Gunung Banyak-Pujon (Malang)

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Wisata
dipublikasikan 02 Mei 2017
Gunung Banyak-Pujon (Malang)

Gunung Banyak-Pujon

Ini adalah pengalaman saya pertama kali ke Malang. Sudah lama ingin mengunjungi kota apel, baru kesampean bulan Desember 2015. Ada dua pilihan waktu itu, maku Bromo atau ke Gunung Banyak ya? Tapi yang terakhir lebih berat nih gara-gara...

Gara-gara postingan salah seorang cewek di group backpecker beberapa bulan sebeleum bulan Desember 2017 pokoknya. Postingan si mba yang udah duluan kesana begitu menarik, dan salah satu yang menjadi trigger saya untuk memilih Malang sebagai destinasi liburan akhir tahun adalah karena tempat ini digambarkan begitu indah.

Begitu saya mengutamakan niat hati untuk kesana, teman saya yang asli Malang malah terkejut.

"Mau ngapain ke Gunung Banyak? Mau minta pesugihan?"

Wew, syerem banget kesannya tuh gunung. Langsung merinding deh hihihi. Langsung kebayang yang aneh-aneh, apalagi cerita-cerita mistis kayak gitu kayaknya udah jadi "santapan" masyarakat kita.

"Ada kuil Dewa Kuan Im juga disitu"

Sang teman melanjutkan informasinya. Lah tapi kan tujuan saya kesana bukan mau nyugih, cuman pengen tahu dan merasakan apa yang si mba cantik deskripsikan di postingan group hehehehe. Si Mba cantik juga mengusulkan untuk tidak melewatkan paralayang. Konon kabarnya, kata dia meskipun cuman lima belas menit itu udah cukup untuk menikmati sensasi melayang diudara. Bolehlah sekali-kali uji nyali.

Sebenarnya perjalanan menuju Gunung Banyak bisa ditempuh dengan kendaraan umum, mulai dari bis, angkot sampe ojek. Tapi berhubung udah kadung rental motor, ya sudah itu saja yang dimanfaatkan.

Seperti halnya perjalanan ke pegunungan, biasanya pemandangannya tak jauh dari tanaman-tanaman tinggi, sayur-sayuran atau buah-buahan dan tentu saja para "agen villa" hihihihi, persis arah ke Puncak-Bogor. Villa..... villa....villa..... Para agen ini pun menjajakannya secara lisan (sambil berjalan menghampiri para pengendara mobil/motor) atau sudah tertulis di kardus-kardus warna cokelat, ada juga yang sudah disertai harganya.

Sayangnya entah saya dikategorikan untung atau tidak, cuaca kurang mendukung waktu itu. Langitnya hitam pekat euy, tanda-tanda mau hujan. Terus melaju nanjak gerimis mulai menyapa, dan ditengah perjalanan hujan pun benar-benar turun. Alhamdulillah (tapi sedih juga). Medannya terus berkelok, tapi jalanan aspalnya sudah bagus. Ini salah satu hal yang membuat saya puas ngukur jalan di Malang, jalanannya bagus dimana-mana, tak terkecuali ke arah pegunungan seperti ini. Salute buat pemerintah daerahnya. Ini mengingatkan saya kepada jalanan menuju arah Gunung Halimun-Bogor beberapa tahun yang lalu. Jalanannya amat sangat tidak nyaman, padahal jelas Bogor lebih dekat dengan ibu kota. Mudah-mudahan sekarang jalanan kesana sudah rapi.

Meskipun jalanan sudah mulus, teman saya yang bertugas membawa motor (maklum saya invalid bawa motor) tiba-tiba berhenti. Lho kenapa? Katanya dia sudah tidak sanggup. Naik keatas gunung memakai motor matic dibawah guyuran hujan. sementara saya sudah berapi-api naik paralayang. Akhirnya disetujuilah saya akan mencari tumpangan, siapapun yang akan naik ke atas. Ya sudahlah...

Well, finally under the rain we arrived there!

Kelelahan akhirnya terbayar sudah! Ternyata ratusan orang telah lebih dulu sampai puncak gunung dan berkumpul disini. Hujan rintik-rintik tak lagi ada, jadi kita bisa menanggalkan jas hujan. Yang ada hanya pemandangan akan lukisan Sang Maha Pencipta. Sudah dipastikan tak bisa main paralayang, jadi menikmati view kota Malang dari atas Gunung Banyak itu sudah lebih dari cukup.

Tak berapa lama sedang asyik-asyiknya berfutu-futu ria, tiba-tiba hujannya turun lagi. Yahhhhhhhhhhhhhh. Praktis semua orang berkumpul di shelter dan beberapa lesehan warung kopi.

Tak banyak cerita memang dari Gunung Banyak, tapi selalu ada orang-orang yang meninggalkan cerita untuk kita ingat, dan itu tentu hal yang menjadikan sebuah perjalanan menjadi mengesankan. Orang-orang tersebut mungkin (hanya) sekedar orang dijalan tempat kita bertanya ketika gps di android sudah tak lagi bisa menolong karena kehabisan batere, atau merekalah yang menunjukkan jalan setelah kita nyasar berkali-kali atau selalu ada yang bersedia memberikan tumpangan (sebenernya agak takut juga sih, tapi apa daya klo kefefet) disaat ketidakmungkinan balik arah dan menemukan tukang ojek (Gojek sama Grab bike belum sampe Malang.

  • view 78