The Land Beyond the Cloud, Dieng!

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Wisata
dipublikasikan 05 Mei 2017
The Land Beyond the Cloud, Dieng!

[Cerita Perjalanan Kami]

The Land Beyond the Cloud, Dieng!

Sudah lama sebenarnya ingin mengunjungi tempat ini, namun selalu tertunda. Eh tetiba, ada yang nge posting “nyari temen” ke Dieng, maka cerita pun dimulai. Gayung bersambut, pucuk dicinta ulam pun tiba (halah sok-sok puitis :p). Intinya, tak perlu waktu lama mengumpulkan orang-orang yang memang punya niat yang sama. Pun, tak perlu lama pula saya, di invite ke group Whatsapp untuk “mematangkan” rencana short trip kami. Untungnya di group sudah ada para suhu yang sudah tidak diragukan lagi skill nya sebagai traveller, #da akumah apa atuh :p

Dalam hitungan sesingkat-singkatnya suhu sudah menyusun itinerary, nyari homestay, bahkan membelikan tiket bis untuk (yang pura2 sok sibuk, nuhun suhu). Yang menarik adalah, ini akan menjadi trip yang diikuti dari semua penjuru mata angin, mulai dari Tangerang, Depok, Jakarta, Kudus, Garut, Bandung dan Bali. Sayangnya dua peserta terakhir tak bisa kami jumpai karena mereka langsung nanjak ke Prau. Kami berangkat dari titik yang berbeda dan menentukan meeting point di Terminal Mendolo, Wonosobo.

#Long Road to Dieng

Katanya sih kami berangkat jam 17.00, eh ternyata penonton kecewi, bis PK molor hampir satu jam! Padahal PoriSquad adalah pasukan yang sudah siap sedia dari jam 16.00 (ketahuan banget pengen piknik). Dengan estimasi awal bahwa kami akan sampai di Dieng jam 05.00, tapi apa yang terjadi saudara-saudara??? Kami sampai hampir jam 16.00 hari berikutnya.

Kecewa? Pasti, tapi ya sudah lah, namanya juga bagian dari perjalanan. Sementara teman2 sudah santai-santai di homestay kami masih berjibaku dengan pak sopir yang hobinya ngerem mendadak hahahaha... Pose tidur kami sudah berubah-rubah bahkan kaki kami sudah bingung harus kami apakan lagi (saking pegelnya bow). Namun sebenarnya yang paling membutuhkan “perjuangan” adalah ketika kami harus memenuhi panggilan alam yang tak bisa ditahan aka p.p.s. Seriously, if you couldn’t overcome with this problem, kelar idup lo hahahaha :p

Tapi, akhirnya perjalanan panjang berakhir juga. Kami semua akhirnya menarik nafas dan menghirup udara segar dan langsung mencari makan (dan toilet tentunya). Seorang bapak (yang akhirnya menjadi teman perjalanan kami) menawarkan jasa angkutan untuk sampai ke Dieng, namun sebelumnya kami mencari tiket pulang dulu (takut kagak kebagian cuy). Karena kami sudah “kecewa berat” dengan bus PK, kami akhirnya beralih haluan ke SJ dan masalah pun selesai, kami tinggal menuju tempat para Hyang ini bersemayam diatas sana J

#Our 1st Meeting

This is our brand new face to face! Setelah sebelumnya kami cuma akrab di chat, inilah kali pertama kami bertemu muka, kecuali sama satu cewek kece ituh, sebut saja dia Setia Dharma ;) kami disambut di homestay yang (kurasa ownernya fans berat Naruto) dengan selimut tebal. Kacang, biskuit, kopi dan wedang ronde menemani obrolan kami yang (ga nyangka) seru bangetsss! Kami saling bertukar cerita dan Kang Suhu dengan senang hati sharing pengalaman trip overland! Huhuhu bikin ngiri para newbie ajah nih! But actually we were not only talking about travelling, we talk everything! From the serious to funny up to sordid story (tutup muka). We talked a loadddddddddd.

