Generasi Millenial

Irma Rahmatiana
Karya Irma Rahmatiana Kategori Lainnya
dipublikasikan 30 April 2017
Generasi Millenial

#Generasi Millenial

Di salah satu episode Kick Andy (saya sudah lupa episode yang mana), Andy Noya menghadirkan beberapa anak muda yang dicap sebagai generasi millenial yang dinilai sukses berlaga di nasional maupun go internasional. Andy Noya pun didampingi oleh co-host yang di awal kemunculannya didepan publik sudah dinilai sebagai anak muda yang banyak menginspirasi yaitu, Yoris Sebastian. Ada nama lain yang di gadang-gadang juga sebagai produk generasi millenial yang sudah banyak mempengaruhi anak muda untuk keluar dari zona nyaman dan menunjukkan gigi untuk berkarya di jalur sendiri. Dia tak lain dan tak bukan adalah CEO YOT (Young on Top), Billy Boen. Kali ini saya tidak akan membahas dua orang tersebut, karena pasti profilnya sudah bertebaran dimana-mana (kecuali kalo kamu cuma kenal Ridho Rhoma ya :p). Disini saya mau sedikit sharing ilmu yang sudah saya dapat dari seorang pakar “peramal masa depan” yang bukan melihat dari isi baskom ataupun kartu tarot. Datanya valid! So, are you ready, lets get started!

Who are they?

Generasi Millenial setidaknya mempunyai 3 karakter: Indifferent, Instant, Creative. Karena karakter inilah produk yang ingin mereka hasilkan harus: Faster, Better and Cheaper!

Dibelahan benua biru sana, saat ini generasi millenial sedang mengembangkan “Ambulance Drone”. Why ambulance? Ambulance bagi bangsa Eropa dianggap sesuatu yang paling dan sangat vital menyelamatkan manusia dalam keadaan darurat. And I do agree with that! Saya masih ingat apa yang terjadi kepada (alm) ibu saya tercinta :’( Konon kabarnya, di Eropa rentang waktu 30 menit itu dinilai amat sangat lambat dan terlalu lama untuk kedatangan sebuah ambulance. Saya ngelus dada waktu mendengar itu. 30 menit terlalu lama? Disini? Ketika hari takziah, Ibu Dokter yang cantik meminta maaf kepada keluarga kami atas keterlambatan ambulance yang entah berapa jam kami tunggu! (Lho kok jadi curhat :p). Maksud saya gini, saya cuma mau memberi ilustrasi betapa jauhnya pemikiran generasi tempo doeloe dengan generasi millenial ini. Dan hal ini sangat significant untuk kelangsungan hidup seseorang. Apakah kelangsungan hidup individual saja? Oh, tentu tidak, nyatanya generasi millenial juga sudah mampu merubah banyak hal, termasuk dua diantaranya adalah sektor transportasi dan pariwisata. Lets take a look in-dept!

Sejak kelahiran transportasi berbasis online setahun yang lalu, dua nama besar dalam dunia “pertaxian” sudah merasakan kerugian di kuartal ke 3 tahun 2016. Taxi berbaju putih pendapatannya hilang 81M, sedangkan si burung biru pendapatannya turun ke angka 42% (hampir 50% ya). Bagaimana dengan sektor pariwisata? Jasa perhotelan terutama yang paling mengurut dada. AirBnB disebut-sebut sebagai biang keladi semua ini. Bagaimana tidak? Pengalaman nyata dua orang teman saya dari Jerman ketika liburan ke Indonesia adalah buktinya. Mereka mendapatkan tempat tinggal yang nyaman, aman dengan harga terjangkau ketika liburan ke Bali dan Lombok melalui AirBnB. Testimoni mereka berdua amat sangat positive dengan kehadiran AirBnB ini dan tingkat kepuasan dari hunian yang mereka tinggali selama liburan. Begitu juga yang terjadi dengan para ekspatriat yang mondar-mandir ke ibukota. Konon katanya mereka sekarang emoh lagi tidur di hotel berbintang-bintang (bukan bintang toejoeh ya) dan memilih tempat-tempat yang tersedia melalui AirBnB. Siapa yang tidak mau tidur di tempat yang nyaman dengan harga miring?

