Mengenal Baduy Dalam

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Wisata
dipublikasikan 07 Juni 2017
Mengenal Baduy Dalam

Mengenal Baduy Dalam

Suku Baduy sejatinya adalah suku aseli Banten. Baduy sendiri terdiri menjadi dua, yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Jika kamu melihat orang-orang mengupdate foto-foto bersama suku Baduy maka itu dipastikan dia mengambil foto dari suku Baduy Luar. Di Baduy Dalam hal ini sangatlah tidak mungkin. Baduy Dalam sangat tunduk dan patuh dengan kearifan lokal yang mereka percayai memang baik untuk keseimbangan antara alam dan manusia.

Ketika memasuki Baduy Dalam, kamu dilarang membawa barang-barang yang berbau kimia seperti sabun mandi, sabun cuci, pasta gigi, shampo dan yang lainnya. Mengambil foto menggunakan kamera apapun tidak diperbolehkan. Dalam kesehariannya mereka juga masih tidak menggunakan listrik. Penerangan masih menggunakan lampu minyak dan diluar rumah panggung mereka pun gelap gulita. Perkakas untuk minum pun masih menggunakan gelas yang terbuat dari bahan alam, dari bambu sepertinya. Untuk keperluan kamar mandi, antara pria dan wanita hanya dibedakan menurut arah kanan dan kiri.

Penggunaan tekhnology pun sepertinya tidak ada (sepenglihatan saya ya). Baduy Dalam, bagi saya, adalah salah satu komunitas yang benar-benar mempertahankan tradisi leluhur termasuk dalam hal hunian, perkakas makan dan memasak, pakaian dan bahasa. Jadi, kalau kamu emang ingin merasakan piknik yang out of the blue, Baduy bisa menjadi alternative.

How to get there?

Saya dan teman-teman backpacker Jabodetabek ke Baduy Dalam sekitar tiga tahun yang lalu. Dari stasiun Tanah Abang kami naik kereta arah Rangkasbitung. Sesampai di Rangkas, perjalanan dilanjutkan menggunakan mobil elf dan berhenti di Desa Ciboleger. Dari Ciboleger, perjalanan mendaki gunung melewati rimba (ninja hatori kali) dimulai sudah.

Pastikan kamu memakai sepatu yang nyaman untuk jalan ya, mengingat perjalanan ini bukan jalan ke mall atau menghadiri ballroom, so jangan saltum pake heels. Ada jasa porter kalo kamu mau lenggang kangkung dan tidak membawa berat beban di pundak. Jasa porter ini bisa sekalian di book buat bolak-balik perjalanan lho. Dan amazing nya, meskipun badan mereka mungil-mungil tapi kuat lho membawa barang-barang berat dipundaknya.

Perjalanan menuju Baduy Dalam ini cukup tough lho, jadi pastikan kamu menyiapkan stamina yang prima ya. Terlebih jika cuaca diguyur hujan (seperti ketika kami waktu itu), karena resiko hujan adalah jalanan menjadi licin dan genangan air dimana-mana. Terlebih jika tracking yang ditempuh adalah jalanan yang mulai menanjak dan sempit (hanya cukup untuk satu orang). Jadi kamu harus super hati-hati.

Waktu itu perjalanan dimulai sekitar jam 13.30, setelah kami menyelesaikan shalat zuhur dan makan siang. Tepat jam 14.40 kami menapaki Jembatan Akar. Jembatan Akar adalah jembatan penghubung antara Baduy Luar dan Baduy Dalam. Jadi selama satu jam di Baduy Luar kamu sudah bisa merasakan atmosfir suku Baduy. Saya pribadi suka karena suasananya tenang, pekarangannya bersih dan mereka bersahaja banget!

Sepanjang perjalanan di Baduy Luar kamu bisa melihat bagaimana kehidupan suku Baduy seperti menenun baju untuk kebutuhan dipakai sehari-hari, mengeringkan padi, mengasah perkakas untuk perundagian sampai anak-anak kecil yang masih bermain permainan tradisional. Ada pemandangan yang mencuri perhatian yaitu ketika para wanita secara bersama-sama menumbuk padi disertai dengan nyanyian yang riang gembira.

