Dari Bandung ke Tasikmalaya

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Wisata
dipublikasikan 05 Juni 2017
Dari Bandung ke Tasikmalaya

Dari Bandung ke Tasikmalaya

Terlahir sebagai kota kembang, Bandung sering dilirik sebagai tempat melepas penat terutama warga Jakarta. Letaknya yang tak jauh dari ibu kota membuat Bandung semakin gampang untuk di akses. Bisa by bus, kendaraan pribadi atau kereta.

Bandung dari dulu selalu menawan. Bandung bagi saya bukanlah tempat yang baru. Mulai dari esde (sampe sekarang) saya ga pernah bosan ke Bandung. Dulu, dengan berbekal ongkos ditangan, saya dan (alm) kaka saya pergi ke Bandung hanya untuk sekedar menikmati udara segarnya hahahaha. Konyol memang kalau diingat sekarang, tapi ya itulah, sampai sekarang ingatan itu ga lekang dimakan waktu lho. Mulai dari terminal Leuwi Panjang, Pasar Baru sampai Mesjid Raya (yang katanya) sekarang makin kece.

(Alm) kaka saya, selalu mendeskripsikan kota Bandung sebagai kota yang dipenuhi mojang geulis (wanita cantik). Dulu, rasanya Dessy Ratnasari adalah gadis tercantik di Sukabumi (maklum dulu cuma dia yang jadi artis), tapi kaka saya selalu bilang, “Nanti kalo kamu ke Bandung, kamu bakalan lihat semua cewek cantik!”, katanya dengan nada yang membuat saya harus sependapat dengan dia. Saya sih percaya, maklum itu dari sudut pandang anak laki-laki J

Orang Jawa Barat, Bandung (salah satunya) juga terkenal sebagai pribadi yang sederhana, “someah” (ramah) dan “tukang heurey” (senang bercanda). Saya rasa typical ini bisa dilihat dari sosok si Kabayan, yang dihadirkan melalui sosok Didi Petet di layar lebar. Kang Emil, salah satu public figure dari Bandung, selain serius juga senang ngebanyol. Coba deh lihat status-status nya dia di facebook. Setiap update status warga Jabar selalu komen dan berujung dengan banyolan yang kadang jauh melenceng dari status serius yang dibuat Kang Emil.

Selain soal mojang Parahyangan dan orang-orangnya, Bandung juga punya destinasi wisata yang beragam. Pelesiran di Bandung lengkap kap kap. Kalau kamu newbie nanjak, konon katanya Gunung Papandayan adalah gunung paling ramah untuk pemula. Wisata edukasi juga bisa, mulai dari Saung Angklung Mang Udjo, jelajah museum (Museum Geologi, Museum Pos, Museum KAA, Museum Indonesia Menggugat, Museum Sri Baduga dan masih banyak lagi).

Museum-museum itu rekomended banget kalo kamu ngajak ponakan, adik, atau mungkin kamu sendiri yang suka wisata sejarah seperti saya. Kamu bisa belajar banyak dari museum-museum ini, terutama Museum Asia Afrika karena ini adalah museum kelas dunia. Ada pemutaran film nya juga seperti di TMII (cuma kamu harus check jam tayangnya ya.)

Untuk membuktikan kamu sudah sampai di Bandung, kamu juga bisa mengambil foto di 0 KM Bandung, letaknya ga jauh dari Jalan Asia Afrika. Kalo mau ngadem bisa ke Dago Tea House (terkenal juga sebagai Dago Teh Huis). Pada zamannya, Dago Tea House  adalah tempat peristirahatan noni-noni Belanda yang senang menghabiskan sore hari sambil menatap lanscape kota Bandung sambil minum teh. Tempat ini juga syarat dengan nuansa seni (terutama seni tari), ada live performance juga lho, tapi lagi-lagi kamu harus check-check jadwalnya ya.

Setelah tahun 2009, saya kembali lagi ke Bandung tahun 2011 bareng geng Alamanda. Kami spesifik ke Kawah Putih waktu itu. Waktu itu Kawah Putih rasanya belum secantik sekarang (setidaknya itu yang saya lihat di update foto teman-teman yang ke Kawah Putih akhir-akhir ini). Seperti yang kita tahu kalau Kawah Putih adalah kawah yang dihasilkan dari letusan gunung Patuha, maka karena dia terletak di dataran tinggi, suhunya menjadi dingin, berbeda dengan Kawah Sikidang di Dieng. Jadi kalau kamu type orang yang tidak kuat dingin sebaiknya bawa jaket ya.