Apakah hanya jasa akomodasi yang menjadi sasaran generasi millenial? No way baby, bagi kamu yang berprofesi tour leader/tour guide or whatever it is, hati-hati ya dengan profesi kamu, kamu ada dalam bahaya besar hahaha (syerem banget ya :p). Konon katanya saat ini di Lombok, anak-anak millenial ini sedang merintis start up yang menyasar lahan ini. Contoh sederhana, saat ini sudah berjalan anak-anak yang menjadi tour guide dengan upah perjam 200.000 untuk 1 orang. Kuota maksimum tourist yang di guide adalah 10 orang. Jadi tinggal dikalikan saja, 200ribu kali 10 dalam 1 hari. Ini millenial banget! Dan mereka mendapatkannya bersih, tanpa perantara! Inilah kemudian dimasa yang akan datang diramalkan terjadinya “The Death of Middlemen”. Tak akan ada lagi makelar! Antara penjual dan pembeli tidak akan ada lagi batasan, mereka bisa saling berinteraksi secara langsung. Dan ini rasanya sudah terjadi lambat laun.

Bagaimana dengan Indonesia?

Saat ini di Indonesia presentasi mahasiswa antara jurusan eksakta dan humaniora ternyata tidak seimbang (36-64% respectively). Hal inilah yang menyebabkan “ketidaknyambungan” antara apa yang dipelajari dengan apa yang menjadi profesi dikemudian hari. Padahal diramalkan di tahun yang akan datang ada beberapa profesi yang membutuhkan Math and Social Skills secara bersamaan (lihat di slide ya). Setidaknya ada lima profesi yang membutuhkan kedua skills ini yaitu Lawyer, Nurse, Financial Manager, Computer Scientists and Accountant. Ada satu lagi sebenarnya profesi yang dianggap sebagai “The Sexiest Job in 21st Century” yaitu profesi “Data Scientist”. Saat ini hanya ada 1 orang yang sudah memulainya, catat ya hanya 1 orang, dan orang itu adalah orang Indonesia (tapi maaf saya lupa namanya). Ibu ini mempunyai background pendidikan ekonomi namun mumpuni dalam berkomunikasi. Saat ini beliau sudah di hire perusahaan dalam dan luar negeri. Bagaimana sebenarnya profesi “Data Scientist” ini? Agak ngeri-ngeri sedap gitu sih waktu di kasih gambaran mengenai profesi nya dia. Jadi, seorang Data Scientist adalah orang yang sudah bisa meramalkan apa yang akan terjadi dalam satu perusahaan selama 1 atau 2 tahun kedepan, mulai dari profit, kerugian dannnnnnnnn termasuk nama-nama karyawan yang bisa dipertahankan atau diberhentikan alias dipecat!

Mengapa di pecat? Ada dua kemungkinan. Pertama, memang karyawan tersebut sudah tidak produktif/kreatif sehingga tidak memberikan kontribusi lebih dan kemungkinan yang paling mungkin adalah tenaga manusia sudah digantikan oleh robot. Robot sebenarnya bukan barang baru dalam menggantikan manusia. Setahu saya Jepang adalah negara yang paling giat mengembangkan tekhnologi menyerupai manusia. Dan rupanya hal ini sudah diterapkan di Cina! Cina mengganti 90% tenaga manusia dengan robot. Dan hasilnya? Produktivitas meningkat 250%!

Saya kira dalam keseharian kita, tanda-tanda inipun sudah ada dimana tenaga manusia sudah digantikan oleh mesin. Dua contoh yang paling nyata adalah E-toll dan Vending Machine Commuter Line. Baru saja tiga hari yang lalu, seorang driver bercerita kalau sekarang hampir di semua ruas toll di layani oleh E-Toll. Sementara yang paling dekat dengan saya ya si Vending Machine itu (maklum aye kagak punye mobil, sepuran ajah kitamah J). Disetiap stasiun kereta hampir sebagian besar dipasang Vending Machine, loket yang terbuka biasanya hanya melayani Refund saja. Untuk print out tiket pun kita sudah bisa mencetak sendiri (ga lagi minta tolong si emba loket). Jadi siap-siap saja ya kalau nanti perusahaan lebih memilih robot dari pada manusia karena inilah yang diramalkan akan terjadi. Tapi jangan resah dan gelisah gitu juga kali. Kalau kamu lihat di slide, lima profesi yang disebutkan diawal akan terus tumbuh (kasih selamat dulu untuk para pengacara, para suster, dll), sedangkan beberapa profesi akan tetap bertahan (grey bubble) dan profesi yang lainnya akan mengalami penurunan atau hilang sama sekali (red bubble).

