Kawah Ijen,Banyuwangi (Jawa Timur)

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Wisata
dipublikasikan 05 Mei 2017
Kawah Ijen,Banyuwangi (Jawa Timur)

Special Banyuwangi: Kawah Ijen

Memanfaatkan libur kepepet tanggal tujuh Mei bulan kemarin, saya menghabiskan long weekend dengan mengunjungi objek wisata Kawah Ijen di Banyuwangi (Jawa Timur). Sehari sebelumnya saya menyempatkan waktu mengunjungi Surabaya. Sehari semalam menikmati Surabaya bersama seorang teman yang berbaik hati menemani saya menikmati udara Surabaya dari pagi sampai sore hari. Di Surabaya, saya menikmati House of Sampoerna, duduk penuh relaksasi di Taman Bungkul dan tentu saja berfoto dengan ikon Surabaya, yaitu patung sura dan buaya.

Malam harinya, selepas shalat Maghrib saya baru bertolak ke Banyuwangi. Nah ini kisahnya. Selamat menikmati.

Sudah lama menjadi bucket list, akhirnya tereksekusi juga. Ijen Crater finally checked! Setelah menghabiskan satu hari satu malam di Surabaya, saya janjian untuk bertemu dengan cewek cantik, baik hati dan tidak sombong di terminal Purabaya. Dari sinilah kami akan bertolak menuju Banyuwangi. Perjalanan konon kabarnya akan memakan waktu sekitar 6-8 jam by bus. Kami tak terburu-buru, santai-santai sambil menikmati Terminal Purabaya yang (di dengung2kan sudah mirip bandara). Mungkin memang tak berlebihan adanya. Dua tahun lalu ketika saya transit di Purabaya sebelum ke Malang, terminalnya masih acak adut, eh kemarin kesana lagi udah cantik aja. Ruang tunggunya oke banget. Terminal ini terdiri dari dua lantai, untuk ke lantai atas sudah ada fasilitas lift, jadi kalau kamu lelah (terutama dengan kehidupan ini,eh...), ya tinggal naik eskalator aja, ga usah manual. Papan penunjuk line bus juga udah jelas terpampang, namun sayangnya masih ada yang kurang nih. Saya ga nemu mushola! Katanya sih ada mesjid di luar. Trus toiletnya masih berbayar hiksssss.

Keesokan paginya kami sampai Banyuwangi. Diterminal Karang Ente, kami langsung disambut para abang becak. Begitu membuka mata, nyawa belum sepenuhnya pulih, ketika ditanya, mau kemana Mba? Rasanya kami berdua kompak menjawab, “Mau ke toilet hahahaha”. Pasti abang becaknya dongkol. Tapi seriusan, ketoilet, mencuci muka dan menggosok gigi itu memulihkan keceriaan pagi di Banyuwangi. Hasil pemufakatan dengan abang becak, terlahirlah kesepakatan bahwa kami akan diantar ke Blambangan untuk mencari makan (lapar coy) dan katanya sedang ada acara sesuatu di Taman Blambangan itu. Selama mengayuh becak, kami ngobrol ngalor ngidul, sampai tiba-tiba tercetus ide untuk mencari tempat rental motor! Ini nih enaknya jalan tanpa itinerary, ada aja fikiran on the spot nya hehehehe. Termasuk istilah yang absurd antara bapak becak dengan kami tentang kata “sepeda” dan “motor” Kalo ingat itu suka pengen ketawa, ga tahu deh nih si bebeb kalo baca ketawa juga ga . Akhirnya tujuan kamipun berubah, bukan mencari makan malah mencari rental motor hahahaha. Bapak becak langsung membawa kami kesebuah bengkel. Dalam waktu yang tak lama, kami sudah mendapatkan sepeda (motor) dan siap menjelajahi Banyuwangi.

