunga yang akan kami simpan dipusara orang-orang tercinta esok hari.

Kini aku mengerti istilah orang bijak, "Time heals every wound."

Jika kamu, saat ini meratapi orang tercinta yang telah berpulang, La Tahzan! Jangan bersedih karena kamu akan bisa melewati saat-saat sulit tersebut.

Sering kita merasa ditinggalkan, namun ingatlah bahwa kematian, sesungguhnya adalah peristiwa seorang hamba bertemu Sang Khalik, Sang Pencipta alam semesta.

Mereka yang telah berpulang, setidaknya sudah menyelesaikan tugas mereka dialam dunia dan bersiap menunggu kita untuk diantarkan menuju alam keabadian dan mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan.

Selamat Hari Raya Idul Fitri, 
Selamat berkumpul bersama keluarga dan orang-orang tercinta.

Cibadak-Sukabumi
24Juni2017

 

  • view 104