Hal ini tentu akan mengakibatkan persaingan di ladang yang hilang, dan bayangkan kita memang sudah bersaing di awal tahun 2017. Saya ingat betul “pidato” Pakde menyambut tahun baru 2017 yang disampaikan di Bogor. “Mau tidak mau, suka tidak suka, persaingan sudah dimulai.” Begitu kira-kira ungkapan Pakde. Jangan jauh-jauh tentang persaingan internasional, mari lihat sekitaran Asia dulu, MEA misalnya. Masyarakat Ekonomi Asean adalah jalan bagi masuknya barang dan orang antar negara Asean. Ada 8 Profesi yang diprediksi akan menjadi lahan rebutan masyarakat Asean (lihat di slide ya). Jadi saya mau ngasih selamat dulu nih untuk adik-adik mahasiswa yang mengambil kedelapan jurusan tersebut J selamat berkompetisi dimasa depan ya J

Salah satu profesi yang mencuri perhatian adalah “dokter”. Dokter selama ini selalu dianggap profesi yang bergengsi, disegani dan make a lot of money. Tapi tunggu dulu, diawal sudah saya share tentang generasi millenial yang sedang mengembangkan Ambulance Drone (which is berhubungan dengan orang sakit), Dokter Spesialist diramalkan terancam keberadaannya terutama untuk 5 specialist berikut ini (Penyakit Dalam, Bedah, Kandungan, Anak dan Anestesi). Saat ini lagi-lagi generasi millenial di sana sedang mengembangkan “Watson Supercomputer”. Supercomputer yang sudah membaca kurang lebih 2 juta buku kedokteran (hayo mahasiswa kedokteran sudah baca berapa buku) dan bisa mendiagnosa langsung penyakit pasien. Awesome!

Jadi saran Ibu Speaker, kalau punya anak yang sekarang kuliah kedokteran jangan bangga-bangga amat hahahaha (kejam amat ya, padahal kan masuk jurusannya aja udah susah :p).

Pertanyaan yang kemudian timbul adalah, how to nurture this generation?

Jadi ternyata menurut NASA Creativity Test, sampai dengan usia 5 tahun anak memiliki 98% jiwa kreativitas, cukup tingginya, almost 100%! Itulah mengapa ditahap-tahap awal anak memulai sekolah (pre-school) biasanya disekolah-sekolah mata pelajarannya pun banyak yang berhubungan untuk merangsang kreativitas anak. Tapi sayangnya, ternyata semakin keatas seiring bertambahnya usia tingkat kreativitas seseorang semakin menurun. Bayangkan saja, orang dewasa hanya menyisakan 2%! (mungkin orang dewasa sudah terlalu lelah dengan kehidupan ini :p).

Padahal eh padahal, seseorang yang memiliki kreativitas tinggi bisa memiliki chance berkali-kali lipat mendapatkan Nobel Prize lho! Kreativitas ini bisa dalam bentuk Musik, Arts, Craft, Writing and Performing. Lha memang kita hidup untuk mendapatkan Nobel? Tentu tidak! Tapi ini pada akhirnya ini menunjukkan kepada kita bahwa ke lima bidang (yang biasanya dianggap sepele bahkan tidak penting) ternyata mempunyai pengaruh yang besar pada akhirnya. Dan ini saya kira sudah terbukti kebenarannya.

Ibu narsum bercerita dengan nada bercanda, bahwa dia sering dibuat tercengang ketika seorang Ibu kebingungan dengan anaknya yang tiba-tiba ingin menjadi chef, padahal menginjak dapur pun tidak pernah. Ada lagi seorang anak yang ingin menjadi seorang penulis seperti Raditya Dika, karena dia melihat betapa kerennya Raditya Dika, yang saat ini tak hanya menjadi penulis, stand up comedian, bahkan belakangan menjadi seorang director sebuah film. Dan parahnya kedua anak tersebut ternyata bersekolah dan berkuliah dengan jurusan yang bertolak belakang. Tentu saja bagi orangtua yang sudah mengeluarkan banyak biaya, ini akan menjadi suatu hal yang “salah target”, Rugi Bandar dong eyke :p. Dan kemudian ini tidak bisa dipungkiri bahwa, ada beberapa orang tua (saya tidak bilang semua orang tua ya) yang masih “memaksakan kehendak” kepada anaknya L. Meskipun pada akhirnya semua orang tua pasti berusaha memberikan yang terbaik pada anaknya. Dalam hal ini saya harus bersyukur bahwa orang tua saya begitu baik, memberikan saya kebebasan yang seluas-luasnya memilih apa yang saya suka.

