Malang dalam Kenangan

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Wisata
dipublikasikan 05 Juni 2017
Malang dalam Kenangan

Malang dalam Kenangan

Saya dua kali datang ke Malang. December 2015 dan July 2016. Sebagai kota apel, Malang layak untuk kamu datangi. Bukan cuma karena cowok-cowoknya yang manis, baik hati dan bersedia menolong (hihihi, seriusan inih) tapi Malang juga banyak menawarkan wisata mulai dari kuliner, adventorous sampe wisata sejarah.

Akhir tahun 2015, bersama seorang teman niatnya pengen uji nyali paralayang di Gunung Banyak, apa daya cuaca tak mengizinkan, jadi ya cuma menikmati lanscape kota Malang dari ketinggian Gunung Banyak saja. Sebenarnya selain main paralayang, di Gunung Banyak kamu juga bisa ke Omah Kayu, cuman ya gitu deh, harus sabar ngantri nya ya. Macam cerita orang-orang yang ke The Lodge-Maribaya. Cekrek nya cuma lima sampe sepuluh menit tapi ngantrinya dua sampe tiga jam hehehe.

Museum Angkut juga boleh masuk list kalau kamu mau ke Malang. Tapi harus sabar ya, kalo peak season antriannya bisa puanjanggggggggggggggg. But it is worth! Sebanding kok antara harga tiket dengan kepuasan yang kamu dapat di dalam museum ini. Siapkan kaki yang panjang untuk menjelajahi Museum Angkut. Museum Angkut ini terkenal sampe ke negara tetangga lho. Cowok yang ngantri bareng saya datang dari Singapura dan Malaysia. Mereka antusias banget walaupun harus ngantri dengan sabar.

Di Museum Angkut, kamu bisa foto-foto tak berkesudahan dengan mobil-mobil jadul sampe kekinian. Spot yang paling sering didatangi dan ramai sekali adalah Gangster Town. Disini biasanya diadakan flash mob dan teater yang dibikin ala-ala Hollywood. Ada juga spot-spot negara lain seperti London dengan Buckingham Palace nya, Jerman dengan Tembok Berlin-nya, Menara Eiffel Paris dan tentu saja China Town.

Kalo kelaperan ga usah bingung. Ada restaurant yang didesign bak pesawat terbang, namun harganya bikin terbang juga hehehehe. Makanya saya milih di bagian bawah, di food court nya. Tempatnya nyaman juga dengan harga bersahabat. Alternative lain, ada floating market macam di Lembang juga di dalamnya. Kalau kamu datang bareng si dia, bolehlah me-lock cintamu di gembok cinta disini. Ada spot khusus untuk Gembok Cinta, yaitu menuju pintu keluar dimana kamu bisa memajang gembok cinta kamu dan partnermu.

Di Malang, guesthouse atau dorm untuk backpacker juga lumayan murah, sekitar 50-100 ribuan. Ga bikin kantong jebol kan? Apalagi ada yang menawarkan rumahnya untuk disinggahi, makin ramah di kantong ya. Selain menjalin silaturahmi, berkenalan dengan teman baru dan saling bertukar informasi wisata, di host orang Malang adalah kenang-kenangan yang tak terlupakan. Alhamdulillah sampai sekarang kami masih sering berkabar. So, being hosted by local is not always a matter of gratisan kan hehehehe.

Nah ini kejadiannya setahun yang lalu. Ketika ex roomate saya (dari Jerman) visit dan ingin melihat Bromo. Mba May (host kami di Malang) tidak cuma menghost kami dengan amat sangat baik tapi juga bersedia mengantarkan kami mengunjungi beberapa situs bersejarah di Malang. Mulai dari Candi Singosari yang sangat syarat nilai sejarah sampai Candi Songgoriti dan Candi Jago yang mempesona. Pengen cerita candi-candi ini deh, seriusan itu candi-candi syarat makna banget.

Setiap candi yang saya kunjungi mempunyai cerita dan sejarah yang berbeda-beda. Misalnya Candi Singosari yang terletak sekitar sepuluh kilo meter dari kota Malang. Pasti tahu dong legenda Arok-Dedes? Candi Singosari adalah bukti nyata bagaimana cerita cinta dan pengkhianatan demi kekuasaan memang sudah ada sejak zaman dulu kala. Jadi memang ya belajar sejarah itu lebih nempel kalo datang langsung ke sumber nya. Yang belum tahu ceritanya, sini aku ceritain ya.

Tersebutlah seorang akuwu (pejabat kadipaten) yang bernama Tunggul Ametung yang terpikat pada seorang gadis putri biksu Budha (Mpu Purwa) yang bernama Ken Dedes. Tunggul Ametung meminta Ken Dedes menjadi istrinya, namun Ken Dedes meminta agar Tunggul Ametung menunggu sang ayah kembali dari pertapaannya. Tunggul Ametung yang sudah tidak sabar akhirnya membawa kabur Ken Dedes ke Tumapel.

Betapa kagetnya Mpu Purwa, karena sepulang dari pertapaan kondisi rumahnya sudah dalam keadaan porak poranda dan tak mendapati putri semata wayangnya. Dia pun mengutuk siapa pun yang menculik putrinya akan terbunuh karena tikaman sebuah keris. Sementara itu dilain tempat, Ken Dedes telah menjadi istri dari Tunggul Ametung. Tunggul Ametung pun memperkenalkan Ken Dedes kepada semua orang di istana, termasuk kepada Ken Arok, pengawal setia nya.