Tak terasa putaran jarum jam telah bergeser jauh dan kami sudah berpindah tempat dari ruangan tengah ke ruang tamu, tapi obrolan kami tetap saja seru, makin seru malah. Tapi akhirnya kami harus meluruskan badan dan bubar jalan, karena esok hari kami harus mengeksekusi itinerary pertama yang sudah tertunda karena keterlambatan pahala :p

#Day1

Karena itinerary hari pertama gagal total, maka keesokan harinya kami langsung eksekusi tempat-tempat yang sudah dalam list. Kami merencanakan morning walk, menikmati udara pagi Dieng dan mengunjungi Candi Bima, yang letaknya tak jauh dari homestay tempat kami menginap. Ketika sebagian dari keluar lebih dahulu, saya, beib Setia Dharma, Mba Jie dan dua akang dari Garut adalah kelompok yang sangat santai (a.k.a mager lama :p). Alhasil kami tak sempat melihat candi tersebut karena seusai sarapan jarum jam sudah diangka hampir sembilan yang artinya Pa Cepret, teman perjalanan kami, sudah siap menjemput dan mengantar kami.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Komplek Candi Arjuna. Komplek Candi Arjuna sendiri terdiri dari tiga bangunan candi, salah satunya sedang dalam proses pemugaran. Menurut keterangan yang saya baca di Museum Kailasa, Candi Arjuna dan Candi Bima adalah dua candi tua yang dibangun pada abad ke VII-VIII. Arsitekturnya masih kental dengan pengaruh India bahkan bentuk Candi Bima mirip dengan Candi Bhubaneswar sedangkan Candi Arjuna mirip dengan Candi Bhitargaon di India Selatan (sayang ya saya dulu mampirnya ke India Utara).

Spot yang paling mencuri perhatian adalah foto session dengan “para wayang”. Antriannya lumayan lho, tapi para wayang ini terbilang sabar meladeni para penggemar dengan berbagai pose J. Puas berfoto sambil menghembus semilir angin Dieng di pagi hari kami kembali berkumpul dan meluncur ke lokasi selanjutnya, yaitu Kawah Sikidang.

Memasuki Kawah Sikidang, sepanjang jalan dihiasi dengan para penjual masker. Kalau sudah pernah ke Kawah Putih, Bandung maka ga akan asing dengan bau belerang dong, hanya saja sepertinya bau belerang disini tidak terlalu menyengat dibanding Kawah Putih. Begitu pula dengan kawahnya, ukurannya lebih kecil dibandingkan dengan Kawah Putih. Kontur tanah Kawah Putih rasanya lebih landai dibandingkan dengan Kawah Sikidang. Kalau ke Kawah Sikidang harus sampai puncak ya, karena dari ketinggian itulah kamu bisa melihat Kawah Sikidang secara keseluruhan dan... kamu bisa dapet bonus main ayunan disana hahahahaha. Seriously, it is a very nice spot to take a picture, specially with the special one ;)

Kami menghabiskan waktu yang cukup lama di Kawah Sikidang. Selain karena pemandangan berkabut kami betah karena ada kentang dan jamur goreng hahahaha. Spot untuk foto session di Kawah Sikidang lebih banyak daripada di Candi Arjuna. Properti nya pun lebih lengkap kap kap kap, mulai dari burung hantu, kuda putih, bentuk hati bertebaran dimana-mana sampe mobil jeep, cocoklah kalau mau pre-wedd, ehhhhhhh ;) ---> tapi jangan bawa-bawa burung hantu ya, ntar disangka pre-wedd sama Master Limbat :p

Tiba-tiba hujan turun di kawasan Sikidang, membuat kami berlama-lama mojok di warung kentang goreng. Tapi hujan ga lama-lama kok dan turunnya pun tak deras membuat kami mampu bergegas melaju menuju Batu yang bisa kami Pandang.

Nanjak sedikit kok ke Batu Pandang, tapi harus hati-hati ya terutama kalau sedang musim penghujan karena selain licin jalanan menuju kearah sana tidak terlalu lebar. Kami disuguhi hamparan kebun kentang dan carica (sejenis pepaya yang hanya tumbuh di Dieng). Dari puncak Batu Pandang kamu bisa menikmati ketenangan Telaga Warna yang seakan terhampar tak berbatas dengan kilauan warna hijaunya. Ademmmmmmmmmmmmmmm...

Telaga warna sendiri letaknya tak jauh dari Batu Pandang. Kalau malas turun berjalan kaki, bisa menggunakan jasa flying fox, tapi kalau kata beib Setia Dharma sih flying fox nya nanggung, teriaknya belum kelar, eh udah sampe ditujuan :p

Telaga warna akhirnya menjadi tempat terakhir kami di hari pertama explore negeri diatas awan ini. Kami relaksasi lama sekali, menikmati tenangnya telaga hijau yang terhampar luas. Tak terasa waktu sudah melaju kearah senja dan kami belum (late) lunch.

#Day2

Pernah lihat sunrise di Pananjakan, Bromo? Nah, kalau Bromo punya Pananjakan maka Dieng punya Sikunir. Sikunir sendiri terletak di desa Sembungan, konon desa ini adalah desa tertinggi di Pulau Jawa! Wiw, pasti seru nih and it is, indeed!