Setelah isi bensin, kami pun ingat bahwa perut kami belum di isi. Muter-muter nyari makan, akhirnya kami mendarat disuatu tempat yang akhirnya kami tahu bernama Taman SriTanjung. Tempatnya enak banget! Letaknya persis bersebrangan dengan Mesjid Raya (lupa namanya). Taman nya cukup luas dan bersih. Para pedagang berjejer rapi, dan para pembeli disediakan tempat lesehan. Untuk mengembalikan stamina kami minum juice buah dan memesan makanan. Kami ditawari Nasi Tempong, kuliner khas Banyuwangi. Isinya kurang lebih sama seperti nasi pecel ayam, yang mebuat beda adalah, sayurannya tidak mentah (dikukus) kecuali mentimun. Entah lapar atau memang enak, saya bahkan memakan tempe jatah travelmate saya hihihihi. Tapi sumpah ini rekomended buat di coba.

Sambil makan, tak lupa kami numpang ngecharge dan jemur baju hihihi (itu saia, maklum cuma bawa satu kaos panjang dan belum kering waktu dicuci di Surabaya, penting ga sih ini keterangan. Adzan zuhur mulai berkumandang, ketika kami sudah selesai makan. Kami memang sengaja menunggu sampai zuhur supaya langsung bisa shalat disatu tempat.

Usai zuhur kami kembali ke SriTanjung, order juice alpukat (persediaan tenaga, maklum kita mau motoran). Hasil tanya-tanya Mbah Gugel, katanya objek yang paling dekat itu GWD, langsung deh meluncur setelah pamitan sama si Ibu warung. Baru beberapa langkah, Ibu warung sudah manggil, Mba bajunya ketinggalan. Hihihihihi, saya mah gitu orangnya, absent minded!

Ga sampai satu jam seingat saya, kami sudah sampai di GWD. Hayo ada yang tahu ga apa itu GWD? Kalo Bali punya GWK, maka Banyuwangi punya GWD a.k.a Grand Watu Dodol. Kami santai-santai lagi sambil menikmati kelapa muda. Suasana pantai Watu Dodol cukup ramai, tapi begitu selonjoran, ngelempengi kaki dengan bantal backpack, saya tiba-tiba terlelap. Angin cepoi-cepoi ikut mendukung suasana kayaknya, ditambah satu butir kelapa yang sudah tandas di teguk. Coba, nikmat mana lagi yang kau dustakan ?

Namun kami tak bisa berlama-lama, karena rute utama sudah harus dieksekusi. Iyes, kami harus segera bergerak menuju Ijen. Perjalanan cukup lancar, lagi-lagi kami mengandalkan gooogle map sebagai panduan. Memasuki Desa Licin, cuaca yang tadinya terang benderang, gradually changing! Mulai dari rintik kecil yang masih bisa kami hadang, sampai benar-benar hujan deras dan sudah tak mungkin lagi kami teruskan. Disebuah warung kecil, kami menepi dan berharap bisa menghangatkan badan dengan minum kopi. Tapi apa daya, ternyata itu warung binatang ternak wkwkwkwkwk. Sang pemilik warung berkata bahwa kami terlambat, harusnya sebelum ashar kami sudah sampai atas. Harapan mulai sirna... Ya sudahlah! Mungkin belum jodoh bertemu Blue Fire. Pemilik warung juga menyarankan untuk tidak melanjutkan perjalanan dengan kondisi cuaca seperti ini, lagi pula kami naiknya bawa motor pula. Sedikit lemas, masa iya harus balik kanan lagi ???

Sedang merenungi nasib, tiba-tiba datang seorang Ibu berpayung. Akhirnya dia memberikan solusi, daripada nunggu hujan berhenti dan tidak tahu kapan berhenti, lebih baik nge home stay dirumahnya sampai nanti malam, setelah itu tengah malam baru meneruskan kembali perjalanan. Ada benarnya juga, lagipula baju kami sudah basah. Kami pun setuju, lebih setuju lagi ketika Bu Anita, pemilik homestay menawarkan minum air jahe. Wow, langsung terbayang minum jahe panas ditengah suasana hujan.