Suatu hari Tunggul Ametung dan Ken Dedes pergi ke hutan Baboji untuk berwisata. Ken Arok pun ikut serta dalam perjalanan wisata itu. Tanpa sengaja Ken Arok melihat kain Ken Dedes yang tersingkap. Berdesirlah dada Ken Arok dan dia baru menyadari akan kecantikan Ken Dedes. Dia pun menceritakan hal ini kepada Lohgawe, seorang pendeta Budha yang telah menolong Ken Arok dari masa lalu nya yang kelam sebagai bandit di Kediri.

Lohgawe kemudian menceritakan tentang sebuah ramalan yang mengatakan bahwa akan ada seorang wanita yang melengserkan raja Jawa. Ramalan Lohgawe membuat Ken Arok semakin percaya bahwa Ken Dedes lah wanita yang dimaksud. Dia pun mulai membuat siasat untuk menyingkirkan Tunggul Ametung.

Untuk melancarkan siasatnya diapun memesan sebuah keris kepada Mpu Gandring. Namun keris itu pun diberikan kepada Kebo Ijo, teman nya sesama pengawal raja. Kebo Ijo pun menerima dengan senang hati dan memamerkan kepada teman-temannya.

Pada suatu malam, secara diam-diam Ken Arok menyelinap kekamar Tunggul Ametung dan membunuhnya menggunakan keris dari Mpu Gandring. Ken Dedes yang menyaksikan suami nya dibunuh tak bisa berbuat apa-apa, padahal saat itu dia tengah mengandung. Istana seketika gempar akan kematian Tunggul Ametung. Tentu saja tersangka pembunuhan sang raja bukanlah Ken Arok melainkan Buto Ijo. Dan akhirnya Buto Ijo pun dihukum mati.

Dalam waktu singkat, Ken Arok pun menjadi raja dan memperistri Ken Dedes. Dalam masa pemerintahannya, bahkan Ken Arok mampu menaklukan Kediri dan menggulingkan Kertajaya (Raja Kediri). Ken Arok kemudian mendirikan Tumapel sebagai kerajaan baru.

Dari perkawinannya Ken Arok mempunyai tiga putra dan satu putri, sedangkan Ken Dedes melahirkan seorang putra dari Tunggul Ametung bernama Anusopati. Dalam perjalanannya, Anusopati merasa diperlakukan tidak sama dengan saudara-saudaranya. Hingga akhirnya, Ken Dedes pun memberitahu hal yang sebenarnya termasuk kematian ayah kandungnya.

Maka bisa ditebak apa yang akhirnya terjadi, Anusopati membalas kematian ayahnya dan tamatlah riwayat Ken Arok.          

Seru ya kalau membaca sejarah itu. Tapi sayangnya ga semua dari kita suka sejarah. Ga maksa juga sih, karena semua orang mempunyai passion yang berbeda-beda kalo pergi piknik. Sebenarnya masih ada dua cerita candi lagi nih dari Malang, tapi takut bosen ah, nanti ya to be continue.

Move on dulu sekarang ke Gunung Bromo ya. Bicara Bromo ga usah ditanya lagi ya. Udah terkenal sampe mancanegara lho. Bahkan dua teman saya dari Jerman begitu ngebetnya pengen lihat Bromo. Tasaro G.K dalam bukunya “Tetap Saja Kusebut Dia Cinta”, menggambarkan Bromo sebagai gunung yang suci. Kata Bromo sendiri konon katanya diambil dari kata “Brahma” (salah seorang dewa utama dalam agama Hindu).

Suku Tengger disebut-sebut sebagai suku yang mendiami Gunung Bromo. Bahkan setiap setahun sekali mereka melaksanakan upacara Yadnya Kasada (upacara persembahan untuk bumi). Gunung Bromo ini merupakan salah satu gunung yang menarik karena statusnya sebagai gunung yang masih aktif, sehingga kamu bisa mendengar dengan jelas suara dari salah satu kawah yang menggelegar.

Kalau kamu ikut group tour, biasanya setelah dari Gunung Bromo akan berlanjut menuju Pasir Berbisik dan Bukit Teletubbies. Ada juga yang menambahkan wisata petik apel dan mandi air panas di Selekta, tapi saya sendiri tidak melakukan dua-duanya. Jadi kami benar-benar puas menikmati Bromo dan dua tempat terakhir yang saya sebutkan.

Sebenarnya ke Bromo bisa independent, katanya ada angkutan kesana dan cuma bayar 10.000 (tapi saya sendiri kurang tahu mengenai hal ini). Karena saya bersama dua orang teman, maka kamipun memutuskan ikut Bromo Tour. Pergi bareng group tour juga seru karena kita bisa dapat teman baru. Sampai sekarang saya dan teman baru di Bromo masih keep contact lho, ini membuktikan kalo ikut group tour juga beneficial.  

Dua kali ke Malang, dua kali pula saya ke Batu dan memang ini rekomended untuk dilakukan. Alun-alun Batu dan alun-alun Malang sama cantiknya. Kalau menurut saya sih, alun-alun Batu lebih lively daripada alun-alun Malang. Dialun-alun Batu banyak jajanan street food, mulai dari es krim kuburan sampe makanan ala-ala food truck gitu. Kalo di alun-alun Malang suasananya lebih abegeh, maklum banyak yang kongkow.

  • view 45