Jam tiga dini hari, Pa Cepret on time menjemput kami di homestay. Ini sebenarnya jauh lebih santai, dibandingkan ketika saya ke Pananjakan, bayangin aja kalau ke Pananjakan kita harus sudah siaptepat jam 00:00. Macam tukang ronda aja kita :p

Ok, kembali ke laptop. Setelah cuci muka dan minum kopi mocachino (ini bener ga sih nulisnya, maklum ga pernah beli kopi, ini juga dibawain beb Setia Dharma, #panjang amat ya keterangannya#) untuk menghangatkan badan, kami bergegas keluar kandang, sayangnya dua rekan kami, Mba Eva dan Mba Artha tak bisa bergabung karena kurang sehat.

Menurut saya, track ke Sikunir jauh lebih mudah dibandingkan dengan track Pananjakan. Di Pananjakan, kamu harus bersiap dengan tanah yang cenderung berpasir sedangkan di Sikunir, tracknya lebih smooth, meskipun nanjaknya lebih panjang dan lebih curam. Tapi track Sikunir sangat “rapi”. Bagi yang punya pasangan, pegangan sama pasangannya ya, nah bagi jomblower dan jomblowati pegangan sama tali saja hahahaha, ini yang saya maksud sangat rapi. Sehingga hal ini lebih memudahkan para lansia dan anak-anak. Ada beberapa pos pemberhentian kalau kami merasa lelah (bukan lelah dengan kehidupan lho :p). Peserta biasanya saling membantu mengulurkan tangan jika melihat ada yang mulai payah melangkah naik, tak peduli kenal atau tidak ya guys.

Ada satu kejadian lucu ketika seorang bapak mengulurkan tangannya membantu mereka (yang kebetulan cewek semua), sang istri yang berdiri disampingnya protes (dalam bahasa Jawa) yang kira-kira artinya begini,

“Wis to Pa, ra sah di bantu-bantu, biarin aja mereka jalan sendiri”.

Kami terkekeh-kekeh. Perempuan, dimanapun dan jam berapapun, masih bisa cemburu :p. So, kalo kamu para cowok-cowok (bukan single) mau membantu, lihat-lihat sekeliling ya, pastikan suasana aman terkendali :p

Singkat cerita, Finally, perjuangan kami berakhir sudah! Akhirnya kami berada di puncak Sikunir! Brrrrrrrrrrrrrrrrrrr, dingin sekali sodara-sodara! Siap-siap sarung tangan ya kaka. Didepan kami ada Sindoro Sumbing, gunung yang terkenal dikalangan para pendaki. Dari puncak Sikunir, kita bisa lihat lanscape Dieng yang diselimuti kabut. Kepulan kapas putih bergerak-gerak dengan perlahan. Kini kutahu mengapa engkau disebut, Negeri Diatas Awan... 

Entah berapa lama kami bercengkrama dan menikmati dinginnya Sikunir. Meskipun sunrise tak bisa kami jumpai, toh kami benar-benar merasa worthied sudah nanjak keatas. Kalau saja neng Maharani tidak mengingatkan Telaga Cebong (our next destination), mungkin kami enggan beranjak dari sini.

Nah, untuk sampai ke Telaga Cebong kamu cuma perlu usaha dikit kok karena dia ga jauh dari Puncak Sikunir dan jalanannya menurun ;)

Kenapa disebut Telaga Cebong??? Ya karena bentuknya mirip kecebong (Pakde harus kesini nih, dia kan hobi nangkep cebong). Tapi teman saya malah berkomentar lain. Kata dia telaga nya lebih mirip... *colek fotografer keren kita Gianza Putra Lubis ;)

Again, karena kami datang di musim penghujan, jadi akses jalan lebih licin. Tapi tenang, semua bisa melewatinya kok (kayak kamu melewati cobaan hidup gitu dech :p)

Oya, ada satu hal lagi yang saya suka dari track menuruni Sikunir, dibeberapa belokan turun, kamu akan mendengar para “penyanyi” dilengkapi dengan alat musik masing-masing. Ada yang cukup sederhana ada juga dengan alat musik yang lengkap. Ada yang duet,trio ataupun full band personel. 