Oke kembali ke Ibu Narsum, beliau bercerita, kalau kondisinya sudah seperti diatas, biasanya Ibu narsum tersenyum dan bertanya kepada sang anak. “Nak, tahukah kamu bahwa Raditya Dika itu sudah menulis sejak dia kelas empat esde? Tahukah kamu kalau dia selalu merecord dan mempunyai notebook khusus untuk semua yang dia tulis?, tahukah kamu kalau dia rajin menulis di blog? Kalau kamu mau menjadi seorang penulis, sekarang apa yang sudah kamu tulis?”

Dan suasana pun hening...

Ini membuktikan bahwa menulis bagi Raditya Dika bukanlah barang baru. Ini sudah di pupuk sedari dia belia. Setahu saya novel “Kambing Jantan” adalah kumpulan cerita yang diambil dari blog pribadinya.

Ngomong-ngomong tentang chef, saya kok tiba-tiba jadi ingat Chef Juna hahahaha. Chef yang sempat hits banget ini ternyata mengawali karirnya dari tingkat yang paling bawah. Dulu saya rajin ngikutin acara masaknya dia (ya ketauan deh Juna lover :p). Disalah satu episode dia bercerita bahwa, dari dulu dia memang ingin menjadi chef dan memutuskan untuk meninggalkan Indonesia dan memulai karirnya sebagai pencuci piring disebuah restaurant dinegeri seberang.

Jadi, apa kesimpulannya? Untuk menjadi seorang “expert” dibutuhkan waktu yang panjang untuk memupuknya! Bukan ujug-ujug jadi kayak bikin mie instant kecuali kamu punya tongkat sakti milik Pa tarno :p

Nah mengapa sampai terjadi #Generasi Millenial ini seperti ingin “menabrak realita”? Ini balik lagi ke karakter mereka yang sudah saya bahas di sharing sebelumnya.

Tapi... sebenarnya ada hal yang menjadi trigger mereka “menabrak realita”. Ditengarai system pendidikan kita terlalu “berat” dan melelahkan! And I do agree with that! Ini realita yang terjadi hampir disemua tempat, terutama dikota-kota besar. Anak SD keluar rumah jam 07.00 pagi dan pulang ke rumah jam 19.00, ckckckckck... Kadang-kadang saya kasihan melihat wajah mereka yang datang ke kelas  dengan wajah lelah dan masih berseragam sekolah padahal jarum jam sudah berada dikuadran sore hari. Seolah curcol, mereka kadang berkata dengan intonasi menurun, “You know Miss, after this I still have bimbel class huh...” setengah melenguh sembari mengerjakan worksheet. Dalam hati saya cuma bisa berkata, kasian sekali kamu nak...

Perlu diakui secara jujur kalau system pendidikan kita memang “berat sebelah”. Ayo coba tanyakan ke diri masing-masing, dulu waktu sekolah berapa jam dalam seminggu kita belajar menari misalnya, atau arts, atau musik, drama atau keterampilan menulis yang benar? Hampir minim bukan, bahkan nyaris tidak ada. Dulu di smp saya masih ingat, menari adalah mata pelajaran muatan lokal, padahal saya senang sekali dengan pelajaran itu (walaupun ga luwes-luwes juga sih hahahaha). Performing arts apalagi? Hampir ga pernah ada! Makanya saya senang sekali ketika berkolaborasi dengan bloody Firza bikin “Timun Mas” dan “Red Riding Hood”, ya walaupun kecil-kecilan tampilnya J ya jadi terjebak nostalgia dech :p Sungguh itu kenangan yang tak terlupakan hahahaha.