Sambil menikmati segelas air jahe panas, sementara teman saya (pasti) menikmati kopi kesukaannya, kami bercerita dengan Bu Anita. Dari hasil obrolan ringan, kami mendapat sedikit cerita mengenai Banyuwangi. Dipercaya bahwa kota Banyuwangi masih “bersaudara” dengan kota Bali. Penduduk asli kota Banyuwangi bernama Using. Dalam hal kepercayaan, penduduk Banyuwangi beragama Islam, namun dalam prakteknya mereka masih mempraktekan budaya Hindu. Misalnya, di rumah Bu Anita sendiri ada tombak yang panjangnya kira-kira 1.5 atau 2 meteran berbalut kain berwarna kuning. Jika dibelahan bumi Jawa bagian lain mempunyai keris sebagai benda yang dikeramatkan, maka penduduk Using percaya kepada tombak tersebut. Pada tiap malam tertentu, tombak itu akan “diberi makan” dengan ritual-ritual tertentu. Begitu juga ketika mulai bercocok tanam, akan ada selametan dengan cara mengundang para tetangga dan menyajikan hidangan tertentu. Ngomong-ngomong hidangan, cacing perut kami mulai berteriak, tapi dimana kami makan? Sepanjang jalan tak terlihat warung nasi rames, bakso, apalagi nasi padang.

Ketika bertanya pada Bu Anita, eh malah kami ditawari makan. Alhamdulillah, rezeki anak sholeha. Kami disuguhi hidangan yang sangat istimewa yaitu, burung dara goreng! Meskipun sekali mengambil nasi, tapi saya ga bisa berhenti mengambil bakwan jagung hehehehe. Ada yang lebih istimewa yaitu sambel sereh! Ini aseli endes bingitsssssssssssss. Kami berdua makan didapur sambil mendengarkan Bu Anita bercerita. Ahhh, nikmat mana lagi (dan lagi) yang bisa engkau dustakan?

Tengah malam, Tya, my travelmate, memberitahu bahwa kita sudah harus siap-siap. Aku tak tahu jam berapa. Yang jelas kami sudah harus cepat-cepat karena guide kami sudah menunggu diluar. Kagak pake lama, kami langsung ready. Alhamdulillah cuaca bersahabat.

Membelah dini hari, kami sudah berada di belakang Mas Yono, guide kami. Motor kami membuntuti motor trailnya. Setibanya di depan gerbang masuk kawah, antrian sudah mulai panjang. Entah jam berapa tracking dimulai. Dinginnya menggigit. Kami berdua dan Mas Yono, bersama pengunjung lainnya mulai melangkah. Diawal-awal tracking masih terbilang hanya berjalan biasa saja, tapi semakin lama perjalanan semakin menanjak. Disinilah stamina mu di uji kawan. Banyak yang beristirahat, menepi sejenak, tapi kami memilih untuk tetap berjalan walaupun melambat. Seingatku kami hanya berhenti dua kali. Sekali untuk minum, karena sudah mulai terasa haus dan kali keduanya istirahat di rest area.

Selepas berintirahat sejenak kami melanjutkan tracking kami. Mas Yono bercerita bahwa, perjalanan ke Ijen memang tough, jangan samakan dengan Sikunir atau Bromo ya temans. Satu setengah kilo diawal adalah perjuangan, tapi selepas itu kamu bisa berteriak hehehe, begitu kata Mas Yono. Maka begitu sampai di puncak kamu akan menarik nafas yang amat sangat legaaaaaaaaaaa. Yang tersisa hanyalah perasaan takjub bahwa kamu sudah beratapkan bintang-bintang. Subhanallah!
Kami duduk beralaskan sarung Mas Yono hihihihi, menikmati Ijen yang masih diselimuti kabut sambil menunggu waktu subuh. Ini adalah moment yang cukup romantis (buat saia) ketika kamu bersujud dibawah gemintang yang bertaburan. Ahhhhh nikmat mana lagi dan lagi (dan lagi) yang engkau dustakan???