Seperti halnya kawah-kawah lainnya yang berbau belerang, di Kawah Putih juga banyak para penjual masker, jadi kamu ga usah khawatir kalau ga bawa masker. Kawah Putih ini atmosphere nya romantis dan indah pake banget lho, makanya sering di pakai sebagai backgraound pre-wedd, syuting video klip sampe syuting film. Salah satu film yang sempat ngehits dan bersetting di Kawah Putih adalah film “Heart”-nya Acha Septriasa dan Irwansyah.

Kepergian kami ke Kawah Putih ini cukup nekat bin sembrono. Bayangkan saja, sepuluh cewek ke Bandung, gaya-gaya an bawa mobil sementara yang bisa nyetir cuma satu orang, sembilan lainnya cuma team hore, ya ampun, kalo inget sekarang berasa berdosa sama si Teteh itu ya. Sembilan cewek di belakang itu cuma bisa berisik aja, sementara si Teteh tangguh harus nyetir full konsentrasi Tangerang-Bandung-Tangerang dari pagi buta sampai malam hari. #sungkemsamasiTeteh.

Tapi ya itulah salah satu bukti persahabatan kami yang sampai saat ini menjadi kenangan karena kita sudah terpisah jarak dan waktu, hikshikshiks. Yang lebih aneh lagi, kami ga janjian pake dresscode, tapi ternyata kami punya pasangan masing-masing yang berkostum sama. Kami terbagi menjadi tiga team, team merah, putih dan biru. Silahkan lihat di foto ya.

Tidak jauh dari Kawah Putih, kamu bisa menikmati hawa sejuk Situ Patengan. Situ Patengan juga menawarkan pemandangan alam yang asri karena dia dikelilingi kebun teh. Ada yang menyebut Situ Patengan dan ada juga yang menyebut Situ Patenggang, dua-dua nya valid dan bisa dipergunakan sebagai bahasa Sunda.

Situ berarti “danau”, sedangkan kata “patengan” sendiri berasal dari kata “pateangan” yang mempunyai arti “saling mencari”. Namun kata “Patenggang” berarti “berjauhan/terpisah”, baik jarak maupun waktu. Konon kata ini tak sembarang kata lho, ini lahir dari sebuah legenda. Yah ngedongeng lagi ini mah J

Jadi dulu itu konon katanya ada dua orang yang saling mencintai. Mereka adalah Raden Kian Santang (Putra Prabu Siliwangi) dan Dewi Rengganis. Pada suatu hari, Raden Kian Santang harus meninggalkan bumi Pajajaran untuk berperang dan meninggalkan Dewi Rengganis. Setelah usai berperang, Raden Kian Santang pun kembali ke bumi Pasundan, namun tak menemukan Dewi Rengganis. Rupanya Dewi Rengganis pun mencari Raden Kian Santang. Dalam masa itulah mereka saling mencari satu sama lain.

Hingga akhirnya merekapun dipertemukan disebuah batu besar, yang saat ini dinamakan “Batu Cinta”. Dewi Rengganis pun akhirnya minta dibuatkan sebuah pulau kecil yang diberi nama Pulau Sasuka (Pulau Asmara). Demi cintanya kepada Dewi Rengganis, maka Raden Kian Santang pun akhirnya membuat pulau tersebut.     

Legenda ini tentu menjadi daya tarik tersendiri karena orang-orang percaya bahwa, orang yang datang ke Situ Patengan, mengelilingi Pulau Asmara dan mampir ke Batu Cinta akan langgeng hubungan asmaranya. Entahlah, namanya juga legenda, bisa benar, bisa juga tidak. Sama seperti Legenda Kebun Raya hehehehe.

Move on aja yuk dari cerita ini. Keluar dari Situ Patengan kamu masih bisa menikmati hawa sejuk perkebunan teh lho, bonus banget inih.Sebenarnya di Situ Patengan ini ada juga fasilitas outbond tapi utuk pemula a.k.a anak-anak. Kalau kamu mau oleh-oleh buah strawberry, jangan khawatir banyak banget di pinggir-pinggir jalan searah pulang.  

Tahun 2014, saya balik lagi ke Bandung. Kali ini misinya agak soleha hehehehe, yaitu menghadiri kopdar Backpacker Chapter Bandung yang lagi ultah sekalian acara charity. Acara sendiri diadakan di Bale Endah. Tapi satu malam sebelumnya saya dan teman-teman backpacker lainnya menikmati Bandung dari siang hingga malam hari.

Bagaikan napak tilas, menyusuri Bandung seperti menyusuri masa lalu karena Bandung dan (alm) kaka laki-laki saya adalah tempat “melarikan diri”. Saya suka jalan di area Jalan Asia-Afrika dan Jalan Braga, pavement nya lebar-lebar. Jika sedang ada BraFest (Braga Festival) kerasa banget bahwa Bandung adalah Paris Van Java. Kamu bisa melihat seniman-seniman Bandung yang nyentrik abis. Mulai dari dandanan metal berbaju hitam sampe yang pake iket kepala yang sering di pake Kang Emil yang nyunda pisan.