Melewati Jembatan Akar, kami meneruskan perjalanan menuju Baduy Dalam. Karena hujan, perjalanan cukup memakan waktu dan tenaga. Kami berhenti di beberapa titik. Terkadang kami berhenti dan minum air yang mengalir dari celah-celah tanah. Air nya jernih sekali dan menyegarkan. 

Jam menunjukkan waktu hampir maghrib ketika kami akhirnya tiba di Baduy Dalam. Suasana gelap gulita, pekat sekali. Cahaya penerangan hanya bersumber dari lampu cempor (lampu minyak) dari rumah-rumah panggung penduduk. Anak-anak kecil memakai baju hitam dan ikat kepala khas Baduy keluar malu-malu, beberapa ada yang mengintip kemudian berlari lagi kedalam.

Apa yang membedakan Baduy Dalam dan Baduy Luar?

Tidak seperti Baduy Luar yang sudah mulai menerima peradaban modern, Baduy Dalam masih hidup dalam keteguhan menjaga tradisi leluhur. Penduduk Baduy Luar bisa membaca dan menulis. Belajar membaca dan menulis pun tidak didapatkan dari sekolah formal. Seorang ibu adalah guru bagi anak-anaknya. Guru membaca, menulis dan berhitung, itu saja.

Jika seseorang memutuskan untuk mencari ilmu yang lebih dari itu, maka dia harus keluar, meninggalkan suku Baduy. Ibu muda yang mengobrol bersama kami, menceritakan bahwa sudah ada seorang pemuda Baduy yang sudah menyelesaikan pendidikannya setingkat sarjana. Namun sayangnya dia sudah tidak bisa kembali lagi masuk dan menjadi suku Baduy. Dia akan menjadi orang biasa, di luar suku Baduy.

Penduduk Baduy Dalam lebih dari itu. Mereka illiterasi. Benar-benar tidak bersentuhan sama sekali dengan tekhnology dan semua hal tentang kekinian. Mereka bergantung pada alam dan kemandirian. Bahkan mereka adalah pribadi yang menjunjung tinggi penghormatan untuk seorang pemimpin. Ada periode dimana mereka akan berjalan kaki menuju kantor pemerintahan menyerahkan hasil bumi mereka, padahal saya (pribadi) mempertanyakan apakah aparat pemerintah pernah “menengok” mereka di pedalaman hutan sana? Entahlah!

Penduduk Baduy (baik Dalam maupun Luar), selain ber profesi sebagai porter juga seorang entrepreneur. Mereka membuka kios-kios dan menjual tas, baju atau kain khas Baduy. Mereka juga menyediakan madu dan gula merah yang mereka buat sendiri. Kamu akan menemui mereka dimana saja tanpa alas kaki dan tak pernah naik kendaraan umum. Mereka adalah pejuang yang ulung!

Dalam hal kepercayaan, mereka masih menganut agama Sunda Wiwitan. Agama yang jauh lebih dulu dianut sebelum agama Hindu dan Budha menyapa nusantara. Karena hal ini pula yang menjadi keyakinan kuat bahwa mereka (jika tidak salah) hingga saat ini tidak mempunyai kartu tanda penduduk karena Sunda Wiwitan adalah salah satu agama yang tidak diakui pemerintah.

Entah sampai kapan mereka akan bertahan. Mempertahankan tradisi memang penting tapi kemajuan zaman dan pentingnya bersekolah juga adalah suatu keniscayaan.

Baduy’s Dalam Tips:

  1. Siapkan stamina yang prima karena kamu akan menempuh perjalanan dan tracking cukup jauh. Mulai dari perjalanan menggunakan kereta dan ke Baduy Dalam nya sendiri.
  2. Hormati dan patuhi semua peraturan yang berlaku adalah suatu KEWAJIBAN!
  3. Siapkan outfit dan sepatu yang nyaman untuk tracking, mengingat kamu akan melalui perjalanan naik, turun, memutar dan menanjak.
  4. Sebaiknya join group karena akan lebih menyenangkan dan seru. Saya sendiri tidak tahu banyak informasi untuk solo travelling ke Baduy.
  5. Travelling ke Baduy Dalam adalah travelling yang tidak biasa, karena kamu akan merasakan dirimu menyatu dengan alam dan jauh dari hiruk pikuk kebisingan modernisasi (no gadget, television, or even light), so enjoy it.

  • view 61