 “To be an expertise, you can’t innovate from nothing” (Tony Wagner).

Jadi generasi ideal macam apa sebenarnya generasi Millenial itu?

Ibu narsum menampilkan dua sosok sebagai perwakilan #Generasi Millenial, yaitu Adi Lingson, sang Juragan Kapal dan satu lagi mas-mas brewokan (yang saya lupa namanya, maaf). Adi Lingson saat ini bermitra dengan menteri kemaritiman, Ibu Susi sebagai jasa penyediaan kapal yang dibagi-bagikan kepada para nelayan. Konon kabarnya untuk membeli kapal yang baru diperlukan 400juta dengan tenggang waktu pembuatan sekitar 3-4 bulan. Adi Lingson mampu menyediakannya dalam waktu 2 bulan saja dengan harga yang lebih reasonable (sekitar 150jutaan). Jika bisa lebih cepat dan lebih murah, kenapa tidak dimanfaatkan? Produksi anak negeri pula!

Mas yang brewokan mirip Pep Guardiola lebih keren lagi. Profesinya adalah seorang biovideographer. Biovideographer adalah orang yang mendokumentasikan biota laut. Video mas ini hanya berdurasi kurang dari lima menit tapi amat sangat diminati channel-channel tv luar negeri. Apakah dia hanya seorang pengambil gambar dan perekam video? Apa background pendidikannya? Mas ini bercerita bahwa ilmu rekam-merekam hanya dia pelajari secara otodidak dan berguru pada video youtube, dia sendiri berlatar belakang S3 ilmu kemaritiman!

Jika dirasa dua sosok ini terlalu jauh dari jangkauan gambaran kita, maka mari ambil contoh yang lebih dekat dan gampang karena mungkin dia sering wara wiri di televisi. Gita Gutawa, adalah salah satu generasi millenial yang saat ini rasanya mewakili semua syarat #Generasi Millenial. Study mayornya adalah ekonomi (Mba Gita ini lulusan LSE lho J), tapi karyanya dari mulai dia imut (sampai sekarang berubah cantik) adalah dunia seni, seni musik khususnya. Konon disertasinya dianggap “langka” karena mengangkat tema “Krisis Lagu Anak di Indonesia”. Dari seorang singer, song writer, Gita kemudian bertransformasi menjadi produser musik dan project DAR (Di Atas Rata-Rata) nya banyak mengdapatkan penghargaan.

Jadi, apakah para generasi millenial ini sudah dikatakan sukses?

Wait, sebelum kita sampai kepada kesimpulan bahwa mereka sukses, ada slide yang mungkin bisa menjadi guidance bagi kita semua mengenai definisi kesuksesan. Selama ini kesuksesan selalu diukur dari limpahan materi, jabatan, kepopuleran dan semua hal yang berkaitan dengan yang terlihat oleh pandangan mata, padahal bisa jadi semua itu hanyalah artificial semata.

Silahkan dilihat sendiri apa definisi sukses di slide ya J

Sudah belum? Kalo belum tak kasih tahu ya, Success is the RIGHT person in the RIGHT place at the RIGHT time.

Who is the RIGHT person?

Dia tak lain adalah orang yang mempunyai MINAT, BAKAT, KEPRIBADIAN dan VALUES.

Minat, bakat dan kepribadian rasanya sudah jelas. Tapi kata “Values”, terdengar absurd ya?

Saya menemukan article yang bagus sekali dari WEF, article ini sepertinya menjawab 2 pertanyaan, “What is our education system missing” and “How’s Millenials attitudes towards technology”. Silahkan dibaca disini ya: https://www.weforum.org/agenda/2017/04/one-crucial-skill?utm_content=buffere437a&utm_medium=social&utm_source=facebook.com&utm_campaign=buffer

 

Sudah cape bacanya? Jangan dong ya, kita sudah mau sampai ke kesimpulan nih.

Jadi, apa dong kesimpulannya? Saya tidak akan menyimpulkan sendiri. Silahkan reader menyimpulkan sendiri dari apa yang sudah dibaca.