Nah ngomong-ngomong soal Kang Emil, Bandung kayaknya makin hits aja nih. Dibawah kepemimpinan Kang Emil sebagai walikota, Bandung rasanya kini makin ciamik. Konon katanya sekarang Mesjid Raya makin keren, ada Skywalk juga ya? Dago gimana Dago? Masih rame? Atau makin sibuk? Kapan ya kesana lagi??? Banyak taman yang di buat di Bandung senyaman mungkin untuk kebutuhan RTH (Ruang Terbuka Hijau), sehingga ini memungkinkan orang untuk melakukan activitasnya dialam terbuka (outdoor), tidak melulu menghabiskan waktu di mall (which is good J). Maka tak heran Kang Emil selalu mengklaim bahwa warga Bandung adalah warga dengan indeks kebahagiaan yang sangat memuaskan.

Wisata gunung, sight seeing, yang terakhir pasti wisata kuliner. Bandung juga terkenal sebagai gudangnya industri kreatif, dari mulai baju, sepatu sampai makanan. Yang sudah paten terkenal dan selalu ngangenin (bagi saya) adalah Roti Kartikasari, selebihnya ga usah lah disebutin satu-satu, ntar bikin ngiler hahahaha. Cari aja ya sendiri di Bandung J street food di Bandung juga ga kalah cihuy nya. Kak Ros, masih ingatkah engkau lezatnya Sate Kambing Kircon?

Kalo masih punya waktu, dari Bandung kamu bisa mlipir dikit ke Tasikmalaya. Ada kereta go show kok Bandung-Tasikmalaya. Tasikmalaya itu tidak seheboh Bandung memang, tapi jika diibaratkan seorang gadis, Tasikmalaya itu kaya gadis mungil, malu-malu tapi pemberani. Setidaknya itu kesan yang saya dapat dari Gunung Galunggung. Lha kok nyambungnya ke gunung? Tapi seriusan di Tasikmalaya kamu bisa nanjak tipis-tipis ke Kawasan Wisata Galunggung. Bosen atuh maen di kota wae. Coba hirup udara segar disini.

Di Galunggung kamu bisa olahraga naik tangga menikmati udara sejuk Galunggung. Ada enam ratus dua puluh anak tangga yang harus kamu lewati menuju puncak Galunggung. Ga usah difikirin jumlah tangganyanya, jalanin aja kayak hidup ini hehehehe. Kamu juga ga bakalan ngerasa cape karena banyak “pejuang anak tangga” yang nanjak bareng kamu. So santai aja nanjaknya. Sampe atas, selain pemandangan sejuk Tasikmalaya, banyak tukang jajanan kok. Jadi dijamin kamu ga bakalan pingsan.

Ga ada tips istimewa kalo ke Bandung mah. Sok mangga silahkan datanglah, pasti disambut seblak seuhah dan nada bicara yang cenderung merendah. Bahkan ada sebuah joke yang mengatakan bahwa, sekaliber pencuri atau preman pun masih bisa berbahasa yang halus dan sopan ketika mereka bertindak kejahatan. Tentu ini bukan joke sembarang joke, saya percaya serial Preman Pensiun pasti ada dasarnya.

Udah ah ga usah lama-lama mikirnya, kalo mau ke Bandung naik kereta tinggal ke Gambir aja. Pilih bis langsung caw ke pool Arimbi di Kebon Nanas ya. Rekomended bis nya, dapat snack sama air minum selama perjalanan. Mau agak santai, bisa naik Travel Baraya di Taman Jajan-BSD. Kalo yang naik kereta dan sudah sampe di stasiun Bandung, mampir ke koperasi nya ya, ada “Harga Dulur” (Harga Saudara) untuk makanan dan minuman, lumayan lho dibandingkan harga yang di mart-mart yang biasa kamu beli.

Satu hal yang saya suka baik dari Bandung dan Tasikmalaya adalah stasiun keretanya! Bersih! Seriusan! Coba deh, bahkan di stasiun Bandung, kamu harus lepas alas kaki kalau mau ke toilet. Jangan bandingin sama toilet stasiun Tanah Abang ya hihihihi. Stasiun kereta di Tasikmalaya lebih apik lagi. Saya suka banget! Musholanya rapi jali! Entah bagaimana management-nya yang jelas toilet di dua stasiun berhak dapat bintang lima (macam ojek online aja ya). 

  • view 55