Cerita #Day2 berakhir di Telaga Cebong saudara-saudara. Kami menyelesaikan hari ini dengan sarapan pagi diwarung kecil yang berjejer menuju arah pintu keluar Sikunir. Kalau di Sikidang kamu bisa menikmati kentang/jamur goreng, nah kalau di Sikunir kamu bisa menikmati kentang bulat kecil-kecil, yang sekali happp, langsung ditelan :p

Ini adalah akhir dari perjalanan kami di Dieng karena sore harinya kami sudah harus meninggalkan Dieng, kembali menuju asal masing-masing, short trip is done, baby :'(

#UpClose Dieng

Ada cerita yang tertinggal, yaitu, setelah dari Kawah Sikidang, kami mencuri waktu masuk ke museum. Namanya Museum Kailasa, tempatnya persis bersebrangan dengan Kawah Sikidang. Museumnya kecil saja dan tidak ada orang sama sekali, kecuali penjaga nya :p

Disinilah saya dan beb Setia Dharma jeprat-jepret mengenai Dieng, maklum kami ga punya waktu banyak, cuma jeprat-jepret, baca pake metode skimming, Done! Ga enak bow ditungguin para personil TK Pertiwi ;)

Apa sebenarnya yang menjadi Dieng begitu khas dan menjadi salah satu destinasi pariwisata? Bagi para pendaki, Dieng adalah gerbang menuju Gunung Prau. Ketika kami sampai dihari pertama di terminal Mendolo, berlimpah para pendaki yang siap nanjak. Namun, tak kurang pula yang hanya ingin sekedar menikmati udara dingin diketinggian gunung.

Kata “Dieng” sendiri terdiri dari dua kata, “Di” (tempat atau gunung) dan “Hyang” (Dewa), secara sederhana bisa diartikan tempat bersemayamnya para Dewa. Seperti halnya tempat lain di Indonesia yang selalu erat kaitannya dengan peradaban Hindu-Budha, begitu pula Dieng. Salah satu bukti nyatanya tentu saja candi-candi yang bertebaran. Personally, saya suka candi-candi di Dieng karena mereka bersih dan terawat! Sayang tak ada papan informasi yang mendukung kelengkapan “biodata” candi tersebut.

Masyarakat Dieng juga percaya dengan keberadaan anak dengan rambut gimbal sebagai keturunan para leluhur mereka. Konon katanya jika kita bertemu mereka dan mereka meminta salah satu barang yang kita punya, maka kita HARUS menyerahkannya. Rambut gimbal mereka juga tidak dipotong secara sembarangan, ada ritual khusus mengenai hal ini.

Dataran tinggi Dieng juga adalah lahan yang subur untuk tumbuhnya sayur mayur dan buah-buahan, mulai dari kentang, wortel, jamur, kol dan yang lainnya. Yang khas dari Dieng salah satunya adalah Carica (baca: karika bukan karhoma :p). Carica adalah sejenis pepaya yang hanya tumbuh di Dieng. Bentuknya kecil-kecil, bahkan sampai tua pun bentuknya tidak akan berubah!

Oleh masyarakat Dieng, carica ini kemudian diolah dan dijadikan oleh-oleh khas Dieng. Hampir setiap rumah adalah “home base” bagi pembuatan Dieng. Ada yang di jual langsung di rumah (dan ini harganya lebih murah) atau yang di jual ditoko-toko.

Masyarakat Dieng adalah masyarakat yang ramah dan baik. Dimalam terakhir kami di Dieng, kami ngaso di rumah Mba Feni sambil menikmati Carica dan menghangatkan badan di tungku perapian. Ah hangatnya...

#Dieng Culinary

Setelah rehat di Kali Anget, kami mengakhiri sisa-sisa beberapa jam kami di Dieng. Saatnya untuk kulinerannnnnn. Sasaran kami tentu saja mie yang namanya kami bisa baca dimana saja dipenjuru kota Dieng! “Mie Ongklok” adalah mie khas Dieng. Kalau ingin tahu rasanya, bayangkan saja mie kocok dengan saus sate padang dan memang dia di tambah beberapa tusuk sate. Selain mie ongklok ada juga sop/sate jamur.

Rekomended untuk dicoba, Mie Ongklok alun-alun kota Wonosobo, seberang bank bri. Disamping abang mie Ongklok rekomended juga eskrim duren, satu mangkuk besar harganya Cuma enam ribu! Ada juga sate jamur yang harganya delapan ribu per porsinya.

Hujan Dieng disore hari, tak menyurutkan niat kami untuk tetap makan hahahaha. Kami harus mengisi perut karena sore itu adalah sore terakhir kami di Dieng.

Dua akang akan kembali ke Garut dengan motornya, empat orang masih meneruskan piknik mereka ke Jogja, satu orang sudah pulang lebih awal ke Kudus dan sisanya kembali ke kantor #disitu kadang saya merasa sedih :’( :`( :`(

See you on the next trip guys...

The End

 

  • view 56