Finally, saya hanya ingin menyapa teman-teman saya yang sudah dikaruniai buah hati, Mommy Susi dan si twins Hana-Fira, Jeng Harmi Plasan, Ummi Nurhayati Arifin, neng Shanty Punk, siapa lagi ya??? *garuk-garuk kepala, are you ready to nurture your new generation? Kalo aku sich iyesss, tinggal nunggu Ryan Gosling ngajuin proposal ehhh #masihngarepajahdarijamandoeloe :p

Sebagai supplemen, ada link yang bagus banget, recommended untuk dibaca terkait ramalan dimasa depan. Silahkan check disini: https://www.weforum.org/agenda/2016/09/jobs-of-future-and-skills-you-need/

 

Sedikit bocoran, dilink ini kita akan tahu (terutama para guru) dimana posisi kita. Bocoran yang lainnya, agak sedikit syerem nih, kita disuruh belajar Matematika dan Computer Science, aihhhhhhh mencet vending machine ajah kadang2 parno :p

In addition, ini sih pesan anak ingusan aja, kalo anaknya punya minat dibidang IT, harus di support dengan sangat positive. Ini terkait kembali dengan sharing saya di postingan sebelumnya tentang  “The Sexiest Job in 21st Century”. Begitu pula jika anaknya mempunyai talent dibidang seni (apapun bentuknya), sama-sama harus di support karena ya itu tadi (balik lagi baca diatas ya kalo belum nyambung).

Bicara soal seni, saya jadi ingat dua tokoh besar yang sepertinya mewakili perpaduan skill seni dan matematika. Yang pertama, tentu semua orang kenal founding father kita. Yup, Bung Karno adalah mahasiswa tekhnik sipil tapi mastering beberapa bahasa asing (strong in Dutch and quite comfortable in English, French, Arabic and Japenese). Dalam salah satu joke dikatakan Bung Karno yang dikenal biang nasionalis, pernah berkata, yang kurang lebih seperti ini, “Aku tertidur dan dalam tidurku aku bermimpi dalam bahasa Belanda.” Silahkan disimpulkan sendiri makna tersiratnya ya J

Yang kedua adalah sosok Leonardo da Vinci. Dalam satu seminar bertahun2 lalu (sayang saya sudah hilang slidenya :’( ) dikatakan bahwa untuk menciptakan lukisan termashur, Monalisa, Leonardo menggabungkan unsur arts dan matematika lho J 

Lebih jauh lagi, negara-negara Eropa saat ini sedang mengembangkan kurikulum untuk pendidikan sekolah dasar berbasis coding (bukan kode kode ga jelas ya :p). Nah entah bagaimana juga tuh para bocah diajarkan coding-codingan, yang pasti ini benar adanya. Apakah itu sudah dimulai di Indonesia? Sudah! Beberapa minggu kemarin disekitar BSD Junction berseliweran baliho besar “Start up Coding School. Join with Us”. Namun sayang waktu saya mau ambil fotonya, eh tuh baliho udah ganti jadi promosi rumah :p (takut dibilang no pic=hoax). Tapi sumpah ini sudah dimulai sodara-sodara. Jadi ya, kalo yang punya calon anak IT masa depan anda terselamatkan, yang punya pacar anak IT udah mau udahan, mending fikir2 lagi dech, yakin mau mutusin dia??? :p Yang masih jomblo, mungkin bisa mempertimbangkan kalo ada anak IT yang ngajak ngedate ;) hahaha, udah ah inimah cuma intermezzo, tapi kalo lagi ada yang pedekate sama anak IT mudah-mudahan kamu cepet jadian dan cepetan nikah. Jangan lupa maskawinnya ga usah kode-kodean :p

Ini sebenarnya masih pengen bahas mengenai pentingnya ilmu ekonomi (selain IT) lho dan hosip-hosip mengenai para tetangga ekspat yang konon bakalan menyerbu sektor formal maupun informal di negara kita. Tapi takut yang baca keburu boring ah (ya kali ada yang baca :p), ya sudah saya akhiri dulu ceritanya (kecuali ada yang request, nanti tak bikinin deh itinerary nya, emangnya ngetrip :p).

Akhirul kalam, mudah-mudahan sharing saya bermanfaat (kalo ga bermanfaat, anggap aja curhatan orang yang ga ada kegiatan diliburan panjang). Mohon maaf bila ada kata yang kurang berkenan. InsyaAllah kita ketemu lagi di episode selanjutnya ya. Hatur nuhun dan selamat berlibur J  

 

 

 

  • view 63