Semburat jingga mulai menyeruak diufuk timur, tanda sang surya akan segera menyapa.

Maka ketika pagi mulai benderang, terlihatlah track yang sudah kami lewati tadi malah. WoW banget ya. Acara selanjutnya tentu saja menikmati Kawah Ijen sendiri. Melihat Kawah Ijen, kok jadi inget Kawah Putih ya. Walaupun tentu tak sesulit ke Kawah Ijen, tapi dimana-mana view kawah selalu terlihat menarik untuk objek foto (mungkin kamu sedang merencanakan pre-wedd . Bolehlah memilih mau Kawah Putih atau Kawah Ijen. Mas Yono juga bercerita kalau Kawah Ijen sudah beberapa kali dijadikan object syuting film dalam dan luar negeri. Katanya Jilbab Traveller ngambil lokasi di Ijen juga (saya sendiri ga nonton filmnya), dan Ringgo Agus Rahman sering sekali mengunjungi Ijen lho, itu kata Mas Yono.

Perjalanan pulang dimulai dengan lebih santai. Mas Yono kembali bercerita tentang Kawah Ijen dan Banyuwangi. Terkonfirmasi sudah apa yang dikatakan Bu Anita bahwa Banyuwangi memang bersaudara dengan Bali. Mas Yono menunjuk Gunung Raung (gunung yang tak berkepala). Konon kabarnya waktu gunung itu meletus, abu nya sampai ke Bali. Masyarakat percaya bahwa sang gunung sedang mencari saudaranya di Bali yaitu Gunung Agung. Setahu saya Gunung Agung adalah salah satu gunung yang disucikan di Bali. Kalau kamu pernah ke Pura Besakih, Bali kamu akan menemukan air suci dari Gunung Agung yang disimpan ditempat-tempat tertentu. Menuruni tracking menurun, kami disuguhi banyak penjaja souvenir Ijen. Mereka menjajakan benda-benda yang terbuat dari belerang, bagus-bagus sekali dan harganya amat sangat terjangkau. Sayang saya tidak bisa membawanya pulang, karena saya menggunakan pesawat untuk kembali ke Jakarta.

Begitulah cerita kami kali ini. Mudah2an memberikan sedikit gambaran kalau kamu mau mengunjungi Banyuwangi. Ini ada beberapa tips yang mudah2an berguna jika kamu sedang berencana mengunjungi Ijen:

1. Persiapkan stamina! Kebiasaan berolahraga akan sangat membantu.
2. Ada banyak open trip ke Ijen. Tapi kalau kamu mau ngebolang dan bisa bawa motor, atau punya teman bisa bawa motor, mungkin kamu bisa nyoba rental motor. It is really save your budget! Seriously!
3. Kalo mau istirahat, gelar tiker dan tidur2an coba ditaman2 di Banyuwangi. Bersih! Dan jangan lupa cobain Nasi Tempong ya.
4. Kalau masih on-plan, ada baiknya pilih kereta ke Banyuwangi dari Surabaya daripada ngebis dari Purabaya. Kami naik bis karena tiket kereta sudah sold out.
5. Selamat berlibur, semoga selalu sehat dan bahagia :) 

Akhirul kalam,saya ingin berterimakasih kepada travelmate sekaligus biker handal kita, Tya, mudah2an kagak kapok ngetrip bareng aye, maafkeun saya cuma bisa jadi navigator, itupun kadang disorientasi.

Final question, should we go back for Banyuwangi? I do think so, masih banyak yang belum dilihat mulai dari Red Island sampai Basring beach. Sayapun ingin merasakan menyebrang ke Bali via Ketapang. Dari Bali nyebrang lagi deh ke Lombok. 

Mudah2an sang Maha Kuasa menganugerahi nikmat sehat dan nikmat rejeki materi yang cukup agar tetap bisa bertadabur alam. Amin Yaa Robbal Alamin :)

  • view 68